
Keringat dingin bercucuran bukan hanya di dahi Ailee yang mau melahirkan, tapi juga di kening Gilang yang tengah menemani sang istri di ruang persalinan. Tangan pemuda tampan itu juga gemetaran kala melihat sendiri bagaimana perjuangan sang istri saat mengejan. Gilang seolah ikut merasakan kesakitan seperti yang dialami oleh sang istri yang sedang berjuang untuk melahirkan.
Dalam hati Gilang menyesalkan keputusannya sendiri yang mengizinkan Ailee melahirkan secara normal. Padahal sebelumnya, pemuda itu bersikukuh dan menghendaki kelahiran anak-anaknya dilakukan secara cesar. Namun, beberapa minggu yang lalu ketika sang istri ngambek dan menginginkan untuk melahirkan secara normal, akhirnya Gilang menyetujui setelah memastikan bahwa semuanya sehat dan aman.
"Pasti sakit sekali ya, Yang? Maafkan aku ya, aku tidak bisa menggantikan rasa sakitmu," bisik Gilang. Pemuda tampan itu lalu mengecup kening sang istri dengan dalam.
Sementara di bawah sana, dokter dan beberapa orang suster telah bersiap untuk menyambut kelahiran anak-anak Ailee dan Gilang. Dokter wanita itu terus saja memandu Ailee untuk mengambil pernapasan dengan benar. Sesekali dia menyarankan agar Ailee beristirahat sebentar.
"Cooling down dulu ya, Mbak Ailee. Jangan dipaksakan. Nanti kalau baby-baby sudah mengajak ngejan, baru kita mulai lagi," saran dokter berusia paruh baya tersebut seraya tersenyum.
Ailee hanya mengangguk, pelan. Wanita muda itu mulai mengambil napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Dia ikuti saran dari dokter agar jangan sampai kehabisan tenaga di tengah persalinan. Ailee ingin agar ketiga buah hatinya lahir dengan selamat tanpa ada halangan.
"Aku tahu kamu wanita yang hebat, Yang. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Aku mencintaimu, Yang." Gilang terus membisikkan kata-kata mesra untuk menyemangati istrinya.
"Ayo, Mbak Ai! Terus, dorong yang kuat!"
Sementara di bawah sana, dokter memberikan instruksinya agar proses kelahiran sang bayi berjalan lancar. Beberapa saat kemudian, satu bayi mungil lahir dengan selamat. Tangisnya yang melengking, memenuhi ruang persalinan.
Melihat bayi merah di tangan suster dengan suara tangis yang terdengar merdu di telinga, pemuda tampan itu tidak kuasa menahan air mata. Gilang menangis bahagia. Dia ciumi wajah sang istri bertubi-tubi tanpa dapat berkata-kata.
Di tengah rasa lelah dan sakit yang mendera, Ailee tersenyum. "Apakah kondisinya normal?" tanyanya tanpa tenaga dan Gilang menganggukkan kepala.
"Alhamdulillah, Sayang. Laki-laki, dia tampan sepertiku," balas Gilang tetap narsis, membuat Ailee tertawa tanpa bersuara.
Gilang kembali melabuhkan ciuman di kening dan di pipi istrinya. Jika saja sang istri tadi tidak mewanti-wanti agar dia tidak mencium bibir Ailee, sudah pasti Gilang akan ******* habis bibir tipis itu sebagai ungkapan rasa terima kasih karena sang istri telah berjuang untuk melahirkan generasi penerusnya.
__ADS_1
Baru beberapa menit kebahagiaan itu berlangsung, Ailee harus kembali berjuang. Satu lagi bayi di dalam rahim Ailee mengajak wanita muda itu untuk mengejan.
"Ayo, Mbak Ai. Ambil napas panjang lalu dorong dengan kuat, ya." Kembali sang dokter memberikan instruksi.
Beberapa detik kemudian, terdengar tangis bayi kedua yang suaranya tidak kalah nyaring dengan sang kakak. Lagi-lagi, bayi dengan jenis kelamin yang sama dengan sang ayah. Membuat hati Gilang semakin bahagia.
"Cowok lagi, Sayang," bisik Gilang dan Ailee mengangguk, lemah.
Ailee sudah mulai kehabisan tenaga. Matanya pun serasa ingin menutup karena rasa kantuk dan kelelahan. Namun, dia tidak boleh menyerah karena masih ada satu bayi lagi yang harus dilahirkan.
