
"Nanti, ya, Ai jelaskan. Sekarang, kita ke makam mama dulu." Ailee menoleh sekilas ke arah sang suami dan tersenyum manis pada suami dewasanya itu.
Gilang segera melepaskan genggaman tangannya dan kemudian beralih memeluk mesra pinggang ramping sang istri. Mereka berdua terus berjalan menyusuri jalan setapak yang di kanan dan di kirinya di penuhi batu nisan.
"Itu, makam mama." Ailee menunjuk gundukan tanah dengan batu nisan yang bertuliskan nama sang mama.
"Assalamu'alaikum, Ma," ucap salam Ailee yang kemudian bersimpuh di samping batu nisan, diikuti oleh Gilang yang juga ikut bersimpuh di sana.
"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Gilang, menirukan Ailee. "Perkenalkan, Ma, aku Gilang. Laki-laki beruntung yang berhasil mendapatkan cinta putri mama. Terima kasih, ya, Ma. Mama sudah berjuang untuk melahirkan wanita yang sangat baik dan berhati lembut seperti Ailee. Gilang janji, Gilang akan menjaga dan mencintai putri mama dengan sepenuh hati. Semoga mama selalu bahagia di sana."
Mendengar perkataan suaminya, Ailee menitikkan air mata haru. Wanita muda itu kemudian memeluk lengan sang suami dan menyembunyikan wajahnya di lengan kekar suaminya. Tidak ada kata yang dapat dia ucapkan untuk mewakili perasaannya saat ini.
Bahagia, beruntung, dan merasa tersanjung mendapatkan suami sempurna seperti Gilang. Laki-laki yang belum pernah tersentuh oleh wanita manapun dan Ailee adalah satu-satunya wanita yang bertahta di hati Gilang.
"Terima kasih, Sayang," ucap Gilang kemudian, seraya mencium puncak kepala sang istri.
"Ai yang harusnya berterima kasih sama Mas. Terima kasih masih tetap mau menerima dan mencintai Ai, setelah Mas tahu tentang keburukan papa," balas Ailee.
"Sst ... itu urusan pribadi papa kamu. Kamu tidak ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh papamu, baik di masa dulu, sekarang, ataupun nanti. Dia orang tua, Ai, yang seharusnya dapat berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik dan seharusnya sebagai orang tua, papa kamu memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya," ucap Gilang.
Ailee mengangguk, membenarkan ucapan suaminya.
"Udah, jangan melo! Ayo, kita berdo'a untuk mama!" ajak Gilang seraya membelai mesra pipi sang istri tercinta.
Mereka berdua kemudian berdo'a untuk almarhumah mamanya Ailee. Gilang memimpin do'a tersebut dan Ailee mengaminkan. Keduanya terlihat begitu khusyuk dan berharap do'anya diijabah oleh Allah dan sang mama mendapatkan pengampunan atas segala khilaf dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya sebagai syuhada karena meninggal ketika berjuang melahirkan keturunannya.
Usai berdo'a, Ailee menaburkan bunga segar ke atas pusara sang mama. Sementara Gilang mencabut rumput-rumput liar di sekitar gundukan tanah tersebut. Apa yang dilakukan sang suami, membuat Ailee tersenyum.
__ADS_1
"Apa kamu sering berkunjung ke sini, Yang?" tanya Gilang di sela-sela membersihkan sekitar makam sang mama mertua.
"Jarang, Mas. Paling kalau pas liburan semester dan Papa serta kakak-kakak sedang berlibur ke luar kota. Baru bibi berani mengajak Ai untuk ziarah ke sini," terang Ailee yang membuat Gilang menghentikan aktifitasnya dan kemudian menatap sang istri, dengan penuh tanya.
Ailee yang mengerti arti tatapan sang suami, tersenyum dan kemudian melanjutkan bicara. "Papa enggak kasih ijin jika beliau tahu bibi ngajak Ai ziarah ke makam mama, Mas. Itu makanya, bibi sembunyi-sembunyi kalau mengajak Ai untuk berziarah."
Gilang menghela napas panjang. Pemuda itu benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir papanya Ailee. Orang yang katanya berpendidikan tinggi, tetapi sikap dan perilakunya sama sekali tidak mencerminkan tingkat pendidikannya. Muak, Gilang sangat muak dengan kelakuan papa mertuanya.
"Setelah ini, kita akan sering ke sini, Sayang. Aku janji, aku akan selalu mengantar kamu untuk melepas rindu sama mama," ucap Gilang seraya menatap manik hitam sang istri dengan tatapan dalam.
Ailee kembali terharu. Netra istri belia Gilang itu sampai berkaca-kaca. Tak habis-habis rasa syukurnya atas semua anugerah untuknya dari Yang Maha Kuasa.
