
Kehadiran kekasih Erlan disambut hangat oleh papa dan mamanya Erlan. Begitu pula dengan keluarga Gilang, yaitu kedua kakak perempuannya juga menyambut hangat gadis cantik yang seusia dengan calon adik iparnya itu.
"Siapa tadi namanya? Maida, ya?" tanya kakak pertama Gilang, setelah perkenalan singkat barusan.
"Masih punya saudara atau adik perempuan, enggak, Dik?" lanjut mamanya Satria itu, bertanya.
"Apa, sih, Ma? Jangan tanya aneh-aneh, deh!" protes Satria yang dapat menangkap signal buruk dari pertanyaan mamanya.
"Saudara kembar, Kak Mai punya budhe," sahut Riko, mewakili kekasih Erlan.
"Oh ... iya, kah? Pasti cantik juga seperti kamu," puji Mbak Gia, mamanya Satria pada Maida.
"Boleh, dong, dikenalin sama Satria," pintanya kemudian seraya melirik sang putra yang cemberut.
Maida tersenyum.
"Mama, ih ... malu-maluin aja! Dikiranya, Satria enggak bisa nyari cewek, apa?" protesnya, kembali.
"Jangan, Mbak! Sayang ceweknya kalau dijodohin sama kang jahil kayak Satria," sahut Gilang yang kemudian terkekeh senang.
"Siapa juga yang mau dijodohin, Om? Satria bukan Om Ge ya, yang enggak laku-laku," balas Satria, meledek omnya.
"Siapa yang enggak laku? Om cuma masih milih-milih, Sat. Oma aja yang enggak sabar pengin lihat om cepat nikah," sangkal Gilang yang tidak terima dikatakan tidak laku, sambil melirik sang oma yang senyum-senyum saja sedari tadi melihat kehangatan keluarganya.
Begitu pula dengan kedua orang tua Erlan dan kakak perempuannya, yang juga tersenyum melihat perdebatan kecil antara om dan keponakannya tersebut.
"Halah, alasan!" cibir Satria.
"Dik, kenalin ya, saudari kembarnya sama anak Mbak," pinta wanita cantik yang merupakan mamanya Satria dan Kukuh, dengan penuh harap.
Ya, Mbak Gia jatuh hati pada sosok Maida pada perkenalan pertama. Sikap gadis itu yang santun dan lembut, serta pembawaannya yang ramah dan humble, membuat Mbak Gia pengin juga memiliki menantu seperti kekasih Erlan tersebut.
"Rara, adik kembarnya Dik Mai itu udah punya kekasih, Mbak dan saat ini kekasihnya sedang dirawat di rumah sakit," balas Erlan, mewakili sang kekasih.
"Ya, Tuhan. Mudah-mudahan kekasihnya Kak Rara itu lupa ingatan dan lupa pada Kak Rara, sehingga abangku memiliki kesempatan untuk mendapatkan Kak Rara," ucap Kukuh yang ikut-ikutan absurd seperti abangnya.
"Dik, kok do'anya seperti itu? Enggak boleh, Dik!" protes sang mama.
"Bang Sat yang ngajarin adik, Ma. Kata Bang Sat, sebelum janur kuning melengkung, masih boleh ditikung," balas Kukuh yang teringat ucapan sang abang, semalam.
Satria terkekeh, sementara sang mama mendelik ke arahnya. "Sat, yang benar kalau ngajarin adiknya!"
"Iya, Ma. Satria cuma becanda, kok," balas Satria.
Para orang dewasa geleng-geleng kepala, mendengar kelakuan Satria yang memang suka becanda, sedikit jahil dan terkadang absurd tersebut.
__ADS_1
"Jadi, putra Mbak ini sudah tidak memiliki kesempatan, dong, untuk menjadi bagian dari keluarga kamu, Dik?" lanjut Mbak Gia, bertanya.
Adik kandung Mbak Gia sampai dibuat geleng-geleng kepala, melihat tingkah sang kakak yang dinilai berlebihan.
"Sabar saja tho, Mbak. Wong, Satria juga masih belum cukup dewasa, kok. Gak usah kesusu!" peringat Mbak Tia, yang bahasa jawanya medok karena sudah cukup lama tinggal di daerah Jawa Timur.
"Hem, benar sekali, Tante. Tahu, tuh, si mama," timpal Satria.
"Masih ada kesempatan, kok, Mbak. Dik Mai masih memiliki keponakan yang cantik-cantik. Masih SMP, sih, tapi pas-lah sama Satria yang juga masih labil."
"Satria sudah tidak labil, Om!" sahut Satria, protes atas ucapan Erlan barusan.
Satria terkekeh karena berhasil membuat Satria keki dan tidak terima dikatakan labil.
"Emang masih labil cowok seusia kamu itu, Sat. Yang pas ya, yang seusia kami ini," timpal Gilang yang mendapatkan angin segar untuk membalas sang keponakan.
"Kalau seumuran Om berdua itu ketuaan. Banar, kan, Mbah Dhe?" Satria menatap mamanya Erlan, meminta pembelaan.
