Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Jangan Sampai Istriku Tahu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari kediaman orang tua Ailee, Gilang masih terus mengingat nama Nesa. Nama itu memang tidak asing bagi Gilang, tetapi dia lupa kenal di mana sama pemilik nama tersebut.


"Mas. Mas Gilang masih kepikiran ya, sama si Nesa itu?" tanya Ailee yang mulai merasa tidak nyaman karena sedari masuk ke dalam mobil, sikap sang suami tidak seperti biasa.


Gilang biasanya akan perhatian dengan Ailee. Mulai dari meletakkan tangannya di paha sang istri atau menyandarkan kepala Ailee di bahunya. Tidak jarang, Gilang juga akan menawarkan pada istrinya itu untuk membeli sesuatu atau tidak.


Gilang hanya menggelengkan kepala, tanpa menoleh ke arah istrinya. Melihat sikap sang suami yang demikian, membuat Ailee menyimpan tanya dalam hati. Siapakah si Nesa? Apakah dia wanita di masa lalu suaminya?


Wanita cantik itu lalu menghela napas panjang dan memilih untuk menatap keluar jendela kaca mobil. Ailee mengalihkan pikiran buruk yang melintas dengan melihat kepadatan lalu lintas di jalanan.


'Tidak-tidak. Aku tidak boleh memiliki pikiran buruk tentang Mas Gilang. Aku juga tidak boleh terlalu banyak pikiran karena itu tidak baik untuk bayiku,' batin Ailee seraya mengusap perutnya yang masih rata.


Air mata wanita muda itu tetap menetes, meskipun dia sudah mencoba untuk berpikir positif. Kemungkinan demi kemungkinan buruk terus saja melintas dan dia tidak dapat mencegahnya. Entahlah, dia merasa sangat sensitif sekarang.


Menyadari istrinya sedari tadi menoleh ke arah sisi kiri, Gilang lalu mengambil tangan sang istri dan menggenggamnya erat. "Maafkan aku, Yang. Aku tidak bermaksud mengabaikan kamu," pintanya yang kemudian mengecup punggung tangan istri tercinta.


Ailee menyusut air matanya sebelum menoleh. Dia lalu tersenyum untuk menyembunyikan kegalauannya. Namun, Ailee tidak dapat menutupi matanya yang memerah karena menangis.


"Hei, kamu menangis, Sayang." Gilang merasa sangat bersalah.


Pemuda tampan itu lalu membelokkan mobilnya ke sembarang tempat dan kemudian memarkirkan di depan sebuah toko yang menjual ikan hias. Setelah mobilnya terparkir dengan benar, Gilang segera melepaskan sabuk pengaman.

__ADS_1


"Maafkan aku, Yang. Aku memang masih memikirkan wanita itu. Aku seperti pernah mengenalnya, tapi aku lupa di mana," terang Gilang, setelah mendekap istrinya. Dia lalu mencium puncak kepala sang istri dengan penuh kasih.


"Maafkan Ai juga, Mas. Ai juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba Ai merasa cemburu pada Nesa padahal Ai belum pernah bertemu dengan dia," balas Ailee jujur.


Memang itulah yang dia rasakan saat ini. Merasa cemburu pada wanita yang belum dikenalnya padahal itu tidak perlu. Apalagi, sang suami juga sudah lupa pada wanita tersebut.


Gilang yang teringat dengan perkataan Dokter Chandra, tersenyum. "Itu karena kamu sedang mengandung anakku, Sayang. Makanya kamu jadi sensitif," ucapnya seraya mengelus lembut perut sang istri.


"Masak, sih, Mas?" tanya Ailee seraya mendongak dan Gilang memanfaatkan momen tersebut dengan menyatukan wajahnya.


Untuk beberapa saat, keduanya larut dalam penyatuan yang membuat dada mereka berdua berdebar lebih kencang. Keduanya sama-sama menikmati hangatnya penyatuan bibir tersebut.


"Gimana, Yang. Udah merasa lebih baik sekarang?" tanya Gilang setelah beberapa saat mereka berciuman.


"Mas enggak pengin beli ikan hias itu?" tanya Ailee kemudian, mengalihkan perhatian ke toko tempat sang suami memarkirkan mobilnya.


"Enggak, lah, Yang. Untuk apa? Di rumah juga udah ada banyak, kan?" tolak Gilang.


"Belilah, Mas. Enggak enak karena kita udah parkir cukup lama di depan tokonya," pinta Ailee dan Gilang akhirnya mengangguk, setuju.


Pemuda tampan itu memang tidak pernah dapat menolak keinginan istrinya. Apalagi saat ini sang istri sedang mengandung. Gilang sudah berjanji pada diri sendiri akan menuruti apapun keinginan Ailee.

__ADS_1


"Mau ikut turun?" tawar Gilang.


"Boleh." Ailee lalu membuka pintu sendiri, tanpa menunggu dibukakan oleh sang suami. Mereka berdua kemudian berjalan menuju toko dengan saling bergandengan tangan.


Setelah membeli beberapa ikan hias yang rencana akan di piara di kolam samping rumah, tepatnya di taman tempat kesukaan sang oma, Gilang kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai rumah dan bertemu dengan Erlan untuk menanyakan tentang Nesa.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, mereka pun tiba di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang. Gilang segera mengajak sang istri ke kamar untuk membersihkan diri lalu sholat maghrib berjama'ah.


Usai sholat dan berdo'a, Gilang lalu mengirimkan pesan pada Erlan hendak berbicara empat mata dengan abang sepupunya tersebut. Tidak perlu menunggu lama, Erlan membalas pesan Gilang.


"Sayang. Aku ke ruang kerja sebentar, ya," pamit Gilang pelan, pada sang istri yang sedang tadarus Al-Qur'an.


Ailee menghentikan sejenak bacaannya lalu mengangguk. Gilang tersenyum dan kemudian segera berlalu meninggalkan sang istri yang kemudian mengakhiri tadarusnya.


Perasaan Ailee kembali tidak nyaman. Pikiran buruk kembali melintas dan hal itu sukses membuatnya menjadi gelisah. Setelah menyimpan Al-Qur'an dan mukena di tempat semula, Ailee lalu keluar dari kamar. Dia berjalan mondar-mandir di ruang keluarga yang sepi.


Ya, pada jam-jam seperti ini, semua orang berada di kamar masing-masing. Sang oma akan menghabiskan waktu dengan wirid hingga waktu isya' tiba. Ketiga keponakan Gilang setelah tadarus sebentar, akan lanjut belajar hingga jam makan malam tiba.


Tidak sengaja, netra Ailee menangkap pintu ruang kerja sang suami tidak tertutup rapat. Wanita cantik itupun berinisiatif untuk masuk ke ruangan sang suami karena ingin ikut mendengarkan pembicaraan suaminya dengan Erlan.


Melangkah pasti Ailee menuju ke ruang kerja sang suami. Langkahnya terhenti ketika dia mendengar sang suami berkata, "jangan sampai istriku tahu akan hal ini, Bang, karena semua belum jelas dan terbukti kebenarannya."

__ADS_1


'Ada apa ini? Apa yang disembunyikan Mas Gilang dariku?'


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2