
Setelah lelah menyatu dengan kekasih halalnya, kedua insan yang sama-sama dimabuk asmara tersebut terlelap ke alam mimpi. Tubuh keduanya tenggelam di dalam selimut tebal nan lembut dengan saling memeluk mesra. Dinginnya pendingin udara di kamar mewah tersebut, semakin mengeratkan pelukan mereka berdua.
Detik berlalu, menit pun berganti. Kini, waktu menunjukkan pukul dua malam dan panggilan alam membuat Gilang membuka matanya. Pemuda itu tersenyum, mendapati istri kecilnya yang cantik dan agresif masih terlelap di lengannya sambil memeluk dada Gilang.
"Kamu pasti kecapekan, Sayang. Terima kasih sudah memberiku servis istimewa tadi. Kamu memang pandai menyenangkan suami," gumam Gilang sambil membelai lembut rambut halus sang istri.
Senyum Gilang semakin lebar saat pemuda itu membayangkan bagaimana istrinya memperlakukan dia dengan sangat istimewa. Ailee memanjakan Gilang tanpa diminta hingga membuat pemuda tampan tersebut merasakan kenikmatan berkali-kali bersama sang istri. Gilang bahkan ingin terus mengulang jika tidak ingat bahwa malam telah semakin larut dan tubuh keduanya juga butuh untuk diistirahatkan.
Suami Ailee itu bergerak perlahan dan kemudian membetulkan posisi istrinya. Dia letakkan bantal empuk di bawah kepala sang istri dan membetulkan kembali selimut agar tubuh Ailee yang masih polos, tertutup sempurna. Gilang memungut kimono yang tergeletak di lantai dan memakainya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Tak berapa lama, pemuda tampan itu telah kembali dan dia tersenyum kala mendapati istri cantiknya sudah duduk sambil menyandarkan kepala pada sandaran ranjang. "Sayang, kamu terbangun? Maaf, ya, kalau tidurmu terganggu. Aku udah enggak tahan tadi, pengin ke kamar mandi," sesal Gilang setelah duduk di samping sang istri.
Ailee menggelengkan kepala dan kemudian menyadarkan kepalanya dengan manja di bahu kokok sang suami. "Tidak apa-apa, Mas. Udah waktunya bangun juga. Mau sholat malam," balas Ailee.
"Mandi bareng, ya," tawar Gilang sambil tangannya yang sudah menelusup masuk ke dalam selimut, memilin-milin benda kenyal favoritnya.
"Memangnya Mas Gilang enggak capek, ya?" tanya Ailee seraya membalas kenakalan sang suami. Tangannya yang kecil sudah berada di balik kimono suaminya dan mere*mas manja sesuatu milik Gilang yang membuat Ailee mabuk kepayang.
"Lagian, kalau mandi bareng nanti jatuhnya lama, Mas. Ai enggak mau, ah, nanti masuk angin," tolak Ailee, tetapi tangannya semakin terampil di bawah sana hingga membuat Gilang mende*sah.
"Sayang, kalau kamu menolak, kenapa kamu membangunkannya?" protes Gilang dengan suara seperti menahan sesuatu. Tatapannya berkabut menatap manik indah istrinya.
__ADS_1
Protes dari sang suami, membuat Ailee tersadar bahwa apa yang dia genggam sekarang, sudah tidak muat lagi di tangan. Buru-buru istri belia Gilang itu melepaskannya, tetapi sang suami yang sudah terlanjur mode on tidak membiarkan istri nakalnya itu terbebas begitu saja. Gilang langsung mengungkung tubuh kecil Ailee di bawah tubuhnya yang besar.
"Kalau enggak mau sambil mandi, di sini saja, ya," pinta Gilang. "Sekali aja," bujuknya, membuat sang istri mengangguk pasrah.
Kembali, dua insan tersebut menikmati indahnya penyatuan yang dibalut rasa saling sayang dan saling cinta. Mereguk manisnya madu dan indahnya kebersamaan dalam naungan ridho-Nya. Penyatuan yang sungguh nikmat dan indah karena alam pun merestuinya.
\=\=\=\=\=
Pagi hari di kantor Gilang. Bos GCC tersebut menyempatkan diri sebentar untuk pergi ke sana, sebelum mengantarkan sang istri ke rumah sakit karena ada berkas yang harus dia tanda tangani secara mendadak. Gilang ditemani oleh sang istri tercinta yang kali ini tampil sangat anggun dengan dress panjang yang elegans.
