
Suasana di ruang tamu butik yang sekaligus ruang kerja Fira tersebut menjadi riuh. Kehadiran kekasih Erlan dan kedua saudaranya, semakin membuat acara pemilihan gaun untuk calon mempelai wanita menjadi seru.
Saat ini, bukan Fira yang mendominasi untuk menjelaskan mengenai gaun pengantin untuk Ailee, tetapi kekasih Erlan dan saudari kembarnya yang juga sudah sangat paham dengan gaun pengantin.
Mereka berdua memilihkan gaun yang bahannya berkualitas dan tentunya nyaman dikenakan karena baik Maida maupun Maira, sudah sering melihat saudara-saudaranya menikah dan mengenakan gaun dengan bahan dan model terbaik.
"Yang ini warnanya kalem, Oma. Pasti cocoklah kalau dipakai Ailee, dia 'kan anaknya lembut dan anggun," ucap Maida seraya menunjukkan sebuah gaun berwarna silver, dengan hiasan payet cantik di bagian leher hingga ke dada.
"Warna gold ini saja, Oma. Kesannya mewah, cocok, sih, menurut Rara kalau acaranya malam." Maira menunjukkan gaun yang baru saja dia lepaskan dari manequin dan kemudian dia tunjukkan pada Nenek Amira.
Nenek Amira sampai dibuat bingung karena gaun yang mereka berdua pilihkan, kesemuanya sangatlah bagus.
"Ini bagus-bagus semua, Ge. Oma jadi bingung." Sang oma menimbang-nimbang empat gaun di tangannya.
Sementara Ailee hanya tersenyum, mengamati dua saudara kembar yang sama-sama cantik dan ramah tersebut, terlihat sangat antusias memilihkan gaun untuknya.
Mereka berdua juga selalu mengajak Ailee berdiskusi dalam memilihkan gaun, layaknya teman lama padahal mereka baru bertemu dalam hitungan menit.
"Kalau semua bagus, ambil semua saja, Oma," balas Gilang yang sama sekali tidak keberatan.
"Buat apa, Mas? Satu aja juga enggak bakalan habis," protes Ailee, mendengar sang calon suami tidak memperhitungkan pengeluaran.
"Kalau butuhnya satu, ya beli satu aja, Mas. Jangan pemborosan! Membeli barang yang tidak begitu penting, sementara masih ada barang lain yang dapat kita pakai," lanjut Ailee, panjang kali lebar.
Membuat Gilang tersenyum, seraya mengangguk. Menyetujui ucapan sang calon istri. "Iya, beli satu aja."
Nenek Amira ikut tersenyum. "Kamu mau pilih yang mana, Nak Ai?" tanya sang oma, kemudian.
"Terserah Oma sama Mas Gilang saja," balas Ailee.
"Udah-udah. Daripada saling lempar siapa yang mau memilihkan, aku aja sini!" Erlan kemudian mengambil gaun yang tadi dipilihkan oleh kekasihnya.
"Pakai ini aja, Ai. Kalau kamu enggak mau, ya udah biar dipakai Dedek Cantik dan besok yang menikah kami berdua, bukan kalian," imbuhnya, tersenyum nyengir.
Membuat Gilang langsung protes pada kakak sepupunya tersebut, melalui tatapan matanya.
"Emangnya, Bang Er beneran berani melamar Kak Mai? Pakdhe galak, loh," ledek Iqbal meremehkan Erlan.
"Siapa takut? Sekarang juga, hayuk ... asalkan Dik Mai siap," tantang Erlan.
Maida hanya tersenyum dan kemudian melirik saudari kembarnya, mengisyaratkan agar sang kekasih tidak membahas pernikahan terlebih dahulu di saat Maira sedang bersedih.
"Kekasihmu itu pasti siap kapan pun kamu akan melamarnya, Er. Asalkan kamu benar-benar serius," tutur sang oma.
"Er serius, Oma," sahut Erlan, cepat dan kemudian menatap sang kekasih dengan tatapan penuh cinta.
Gadis cantik yang ditatap sedemikian rupa, tersenyum tersipu malu. Wajah putih bersih Maida, menjadi bersemu merah.
"Nantilah kita bicarakan di lain waktu. Sekarang, kita fokus dulu dengan pernikahan mereka berdua," tutur sang oma, seraya menatap Gilang dan Ailee bergantian.
__ADS_1
"Jadinya mau gaun yang mana, Oma?" tanya Fira yang sedari tadi hanya senyum-senyum saja.
"Itu saja tidak apa-apa, Nak Fira," putus Nenek Amira seraya menunjuk gaun yang berada di tangan Erlan, gaun berwarna silver pilihan Maida.
Setelah mendapatkan gaun pengantin untuk Ailee, wanita tua itu kembali memilih-milih dan kali ini adalah kebaya untuk akad nikah sang calon cucu menantu.
Maira tidak lagi ikut-ikutan memilihkan. Kali ini gadis cantik tersebut menyibukkan diri mengirim pesan untuk seseorang.
