
Setelah Gilang mengucapkan selamat ulang tahun pada sang mama, bergantian Mbak Gia dan Mbak Tia juga mengucapkannya. Diikuti oleh para suami yang tadi langsung menyusul keluar. Gilang mengambil alih kue dari tangan sang istri agar istri cantiknya itu juga bisa menyalami sang mama mertua.
Kini, tiba saatnya Mama Irna meniup lilin kecil yang berada di atas kue tart yang dibawa oleh Gilang. Setelah berdo'a untuk memohon keberkahan usia, Mama Irna kemudian meniup lilin kecil tersebut. Suara tepuk tangan dari putra putri Mama Irna serta menantunya, membuat semua anggota keluarga yang tidur di lantai bawah, terbangun.
Nenek Amira membuka pintu kamar dan kemudian keluar. Wanita tua itu tersenyum bahagia, melihat kebahagiaan sang cucu kesayangan yang kini berdiri di antara sang mama dan istrinya. Kedua orang tua Erlan yang juga ikut keluar, pun tersenyum dan kemudian mendekat. Begitu juga dengan Tante Yeni dan sang suami, Mbak Erna dan suaminya, juga ikut bergabung.
Mereka semua bergantian menyalami Mama Irna, memberikan ucapan selamat serta mendoakan kesehatan serta kebahagiaan mamanya Gilang tersebut. Hal itu membuat Mama Irna merasa sangat terharu. Tidak terkira kebahagiannya saat ini.
"Terima kasih ya, Nak," ucapnya ketika semua anggota keluarga sudah selesai menyalami Mama Irna dan kemudian menuju ruang keluarga. Gilang hanya membalasnya dengan senyuman dan kemudian segera merangkul sang mama dan menuntunnya untuk ikut bergabung bersama keluarga.
Mama Irna yang duduk di samping sang putra, terus saja menyunggingkan senyuman kebahagiaan. Sesekali, jarinya menyeka air mata haru yang menyeruak di sudut netra cekung Mama Irna. Wanita rapuh itu sama sekali tidak menyangka, sang putra yang dikira belum bisa memaafkan ternyata memberikan kejutan istimewa.
"Dik. Kado dari kamu buat Mama tadi, aku simpan di kamar Mama," ucap Mbak Tia yang baru menyusul ke ruang keluarga.
"Iya, Mbak. Terima kasih," balas Gilang.
"Nak, kamu tidak perlu memberikan kado segala buat mama. Hadirmu di hadapan mama dan pelukan kamu untuk mama tadi lebih dari segalanya, Ge," tutur Mama Irna dengan suara tercekat di tenggorokan. Wanita ringkih itu benar-benar merasa terharu dengan kejutan yang diberikan sang putra.
"Tadi istri Ge yang membelikan buat Mama. Moga Mama suka, ya," ucap Gilang, tepat di saat sang istri datang sambil membawa baki berisi piring-piring kue.
Mama Irna kemudian mengangguk pada sang menantu, seraya tersenyum hangat pada menantu cantiknya itu. "Mama pasti suka, Ge. Dia pasti membelinya dengan ketulusan hati. Putra mama ini sungguh bberuntun, memiliki istri secantik dan selembut dia," bisik sang mama seraya menatap ke arah Ailee yang sibuk sendiri.
__ADS_1
"Nak Ai, kok malah repot-repot segala. Sudah tengah malam ini, masak kami harus ngemil yang manis-manis. Bisa diabetes nanti," protes Budhe Ris ketika melihat Ailee menyuguhkan banyak kue manis di atas meja.
Rupanya, pasangan suami istri itu memang sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari kue ulang tahun, jajanan untuk keluarga besar, juga kado buat sang mama. Kado yang tadi dipilihkan oleh Ailee, sebelum mereka pergi ke rumah orang tua wanita cantik itu.
"Nah, biar tidak diabetes, minumnya teh hijau tawar ini, Budhe," ucap Mbak Gia yang baru datang dari arah dapur seraya membawa baki yang penuh dengan gelas berisi teh panas.
"Kalian kompak banget, sih? Tahu-tahu, sudah ada yang bikin teh. Jangan-jangan, bentar lagi nasi tumpengnya juga keluar, nih. Siap-siap melebar saja kita, Mbak Ris," canda Tante Yeni yang disambut tawa oleh semuanya.
