Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Ngapain Kamu Pulang?


__ADS_3

Malam harinya, Gilang telah bersiap untuk mengantarkan Ailee pulang ke rumah orang tuanya untuk meminta restu dari sang papa.


Pemuda tampan yang memiliki garis wajah tegas tersebut mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung hingga sebatas siku, rambutnya disisir rapi seperti biasa. Penampilannya benar-benar paripurna.


Sementara Ailee mengenakan gaun berwarna biru muda yang dibelikan oleh sang oma di butik, ketika Ailee pertama kali diajak ke kediaman keluarga Gilang, kemarin.


Dipadukan dengan hijab motif bunga-bunga cantik, membuat gadis belia itu semakin anggun dan terlihat sedikit lebih dewasa.


"Om Ge dan Kak Lili mau kemana?" tanya Kukuh yang memang belum mengetahui apa-apa.


"Mau kencan mereka, Dik. Kenapa? Mau ikut?" balas Satria, asal.


Cucu pertama di keluarga Nenek Amira itu sudah mengetahui dari Erlan, kalau Gilang dan Ailee telah sama-sama mengutarakan isi hati dan sebentar lagi akan menikah.


Satria ikut senang mendengar kabar yang membahagiakan tersebut, meski dia pernah berharap banyak pada Ailee.


"Ogah! Masak ikut sama orang yang mau kencan!" tolak Kukuh.


"Om Ge kencannya mau nonton, ya?" tanya Reno yang baru saja bergabung di ruang keluarga.


"Seru juga kali, Bang, kalau kita ikut mereka. Ini 'kan, kencan pertama Om Ge. Kita ikut aja, yuk!" lanjut Reno, penuh semangat.


"Jangan-jangan! Enak aja, mau ikut!" tolak Gilang, tegas.


"Yaelah, Om ... pelit amat, sih. Kita enggak bakal minta macem-macem, kok. Paling cuma minta dibeliin jajan," rajuk putra kakak kedua Gilang tersebut.


"Kalian kalau mau jajan, keluar sendiri sana!" Gilang kemudian menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada sang keponakan.


"Alhamdulillah, rizqi anak sholeh!" seru Reno, girang.


"Om, Kukuh enggak dikasih?" tagih adiknya Satria, seraya menyodorkan tangan.


Gilang menghela napas panjang dan kembali membuka dompetnya. Dia mengambil beberapa lembar uang kertas berwarna merah, sejumlah yang tadi diberikan kepada Reno.


Remaja kelas sebelas Sekolah Menengah Umum itupun bersorak senang. "Alhamdulillah. Makasih, Om!"


Ya, Gilang memang terkenal royal pada ketiga keponakannya tersebut. Dia sering memberikan uang jajan lebih kepada mereka bertiga, tanpa mereka memintanya.


"Om ...."


"Kamu sudah dewasa, Sat. Enggak usah ikut-ikutan mereka," sergah Gilang, sebelum Satria meneruskan ucapannya.


Sepertinya, Gilang masih menyimpan perasaan tidak nyaman terhadap keponakan sulungnya itu. Dia khawatir, jika Satria masih menyimpan perasaan untuk calon istrinya.


Apalagi jawaban Ailee tadi pagi sewaktu mereka berangkat ke kantor bersama, menggantung dan membuat Gilang semakin penasaran saja dengan kedekatan Ailee dan Satria.

__ADS_1


"Satria 'kan belum ngomong apa-apa, Om. Kok, Om Ge udah menyimpulkan aja!" protes Satria.


"Satria enggak mau minta uang jajan, kok. Tapi ...." Sejenak, Satria menghentikan ucapannya dan pemuda itu menatap ke arah Ailee yang sedari tadi diam saja, seraya memainkan kedua alisnya.


"Tapi, apa?" cecar Gilang dengan tidak sabar.


"Boleh, enggak, kalau Satria meminta calon istri Om," lanjut Satria, membuat Gilang menatapnya dengan tajam.


Bukannya takut, pemuda itu malah tergelak.


"Oh, Om sudah menyadari kalau ternyata sayang, ya, sama Ai," goda Satria.


Erlan yang juga berada di sana, terkekeh pelan.


"Sudah, Sat. Untung dia enggak terlambat menyadari," timpal Erlan.


"Jaga baik-baik, Om! Awas aja, kalau berani menyakiti Ai! Satria akan rebut dia dari sisi, Om!" ancam Satria, tidak main-main.


"Ck!" Gilang berdecak kesal, tetapi pemuda tersebut menyukai ancaman sang keponakan yang akan menjadi cambuk baginya untuk membuktikan, bahwa dia akan menjaga Ailee dengan sepenuh hati.


