
Gilang dan keluarga besarnya segera berpamitan pada keluarga besar Maida, setelah sarapan bersama. Dia harus buru-buru sampai kantor karena ada pekerjaan yang tidak dapat ditunda, sementara Erlan masih dalam masa cuti. Lagipula, abang sepupunya itu sebentar lagi akan mengundurkan diri jadi Gilang harus mulai terbiasa bekerja tanpa Erlan.
Beruntung, sang kakak ipar, suaminya Aira sudah mulai bekerja di perusahaannya sejak beberapa hari yang lalu. Erlan juga sempat memberikan pengarahan pada Sindu sehingga kakak iparnya itu sudah bisa sedikit membantu. Erlan juga berjanji akan mengajari Sindu hingga mahir sebelum dirinya benar-benar keluar.
Setibanya di rumah, Gilang langsung bersiap dan berpamitan pada sang istri. "Sayang. Aku berangkat, ya. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat! Jangan makan yang aneh-aneh! Jangan sampai kamu kecapean dan harus istirahat siang yang cukup. Jaga diri dan jaga dia baik-baik," pesan Gilang seraya meraba perut rata sang istri.
"Banyak banget larangannya, Mas," protes Ailee seraya tersenyum. Meskipun protes, tetapi sesungguhnya Ailee sangat senang karena merasa diperhatikan.
"Demi kebaikan kalian berdua, kesayangan ayah," ucap Gilang seraya mencium kening sang istri dengan dalam.
"Baik, Ayah. Terima kasih atas perhatian Ayah," balas Ailee yang kemudian mencium punggung tangan sang suami dengan takdzim.
Gilang segera menuntun sang istri keluar dari kamar seraya berseru. "Oma! Mama!"
Suara teriakan Gilang, membuat sang oma dan sang mama keluar dari kamar masing-masing secara bersamaan. "Ada apa, sih, Ge? Oma baru saja mau rebahan karena lelah habis perjalanan jauh," protes sang oma, bertanya.
"Maaf, Oma. Oma bisa lanjut istirahatnya nanti. Sekarang, tolong dengarkan permintaan Ge, Oma. Jaga Ai untuk Ge ya, Oma, Mama." Gilang menatap kedua wanita yang berarti dalam hidupnya itu, bergantian.
"Mas, enggak segitunya juga, kali! Ai bisa jaga diri sendiri, kok," protes Ailee yang tidak setuju sang suami sampai mengganggu istirahat sang oma.
"Tidak apa-apa, Nak Ai," balas sang oma seraya tersenyum.
"Sudah, Ge. Kamu pergilah bekerja dengan tenang. Kami yang akan menjaga istrimu," lanjut sang oma, mengusir halus sang cucu.
"Benar, Ge. Mama juga pasti akan menjaga menantu dan calon cucu mama dengan baik," timpal sang mama, membuat Gilang merasa lega.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma, Oma," balas Gilang seraya menyalami sang mama dan omanya bergantian.
"Oke, Sayang. Aku berangkat, ya," pamit Gilang kembali pada sang istri seraya mencuri ciuman di pipi istrinya, membuat Ailee tersipu.
Gilang berjalan dengan sedikit tergesa keluar menuju halaman di mana mobilnya sudah disiapkan oleh sopir pribadinya. Kali ini, Gilang kembali menggunakan sopir pribadi karena dia berangkat sendiri dan tidak bersama Erlan. Sepanjang perjalanan menuju kantor, bos GCC itu nampak sibuk dengan ponselnya hingga tidak memperhatikan jalanan.
Fokus Gilang ke layar ponsel buyar seketika tatkala sang sopir tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya. "Ada apa, Pak?" tanya Gilang pada sang sopir.
"Ada seorang wanita tua yang menyeberang jalan mendadak, Tuan," jawab pak sopir.
"Apa dia tertabrak mobil kita?" tanyanya kembali dengan raut wajah khawatir. Gilang melihat jam di pergelangan tangan dan lima belas menit lagi, meeting harus dimulai.
"Tidak, Tuan, tetapi wanita tua itu terjatuh tepat di depan mobil kita. Orang-orang pasti akan mengira bahwa dia tertabrak mobil kita, Tuan," terang sang sopir.