"Hai, jangan nangis. Aku enggak mau melihat istriku bersedih," ucap Gilang yang kemudian memeluk istri kecilnya itu.
"Ai enggak sedih, Mas. Ini air mata bahagia. Ai sangat bahagia mendapatkan suami seperti Mas Gilang," balas Ailee.
"Meskipun awalnya, Mas begitu galak dan nyebelin!" lanjut Ailee setelah melerai pelukan.
Dalam hati, Ailee membenarkan perkataan sang suami dan membayangkan sang suami bersikap ramah serta manis pada karyawan di kantor Gilang yang kebanyakan berpakaian seksi dan cantik-cantik, membuatnya mendadak cemburu.
"Awas, ya, kalau nanti sudah aktif masuk kantor Mas Gilang tebar pesona sama karyawan di kantor! Pokoknya, Ai akan melakukan sidak setiap hari agar Mas tidak berani macam-macam!" ancam Ailee yang membuat Gilang tergelak, senang.
"Baiklah, Sayang. Lakukanlah sidak setiap hari dan aku akan segera menyuruh orang untuk membereskan kamar pribadiku di kantor. Jadi, setelah sidak kamu bisa menghukumku di kamar itu jika aku melakukan kesalahan," balas Gilang, kemudian.
Ailee mengerutkan dahi dan sedetik kemudian, istri belia Gilang itu cemberut. "Itu, sih, bukan Ai yang kasih hukuman sama Mas, tapi Mas Gilang yang akan menghukum Ai dan tidak akan membiarkan Ai memakai baju!"
Mendengar protes istrinya, Gilang semakin tergelak. "Istriku benar-benar cerdas."
__ADS_1
"Mas, jangan kenceng-kenceng ketawanya! Ini di pemakaman!" Ailee menempelkan jari telunjuk ke bibir sang suami.
"Ayo, Ai akan tunjukkan untuk siapa bunga ini!" ajak Ailee yang segera beranjak.
Wanita muda yang saat ini sudah menjadi nyonya itu segera berlalu sambil menggandeng tangan sang suami, setelah berpamitan pada mamanya. Mereka berdua kembali berjalan menyusuri area pemakaman. Tidak jauh dari makam sang mama, Ailee berhenti.
"Assalamu'alaikum, Bi," sapa Ailee mengucap salam seraya memegang sebuah batu nisan.
Ailee kembali bersimpuh di samping gundukan tanah merah. Gilang kembali mengikuti apa yang dilakukan sang istri.
"Bi, Ai datang bersama seseorang yang sangat spesial, bi. Dia yang akan melindungi Ai, menyayangi dan mencintai Ai. Jadi, bibi jangan khawatir lagi, ya, karena sekarang ada suami yang menjaga Ai," ucap Ailee, memperkenalkan suaminya.
"Mas, ini makam bibi yang mengasuh Ai." Ailee menatap sang suami dan memperkenalkan bibi pengasuhnya yang telah tiada.
"Bibi meninggal seminggu sebelum Ai mengikuti ujian akhir sekolah. Saat itu, Ai benar-benar down dan enggak tahu lagi harus bagaimana. Sampai-sampai, Ai enggak bisa mikir saat mengerjakan ujian sekolah."
Gilang menyeka air mata sang istri yang mengalir bebas membasahi pipi mulus wanita cantik tersebut. Pemuda tampan itu kemudian memeluk istrinya. Gilang seolah dapat merasakan kesedihan sang istri.
"Satu-satunya orang yang melindungi dan menyayangi Ai, juga pergi menyusul mama. Tidak ada lagi yang membela dan memberi perhatian pada Ai di rumah itu. Papa dan kakak-kakak semakin semena-mena," lanjut Ailee seraya tersisak dalam pelukan Gilang.
Kini Gilang menyadari, dibalik keceriaan dan ketegaran sang istri selama ini, tersembunyi luka yang menganga di hati Ailee. Kesedihan dan kekecewaan Gilang pada sang mama yang tega pergi meninggalkan sang papa demi laki-laki lain hingga menyebabkan kematian papanya, nyatanya tidak sepedih penderitaan sang istri karena dia masih memiliki banyak keluarga yang menyayangi.
"Jadi karena itu, kamu memutuskan pergi dari rumah dan kemudian hidup mandiri di luar sana?" tanya Gilang yang mendapatkan anggukan kepala dari sang istri.
"Sungguh kejam papamu, Sayang. Kamu masih terlalu muda untuk hidup sendirian di kota yang keras ini. Memangnya, papa kamu enggak mikir bagaimana kalau hal buruk terjadi padamu?" geram Gilang seraya mengeratkan pelukan.
Rahang pemuda itu mengeras. Amarahnya memuncak pada laki-laki yang seharusnya melindungi putrinya tetapi justru mengabaikan sang putri.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi pada papa dan kedua kakakmu nanti, aku tidak rela kalau kamu membantunya!"
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