Sementara Ailee mengerutkan dahi, mendengar perkataan Satria yang diucapkan dengan sungguh-sungguh.


'Apa maksud Bang Satria, ya, berkata seperti itu?'


"Lho, kalian belum berangkat?" tanya sang oma yang baru saja selesai wirid, usai menjalankan sholat maghrib.


Gilang menggeleng cepat. "Tidak, Oma. Nanti, kami makan di luar saja. Takutnya kemaleman, kalau kami makan terlebih dahulu."


"Ya sudah, segeralah kalian berangkat. Jangan malam-malam pulangnya!" pesan sang oma.


Gilang dan Ailee kemudian segera beranjak. Mereka berdua berpamitan kembali pada sang oma.


"Do'akan Ai ya, Oma. Moga papa mau memberikan restunya."


"Pasti, Nak. Oma pasti mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua." Sang oma kemudian memeluk Ailee dengan erat.


Gilang dan Ailee kemudian segera keluar yang diiringi tatapan mata, serta do'a dari sang oma.


Gilang mengendarai mobil mewahnya sendiri dan menolak ketika Erlan menawarkan diri untuk mengantarkan mereka karena pemuda itu ingin menjalin kedekatan secara lebih intens, dengan sang calon istri.


Mobil mewah tersebut terus melaju, membelah jalanan beraspal untuk menuju ke rumah orang tua Ailee.


Di sepanjang perjalanan, Gilang mencoba membuka percakapan dengan gadis cantik yang duduk dengan anggun di bangku sebelahnya.


Awalnya, Ailee memang merasa canggung pergi hanya berduaan dengan seorang pemuda. Apalagi, tadi siang sewaktu di kantor sang oma pun telah mengingatkan agar mereka tidak sering berdua-duaan.

__ADS_1


Gadis itu berhasil mengatasi kecanggungannya karena sikap Gilang yang memperlakukan dirinya dengan sopan.


"Sayang, mau beli sesuatu dulu, enggak? Oleh-oleh buat orang rumah?" tawar Gilang seraya memelankan laju kendaraan ketika di depan sana ada deretan toko buah.


"Boleh," balas Ailee seraya menoleh ke arah bangku pengemudi. "Beliin apa ya, Om?" tanyanya, kemudian.


"Kalau buah, kita berhenti di sini, tapi kalau mau kue, nanti di depan ada toko kue langganan oma," balas Gilang.


"Buah aja, deh, Om."


Gilang segera menghentikan laju mobilnya dan memarkirkan tepat di depan salah satu toko buah.


"Sayang, boleh enggak, aku minta sesuatu?" tanya Gilang ketika Ailee hendak turun.


"Om Ge mau dibeliin buah apa?" tanya Ailee yang mengira, bahwa Gilang meminta dibelikan buahan juga.


"Bukan itu, Ai." Gilang menggeleng seraya tersenyum.


"Aku minta, tolong jangan panggil aku om. Kesannya, kita ini kayak om dan keponakannya," lanjut pemuda tampan tersebut.


Ailee tersipu malu. "Maaf, jika selama ini, Om, eh ... maksud Ai, Bang, em ... Mas, duh, enaknya manggil gimana, ya?" Ailee nampak kebingungan sendiri.


"Mas Gilang. Ya, panggil saja Mas Gilang," pinta Gilang.


Ailee mengangguk, setuju. "Baik, Mas Gilang."


Panggilan merdu yang keluar dari bibir Ailee, membuat Gilang tersenyum senang.


Mereka berdua kemudian turun, untuk membeli buah-buahan.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, mereka berdua melanjutkan perjalanan kembali.


Tak berapa lama, mobil Gilang memasuki kawasan perumahan yang padat dan cukup elite dan kemudian berhenti di depan sebuah rumah bertingkat yang cukup megah, di antara rumah-rumah yang lain.


Ragu, Ailee turun dari mobil Gilang dan kemudian berjalan menuju pintu rumahnya yang tertutup rapat, diikuti oleh Gilang.


Ailee memencet bel rumahnya. Setelah beberapa saat menunggu, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk tamu yang datang.


"Neng Ai. Apa kabar, Neng?" Wanita berusia sekitar empat puluh tahun tersebut, menyambut gembira kedatangan Ailee.


"Alhamdulillah, Ai baik, Bi. Apa, papa ada di rumah, Bi?"


Belum sempat bibi asisten menjawab, suara seseorang yang sangat Ailee hafal, berseru dari dalam.


"Ngapain kamu pulang?"

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕



__ADS_2