Gilang melangkah pasti sambil menggenggam erat tangan sang istri melintasi lobi. Bos tampan yang saat ini tidak memakai masker itu tentunya langsung menjadi pusat perhatian. Apalagi, ini adalah kemunculan perdananya setelah menikah dengan Ailee.
Semua mata menatap kagum pada pasangan tersebut. Aura Gilang semakin terlihat menawan karena kini dia tidak lagi bersikap dingin pada para karyawan. Senyum ramah dia sunggingkan pada anak buah yang mereka lalui di sepanjang lobi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Gilang, menoleh ke arah sang istri.
Dilihatnya, wajah cantik Ailee sumringah dan tidak menunjukkan adanya kesedihan di sana. Namun, entah mengapa istri cantiknya tersebut meminta seperti itu. Gilang merasa ada yang aneh dengan permintaan istrinya.
Ailee membuka mulutnya, hendak menjawab. Namun, urung karena pintu lift keburu terbuka. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa keduanya ke lantai tertinggi gedung perkantoran milik Gilang.
"Kenapa, Sayang? Apa kamu cemburu, hah? Apa karena mereka tadi menatapku terpesona?" cecar Gilang dengan banyak pertanyaan, sambil menghimpit tubuh ramping sang istri ke dinding lift. Suami dewasa Ailee itu tersenyum senang, melihat kecemburuan di mata istri belianya.
__ADS_1
"Ya, Ai cemburu, Mas," balas Ailee jujur, dengan bibir mengerucut.
Ailee melihat dengan jelas tadi, bagaimana mata para karyawan wanita mengagumi sosok sang suami yang memang tampan rupawan dan nyaris sempurna. Semua yang diidolakan oleh wanita, ada pada sosok sang suami dan hal itu yang membuat Ailee merasa tidak nyaman. Bukan karena dia tidak percaya pada sang suami, hanya saja dia merasa tidak nyaman dengan pemandangan tadi.
Gilang menangkup kedua sisi pipi sang istri dan kemudian melabuhkan ciuman di kening istrinya. Ciuman yang hangat dan penuh kasih. "Percayalah padaku, Sayang. Aku tidak akan pernah tergoda dengan yang lain. Cukup kamu, kamu dan kamu yang memenuhi hatiku," ucap Gilang setelah melepaskan ciumannya.
Pemuda itu kemudian membawa tangan sang istri ke dadanya yang bidang untuk merasakan debar jantungnya ketika Gilang berada dekat Ailee. "Kamu bisa merasakan, kan, debaran jantungku yang cepat. Dan hanya bersama kamu, aku merasakan hal ini, Ailee Sayang," lanjut Gilang, membuat wajah putih Ailee merona.
"Enggak sedang menggombal, kan?"
Gilang menggeleng cepat. Secepat bibirnya yang kemudian menyambar bibir tipis sang istri. Suami Ailee itu kemudian ******* bibir istrinya dengan lembut, membuat Ailee yang awalnya terkejut dan protes, kemudian terbuia.
Mereka berdua sama-sama larut dalam ciuman yang dalam, ciuman yang penuh cinta dan kasih. Hingga pintu lift terbuka tepat di lantai yang dituju, mereka berdua masih belum menyadarinya dan masih asyik dengan penyatuan bibir. Barulah ketika Erlan berdeham, mereka berdua tersadar dan kemudian melepaskan ciuman.
"Ingat tempat, Ge! Untung lift khusus, kalau lift umum bagaimana?" protes asisten, sekaligus abang sepupu Gilang yang masih membujang tersebut.
Ailee yang baru keluar dari lift dengan digandeng sang suami, tertunduk. Wanita muda itu benar-benar merasa malu karena ada yang melihat kemesuman mereka berdua. Berbeda dengan Gilang yang memasang wajah senang.
"Enggak perlu malu seperti itu, Sayang," bujuk Gilang pada sang istri yang masih menunduk.
"Biar aja Bang Er melihat dan iri dengan kemesraan kita agar dia menyegerakan untuk menikah," lanjutnya. Bos GCC itu kemudian tergelak dan segera membawa sang istri menuju ke ruangannya.
__ADS_1
Erlan terlihat sangat kesal. "Tunggu aja kabar dariku, Ge! Enggak akan lama lagi, undangan pernikahanku akan ada di atas mejamu!"
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