
Pagi hari, kesibukan mulai terlihat di kediaman Gilang karena mereka semua akan berangkat menuju ke tempat pertunangan Erlan. Pertunangan yang kabarnya akan dilaksanakan di sebuah pulau pribadi milik keluarga calon tunangan dari abang sepupu Gilang tersebut. Ailee dan sang suami juga nampak tengah bersiap.
Ailee sudah tampil cantik dengan gaun panjang polos, dipadukan dengan pasmina motif bunga-bunga kecil yang menambah segar penampilannya. Wanita muda istri Gilang itu duduk di tepi pembaringan, menunggu sang suami yang sedang memakai pomade dan menata rambutnya. Sempurna, pemuda tampan tersebut semakin terlihat menawan dan Ailee senantiasa dibuat terpesona.
Istri belia Gilang itu tidak henti mengagumi ketampanan sang suami. Ketampanan wajah yang juga dibarengi dengan kebaikan hati. Ailee dibuat jatuh cinta berkali-kali pada sang suami.
"Kenapa menatapku seperti itu, Sayang? Apa aku semakin tampan?" goda Gilang, bertanya. Pemuda tampan itu menatap sang istri dari pantulan kaca lebar di hadapan.
Senyum di bibir istri Gilang itu semakin lebar lalu dia mengangguk. "Dan aku semakin cinta sama Mas," ucap Ailee yang memang pandai menyenangkan hati sang suami.
Gilang kemudian mendekat ke ranjang, hendak memeluk sang istri. Namun, tanpa dia duga sang istri reflek menolak dengan kibasan tangan hingga membuat Gilang mengerutkan dahi. Ailee menutup rapat hidungnya, kemudian.
"Mas Ge pakai parfum apa, sih? Menjauhlah, Mas. Aku enggak tahan dengan aromanya," protes Ailee masih sambil menjepit hidungnya dengan kedua jari.
Gilang semakin mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan protes yang dilontarkan sang istri. Pasalnya, dia memakai parfum yang biasanya. Parfum dengan aroma maskulin kesukaan Ailee yang bisa membuat istrinya itu mabuk kepayang dan senantiasa ingin dipeluk dan disayang.
"Aroma apa, Sayang? Aku pakai parfum yang biasanya, kok." Gilang membaui ketiaknya sendiri. Khawatir jika ada yang salah dengan aroma parfumnya, tetapi semua masih seperti biasa. Aroma harum yang segar dan menggoda.
"Enggak, Mas, ini beda," kekeuh Ailee. "Perut Ai jadi mual, nih," lanjutnya yang langsung menjauh. Ailee kemudian membuka pintu kamar yang menuju balkon lalu menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
Gilang masih mematung. Kepalanya tiba-tiba berdenyut, melihat keanehan istrinya. Pemuda tampan itu kemudian geleng-geleng kepala seraya melepaskan kemeja dan melempar dengan asal ke keranjang pakaian kotor.
Terpaksa, Gilang mengelap tubuhnya dengan tisu bawah dan kemudian berganti kemeja karena tidak mau membuat sang istri merasa tidak nyaman berdekatan dengan dirinya. Suami Ailee itu lalu menyusul sang istri ke balkon dan mendekati Ailee. Gilang merasa lega ketika tidak ada lagi penolakan.
__ADS_1
"Apa masih tercium aroma tidak enak, Yang?" tanya Gilang, pelan.
Ailee menempelkan hidung ke dada sang suami dan kemudian memeluk suaminya. "Kalau yang ini, Ai enggak mual," jawabnya.
"Tapi 'kan, jadi enggak wangi, Yang," protes Gilang.
"Oh, Ai tahu. Ayo, Ai akan semprot kan parfum Ai di badan Mas," ajak Ailee seraya menyeret pelan tangan sang suami.
"Tidak perlu, Sayang. Aku mau minta parfum sama Bang Er aja," tolak Gilang yang tidak mau terkesan feminin jika memakai parfum lembut milik istrinya.
"Enggak-enggak! Ai lebih suka kalau Mas pakai parfum yang ini," paksa Ailee yang langsung menyemprotkan parfum miliknya ke seluruh kemeja sang suami, depan dan belakang. Ailee tersenyum puas kemudian.
"Hem ... Ai suka kalau aroma Mas Ge seperti ini. Harum banget dan kesannya macho." Ailee menciumi punggung sang suami dan kemudian mendekap sang suami dari belakang.
Gilang hanya bisa geleng-geleng kepala. "Macho darimana, Yang? Aromanya lembut gini," gerutu Gilang yang merasa tidak nyaman dengan aromanya sendiri.