"Jangan tidur, Sayang." Gilang menepuk pelan pipi sang istri kala melihat istrinya memejamkan mata.
"Ai enggak tidur, Mas. Ai cuma lelah. Rasanya sakit semua, Mas," keluh Ailee dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Baru beberapa saat beristirahat, Ailee kembali merasakan dorongan kuat dari dalam rahimnya. Dengan sisa tenaga yang ada, wanita muda itu mengejan. Tangannya mencengkeram kuat tangan sang suami, lebih kuat dari kelahiran pertama dan kedua, membuat Gilang dapat merasakan bagaimana beratnya perjuangan sang istri tercinta.
"Allahu Akbar!" Gilang mengucap takbir, mengagungkan kebesaran asma Allah setelah tangis anak ketiganya pecah.
Ya, karena hanya atas kuasa-Nya semua ini bisa terjadi. Jalan sempit yang biasa juniornya lalui, kini dilewati oleh anak-anaknya dalam waktu berdekatan. Tidak terbayang oleh Gilang, bagaimana rasa sakitnya milik sang istri saat ini.
"I love you, Sayang. I love you much," bisik Gilang dengan air mata bercucuran. Bos perusahaan besar itu tidak malu untuk menangis. Tangis bahagia atas kelahiran ketiga jagoannya.
Setelah semua prosesnya selesai dan Ailee sudah dibersihkan, Gilang segera mengabarkan pada keluarga yang menunggu di luar. Sontak, semua berebut untuk masuk ke dalam ruang persalinan karena hendak melihat keadaan Ailee dan juga hendak mengucapkan selamat. Termasuk ketiga keponakan Gilang yang sedari tadi nampak resah menunggu di luar.
"Kak Ai!" seru ketiga keponakan Gilang, kompak.
__ADS_1
"Jangan tidur dulu, dong, Kak! Kita 'kan belum foto," protes Kukuh saat melihat mata Ailee terpejam.
"Kak Ai capek, Kuh. Biar saja dia istirahat. Fotonya nanti saja. Mama kalian juga pasti bisa ngerti," sahut sang oma buyut yang kini sudah duduk di tepi pembaringan Ailee.
"Kita VC sama-sama aja nanti, Dik. Nunggu Om Er dan Kak Mai," timpal Satria.
Ya, kelahiran anak-anak Ailee juga dinantikan kabarnya oleh kedua kakak perempuan Gilang. Mereka berdua berpesan pada putra-putranya agar segera mengirimkan kabar melalui group chat keluarga. Mereka yang belum bisa datang ke Jakarta dalam waktu dekat, meminta untuk dikirimi foto Ailee dan bayi-bayinya.
Ailee yang memang belum tidur, membuka matanya. "Oma," sapanya dengan suara lemah.
Penuh kasih sayang, wanita tua itu mengusap puncak kepala Ailee. "Terima kasih banyak ya, Nak. Terima kasih, sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa untuk cucu oma."
Gilang yang berdiri di samping ranjang pasien bersama sang mama, kembali melabuhkan kecupan di kening Ailee. Kecupan yang dalam dan dengan segenap perasaan. Tepat di saat yang sama, Erlan dan istrinya datang mengurai kemesraan Gilang.
"Apa benar, ABC sudah lahir?" tanya Erlan, tidak percaya karena tadi siang dia melihat sendiri istri dari adik sepupunya itu masih ikut berbelanja.
"ABC udah lahir, Om. Bentar lagi Alkaline," sahut Satria, membuat Erlan mengernyit.
"Siapa Alkaline?" tanya Gilang.
"Itu, Om. Anaknya Kak Mai." Jawaban Kukuh membuat semua orang tertawa, termasuk Maida. Kecuali Erlan yang langsung memberikan hadiah sentilan di kening remaja tersebut.
"Kenapa cuma Kukuh yang disentil, Om? Ide nama itu 'kan dari Bang Sat," protes Kukuh seraya menunjuk sang kakak yang masih tertawa.
"Alkaline juga bagus, bisa untuk cewek atau cowok," timpal sang oma seraya tersenyum dikulum dan Erlan langsung menggeleng-gelengkan kepala, tidak setuju.
__ADS_1
"Kayak enggak ada nama lain, aja. Masak kita jadi keluarga batu baterai," gerutu Erlan.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