
Bakda sholat Isya berjamaah, Gilang dan sang istri langsung bersiap untuk kembali berkumpul bersama keluarga besar. Mereka akan menghadiri acara makan malam spesial. Makan malam yang akan didahului dengan acara akad nikah antara Erlan dan sang kekasih yang dilaksanakan secara mendadak.
Sepasang suami-istri itu mengenakan busana couple seperti tadi sore, tetapi berbeda corak, model, serta warna. Ailee yang malam ini tampil lebih berani dengan mengoles lipstik berwarna sedikit terang, membuat Gilang cemberut lalu buru-buru menghapusnya dengan ******* bibir tipis sang istri.
"Jangan dipakai lagi jika pergi ke acara yang melibatkan banyak orang, Sayang. Aku tidak suka," ucapnya kemudian seraya mengusap bibir sang istri, dari sisa salivanya.
"Kenapa, Mas? 'Kan Mas sendiri yang waktu itu memilihkan lipstik ini untuk Ai?" tanya Ailee dengan nada protes karena hijabnya menjadi berantakan kembali. Sebab, tangan sang suami juga kemana-mana tadi ketika ******* bibirnya.
"Memang benar, Sayang. 'Kan aku memilih beberapa warna dan yang warna terang tadi khusus untuk kamu pakai jika malam hari ketika kita hanya berdua di dalam kamar," jelas Gilang, membuat Ailee geleng-geleng kepala.
"Ada-ada aja, Mas ini. Percuma Ai pakai lipstik merah merona jika akhirnya dihapus juga sama Mas," protes wanita cantik itu dan Gilang terkekeh.
Istri Gilang itu lalu membetulkan kembali hijabnya dan memoles bibir dengan lipstik yang berwarna lebih kalem. Sementara suami tampannya memperhatikan seraya tersenyum. Ailee yang mendapati kalau sang suami yang berdiri di belakangnya mengamati melalui pantulan cermin di hadapan, ikut tersenyum.
"Udah, yuk, kita keluar," ajak Ailee kemudian seraya beranjak.
"Ayo, Mas!" ajak Ailee kembali ketika sang suami masih mematung dan terpesona menatapnya.
"Istriku makin cantik aja. Aku jadi enggak rela membiarkan kamu keluar, Sayang," ucap Gilang jujur.
Ya, sejak sang istri dinyatakan hamil kemarin, istrinya itu terlihat semakin cantik saja di mata Gilang. Rasanya, dia ingin mendekap wanita belia yang kini menjadi istrinya dan tidak akan membiarkan kecantikan sang istri dinikmati oleh orang lain.
"Mas, jangan merayu terus, deh! Ayo, nanti kita terlambat!" Ailee menarik tangan sang suami dan mereka berdua lalu keluar dari kamar untuk bergabung bersama keluarga besar di ruang tengah. Setelah itu, mereka akan sama-sama menuju ke *****hall***** yang telah dipersiapkan untuk acara malam ini.
Semua keluarga nampak sudah berkumpul di sana. Termasuk sang calon mempelai laki-laki yang baru saja keluar dari kamar. Abang sepupu Gilang itu mengenakan stelan jas berwarna putih, lengkap dengan peci hitam yang bertengger di kepala. Erlan terlihat sangat tampan dan wajahnya nampak lebih muda dan bersinar.
__ADS_1
"Wah, calon pengantin laki-lakinya manglingi!" seru Nenek Amira seraya menatap Erlan dengan senyum kebahagiaan.
Ya, tentu saja omanya Gilang itu turut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Erlan. Bagi beliau, Erlan sudah seperti cucu kandung sendiri. Nenek Amira, lah, yang membersamai tumbuh kembang kedewasaan Erlan dan Gilang.
"Oma bisa aja, mujinya. Er jadi besar kepala, nih," jawab Erlan seraya memeluk pundak sang oma.
"Oma jujur, Er. Kamu memang tampan dan malam ini auranya beda. Kamu terlihat lebih muda," puji sang oma kembali.
"Itu karena calon istrinya masih belia, Oma. Kayak si Ge, gitu," sahut Mbak Gia seraya menatap sang adik bungsu yang sedari tadi nampak sangat posesif pada istrinya.
"Bisa jadi seperti itu, Gia," timpal Budhe Ris seraya tersenyum menatap sang putra yang malam ini akan melepas masa lajangnya. Mamanya Erlan tersebut nampak sangat bahagia. Begitu pula dengan sang suami.
"Ayo-ayo, kita ke sana!" ajak sang oma, kemudian.
Keluarga besar calon mempelai laki-laki itu pun segera menuju ke hall dengan berjalan beriringan. Erlan berjalan paling depan dengan didampingi sang oma, papa dan mamanya. Gilang, sang istri dan ketiga keponakan, memilih untuk berjalan paling belakang.
