Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Nikmati Deritamu, Bang!


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Gilang dan Erlan berlomba-lomba untuk menjadi suami siaga bagi istri masing-masing. Gilang yang sudah pernah merasakan bagaimana repotnya ketika sang istri ngidam, kini merasa sedikit lega karena ngidamnya Ailee tidak seperti di kehamilan pertama yang meminta hal aneh-aneh. Giliran Erlan sekarang yang dibuat kalang kabut dengan permintaan sang istri yang terkadang sangat ekstrem.


Seperti malam ini, Maida tiba-tiba terbangun di tengah malam dan meminta es kelapa muda. Erlan sudah mencoba membuka aplikasi pesan antar, tetapi tidak menemukan satu pun penjual es kelapa muda yang buka di jam pocong seperti sekarang. Pemuda itu lalu teringat bahwa di halaman belakang, sang oma memiliki tanaman pohon kelapa.


Bergegas, Erlan keluar dari kamar untuk membangunkan Satria. Dia hendak meminta bantuan pada keponakannya tersebut. Namun, baru saja dia mengetuk satu kali pintu kamar sang keponakan, istrinya yang ternyata mengekor di belakang, melarang.


"Jangan dibangunkan, Bang. Besok 'kan, Satria ada kelas pagi. Kasihan dia kalau ngantuk. Lagian, anak ini mau daddynya yang manjat sendiri pohon kelapanya." Wajah cantik itu merajuk, membuat Erlan tidak tega.


Mau tidak mau, Erlan menuruti permintaan sang istri. Dia berjalan dengan cepat menuruni anak tangga untuk menuju halaman belakang. Di dapur dia bertemu dengan Gilang yang sedang membuat minuman untuk sang istri.


"Buru-buru amat. Mau kemana, Bang?" tanya Gilang yang hendak kembali ke kamarnya.


"Metik buah kelapa di belakang," balas Erlan tanpa menghentikan langkah.


Mendengar jawaban sang abang sepupu, Gilang terkekeh senang. Hal itu membuat Erlan menghentikan langkah lalu berbalik menatap Gilang. "Jangan ngetawain aja, bantuin, yuk!"


"Bangunin yang lain aja, deh, Bang. Atau minta bantuan bantuan sama satpam di depan sana," tolak Gilang yang kemudian menguap. "Aku ngantuk banget, Bang," lanjutnya seraya ngeloyor pergi untuk kembali ke kamarnya karena sang istri telah menanti.


Erlan berdecak kesal. "Enggak pengertian banget, sih!" Suami Maida itu sengaja mengeraskan suara agar Gilang mendengar.


Benar saja, Gilang menoleh lalu tersenyum. "Dulu Abang juga ngetawain Ge, kan?"


Erlan tersenyum masam. Teringat bahwa dulu dia sering mengolok Gilang. Kini dia merasakan sendiri bagaimana repotnya memenuhi permintaan sang istri yang sedang ngidam.

__ADS_1


"Oke, deh. Abang tunggu aja di belakang, nanti aku nyusul ke sana," ucap Gilang kemudian yang segera meneruskan langkah.


Erlan menghela napas lega. Dia tahu, Gilang tidak akan mungkin tega padanya. Begitu pula dirinya jika Gilang sedang kesulitan, dia pun tidak akan membiarkannya. Kalaupun mereka saling meledek dan seolah tidak peduli, itu hanyalah di mulut saja.


Suami Maida itu lalu membuka pintu belakang dan menunggu Gilang di kebun. Tidak berapa lama kemudian, Gilang muncul dengan membawa ponsel di tangan. "Buat penerangan," ucap Gilang seraya menyalakan senter pada ponselnya, ketika melihat tatapan curiga Erlan.


"Bukan untuk update status, kan?" selidik Erlan dan Gilang tertawa kemudian.


"Kalau iya, memangnya kenapa? Bukannya, dulu Abang juga suka benget iseng? Hampir setiap hari, Abang share, tuh, fotoku yang memakai hem kebangsaan di group chat keluarga. Iya, kan?"


Erlan ikut tertawa kemudian. Dia tentu tidak melupakan kejahilannya pada Gilang. Erlan tidak sendirian karena sang keponakan kala itu juga ikut-ikutan hingga Gilang sering menjadi bahan tertawaan di obrolan group chat keluarga besar.


"Happy amat, Om? Pada ngetawain apa, sih?" Satria tiba-tiba saja sudah nongol di sana.


"Oh, jadi karena itu tadi Om Er mengetuk pintu kamar Satria?"


"Kamu dengar, Sat? Padahal aku cuma sekali, loh, ketuk pintunya?"


"Satria belum tidur, Om. Masih ngerjain tugas," balas Satria.


"Baguslah kalau begitu. Yuk, bantuin om metik kelapanya. Kamu 'kan, pandai manjat pohon," ajak Erlan yang bergegas masuk ke dalam kebun yang pencahayaannya cukup terang tersebut.


Meski jahil, terapi Satria adalah pemuda yang ringan tangan. Tentu saja dia bersedia menolong omnya. Apalagi, Erlan sangat royal pada Satria dan kedua adiknya.

__ADS_1


Satria memanjat pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi tersebut dengan cekatan. Dalam sekejap, beberapa buah kelapa muda telah berhasil dia petik. "Cukup, Om?" tanyanya dari atas pohon.


"Cukup, Sat. Udah, kamu buruan turun," balas dan titah Erlan.


Tatapan Erlan dan Gilang fokus pada Satria yang menuruni pohon kelapa dengan merosot ke bawah. Mereka berdua tidak menyadari kehadiran Maida di sana. Setelah berada di bawah Satria tersenyum manis pada orang yang berada di belakang Erlan dan Gilang.


"Kamu kesambet, Sat? Senyum-senyum enggak jelas gitu!" Erlan menjitak pelan kening sang keponakan.


Satria lalu menunjuk Maida dengan dagunya. "Ada Kak Mai, tuh."


Erlan sontak membalikkan badan. Belum sempat Erlan bertanya, pemuda itu melihat netra sang istri berkaca-kaca. Wanita belia itu lalu berlari kecil meninggalkan Erlan dalam kebingungan.


"Dik Mai, tunggu, Sayang. Jangan lari!" seru Erlan, tapi Maida tidak peduli. Dia terus berlari masuk ke dalam rumah.


"Dik, tunggu. Dengarkan penjelasanku," pinta Erlan setelah berhasil menangkap tubuh sang istri.


"Ini, tuh, anak Abang! Bukan anaknya Satria, Bang! Dia hanya mau kelapa itu daddynya sendiri yang metik, bukan orang lain!"


Suara Maida yang terdengar jelas di telinga Gilang dan Satria, membuat om dan keponakan itu langsung tertawa. Mereka berdua yang tadi langsung menyusul di belakang Erlan, sangat senang melihat ketidakberdayaan pemuda dewasa tersebut.


"Selamat bersusah payah, Om!" Satria semakin terbahak.


"Nikmati deritamu, Bang!" timpal Gilang yang membuat Erlan semakin kesal.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2