"Kalian sudah ditunggu untuk sarapan, kenapa tidak keluar-keluar?" Nenek Amira menatap sang cucu dan cucu menantunya, bergantian.
"Ini, lho, Oma. Ai aneh-aneh saja." Gilang kemudian menceritakan keanehan istrinya. Sang oma yang mendengarkan dengan seksama kemudian mendekat. Tiba-tiba, wanita tua itu memeluk Ailee dan menangis haru.
"Kamu hamil, Nak. Iya, kamu pasti hamil," tutur sang oma setelah melerai pelukan. Tangan keriputnya menangkup kedua sisi pipi Ailee dan menatap istri Gilang dengan tatapan penuh kebahagiaan.
"Oma, Ge juga berpikir seperti itu, tapi Ai ragu. Rencana, nanti sambil berangkat kami akan membeli alat tes kehamilan untuk memastikan. Lalu, kenapa Oma begitu yakin kalau Ai hamil setelah mendengar cerita Ge?" tanya Gilang.
__ADS_1
Sang oma kemudian tersenyum. "Dulu, sewaktu oma mengandung papa kamu, sikap oma juga persis seperti istrimu, Ge. Opamu sampai marah-marah, malu katanya karena harus berangkat ke kantor dengan aroma perempuan," tuturnya mengenang masa silam.
"Berarti, nanti setiap hari Ge akan memakai parfum milik Ai, Oma?" tanya Gilang, tidak dapat membayangkan. Pemuda tampan itu menghela napas panjang. Sementara sang istri senyum-senyum sendiri.
"Sudah, nikmati saja. Waktu buatnya 'kan nikmat, jadi resikonya harus mau tanggung, ya," balas sang oma seraya terkekeh. Ailee ikut tertawa, kemudian. Sementara Gilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Memang nikmat banget, Oma, tapi masak harus ada efek sampingnya segala," gerutu Gilang seraya berjalan mengekor langkah kedua wanita yang dia sayang. Meskipun menggerutu, tetapi pemuda tampan itu berjanji dalam hati akan menuruti apapun permintaan sang istri, demi buah cinta mereka berdua yang kemungkinan besar sudah bersemayam di rahim sang istri tercinta.
"Jangan khawatir, Ge, karena apa yang diminta istrimu akan sebanding dengan servis yang akan dia berikan nantinya. Percaya pada Oma karena dulu oma pun begitu. Kata opamu, oma lebih hot ketika sedang hamil," tutur sang oma yang mengerti ketidaknyamanan sang cucu. Membuat Gilang tersenyum senang, kemudian.
Membayangkan sang istri hamil lalu seiring waktu perut ramping Ailee membesar dan istrinya itu bergoyang di atas tubuhnya dengan begitu lincah, membuat Gilang berjalan sambil senyum-senyum sendiri. Gelagatnya yang seperti orang tidak waras itu, ditangkap oleh sang keponakan. Satria yang baru menuruni anak tangga, segera mendekat.
Dahi pemuda tengil itu semakin berkerut dalam ketika mendapati aroma wangi Gilang begitu lembut, layaknya seorang perempuan. "Om. Om Ge pakai parfum apa, sih? Aromanya kok feminin, gini? Seperti wanita jadi-jadian," tanya dan ledek Satria tanpa memelankan suara.
Semua anggota keluarga yang sudah berkumpul karena hendak segera berangkat ke pertunangan Erlan, pandangannya kini tertuju ke arah Gilang dengan dahi berkerut dalam. Membuat suami Ailee itu salah tingkah lalu tersenyum kecut. Sedetik kemudian kepercayaan diri Gilang muncul begitu mengingat perkataan sang oma tadi bahwa servis sang istri akan sangat memuaskan nantinya.
"Benar, Sat. Ini aroma wangi istriku. Dia yang memilihkannya untukku. Atas nama cinta dan demi buah hati kami, dengan senang hati aku akan menuruti apapun permintaannya," balas Gilang seraya melirik sang istri yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Mendengar perkataan Gilang, satu per satu memberikan ucapan selamat pada Ailee. Mereka semua nampak berbahagia dan sangat antusias menyambut calon anggota keluarga baru. Termasuk Erlan yang kemudian memeluk Gilang.
"Calon hot Daddy. Selamat, Bro, do'akan aku agar segera bisa menyusulmu."
"Gaspol, Om! Sore tunangan, malam lanjut ijab sah biar bisa langsung unboxing," sahut Satria, terkekeh.
__ADS_1
"Memangnya, Om Er ke sana membawa mainan baru, Bang?" tanya Kukuh yang disambut gelak tawa keluarga.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