"Jangan khawatir! Kami tidak akan kabur dan kami pasti bertanggungjawab!" Suara Gilang yang menggelegar membuat orang-orang yang tadinya mau main hakim sendiri pada sopirnya, kemudian mundur teratur.
"Jangan dibiasakan main hakim sendiri karena ada aparat kepolisian! Jangan sampai kalian masuk penjara karena salah sasaran!" lanjut Gilang dengan tatapan mengintimidasi.
Postur tubuh Gilang yang tinggi tegap, membuat orang-orang yang berkerumun memberi jalan ketika pemuda tampan itu hendak melihat keadaan korban yang tergeletak di atas jalan yang beraspal. Wanita tua tersebut nampak tergolek lemah dengan wajah pucat pasi. Memang di sekujur tubuhnya terdapat banyak luka dan darah, tetapi jika diamati lukanya adalah luka akibat penganiayaan dan bukan luka akibat kecelakaan.
'Dia seperti sengaja menabrakkan diri atau lebih tepatnya, ada seseorang yang memaksanya untuk mencari mangsa,' batin Gilang, seraya mengerutkan dahi.
Tiba-tiba, seorang wanita muda muncul lalu memeluk tubuh wanita tua itu dan menangis meraung-raung. Tangis wanita muda tersebut mengundang simpati orang-orang di sekitar. Melihat dan mendengar tangis pilu dari seorang wanita yang mengatakan bahwa dia akan hidup sebatang kara jika sang ibu meninggal, orang-orang kembali hendak merangsek maju dan menghakimi pak sopir yang berjongkok dan terdiam di samping tubuh korban.
Tepat di saat yang sama, polisi dan petugas medis yang membawa mobil ambulans yang dihubungi oleh orang kepercayaan Gilang, tiba di tempat kejadian. Di belakang mobil ambulans, mobil yang berlogo GCC juga mendekat dan kemudian berhenti tepat di belakang mobil milik Gilang.
__ADS_1
Bos GCC itu sempat membisikkan kecurigaannya pada petugas polisi sebelum wanita tua tersebut dibawa oleh petugas kesehatan ke rumah sakit.
Wanita yang berusia sekitar dua puluh lima tahun itu menolak ketika wanita tua yang diaku sebagai ibunya hendak dibawa oleh petugas kesehatan. "Dia! Dia yang seharusnya bertanggungjawab dan membawa ibu saya ke rumah sakit!" teriaknya seraya menuding Gilang yang hendak menuju ke mobil perusahaan.
"Sudah, Tuan. Biar kami yang mengatasi wanita itu," pinta orang kepercayaan Gilang dan meminta sang bos dengan isyarat tangan agar bosnya segera menuju ke mobil perusahaan.
Gilang menghela napas kasar begitu menjatuhkan bobot tubuhnya di bangku depan, di samping sopir perusahaan. "Ada-ada saja orang cari duit sekarang," ucapnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayo, Pak, jalan!" titah Gilang. "Waktu saya tinggal lima menit lagi," lanjutnya seraya melihat jam di pergelangan tangan kanannya.
Mobil berlogo nama perusahaan milik Gilang itupun segera melaju meninggalkan wanita muda itu yang masih nampak emosi karena buruan yang diincarnya malah kabur dengan mobil lain. 'Sial! Aku kurang perhitungan tadi. Aku pikir, bakal mudah untuk memerasnya, tetapi ternyata laki-laki itu malah memanggil bantuan!' geramnya dalam hati.
"Tidak mengapa, kali ini aku gagal! Tapi aku pastikan, lain kali aku pasti berhasil mendapatkannya!" gumamnya seraya tersenyum licik.
Wanita muda itu akhirnya membiarkan ketika petugas medis membawa ibunya menuju mobil ambulans. Dia juga ikut naik ke dalam mobil ambulans, menemani sang ibu yang sudah dibaringkan di atas brankar pasien.
"Bu, bangunlah! Jangan pura-pura pingsan karena kita sudah berada di dalam ambulans!" Wanita muda tersebut menggoyang-goyangkan tubuh sang ibu yang sama sekali tidak memberi reaksi. Hal itu membuat wanita yang memiliki senyuman licik tersebut, menjadi panik.
"Bu, bangun, Bu! Jangan berakting dan jangan membuatku menjadi khawatir!"
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
Rekomend Novel keren 👇
__ADS_1