
Gilang kemudian memutar video rekaman yang ada di ponsel sang sekretaris. Meski rekaman tersebut tidak menunjukkan secara jelas siapa orang yang berbicara, tetapi bos GCC tersebut beserta Ailee paham betul dengan suara wanita itu dan dapat mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.
Gilang nampak mengepalkan tangan dengan sempurna, setelah mendengarkan pembicaraan beberapa wanita dalam rekaman yang berhasil diambil oleh Naomi secara diam-diam di kantin barusan.
Kakak kandung Ailee, menelusup masuk ke dalam kantin dan menyebarkan gosip murahan tentang sang adik. Tentu saja kabar yang disampaikan Aina ditanggapi dengan baik oleh orang-orang seperti Talita dan Risma.
Aina mengatakan bahwa antara Gilang dan Ailee telah terjadi cinta satu malam, hingga akhirnya bos GCC tersebut harus menikahi Ailee untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Jadi, bos kalian itu tidak benar-benar cinta sama Ailee. Mana ada coba, bos perusahaan besar yang suka sama buruh rendahan seperti Ailee?" Suara Aina terdengar sinis.
"Gilang, tuh, sukanya sama aku. Aku 'kan calon dokter, enggak bakal malu-maluin kalau diajak ketemu sama klien. Tidak seperti Ailee yang udik dan bodoh itu!" lanjut Aina.
"Hanya saja Ailee telah berhasil menjebak Gilang ketika aku belum pulang dari rumah sakit dan terjadilah hubungan suami istri di antara mereka berdua malam itu di rumah kami," imbuh Aina, sendu. Mencoba meyakinkan para karyawan wanita yang dia ajak berbicara, bahwa dia adalah korban dari keserakahan Ailee.
Gilang mematikan rekaman tersebut, rahangnya seketika mengeras, menunjukkan kemarahannya.
"Wanita gila! Dia benar-benar sudah tidak waras aku rasa, Ai!" geram Gilang.
Sementara Ailee hanya menunduk, malu dengan kelakuan sang kakak yang telah menjatuhkan martabat dirinya, keluarga, dan juga Gilang.
"Aku harus mengklarifikasi berita ini, agar para karyawan tidak menatapmu sebelah mata, Sayang," lanjut Gilang yang tidak ingin membuat Ailee kembali dicemooh oleh karyawan wanita yang selama ini julit pada calon istrinya itu.
Gilang kemudian mengembalikan ponsel milik Naomi. "Omi. Kamu kumpulkan semua manager sore ini juga karena aku mau memberikan klarifikasi, agar mereka semua menyampaikan pada anak buahnya," titah Gilang pada sang sekretaris.
"Ai rasa, itu tidak perlu, Mas," sergah Ailee. "Jika kita merasa terusik dengan berita bohong yang disebarkan Kak Aina, bisa saja mereka malah akan menyimpulkan bahwa berita tersebut benar adanya," lanjutnya seraya menggelengkan kepala.
"Tetapi jika kita membiarkannya saja dan masa bodoh dengan fitnah tersebut, lambat laun suara-suara sumbang itu akan menghilang dengan sendirinya," lanjut gadis belia yang semakin hati terlihat semakin memesona, mencoba berpikir dengan kepala dingin.
"Maaf, Tuan Muda. Saya rasa, apa yang disampaikan Nona Ailee ada benarnya," timpal Naomi.
"Memangnya, kamu tidak terganggu dengan berita itu, Sayang?" tanya Gilang, menatap sang calon istri dengan penuh kekhawatiran.
Kembali Ailee menggeleng. "Ai tidak apa-apa, Mas. Mas Gilang santai aja." Gadis cantik itu tersenyum manis pada sang calon suami, untuk meyakinkan Gilang bahwa dirinya tidak merasa terganggu dengan fitnah yang dilancarkan sang kakak.
__ADS_1
Gilang kemudian menangkup kedua sisi bahu Ailee. "Yakin, kamu tidak terganggu dengan semua itu, Sayang?" ulang Gilang yang belum yakin.
Ailee menggeleng pasti.
Melihat kekhawatiran sang bos yang berlebihan terhadap calon istrinya, Naomi tersenyum malu sendiri.
"Maaf, Tuan Muda. Kalau begitu, saya permisi hendak kembali ke meja saya," pamit Naomi, sopan.
"Mbak Omi, terima kasih, ya," ucap Ailee sebelum Naomi berlalu menuju meja kerjanya di sudut ruangan yang cukup luas itu.