"Dik Yudhis, sudah siap?" sapa dan tanya Erlan kemudian.
Pemuda tampan berambut gondrong itu tersenyum lalu menganggukkan kepala. "InsyaAllah, Bang. Harus siap," balasnya, mantap.
Erlan mengangguk lalu mengacungkan ibu jarinya. Obrolan mereka terhenti kala pak penghulu datang. Beberapa saat kemudian, Daddy Rehan nampak memasuki hall dan dibelakangnya calon mempelai wanita berjalan perlahan dengan didampingi oleh dua wanita cantik. Yang satu adalah sang mommy dan yang satunya lagi, seorang wanita paruh baya yang diketahui oleh Erlan sebagai istri dari omnya sang calon mommy mertua.
Erlan tidak berkedip menatap sang calon pengantin wanitanya. Mulai ketika Maida yang berjalan bersisihan dengan saudari kembarnya memasuki hall hingga gadis belia itu didudukkan di sampingnya. Pandangan mata pemuda tampan itu senantiasa mengikuti kemana sang calon istri melangkah.
"Dik ...." Hanya panggilan itu yang mampu keluar dari mulut Erlan. Pemuda tampan tersebut benar-benar terpesona menatap kecantikan sang calon istri yang sudah duduk di sampingnya.
__ADS_1
Dehaman Daddy Rehan, ayah dari Maida, mengurai tatapan kekaguman Erlan pada sang wanita pujaan. Sedetik kemudian acara sakral itu pun dimulai.
Khusyuk, Erlan dan sang calon istri mendengarkan setiap acara yang berlangsung. Mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan-sambutan hingga khutbah nikah. Pemuda tampan itu mulai berdebar ketika sang calon mertua mulai menjabat tangannya hendak menikahkan dirinya dengan sang kekasih pujaan hati.
"Nak Erlan. Apa Nak Erlan sudah siap?" tanya Daddy Rehan dengan tatapannya yang senantiasa dapat menaklukkan lawan.
"InsyaAllah, siap." Erlan mengangguk, pasti.
Dengan mengucap bismillah, daddynya Maida mengucap ijab sebagai bentuk penyerahan sang putri tercinta kepada pemuda pilihan putrinya sendiri yang telah beliau restui, dengan suara bergetar. Laki-laki yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah tidak lagi muda itu, mengucapkannya hanya dalam satu tarikan napas.
"Saya terima, nikah dan kawinnya Maida Dalela Alamsyah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas murni. Tunai." Erlan yang mengucap qabul sebagai bentuk penerimaan dirinya atas limpahan tanggung jawab Maida kepadanya, terdengar tegas dan sepenuh hati.
Kata sah yang diucapkan oleh Gilang dan Om Devan yang di daulat untuk menjadi saksi nikah Erlan dan Maida, yang dibarengi oleh keluarga besar, membuat kedua mempelai bernapas dengan lega. Keduanya saling pandang kemudian dan saling melempar senyuman.
Setelah sungkeman dan menyematkan cincin kawin di jari pasangan, fokus mereka berdua, sudah tidak lagi berada di sana meskipun raga tetap duduk di tempatnya. Mereka berdua nampak asyik sendiri berbisik mesra ketika satu lagi acara tengah berlangsung, yaitu akad nikah saudari kembar Maida.
"Dik, nanti kita enggak usah ikut acara makan malam bersama, ya," pinta Erlan dengan bisikan dan sang istri yang baru saja resmi dinikahi itu mengangguk, setuju.
Tidak lama kemudian, acara pun berakhir yang ditutup dengan do'a. Semua keluarga besar lalu dipersilahkan untuk menuju ke meja makan panjang yang sudah dipersiapkan. Tidak tanggu-tanggung, hampir semua menu masakan nusantara yang memang menjadi favorit keluarga besar Maida, terhidang di sana.
Di saat semua keluarga menuju meja makan, Erlan dan sang istri nyelonong keluar dari hall tersebut untuk segera menuju ke villa kecil yang sudah dipersiapkan untuk mereka berdua. Berdampingan dengan villa yang akan ditempati oleh saudari kembar Maida dan suaminya.
Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra. "Aku gendong, ya," tawar Erlan yang langsung membopong tubuh sang istri tanpa menunggu persetujuan.
Tepat di saat yang sama, Kukuh dan Reno yang tidak mengikuti acara hingga selesai, melintas di tempat yang sama dan langsung berseru. "Om Er, Kak Mai kenapa? Sakit, ya? Kukuh panggilkan bantuan, ya," tawarnya yang hendak berlari menuju hall untuk memanggil bantuan.
__ADS_1
Erlan langsung berteriak, mencegah sang keponakan. "Jangan-jangan!"
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