
Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika Ailee dan sang suami tiba kembali di hotel. Mereka berdua langsung menuju ke kamarnya. Keduanya segera membersihkan diri, setelah seharian ini melakukan berbagai macam aktifitas dan mengalami kejadian-kejadian menegangkan yang menimpa keluarga Ailee.
Ya, mereka berdua pulang setelah memastikan papanya Ailee mendapatkan perawatan terbaik meskipun pengacara tersebut belum siuman akibat terkena serangan jantung ketika ditinggalkan. Gilang memaksa sang istri untuk pulang karena dia tidak mau kalau sampai istrinya kecapekan dan kemudian jatuh sakit. Lagipula, kehadiran Ailee di sana nampak tidak disukai oleh sang kakak pertama, Aira.
Usai mandi dan berganti pakaian, sepasang suami-istri yang baru sehari menikah itu kemudian melaksanakan sholat isya' berjama'ah. Ailee dan Gilang nampak sangat khusyuk. Selepas salam, Ailee berbisik pada sang suami agar dalam do'anya nanti, sang suami juga mendo'akan keluarganya.
"MasyaAllah, lembut sekali hatimu, Sayang," puji Gilang seraya menoleh ke arah sang istri.
Ailee menggelengkan kepala. Tidak, dia tidak sebaik itu. Ailee tetap memiliki ego dan rasa sakit hati pada sikap keluarga yang sudah tidak adil terhadap dirinya selama ini, hanya saja dia tidak mau kalah dengan egonya sendiri.
Perbuatan buruk, tidak harus dia balas dengan keburukan pula. Pasti akan ada balasan setimpal untuk mereka yang berbuat buruk, entah darimana arahnya. Kini, mereka telah menuai, apa yang mereka semai dan Ailee hanya berusaha untuk bersimpati atas musibah yang menimpa keluarganya.
Gilang menuruti keinginan sang istri. Dalam do'nya, dia menyelipkan permohonan pada Sang Pencipta, kiranya Allah mengampuni segala kesalahan dan kekhilafan keluarga sang istri, memberikan kesabaran kepada mereka dan memberikan kesembuhan bagi yang sedang sakit. Ailee mengaminkan do'a sang suami dengan air mata berderai.
"Hai, kenapa menangis?" tanya Gilang, selepas dia berdo'a dan kemudian menoleh ke belakang.
Ailee tidak langsung menjawab. Dia ambil tangan sang suami dan kemudian diciumnya punggung tangan sang imam dengan penuh ketakdziman. Gilang membalas dengan ciuman dalam dan hangat di kening sang istri tercinta. Pemuda tampan itu kemudian membawa tubuh mungil Ailee ke dalam pelukannya yang hangat
"Ai enggak bisa ngebayangin gimana perasaan Kak Aina. Pantas saja dia sampai depresi seperti itu karena ternyata Kak Aira berselingkuh dengan kekasihnya di depan mata," ucap Ailee sangat lirih dan hampir tidak terdengar di rungu Gilang meskipun sang istri masih berada dalam pelukan.
__ADS_1
"Sedangkan Kak Aira sendiri, dia juga pasti sangat sedih karena ternyata selama ini suaminya main gila dengan baby sitter yang dia percaya," lanjutnya.
"Jangan dibayangin karena kamu bukan mereka dan kamu tidak tahu apa yang sudah dilakukan Aina bersama kekasihnya selama ini. Aina sudah merasakan banyak kenikmatan bersama laki-laki yang belum sah menjadi suaminya. Dia melakukan itu semua tanpa berpikir panjang bagaimana akibatnya nanti dan sekarang, Aina menuai hasil dari kenikmatan semu yang ternyata menyesatkan." Gilang membelai lembut pipi sang istri.
"Dan Aira, dia juga menuai hasilnya sekarang. Di luar sana dia tega berselingkuh dengan kekasih Aina dan di dalam rumahnya sendiri ternyata suaminya juga menikmati tubuh wanita lain, wanita muda yang sangat dia percaya. Miris, kisah mereka memang sangat miris. Aku tidak mau menyebut mereka berdua sebagai kakakmu, Sayang. Tidak, mereka berdua tidak pantas menjadi kakak." Gilang menggeleng-gelengkan kepala.
Ailee menganggukkan kepala dalam pelukan sang suami. Dia pun enggan menyebut mereka berdua sebagai kakak. Selain karena mereka berdua memang tidak pernah menganggap Ailee sebagai bagian dari keluarga, perilaku keduanya sangat memuakkan.
