Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Tolong Nesa, Mas!


__ADS_3

Keesokan harinya, Erlan mengajak Gilang untuk menyelesaikan urusan dengan Nesa dan Topan. Mereka berdua mengajak serta Nanik yang dipaksa ikut untuk menjadi saksi bahwa foto-foto mesra antara Gilang dan Nesa hanyalah rekayasa kakak dan adik tiri tersebut. Mereka berdua meminta Nanik untuk menelepon Topan dan mengajaknya bertemu di kantor polisi tempat Nesa menjadi tahanan sementara.


Topan datang ke kantor polisi tersebut karena Nanik yang memintanya. Pemuda teman sekolah Gilang itu tidak mengajak serta pengacara karena tidak tahu kalau Nanik ke kantor polisi bersama Gilang dan abang sepupunya. Topan dibuat sangat terkejut begitu melihat hadirnya Gilang dan juga Erlan, dua orang yang tidak terpisahkan sedari masa remaja.


"Nan, kenapa kamu enggak bilang kalau kamu ke sini bersama mereka?" protes Topan, menatap sang mantan kekasih.


Nanik hanya tersenyum lalu pura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Apa kabar, Bro?" sapa Erlan, basa-basi.


Sementara Gilang sedari melihat kedatangan teman lamanya itu sudah terbawa emosi. Andai saja ini bukan di kantor polisi, Gilang pasti sudah melayangkan tinju ke wajah Topan. Gilang hanya dapat mengepalkan kedua tangan, menyimpan amarah agar jangan sampai membuat keributan.


"Apa kedatangan kalian berdua untuk membebaskan Nesa?" tanya Topan, menatap Gilang dan Erlan bergantian.


"Bisa iya, bisa tidak," balas Gilang tanpa menoleh ke arah Topan.


Gilang nampak ingin melanjutkan bicaranya, tapi urung ketika melihat kedatangan Nesa yang diantarkan petugas polisi.


Wanita berkulit putih dan berambut lurus terawat itu lalu tersenyum pada Gilang. "Apa Mas Gilang datang mau membebaskan aku?" tanyanya, penuh percaya diri.


Nesa hendak menyentuh tangan Gilang yang berada di atas meja, tetapi dengan cepat Topan mencegah. Nesa cemberut lalu mencibir sang abang tiri, "dasar posesif!"


"Jika ada aku, kamu tidak boleh genit genit pada laki-laki lain!" ancam Topan yang juga berbisik...


Bisik-bisik mesra kakak adik itu membuat Nanik menjadi jengah. Mantan kekasih Topan itu lalu berdeham. Topan sedikit menjauh dari sang adik tiri setelah mendengar kode tidak suka dari Nanik.

__ADS_1


"Kalau kamu membebaskan adikku, maka foto-foto kalian berdua tidak akan aku sebarkan ke sosial media. Semua duplikat dan filenya akan aku berikan padamu, Lang," ucap Topan kemudian. Teman lama Gilang itu tidak mengetahui bahwa Nanik sudah menceritakan semuanya.


"Apa aku bisa pegang kata-katamu?" tanya Gilang berpura-pura belum mengetahui apa-apa dan Topan menganggukkan kepala seraya tersenyum smirk.


Erlan menyenggol lengan Gilang agar adik sepupunya itu tidak membuang waktu karena sore ini dia dan sang istri harus ke rumah mertua untuk membahas pernikahannya. Gilang yang mengerti, menganggukkan kepala. Pemuda itu lalu tersenyum pada Topan.


"Sayangnya, aku tidak peduli dengan tawaran kamu, Pan!" lanjut Gilang, membuat Topan dan Nesa menatap pemuda tampan itu tidak percaya.


"Apa kamu yakin, Lang? Nama besarmu taruhannya dan juga rumah tanggamu yang kabarnya kamu belum lama ini menikah." Topan menelisik, menatap Gilang.


"Nama besar dan juga rumah tanggaku akan baik-baik saja, Topan! Justru kamu dan adik tiri kesayanganmu itu yang akan sama-sama mendekam di penjara jika kamu berani menyebarkan foto-foto rekayasa tersebut!" ancam Gilang, menatap Topan dan Nesa bergantian.


"Rekayasa apa maksudmu, Lang?" Topan mengerutkan dahi.


Gilang tidak menjawab. Pemuda tampan itu lalu menatap Nanik. "Nik, bisa kamu ulang penjelasan kamu pada Bang Er semalam?"


