Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Aku Pegang Kata-katamu


__ADS_3

Usai acara pertunangan Erlan, semua keluarga besar masih berkumpul di hall tersebut untuk semakin mengakrabkan diri dengan keluarga Maida. Mereka berbincang hangat dengan diselingi canda dan tawa. Tidak terkecuali Gilang dan sang istri yang nampak asyik bercanda bersama kakak-kakak Maida.


Gilang dan sang istri tidak lama bergabung bersama mereka karena tiba-tiba Ailee pengin jalan-jalan di sekitar pantai. Tentu saja suami siaga itu langsung mengiyakan lalu berpamitan. Mereka berdua kemudian segera beranjak untuk keluar dari hall untuk menuju ke pantai.


"Mas Gilang. Mau naik speed boat, tidak?" tawar Om Devan ketika melihat sepasang suami-istri itu, melintas hendak keluar.


"Mau, enggak, Yang? Bahaya enggak, ya, buat baby kita?" Gilang menatap sang istri.


"Kita jalan-jalan aja, deh, Mas. Lihat sunset," tolak Ailee.


"Terima kasih, Pak Devan. Lain kali saja," tolak Gilang kemudian, seraya menatap Om Devan yang kemudian memberikan reaksi dengan mengacungkan ibu jari.


Gilang dan Ailee meneruskan langkah dan segera keluar dari hall. Perlahan mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan, menuju bibir pantai yang tidak terlalu jauh dari deretan villa keluarga. Ailee terlihat nampak sangat menikmati suasana.


"Pasirnya terasa lembut di kaki ya, Mas," ucap Ailee setibanya mereka di bibir pantai dan kemudian istri Gilang itu melepaskan high heels.


Ailee berjalan sedikit ke tengah sambil merentangkan kedua tangan. Dia hirup dalam-dalam udara pantai yang bebas dari polusi tersebut. Istri belia Gilang itu nampak menikmati semilir angin yang terasa lembut menampar kulit wajahnya. Gilang tersenyum dan kemudian segera menyusul sang istri.


"Apa kamu menyukainya, Sayang?" tanya Gilang sambil memeluk sang istri dari belakang. Pemuda tampan itu lalu menempelkan dagu di bahu istrinya.


Ailee mengangguk dan kemudian mendekap tangan sang suami. "Iya, Mas. Ai sangat suka," balasnya sambil menoleh ke arah sang suami.


Gilang tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia sambar bibir sang istri lalu ********** dengan penuh kasih. Ailee membalasnya dengan segenap perasaan.


Ciuman yang awalnya lembut, kini terasa semakin panas. Tidak ingin merusak momen indah sang istri yang ingin menikmati senja di pantai, Gilang menyudahi penyatuan bibir tersebut. "Kita lanjut nanti malam aja, Sayang."


Ailee tersenyum dan kemudian menganggukkan kepala. Mereka berdua lalu berjalan menyusuri bibir pantai dengan saling menggenggam mesra. Sesekali, Gilang mengusap lembut pipi istrinya.


Di sebuah batu karang, Gilang meminta sang istri untuk berdiri di sana karena dia ingin mengambil gambar Ailee. Wanita cantik itu hanya bisa mengikuti kemauan sang suami. Puas mengambil gambar istrinya, Gilang lalu berfoto selfie bersama Ailee.


Senyum kebahagiaan terukir jelas di bibir keduanya. Mereka berdua benar-benar nampak sangat serasi. Sang pemuda begitu tampan dan menawan, sedangkan istri belianya sangat cantik dan terlihat menggemaskan.


Momen indah mereka harus terganggu dengan datangnya ketiga keponakan yang langsung bergabung ketika Gilang dan sang istri tengah asyik ber-selfie. "Kalian apa-apaan, sih? Ganggu aja!" protes Gilang, tetapi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kami 'kan juga mau ikut foto, Om," balas Satria.


"Iya, Om. Kita 'kan belum punya foto yang bareng-bareng kayak gini," timpal Reno.


"Om Ge, gimana kalau liburan semester nanti, kita sekeluarga piknik ke Maldives? Pasti seru, Om!" usul Kukuh.


"Halah! Gaya kamu, Dik. Piknik ke Maldives! Ajak dia ke Ancol aja, Om!" sahut Satria, tergelak.


"Ogah! Udah bosan Kukuh ke sana!" tolak sang adik, tegas.


"Ke Bendungan Hilir aja, kalau gitu ya, Bang," timpal Reno yang kemudian mendapatkan sentilan di keningnya.


"Mau ngapain, di sana?" protes Satria dan Kukuh berbarengan.


Ketiga remaja tersebut terdengar masih berdebat. Sementara Ailee hanya senyum-senyum saja dan menjadi pendengar setia. Gilang yang memperhatikan sang istri, jadi teringat sesuatu.


Gilang teringat bahwa mereka berdua belum sempat berbulan madu karena musibah yang menimpa keluarga sang istri. Tertunda lagi karena acara pertunangan Erlan. Sekarang malah disusul dengan kabar kehamilan istrinya. Padahal dia sudah merencanakan untuk mengajak sang istri untuk berkeliling ke berbagai negara yang terkenal dengan tempat wisatanya yang menarik.