Sejenak, keheningan tercipta di dalam kamar hotel yang luas tersebut. Ailee dan Gilang, sama-sama terdiam, tidak ada yang mengeluarkan suara. Yang terdengar hanya hembusan napas keduanya.
"Terlebih papa, Mas." Suara Ailee mengurai keheningan. Wanita cantik yang masih mengenakan mukena berwarna putih bersih dan berenda indah itu menghela napas panjang. Ailee seolah ingin membuang beban berat yang menghimpit di dada.
Gilang menghela napas panjang. Pemuda itu kemudian melepaskan pelukannya. Suami Ailee itu tidak menanggapi perkataan sang istri dan segera beranjak, melepaskan sarung dan kemudian memberikan pada istri kecilnya agar dirapikan.
Ailee mengikuti jejak suaminya. Setelah melipat sarung sang suami, istri belia Gilang itu segera melepaskan mukena dan kemudian melipat dengan rapi beserta kedua sajadah dan menyimpan di atas sofa. Ailee kemudian mendekati sang suami yang sudah berbaring di atas ranjang empuk nan luas.
Wanita muda itu lalu duduk di tepi pembaringan, di samping tubuh sang suami. "Maafkan Ai ya, Mas. Tidak seharusnya, Ai membawa dan membahas tentang keluarga Ai di kamar kita," ucapnya seraya menepuk lembut punggung tangan sang suami.
Ailee dapat meraba, sang suami pasti sudah lelah melihat dan terpaksa ikut terlibat dengan semua kejadian yang dialami keluarganya. Dia tidak mau menambah beban sang suami dengan membahas masalah keluarganya lebih lanjut. Ailee berjanji dalam hati, cukup sampai di sini mereka berdua membicarakan tentang papa dan kedua kakaknya.
__ADS_1
Gilang tersenyum. "Tidak masalah, Sayang. Aku hanya tidak mau kalau kamu sampai sakit jika terlalu memikirkan tentang keluargamu. Kita sudah mendo'akan mereka, Sayang, dan kita juga sudah membantu mereka sebisanya. Jadi kuharap, kamu tidak terus-terusan larut dalam kesedihan karena memikirkan papa, Aira dan Aina," balas Gilang.
"Besok jika kamu ingin ke rumah sakit untuk besuk papa, akan aku antar. Sekalian, kita cari suster yang mau merawat papa dan Aina jika mereka sudah diijinkan pulang ke rumah," lanjutnya, membuat Ailee langsung memeluk sang suami.
"Terima kasih banyak, Mas. Mas sudah sangat peduli pada keluarga Ai meskipun sikap mereka selama ini tidak baik pada kita," ucap Ailee, tulus.
"Hei, ini tidak gratis, ya," goda Gilang seraya mengeratkan pelukan. Gemas, pemuda tampan itu mendekap tubuh mungil sang istri hingga tubuh Ailee tenggelam dan kesulitan bernapas.
"Mas, Mas Gilang mau membunuhku!" protes Ailee berusaha untuk melepaskan diri.
Gilang terkekeh senang. Suami dewasa Ailee itu hanya melonggarkan sedikit pelukan dan kemudian menghujani wajah cantik istrinya dengan ciuman. Membuat Ailee ikut tertawa kegelian.
"Mas, geli, ah ... udah, dong," rajuk manja Ailee, membuat sang suami semakin menjadi.
Gilang menggulingkan tubuh sang istri dan kemudian menindih tubuh kecil istrinya. "Sayang, kamu masih ingat, kan, dengan janji kamu tadi sewaktu di kantor polisi?" tagih Gilang dan Ailee menganggukkan kepala.
"Mas mau gaya apa?" tanya Ailee seraya mengerling nakal, menggoda sang suami. Dia bergaya seperti layaknya profesional yang siap melayani pelanggannya. Membuat Gilang tersenyum senang.
Selanjutnya, di kamar mewah dengan nuansa pengantin baru yang terdengar hanyalah suara-suara yang membuat orang akan iri dengan kemesraan sepasang suami-istri. Cumbu rayu, mereka berdua lontarkan kepada pasangan untuk mengawali percintaan. Setelah cukup lama saling merayu mesra, kini kamar berpendingin udara itu terasa panas membara, sepanas pergulatan mereka berdua dengan berbagai macam gaya.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