
Gilang dan Ailee melewatkan makan siang bersama keluarga dengan alasan mereka harus ke rumah orang tua Ailee. Padahal yang sebenarnya, Gilang masih berusaha untuk menghindar dari sang mama. Akhirnya, sang oma hanya makan siang berdua saja dengan Mama Irna karena Erlan dan keluarganya juga belum pulang dari berbelanja.
Tengah asyik menikmati makanan, terdengar suara salam yang diucapkan oleh beberapa orang secara bersamaan. Sang oma yang mengenali suara-suara itu segera berseru, menyuruh mereka semua untuk langsung menuju makan. "Kemarilah kalian, kita makan siang bareng!"
Mbak Gia dan Mbak Tia muncul bersama suami dan anak-anak. Kedua kakak beradik itu menghentikan langkah, kala melihat seorang wanita paruh baya duduk di samping sang oma. Keduanya kemudian saling pandang.
"Gia, Tia. Kemarilah," titah sang oma.
Ragu, kedua putri Mama Irna itu mendekat. Mama Irna langsung menyimpan sendoknya dan kemudian beranjak. Menatap kedua anak perempuannya bergantian.
"Gia, Tia, maafkan mama, Nak," ucap Mama Irna seraya terisak.
"Ma-Mama." Gia terbata, memanggil wanita kurus di hadapan. Wanita berhijab mama dari Satria itu tidak menyangka bahwa sang mama sungguh sangat berbeda. Tubuhnya sangat kurus dan wajahnya terlihat sangat tua, tidak terawat.
Mbak Gia kemudian memeluk sang mama seraya menangis. "Mama kenapa jadi begini?"
Mama Irna semakin tersedu. Tidak mampu menjawab pertanyaan sang putri sulung. Wanita kurus itu merasa sangat sedih karena baru bisa bertemu dengan anak-anak dan keluarga di saat kondisinya semakin memburuk. Namun, dia juga bahagia karena Mbak Gia langsung mau menerimanya.
Mbak Tia yang ikut menangis kemudian memeluk keduanya. "Kenapa Mama tidak pernah memberi kami kabar?" protesnya di sela isakan.
"Maafkan mama, Gia, Tia. Mama, mama sudah bersalah pada kalian," tutur Mama Irna, setelah melerai pelukan.
Kedua menantu Mama Irna kemudian menyalami wanita paruh baya tersebut. "Mas, maafkan mama, ya," pintanya pada kedua menantu.
Kedua laki-laki dewasa itu membalas dengan anggukan kepala serta senyuman. Membuat Mama Irna sedikit lega karena mereka semua bisa menerima kehadirannya kembali. Hanya Gilang seorang yang masih belum bisa memaafkannya, begitulah pikir Mama Irna.
"Ayo-ayo, kita makan bareng! Kalian pasti belum makan siang, kan?" Sang oma langsung memanggil bibi asisten untuk menyediakan piring dan minuman uny cucu-cucunya tersebut.
__ADS_1
Mereka kemudian mulai menikmati makan, tanpa ada yang bertanya banyak hal pada Mama Irna karena tidak mau merusak suasana makan yang hangat. Mama Irna terlihat asyik ngobrol dengan cucunya, putra-putri dari Mbak Tia yang masih kecil, adik dari Reno. Juga dengan putri bungsu Mbak Gia, adiknya Satria dan Kukuh.
"Er sama Ge kemana, Oma?" tanya Mbak Gia di sela-sela makan.
"Bang Er sama keluarganya sedang berbelanja untuk seserahan besok. Kalau Ge dan istrinya, menjenguk papanya Ai," terang sang oma.
"Oh, Budhe Ris sudah sampai sini?" tanya Mbak Tia.
"Pagi-pagi sekali, mereka sudah sampai sini, Tia. Bahkan, sempat sarapan bareng Satria dan Kukuh juga tadi," balas sang oma seraya terkekeh.
"Budhe paling sudah tidak sabar ingin melihat Bang Er nikah," sahut Mbak Gia yang dibalas sang oma dengan anggukan kepala.
"Kasihan juga, sih, Bang Er. Bela-belain menemani Ge, sampai dia mengabaikan dirinya sendiri," ucap Mbak Tia dan Mbak Gia serta sang oma kembali mengangguk.
"Iya, Er memang care banget sama adiknya itu," timpal sang oma. "Jika tidak ada dia, oma tidak tahu bagaimana jadinya adik kalian karena oma pasti tidak akan sanggup menjaga Ge sendirian," lanjutnya, membuat Mama Irna yang mendengar obrolan tersebut menitikkan air mata.
