Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Semoga Mama Sehat Selalu


__ADS_3

Gilang dan sang istri tiba di rumah ketika hari menjelang maghrib dan mereka berdua bergegas menuju kamar. Tidak ada seorangpun keluarga yang melihat kedatangan mereka karena masing-masing tengah sibuk untuk bersiap melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Sepasang suami-istri itupun kemudian membersihkan diri dan berwudhu untuk segera melaksanakan sholat maghrib.


Gilang dan Ailee tidak keluar kamar lagi setelahnya. Mereka berdua bahkan tidak bergabung di jam makan malam sehingga semua orang mengira bahwa mereka berdua masih berada di kediaman orang tua Ailee. Gilang sengaja melakukan itu dan sebelum pulang tadi, mereka menyempatkan untuk makan terlebih dahulu.


"Mas yakin, enggak mau gabung sama mereka?" tanya Ailee, memastikan.


"Iya, Sayang. Sebaiknya kita tidur, yuk. Aku ngantuk," balas dan ajak Gilang seraya menjatuhkan tubuh sang istri di atas pembaringan yang empuk setelah mereka berdua menjalankan sholat isya'.


Ailee hanya bisa mengikuti kemauan sang suami. Kedua insan yang selalu romantis itupun saling memeluk mesra. Tidak lama kemudian, mereka berdua telah terlelap ke alam mimpi.


Sementara di meja makan, semua keluarga telah berkumpul. Termasuk adik dari papanya Gilang, putri bungsu Nenek Amira yang datang tadi sore. Tantenya Gilang itu nampak tidak begitu respect pada Mama Irna.


"Ge kenapa enggak pulang-pulang, Ma? Padahal, aku ingin melihat langsung istrinya," tanya Tante Yeni yang ketika sang keponakan menikah dia tidak bisa datang karena sedang mengantar sang suami berobat ke luar negeri.


"Apa Ge dan istrinya akan menginap di sana, Ma?" lanjutnya, bertanya.


"Tidak, Yen. Paling nanti, agak maleman mereka pulang karena 'kan besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat ke tempat acara pertunangannya Er," terang Nenek Amira.


Erlan mengangguk, membenarkan penjelasan sang oma. "Ge belum pernah menginap di rumah orang tua istrinya, kok, Tan. Meskipun larut, mereka akan tetap pulang," timpalnya dan Tante Yeni menganggukkan kepala, mengerti.


Selanjutnya, mereka menikmati makan malam sambil ngobrol ringan. Membicarakan tehnis acara besok pagi, tentang keberangkatan menuju ke pulau keluarga orang tua calon tunangan Erlan.


Semua nampak antusias dan berbahagia. Terlebih Erlan karena esok hari adalah hari spesial yang sudah cukup lama dia nanti. Hanya Mama Irna yang nampak bersedih.


'Apa kamu benar tidak bisa memaafkan mama, Ge? Ketika semua keluarga berkumpul seperti ini, kamu malah sengaja menghindar. Itu karena ada mama 'kan, di rumah ini?' monolog Mama Irna, dalam diam.


Mama Irna sibuk dengan pikirannya sendiri dan melamunkan sang putra. Sama sekali tidak terganggu dengan obrolan orang-orang di sekitarnya. Wanita paruh baya tersebut sampai tidak fokus dengan makanan di hadapan yang hanya diacak-acak dengan sendok.


"Ma, apa Mama tidak berselera dengan makanannya? Kenapa hanya dilihatin seperti itu?" tanya Mbak Gia yang baru menyadari bahwa sang mama nampak murung.

__ADS_1


Mama Irna menggeleng. "Bukan, Gia. Makanannya enak, kok," kilahnya padahal wanita kurus itu sama sekali tidak dapat merasakan nikmatnya makan. Pikirannya masih saja tertuju pada sang putra bungsu yang seolah menghindar darinya.


"Makanlah, Irna. Jangan terlalu kamu pikirkan kenapa Ge belum juga pulang. Mungkin mertuanya sedang tidak baik makanya mereka masih berada di sana." Nenek Amira yang seolah bisa menebak pikiran Mama Irna, menatap mamanya Gilang dengan tatapan teduh.


"Iya, Ma." Mama Irna kemudian makan dengan cepat karena tidak ingin mengundang perhatian keluarga karena dia melamun saja sepanjang makan.


Usai makan malam, semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Kecuali Mama Irna yang memilih untuk pamit hendak beristirahat. Mereka hanya bisa membiarkan saja dan memaklumi kesedihan Mama Irna karena Gilang masih menghindar.


Obrolan hangat yang diselingi canda dan tawa mulai terdengar. Seperti biasa, Satria dan Erlan yang mendominasi. Kekocakan mereka berdua membuat ramai suasana. Apalagi dengan hadirnya Tante Yeni yang gaul layaknya anak muda meskipun putranya sudah seusia Gilang, semakin menambah ramai suasana di ruang keluarga.


Mereka terus saja bercengkrama hingga tanpa terasa malam semakin larut. Sang oma yang beranjak hendak beristirahat, kemudian memaksa yang lain untuk membubarkan diri juga karena mereka semua juga harus beristirahat agar besok tidak kesiangan. "Er, kamu juga harus segera beristirahat," suruh sang oma dan Erlan menganggukkan kepala, patuh.