Sementara Maida dan Erlan juga sibuk sendiri, memilih baju couple untuk menghadiri pernikahan Gilang dan Ailee.
"Nak Fira juga harus datang, ya," pinta Nenek Amira ketika menyalami Fira karena mereka sudah selesai berbelanja dan hendak pulang.
"Ajak serta, anak dan suami kamu yang tampan itu," lanjutnya yang pernah beberapa kali bertemu dengan suami Fira di butik ketika omanya Gilang tersebut sedang berbelanja.
"InsyaAllah, Oma. Kami akan usahakan untuk datang tepat waktu," balas Fira, menyanggupi.
"Terima kasih banyak atas pelayanannya yang selalu memuaskan. Kami permisi dulu," pamit Nenek Amira, mewakili cucu-cucunya.
"Saya yang seharusnya berterima kasih, Oma, karena Oma sudah setia berbelanja di tempat kami," ucap Fira seraya merangkul pundak Nenek Amira dan mengantarkan tamu butiknya itu hingga pintu keluar.
Maida juga ikut berjalan keluar, mengiringi langkah Erlan. Sementara Maira dan Iqbal yang belum pengin pulang, kembali duduk di sofa setelah menyalami Erlan, dan yang lainnya.
"Abang besok jemput Mai jam berapa?" tanya gadis berhijab tersebut seraya mendongak menatap sang kekasih yang bertubuh tinggi itu.
"Acara dimulai bakda ashar, Dik. Kamu abang jemput pagi, ya. Ke rumah dulu, sekalian menemani Ailee," balas Erlan.
"Nak Mai tidak ikut kami pulang? Nanti malam biar diantarkan sama Er, sekalian dia minta ijin sama orang tua kamu agar besok kamu diijinkan untuk menemani mempelai wanita hingga malam," tanya Nenek Amira ketika mereka telah sampai di pintu utama, hendak keluar.
"Menemani sampai malam? Jangan, Oma! Menemani Ai pas lagi dirias saja, jangan sampai malam!" protes Gilang.
"Bisa gagal malam pertamaku kalau kalian berdua temani," lanjutnya menggerutu, seraya melirik Erlan yang berdiri di sampingnya.
"Tau, tuh, si Ge. Siapa juga yang mau menemani kalian?" Erlan memasang wajah masam.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Gilang, lega.
"Maksudnya sampai malam itu, sampai acaranya selesai, Ge. Bukan menemani kalian berdua di kamar, menghabiskan malam pertama," balas sang oma, seraya geleng-geleng kepala.
Fira tersenyum, mendengar perdebatan kecil Gilang dan Erlan.
Sementara Ailee langsung mencubit pinggang sang calon suami, membuat Gilang langsung berbisik.
"Udah mulai berani nyubit di tempat terlarang ya, sekarang?" Gilang menatap sang calon istri, dengan tatapan menggoda.
"Tempat terlarang?" balas Ailee, bertanya.
"Iya, tangan kamu kepleset dikit aja dan turun ke bawah, bisa berabe 'kan, kalau yang kamu cubit bagian ituku, Sayang." Gilang semakin menggoda, membuat pipi sang calon istri merona.
"Bagaimana, Nak Mai? Ikut kami pulang, kan?" tanya sang oma kembali, menyudahi bisik-bisik Gilang dan Ailee.
__ADS_1
"Maaf, Oma. Lain kali saja, Mai main ke rumah. Kalau sekarang tidak bisa karena Mai harus menemani Mela," tolak Maida dengan halus.
"Siapa pula si Mela? Apa, dia saudara kamu juga? Saudara kembar?" tanya Gilang, penasaran.
"Iya, Bang. Mela saudari kembarku," balas Maida dengan jujur.
"Jadi, kalian kembar tiga?" Gilang kemudian menatap Erlan seraya tersenyum.
Belum sempat Maida meluruskan kesalahpahaman Gilang, pemuda itu sudah melanjutkan ucapannya.
"Wah, enak banget jadi kamu, Bang, kalau bisa dapetin tiga-tiganya. Bang Er pasti bakalan nyanyi terus," lanjut Gilang.
"Nyanyi bagaimana maksud kamu, Ge?" tanya Erlan.
Gilang bukannya menjawab, tetapi pemuda itu malah langsung bernyanyi istri dua yang diplesetkan menjadi istri tiga.
Sebuah lagu yang dipopulerkan oleh musisi ternama Indonesia, yang juga merupakan Presiden Republik Cinta, Ahmad Dhani Manaf.
'Senangnya dalam hati
Kalau beristri tiga
Seperti dunia
Ana yang punya'
'Kepada istri tua
Kanda sayang padamu
Kepada istri muda
I say I love you'
'Istri tua merajuk
Balik ke rumah istri muda
Kalau dua dua merajuk
Ana kawin tiga'
Ailee kembali mencubit sang calon suami dan kali ini gadis belia itu langsung berlari kecil keluar dari butik, meninggalkan Gilang yang kelabakan.
"Sayang, tunggu! Lagu itu bukan untukku tapi untuk Bang Er!" seru Gilang.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1