Mama Irna mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar sang putri sulung tidak melanjutkan ucapannya. "Mama tahu, Gia. Tidak mengapa kalian bercerita tentang bagaimana kehidupan adik kalian dulu setelah mama tinggalkan agar mama tahu, sehancur apa hati anak itu," tutur Mama Irna dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Mama pengin tahu banyak hal tentang dia, Ma," lanjutnya, seraya menatap Nenek Amira.
Wanita tua yang merupakan mantan ibu mertua Mama Irna itu menggeleng. "Tidak perlu, Irna, karena itu hanya akan mengorek luka lama. Ge sudah bahagia sekarang dan aku yakin, dia sebenarnya sudah memaafkan kamu. Hanya saja, mungkin dia butuh waktu menata hati untuk bertemu denganmu."
Mama Irna mengangguk, lemah. "Semoga saja, Ma. Semoga dia bisa memaafkan Irna." Dari suaranya, Mama Irna nampak ragu.
Makan siang pun usai. Mbak Gia dan Mbak Tia nampak masih menemani sang mama dengan duduk-duduk santai di taman samping. Sementara yang lain langsung menuju kamar masing-masing untuk beristirahat, termasuk sang oma.
Ketika ketiga wanita berbeda generasi itu tengah asyik bercengkrama melepas rindu, Erlan dan keluarganya datang. Mbak Erna dan Budhe Ris pun kemudian ikut bergabung di sana. Sebab meskipun di siang hari, taman tersebut sangat adem karena ada beberapa pohon besar yang menaungi.
__ADS_1
"Sudah dapat semua yang dicari, Budhe?" tanya Mbak Tia, setelah menyalami budhenya.
"Alhamdulillah, sudah, Nduk. Hah ... sampai pegel kaki budhe nuruti kemauan anak itu," balas Budhe Ris seraya geleng-geleng kepala.
"Banyak maunya ya, Budhe, Bang Er?" tanya Mbak Gia, tepat di saat Erlan mendekat karena ingin bergabung.
"Enggak. Enggak banyak, kok. Cuma satu mauku, mau menikah secepatnya dengan si dia," balas Erlan seraya terkekeh.
Obrolan pun makin hangat dengan kedatangan Erlan. Mereka bercanda ria, membuat Mama Irna melupakan kesedihannya. Suara tawa mereka bahkan sampai ke kamar Nenek Amira dan memaksa wanita tua itu untuk ikut bergabung.
Kehadiran wanita paling tua di keluarga Gilang tersebut semakin membuat ramai suasana karena meskipun usianya sudah lanjut, tetapi Nenek Amira senang bercanda. Hidup bersama cucu-cucu yang suka saling meledek dengan niatan menggoda saudaranya, membuat sang oma pun ikutan senang menggoda.
Tanpa terasa, matahari mulai tergelincir di ufuk barat. Mama Irna nampak kembali mulai resah karena sang putra pergi dan tak kunjung kembali. Padahal, wanita paruh baya tersebut ingin mendengar suara Gilang dan memeluk putra bungsunya itu.
Nenek Amira mulai beranjak. "Udah sore. Kita asharan dulu, yuk," ajaknya dan semua keluarga ikut beranjak.
"Ma, kita ke kamar Mama, yuk," ajak Gia ketika melihat sang mama belum juga beranjak dan tatapannya tertuju ke arah halaman luar. Putri sulung Mama Irna tersebut mengerti kegelisahan sang mama.
Gia sempat bisik-bisik tadi sama Mbak Erna dan dari kakak sepupunya itu, dia jadi tahu kalau Gilang belum bisa menerima kehadiran sang mama. Gia juga jadi berpikir bahwa adiknya tersebut pergi karena sengaja ingin menghindar dari sang mama. Kakak pertama Gilang itupun dapat mengerti, kenapa sang adik bersikap demikian.
"Ma, Ge pasti bisa memaafkan Mama, kok. Mama jangan sedih, ya," hibur Gia seraya berjalan mengiringi langkah pelan sang mama.
"Kenapa kamu seyakin itu, Gia?" tanya sang mama setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar Mama Irna. Wanita ringkih itu kemudian mendudukkan diri di tepi ranjang. Wajahnya terlihat berselimut mendung.
"Ge itu sudah dewasa, Ma. Dia sudah bisa berpikir panjang. Kalaupun dia belum menemui Mama, itu karena dia sedang mencari momen yang tepat," balas Gia seraya tersenyum.
"Momen yang tepat?" Dahi Mama Irna berkerut dalam.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