"Kalau cuma sesekali kayak gini, tidak apa-apa, Tan. Tidak bakalan membuat bodi kita jadi melar," timpal Mbak Erna yang kemudian mencomot sepotong kue manis.
"Benar apa kata Erna. Ayo-ayo, di makan!" titah sang oma yang ikut mengambil sepotong kue dan kemudian menyuapkan ke dalam mulut.
"Mama mau yang mana? Biar Ge ambilkan," tawar Gilang seraya menoleh ke arah sang mama.
"Kalau begitu, Ai saja yang ambilkan ya, Ma," tawar Ailee yang langsung mengambil sepotong besar kue dan disimpan di atas piring kecil. Dia potong kue tersebut dengan sendok dan kemudian mendekatkan ke bibir sang mama mertua, membuat Mama Irna mau tidak mau membuka mulutnya, menerima suapan dari sang menantu.
"Aku juga, dong, Sayang," rajuk Gilang dan tanpa diminta untuk yang kedua kali, Ailee kemudian menyuapi suaminya.
"Duh, yang pengantin baru. Mesra terus, nih, kayaknya. Bikin Tante jadi iri saja," goda Tante Yeni, membuat pipi putih Ailee merona merah.
"Oh ya, Ge. Kado untuk kalian, masih di mobil karena tadi kalian tidak ada di rumah. Kamu ambil sendiri, ya, di bagasi mobil tante," lanjut adik papanya Gilang itu, seraya menatap sang keponakan.
__ADS_1
"Kado untuk Er, mana, Tan?" sahut Erlan yang baru saja turun.
Pemuda tampan yang tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kepikiran dengan hari esok itu, rupanya mendengar suara keriuhan di bawah. Erlan segera keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi. Mengetahui ada pesta ulang tahun dadakan, Erlan segera kembali ke kamar untuk mencuci muka dan kemudian turun setelah membangunkan keponakan-keponakannya.
"Kamu 'kan baru tunangan, Er. Nantilah kalau kamu nikah, pasti tante kasih kado. Kado yang sangat istimewa karena kamu juga sangat istimewa di hati tante," balas Tante Yeni, merayu. Wanita yang berusia sekitar lima puluh tahun itu kemudian tertawa.
"Hish ... Tante mulai, deh, genitnya," protes Gilang, yang disambut tawa oleh keluarga yang lain.
"Lah, tante 'kan bosan, Ge. Tiap hari yang tante lihat wajah om kamu melulu. Sesekali melihat yang bening kayak Erlan gini 'kan, mantap. Ya 'kan, Er?" Tante Yeni semakin menjadi.
Suami wanita modis itu hanya geleng-geleng kepala, saking pahamnya dengan karakter sang istri. Tante Yeni hanya besar di mulut saja karena aslinya, wanita yang masih terlihat sangat cantik dan awet muda tersebut, sangat kalem jika di luar sana. Sementar Erlan hanya mengedikkan bahu dan kemudian mendekati Mama Irna untuk mengucapkan selamat ulang tahun.
Satria dan adik-adik yang juga baru turun dengan mata yang masih mengantuk, ikut menyalami neneknya. "Selamat ulang tahun ya, Nek. Nenek jangan pergi-pergi lagi, biar Nenek bisa lihat Satria nikah lalu punya banyak anak," harapnya yang kemudian memeluk sang nenek.
"Kamu, kok, ngomongnya sudah jauh ke sana, Nang. Memangnya, kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Mama Irna pada cucu pertamanya itu, setelah melepaskan pelukan.
"Sudah, dong, Nek. Satria 'kan tampan rupawan. Gadis mana coba, yang tidak jatuh hati pada Satria," balasnya penuh percaya diri.
"Ada. Tuh, Kak Ai yang sudah lama Abang incar. Dia sama sekali enggak tertarik pada Abang, kan?" sahut Kukuh, membuat Satria seketika mati gaya.
Mendengar perkataan Kukuh yang jujur dan apa adnya, membuat Erlan, sang oma dan Reno yang mengetahui kisahnya, tertawa. Keluarga yang lain memandang Satria, Gilang dan Ailee, bergantian. Sementara pemuda yang mengklaim dirinya tampan rupawan itu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
'Asem si Kukuh! Mulutnya enggak pakai filter, jadi kalau ngomong asal mangap aja! Pakai buka kartuku segala di hadapan keluarga besar!' kesal Satria dalam hati, merutuki sang adik kandung.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