"Mbah Dhe pasti udah enggak sabar, kan, pengin cepat punya cucu dari dulu?" imbuh Satria.
Wanita berusia sekitar enam puluh tahun yang terlihat sangat anggun itu mengangguk, membenarkan ucapan cucu dari adiknya.
Mamanya Satria itu kemudian mengusap punggung Maida yang duduk di sampingnya dengan penuh rasa sayang. "Makasih ya, Nak. Sudah mau mencintai putra mama," ucapnya pelan.
Maida tersenyum manis pada wanita yang memiliki tatapan teduh tersebut. "Sama-sama, Ma. Terima kasih juga, sudah melahirkan pangeran baik hati yang sangat sayang sama Mai," balas Maida.
"Pangeran berkuda putih kali, ah!" cibir Satria.
"Sat ...." Sang mama menggeleng-gelengkan kepala.
"Iya, Ma," balas Satria yang sangat hormat dan nurut pada orang tuanya itu.
"Jadi, kapan keluarga kami boleh ke rumah kamu untuk melamar, Dik?" tanya Mbak Gia pada Maira.
"Budhe Ris dan Pakdhe San tentu ingin silaturahim pada keluarga Dik Mai, kan?" Mbak Gia menatap pakdhe dan budhenya.
Mama dan papanya Erlan, mengangguk.
"Tapi ya, terserah anaknya saja, Gia," tutur papanya Erlan, kemudian.
"Kalau silaturahim ke sana, kan, bisa sekalian kenalin salah satu keponakan kamu itu pada Satria, ya?" ulang Mbak Gia, meminta.
"Tunggu-tunggu, Ma. Kata Om Er, kan, keponakannya Kak Mai masih SMP. Kalau begitu, buat Kukuh aja, Ma," sela Kukuh yang membuat Satria langsung protes.
"Wah, mau nikung abang sendiri kamu, ya!"
__ADS_1
"Ingat hukum Newton, Bang," balas Kukuh, terkekeh.
Erlan, Gilang dan Riko yang teringat obrolan semalam, ikut terkekeh senang.
Sementara yang lain hanya saling pandang karena tidak mengerti apa-apa.
"Rasain kamu, Sat! Senjata makan tuan!" cibir Gilang masih dengan tawanya.
Obrolan yang hangat dan penuh canda tawa tersebut terus berlangsung hingga suara adzan ashar yang terdengar dari masjid di kejauhan, membubarkan mereka semua untuk segera bersiap menuju kediaman orang tua Ailee.
\=\=\=\=\=
Calon mempelai wanita yang mengenakan kebaya putih panjang menjuntai hingga semata kaki, dipadukan dengan kain jarik batik tulis yang cantik, dengan motif batik sido mukti tersebut berjalan perlahan menuju halaman depan.
Calon pengantin itu digandeng oleh Maida yang juga tampil sangat anggun dengan gaun batik, yang senada dengan kemeja batik yang dikenakan oleh Erlan.
Kedua pemuda tampan yang telah bersiap di halaman depan bersama keluarga besar, sama-sama dibuat terpesona dengan penampilan pasangan masing-masing.
"Bidadari syurgaku. Ayo, silakan masuk!" ajak Gilang seraya membukakan pintu mobil khusus untuk pengantin.
Ailee tersenyum tersipu malu. Gadis belia yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai nyonya itu kemudian segera masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Gilang yang duduk di samping sang calon istri.
Sang oma mengikuti kemudian, dengan duduk di depan di samping sopir.
Semua keluarga kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing, begitu pula dengan Erlan yang semobil bersama sang kekasih dan kedua orang tuanya.
Iring-iringan mobil mewah rombongan pengantin itu pun segera bergerak, untuk menuju kediaman orang tua Ailee.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, iring-iringan mobil tersebut memasuki halaman kediaman orang tua Ailee yang cukup luas.
Di sana, beberapa tamu undangan yang terdiri dari kerabat dekat Ailee telah hadir dan mereka kemudian menyambut kedatangan kedua calon mempelai, beserta keluarga Gilang.
Aira, kakak tertua Ailee nampak ramah menyambut sang adik kandung dan calon suaminya.
"Ayo, Dik. Silakan masuk," ajaknya yang langsung menggandeng tangan Ailee, membuat gadis belia itu merasa terharu.
Ailee dan Gilang kemudian duduk di tempat yang telah disediakan untuk acara ijab qabul.
Keluarga besar Gilang juga sudah menempati kursi yang berada di ruang tamu itu.
Tak lama kemudian, orang suruhan Gilang mengatakan pada Erlan bahwa pak penghulu sudah datang dan laki-laki paruh baya yang akan mencatat pernikahan Gilang dan Ailee tersebut segera menempatkan diri.
"Sayang, kok papa kamu dan anak kesayangannya itu belum kelihatan?" bisik Gilang pada sang calon istri.
Hati pemuda tampan itu, tiba-tiba saja menjadi resah. 'Kemana mereka berdua? Apa yang mereka rencanakan pada kami?'
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