Ruangan luas yang tadinya sangat meriah itupun mendadak sepi. Semua orang telah menuju ke kamar masing-masing. Erlan beserta keponakan-keponakannya tidur di lantai atas, sementara para orang tua menempati kamar di lantai satu.


Di saat yang lain beranjak ke peraduan untuk mengistirahatkan badan, Gilang justru baru saja membuka matanya. Perlahan, pemuda tampan itu beringsut ketika melihat jam yang menempel di dinding kamarnya menunjukkan angka sebelas lewat tiga puluh menit. Dia kemudian membangunkan sang istri, perlahan.


Gilang tersenyum dan kemudian mendekatkan wajah. "Aku yakin, dengan cara ini kamu pasti akan cepat bangun, Sayang," gumamnya yang kemudian melabuhkan ciuman di bibir istrinya.


Suami Ailee itu ******* lembut bibir tipis sang istri. Benar saja, tidak butuh waktu lama istrinya merespon dan membalas ciuman Gilang. Membuat pemuda tampan tersebut tersenyum dan kemudian menyudahi ciumannya.


"Hai, bangun. Sudah hampir jam. dua belas," ucap Gilang seraya menatap netra sang istri yang baru saja membuka.


"Jam dua belas?" Ailee langsung beringsut. "Kenapa Mas baru membangunkan Ai?" protesnya yang langsung beranjak hendak ke kamar mandi.


"Sudah aku bangunkan dari tadi, Sayang, tapi kamu tidak merespon. Sepertinya, kamu kelelahan," balas Gilang.


"Iya, Mas. Ai memang merasa capek banget. Entahlah, akhir-akhir ini, Ai kayak mudah lelah," ucap Ailee yang kemudian menuju ke kamar mandi.


Mendengar perkataan sang istri barusan, Gilang mengerutkan dahi. 'Kayaknya, udah cukup lama Ai tidak datang bulan. Apa jangan-jangan, dia ....'

__ADS_1


"Mas mau ke kamar mandi dulu, enggak?" Pertanyaan Ailee mengurai lamunan Gilang.


Pemuda tampan itu tidak menjawab, tetapi malah memindai tubuh istrinya. Sedetik kemudian Gilang tersenyum hingga membuat Ailee mengerutkan dahi. "Ada apa, sih, Mas? Apa ada yang salah, dengan penampilan Ai?" cecar Ailee.


"Ni, Ai juga mau ganti, kok. Enggak mungkin 'kan, ngumpul sama keluarga pakai gaun tidur transparan kayak gini?" Ailee memindai penampilannya sendiri di depan cermin besar.


"Ya udah, ganti yang tertutup rapat. Aku enggak mau ada cowok lain yang melihat bagian tubuh indahmu, Sayang," bisik Gilang sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Mas, udah, ah ... buruan ke kamar mandi! Sepuluh menit lagi, tuh!" Ailee menunjuk ke arah jam dinding.


Gilang mencuri kecupan sekilas di pipi sang istri dan kemudian segera berlalu menuju kamar mandi. Lima menit kemudian, mereka berdua telah bersiap untuk keluar kamar. Ailee membawa kotak kue, sementara sang suami membawa beberapa paper bag di kedua tangannya.


"Sayang. Kamu tunggu di sana dulu, biar aku bangunkan Mbak Gia dan Mbak Tia!" suruh Gilang yang segera berlalu menuju ke kamar kakaknya.


Setelah beberapa saat menunggu, Ailee melihat kedua kakak iparnya berjalan bersama sang suami menuju ke arahnya. Melihat Ailee membawa kue, Mbak Gia dan Mbak Tia kemudian menatap sang adik. "Dik, jadi kamu sengaja menghindar dari mama, tuh, karena kamu menyiapkan kejutan ini buat mama?" tanya Mbak Gia dan Gilang menjawabnya dengan senyuman.


"Masih saja seperti dulu kamu, Dik. Selalu ingat dengan hari penting keluarga," timpal Mbak Tia, terharu.


Gilang kemudian mengetuk pelan pintu kamar sang mama, setelah menyalakan lilin yang berada di atas kue yang dipegang sang istri. Gilang tidak perlu mengulang ketukan karena penghuni kamar yang tidak juga dapat memejamkan mata sedari tadi, langsung membuka pintu kamar. Mama Irna tertegun begitu melihat siapa yang berada di depan kamarnya.


"Ge ...." Air mata Mama Irna lolos begitu saja.


Wanita ringkih itu tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Melihat Gilang mau mendekat padanya saja, Mama Irna sudah sangat bahagia. Apalagi setelah melihat Gilang datang bersama sang menantu yang membawa kue ulang tahun, membuat mamanya Gilang itu semakin terharu.


"Selamat ulang tahun, Ma. Semoga Mama sehat selalu," ucap Gilang setelah meletakkan paper bag di depan kaki sang mama. Pemuda tampan itu kemudian memeluk mamanya dengan erat, membuat air mata Mama Irna semakin tumpah ruah.


"Ge, kamu mau memaafkan mama, Nak?"


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2