Gilang kemudian menuntun sang calon istri untuk masuk ke dalam ruangannya dan segera menutup rapat ruangan kedap suara dan berpendingin udara tersebut.
Sepasang sejoli yang belum lama dipertemukan oleh sang oma dan kemudian dijodohkan oleh omanya Gilang itu kemudian duduk di sofa, saling berhadapan.
Untuk sesaat, tidak ada yang bersuara. Baik Gilang maupun Ailee sama-sama terdiam. Hanya kedua netra mereka yang saling terpaut dan seolah sedang bercengkrama, melalui tatapan mata.
"Sayang. Apa setelah kejadian ini, kamu masih tetap menginginkan menikah di kediaman orang tua kamu?" tanya Gilang, mengurai keheningan.
"Apa kamu tidak khawatir, jika mereka memiliki rencana untuk menggagalkan pernikahan kita?" lanjut Gilang.
"Kalau menurutku, papamu itu bersandiwara, Ai. Bersandiwara untuk memuluskan rencana kakak kamu yang ingin menggagalkan rencana pernikahan kita," terang Gilang.
"Kakak kamu itu sepertinya mulai terobsesi sama aku, Sayang," lanjut Gilang.
"Mas Gilang-nya suka apa enggak, sama Kak Aina? Kalau Mas suka sama kakaknya Ai, Ai enggak apa-apa, kok, Mas," pancing Ailee, bertanya.
"Dih! Amit-amit, Dik, kalau aku suka sama sundel kayak kakak kamu itu! Kayak enggak ada cewek lain aja," protes Gilang, menatap tidak suka pada sang calon istri yang malah menggodanya dengan berkata demikian.
"Lagian, aku enggak suka ya, Sayang, kamu ngomong kayak gitu!"
"Iya-iya. Ai minta maaf, Mas. Ai enggak bermaksud membuat Mas Gilang tersinggung," bujuk Ailee.
"Lagipula, jika Kak Aina beneran berani terang-terangan merebut Mas Gilang dari Ai, pasti akan Ai lawan karena Mas 'kan udah jadi milik Ai seorang," lanjutnya, merayu.
__ADS_1
"Belum jadi milikmu, Ai. Aku masih bebas dan bisa dirayu oleh siapa saja," sanggah Gilang, menirukan perkataan Ailee tempo hari.
Ucapan Gilang membuat Ailee sukses cemberut. "Ya, udah. Sana, kalau Mas mau cari gadis lain!"
Gilang tersenyum senang melihat Ailee cemburu padanya.
"Malah senyum-senyum!" protes Ailee, masih dengan bibir mengerucut.
Gilang terkekeh pelan. "Aku makin sayang, kalau kamu cemburu gitu, Sayang," ucap Gilang, setelah tawanya reda.
Pemuda itu beranjak dan mendekati sang calon istri. Gilang kemudian mendudukkan diri, tepat di samping Ailee.
"Boleh peluk, enggak?" pinta Gilang, penuh harap.
Ailee menggeleng. "Belum boleh!' balasnya, tegas.
"Bentar, aja," rajuk Gilang, seperti anak kecil.
"Kalau udah peluk, nanti Mas minta macam-macam lagi," tolak Ailee yang sejujurnya khawatir pada diri sendiri. Dia khawatir, tidak akan dapat mengendalikan diri jika nanti sudah bersentuhan dengan Gilang. Sementara mereka berdua belum boleh melakukannya.
"Enggak akan, Sayang. Mas janji, cuma peluk sebentar," kekeuh Gilang, mencoba meyakinkan.
Pemuda tersebut sepertinya benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan keinginan untuk memeluk sang calon istri dan menunjukkan pada Ailee kesungguhan cintanya, yang tidak mungkin dapat berpaling dari gadis belia, periang, dan cantik seperti Ailee.
"Boleh, ya? Peyuk ...." rajuk Gilang, menirukan suara anak kecil. Membuat Ailee tersenyum dikulum dan kemudian menganggukkan kepala.
Mendapatkan lampu hijau, Gilang kemudian langsung memeluk Ailee dan mendekap sang calon istri dengan erat.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu telah hadir dalam hidupku," ucap Gilang seraya mencium puncak kepala Ailee yang tertutup hijab.
"Lah, beneran ada setan rupanya di ruangan kamu, Ge." Suara Erlan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dan tanpa mengetuk pintu seperti biasanya, mengejutkan Gilang yang langsung mengurai pelukan.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1