Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Rencana Jahat


__ADS_3

Erlan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera tiba di rumah sakit. Dia tidak tega melihat wajah pucat Ailee yang terpejam dalam pangkuan sang suami. Sementara Gilang terus saja berusaha membangunkan istrinya dengan berurai air mata.


Bos GCC itu tidak malu menangis, meskipun ada Maida di sana. Hanya satu yang dikhawatirkan Gilang, yaitu keselamatan sang istri dan juga janin yang masih bersemayam dalam kandungan istrinya. Pemuda tampan itu terus menggenggam erat tangan sang istri tercinta untuk menyalurkan kekuatan bahwa mereka akan berjuang bersama-sama.


"Maafkan aku, Sayang. Maaf," ucapnya yang tiada henti meminta maaf.


Ya, Gilang terus saja dihantui rasa bersalah karena telah membiarkan Ailee ke toilet seorang diri. Sebagai suami, dia merasa tidak dapat menjaga istrinya hingga hal buruk harus menimpa sang istri. 'Jika sesuatu terjadi pada kalian, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri,' batin Gilang, penuh penyesalan.


Gilang masih terus menyesali keteledorannya. Sementara Maida yang duduk di bangku samping pengemudi, sesekali menoleh ke belakang. Istri Erlan itu pun ikut merasa bersalah karena Ailee mengalami kejadian buruk demi untuk menyelamatkan dia dan sang suami, meskipun Maida belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Dengan tangan gemetar karena masih syok, Maida mengambil ponsel dari dalam tas lalu menelepon seseorang. "Assalamu'alaikum, Dad." Maida lalu menceritakan apa yang terjadi barusan pada sang daddy. Berharap, daddynya ikut bergerak cepat untuk mengatasi semua kekacauan, meskipun Erlan juga sudah bergerak.


"Iya, Dad. Di hotel Mas Gilang dan Bang Er juga sudah mencari tahu melalui CCTV di sana," lanjut Maida.


Obrolan istri Erlan dan sang daddy berakhir, ketika mobil yang ditumpangi berhenti tepat di depan lobi IGD. Maida segera turun untuk memanggilkan petugas. Sesaat kemudian, dua orang perawat yang berjaga mengikuti langkah Maida seraya membawa brankar pasien.


Tubuh Ailee dipindahkan Gilang ke atas brankar lalu segera didorong masuk ke IGD. Gilang hanya bisa menanti di depan pintu bercat putih tersebut karena istrinya harus segera ditangani. Erlan yang baru saja masuk setelah memarkirkan mobil, segera menghubungi oma dan Mama Irna.


Ketegangan sangat terasa di ruang tunggu tersebut. Erlan berjalan mondar-mandir, sangat gelisah. Dia pun ikut merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Ailee.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi, Ai? Kenapa kamu sampai berlari seperti tadi? Apa yang dicampurkan Aleena ke dalam minuman kami?" Erlan yang sudah dapat sedikit menerka, bertanya-tanya pada diri sendiri.


"Bang. Duduklah, Bang," pinta Maida pada sang suami.


"Aku belum bisa tenang, Dik, jika belum melihat sendiri apa yang sudah terjadi tadi," balas Erlan yang kemudian mendekati sang istri dan duduk di samping Maida. Tatapannya terus tertuju ke layar ponsel untuk mengecek laporan dari orang hotel.


"Ini dia," gumam Erlan ketika ada kiriman video masuk ke ponselnya.


"Mai juga pengin lihat, Bang." Maida mencondongkan tubuh, mendekat ke arah sang suami.


Gilang yang melihat hal tersebut, tidak peduli dan tidak ingin mendekat. Fokusnya hanya satu, yaitu bagaimana keadaan istrinya di dalam sana. Pemuda tampan itu terus berdo'a dalam hati, meminta keselamatan untuk sang istri dan sang calon buah hati.


"Maaf, Mas. Dengan sangat terpaksa, kami harus melakukan tindakan kuretes karena janin yang ada di dalam kandungan istri Anda sudah tidak dapat diselamatkan." Keterangan selanjutnya yang diucapkan oleh dokter, tidak mampu lagi ditangkap dengan baik oleh Gilang.


Melihat Gilang limbung, Erlan yang baru saja menutup layar ponsel segera mendekat diikuti oleh sang istri. Sigap, dia memapah Gilang menuju bangku panjang yang tersedia dan kemudian mendudukkan sang adik sepupu di sana. Erlan kemudian mendekati dokter yang masih berbicara dengan Maida.


"Ai masih belum sadarkan diri, Bang," ucap Maida dengan suara tercekat di tenggorokan. Dia semakin syok mengetahui Ailee kehilangan bayinya.


"Lakukan saja yang terbaik untuk Ailee, Dok," pinta Erlan kemudian. Pemuda itu lalu membawa sang istri untuk duduk tidak jauh dari Gilang.

__ADS_1


"Bang, Mai enggak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Ai kalau dia sadar nanti," bisik Maida pada sang suami karena tidak ingin membuat Gilang semakin sedih jika mendengar perkataannya.


"Kita enggak boleh ikut larut dalam kesedihan, Dik. Kita harus kuat agar bisa menghibur Ai nantinya." Erlan yang sejujurnya hatinya ikut hancur mendengar kabar bahwa calon keponakannya tidak dapat diselamatkan mencoba untuk tegar.


Pemuda itu lalu mengusap air mata sang istri dengan lembut. "Jangan tunjukkan kesedihan yang berlebihan karena itu bisa membuat Ai dan Ge semakin bersedih! Kita harus hibur mereka, Dik," pintanya, kemudian dan Maida mengangguk setuju.


"Oma dan Mama Irna sebentar lagi sampai, kamu tunggu mereka, ya. Aku akan mendampingi Ge," pamit Erlan yang segera beranjak. Pemuda itu lalu mendekati Gilang yang masih larut dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam.


"Ge, aku minta maaf. Semua ini terjadi karena Ai ...."


"Tidak, Bang. Ini bukan salah Bang Er, tapi salahku yang tidak bisa menjaga istriku dengan baik," sergah Gilang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia susut air mata yang terus menyeruak dari sudut matanya.


"Bukan salah kamu juga, Ge. Andai Aleena tidak memiliki niat jahat padaku dan Mai, semua ini pasti tidak akan terjadi karena sewaktu keluar dari toilet kondisi Ai baik-baik saja." Erlan menghela napas panjang.


"Istrimu mendengar rencana jahat Aleena dan sewaktu keluar dari toilet itulah wanita licik itu mendorong tubuh istrimu hingga jatuh," terang Erlan sesuai yang dia lihat dari video rekaman CCTV hotel.


"Aleena? Jadi, dia ... dia yang dimaksudkan Ai tadi, Aleena? Memangnya, rencana jahat apa yang Ai dengar?"


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2