"Yang, kita belum jadi berbulan madu, kamu malah udah hamil. Terus, kapan kita mau berbulan madu?" bisik Gilang, bertanya.


"Apa, kita baby moon aja, di seputar Jakarta?" tawar Gilang.


"Terserah Mas aja, Ai ikut gimana baiknya," balas Ailee.


"Om, kita ke puncak aja! Baby moon-nya digabung sama liburan semester kami," usul Kukuh.


"Tidak-tidak! Yang ada, kami enggak jadi baby moon, tapi momong moon karena tingkah kalian kadang masih seperti anak-anak!" tolak Gilang, tegas.


"Yaelah, Om. Momong keponakan sendiri, enggak apa-apa kali, Om," protes Kukuh.


Gilang masih ingin menolak, tetapi sang istri menengahi. "Ai setuju sama usul mereka, Mas. Kita pergi bareng-bareng."


Ketiga keponakan Gilang itu bersorak, senang. Berbeda dengan Gilang yang langsung menekuk wajahnya. Ailee lalu memeluk lengan sang suami dan membisikkan sesuatu. "Kita masih bisa pergi berduaan kapan-kapan, Mas, tapi momen bareng mereka dan menyesuaikan dengan jadwal sekolahnya, itu yang langka."

__ADS_1


Gilang tersenyum dan kemudian menganggukkan kepala. Suami Ailee itu semakin kagum pada istrinya yang selalu pengertian pada keponakan-keponakan. Padahal Gilang menolak karena tidak mau jika membuat sang istri merasa tidak nyaman jika berlibur dengan mengajak mereka semua yang terkadang suka jahil.


"Udah mau maghrib. Ayo, balik ke villa," ajak Gilang, kemudian.


Satria dan kedua adiknya berjalan mendahului Gilang dan Ailee. Mereka bertiga berjalan sambil bersenda gurau. Sesekali, salah satu di antara mereka mengambil pasir pantai dan kemudian dilemparkan ke arah dua saudaranya. Ketiganya lalu tergelak bersama.


Gilang dan sang istri tersenyum, menyaksikan keakraban dan kehangatan tiga bersaudara itu. Gilang tiba-tiba menghentikan langkah dan membuat Ailee menolak seraya mengerutkan dahi. "Kenapa, Mas?"


Pemuda tampan itu menatap istrinya dalam. "Sayang. Apa kamu bersedia jika kita memiliki banyak anak?" tanya Gilang.


"Kenapa Mas bertanya seperti itu?" tanya Ailee.


"Seneng aja kalau melihat keluarga besar dengan anak-anak yang rukun satu sama lain. Masa tua kita nanti, pasti akan sangat bahagia karena dikelilingi dengan anak-anak," balas Gilang seraya tersenyum, membayang mereka berdua akan memiliki banyak anak yang lucu-lucu.


"Ai, sih, tergantung sama Mas, ya," balas Ailee, kemudian.


"Kok, tergantung sama aku? Maksudnya, aku sanggup enggak buatnya. Begitu, kah? Kalau itu, aku pasti sanggup, Yang?" Gilang tersenyum lebar.


.


"Yey, bukan begitu, Mas!" Ailee lalu meneruskan langkah karena ketiga keponakan sudah semakin jauh meninggalkan mereka berdua dan sudah hampir sampai di villa. Gilang pun segera menyusul istrinya.


"Lalu? Apa, dong, Sayang?" kejar Gilang.


"Mas sanggup, enggak, menjadi suami dan ayah yang baik? Jangan hanya pandai membuat, tetapi tidak pandai merawat dan menjaga! Apalagi, sampai tidak peduli dan tahunya terima beres saja." Ailee menoleh ke arah sang suami yang sudah mensejajarkan langkah dengannya.


"Ayah yang hanya bisa memberikan uang dan memenuhi segala kebutuhan fisik semata, tanpa pernah tahu dan mau memenuhi kebutuhan psikis anak-anaknya," lanjutnya karena Ailee tidak mau anak-anaknya kelak seperti sebagian teman-teman di sekolah dahulu. Di mana mereka tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari sosok sang ayah, sosok yang seharusnya menjadi figur dan contoh yang baik bagi anak-anak, terutama anak laki-laki.


Gilang mengangguk. "Aku pasti akan menjadi suami siaga dan ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak, Sayang. Aku akan membangun bonding dengan anak-anak karena aku juga tidak mau kehilangan momen emas di masa tumbuh kembang mereka," balas Gilang, sungguh-sungguh.


Ailee tersenyum, lega. "Kalau begitu, Ai tidak keberatan jika setiap tahun kita produksi," ucapnya sambil berlari kecil menjauh dari sang suami.


Gilang tersenyum lebar. "Benar, ya! Aku pegang kata-katamu, Yang!" serunya yang kemudian mengejar sang istri dengan hati yang membuncah bahagia.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2