"Maaf, Pan. Aku hanya tidak ingin kamu salah dalam melangkah demi membela kekasihmu itu. Aku hanya ingin kamu sadar, Pan," balas Nanik pelan, seraya melirik Nesa. Dia yang tetap masih menganggap Topan sebagai teman, merasa prihatin dengan hubungan terlarang sang mantan dengan Nesa.


"Nan, aku dan Nesa ...."


"Sudah-sudah! Malah melebar kemana-mana!" sergah Erlan.


Abang sepupu sekaligus asisten pribadi Gilang itu lalu mengeluarkan selembar kertas dari tas yang dia bawa.


"Tanda tangani ini, jika kamu tidak mau kami jebloskan ke dalam penjara!" Erlan menyodorkan lembar putih bermaterai itu ke hadapan Topan.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Topan, mengerutkan dahi.


"Baca saja! Semua sudah jelas di sana. Jika kamu berani menyebarkan foto-foto tersebut maka kami akan menuntutmu dengan pasal pencemaran nama baik, pemerasan dan perbuatan yang tidak menyenangkan!" lanjut Erlan.


Topan memijat pangkal hidungnya. Dia sama sekali tidak berpikir sejauh ini. Topan pikir akan mudah menakut-nakuti Gilang dengan pertaruhan nama baik jika foto pengusaha muda sukses itu tersebar.


"Pan, yang aku lakukan ini demi kebaikanmu kamu," bisik Nanik yang tetap peduli dengan cinta pertamanya meskipun sudah tidak ada lagi rasa cinta setelah Topan mengkhianatinya.


"Kamu masih muda, Pan. Carilah wanita lain yang bisa mendampingimu. Tinggalkan Nesa, kalau perlu pergilah sejauh-jauhnya dari kota ini agar kamu bisa move on dari dia," lanjutnya, masih dengan berbisik.


Topan menghela napas panjang. "Sulit, Nan. Kamu tahu, aku bahkan sudah sering meninggalkan dia. Namun, setiap pulang ke kota ini aku selalu kembali ke pelukannya," balas Topan yang juga berbisik karena tidak ingin Nesa mendengar apa yang dia katakan.


Gilang dan Erlan yang mengetahui sedikit cerita tentang teman lamanya itu hanya menjadi pendengar setia. Tidak memberikan komentar karena tidak mau terlibat lebih jauh dengan kehidupan Topan dan keluarganya yang amburadul. Ayah tukang kawin dan anak-anak saling menjalin hubungan kasih.


Nesa bahkan tega memanfaatkan ibu tirinya yang tidak berdaya untuk mengeruk keuntungan sendiri. Kabarnya, gadis itu juga menjadi simpanan orang-orang berduit, termasuk pengacara yang kemarin datang ke kantor Gilang. Benar-benar gambaran keluarga yang hancur karena sang kepala keluarga tidak dapat menjadi sosok panutan bagi anak-anaknya.


"Oke, aku akan tanda tangani ini. Tapi tolong bebaskan Nesa dan setelah ini, aku janji tidak akan menggangumu lagi, Lang," ucap Topan seraya membubuhkan tanda tangan pada lembar putih tersebut.


"Maaf, Pan. Untuk kasus Nesa saat ini, polisi akan tetap memprosesnya karena kesalahan Nesa bukan hanya padaku dengan berniat memerasku. Kesalahan Nesa adalah pada Bu Kasih karena dia telah menganiaya ibu tiri kalian itu," terang Gilang.


Topan hanya bisa pasrah. Dia tahu, bahwa sang adik tiri yang senantiasa memberikan kehangatan padanya itu memang bersalah. Topan juga sudah pernah mengingatkan Nesa agar jangan memanfaatkan Bu Kasih, tapi adiknya itu tetap saja melakukan jika jobnya menjadi pemuas nafsu lelaki hidung belang sedang sepi.


Setelah mengambil surat pernyataan yang sudah ditandatangani Topan, Erlan dan Gilang segera beranjak. "Aku harap, kamu segera bakar foto-foto itu, Pan!" Gilang menatap sang teman lama dengan tatapan mengintimidasi dan Topan hanya bisa menganggukkan kepala, lemah.


Sementara Nesa segera berdiri. "Mas Gilang, tidak bisa seperti ini, Mas! Tolong Nesa, Mas! Bebaskan Nesa!" seru wanita itu yang tidak dihiraukan oleh Gilang. Pemuda tampan itu terus berlalu meninggalkan ruang tunggu bersama Erlan dan juga Nanik.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2