Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Aku Harus Menyingkirkan Dia!


__ADS_3

Pagi hari di kediaman orang tua Ailee. Laki-laki paruh baya, ayah dari tiga orang putri tersebut dibuat terkejut dengan kabar yang baru saja dia terima dari pihak kepolisian mengenai sang putri kesayangan.


"Ada apa, Pa?" tanya Aira yang baru keluar ke ruang tamu, pura-pura tidak mengetahui apa-apa.


"Mereka mengabarkan kalau adik kamu masuk rumah sakit, Ra, dan kondisinya kritis," jawab sang papa seperti yang didengar dari petugas polisi.


Dua orang petugas berseragam coklat menganggukkan kepala, membenarkan jawaban papanya Aira.


"Benar, Mbak. Dugaan sementara, terjadi percekcokan antara Mbak Aina dan Mas Ringgo," imbuh salah satu petugas.


"Ringgo juga kritis, Ra. Ada luka akibat hantaman botol di kepalanya," terang sang papa kembali.


Aira pura-pura terkejut. Wanita ibu satu anak itu menutup mulutnya.


"Pak, tolong kasus ini ditutup saja, ya. Biar kami selesaikan secara kekeluargaan," pinta Aira, kemudian.


"Bukankah begitu, Pa?" Aira menatap sang papa, meminta persetujuan atas usulannya.


"Jika kasus ini sampai ke meja hijau dan publik jadi tahu permasalahannya, nama baik Papa sebagai pengacara pasti akan tercoreng, Pa," bisik Aira, mencoba mempengaruhi papanya.


Pengacara kondang itu mengangguk, membenarkan ucapan sang putri pertama yang cara berpikirnya luas tersebut, menurut sang papa.


"Benar, Ndan. Kami akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja. Apalagi, keduanya sama-sama kritis. Jadi, kami tidak dapat saling menuntut," timpal laki-laki yang memiliki postur tubuh gempal tersebut.


"Baiklah, Pak. Akan kami sampaikan pada rekan kami." Dua orang petugas berseragam coklat itupun segera pamit.


"Ayo, Ra! Kita ke rumah sakit sekarang!" ajak sang papa dengan tidak sabar.


Aira segera berpesan pada baby sitter yang mengasuh putranya agar mengurus sang putra dengan baik, sebelum wanita karir itu berangkat menuju rumah sakit untuk melihat kondisi sang adik.


"Nel, tolong nanti sampaikan juga sama bapak kalau bapak langsung pulang kemari agar bapak segera menghubungi aku," lanjut Aira yang kemudian segera berlalu dari hadapan sang baby sitter yang menganggukkan kepala, seraya tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Ya, Aira memang lebih sering berada di rumah orang tuanya ketika sang suami berdinas ke luar kota. Jika suaminya kembali, barulah Aira akan pulang ke rumah sang suami. Sementara apartemen yang dia miliki, hanya dipakai untuk beristirahat di waktu siang, termasuk untuk bersenang-senang dengan Ringgo selama hampir setahun terakhir.


Aira dan sang papa segera masuk ke dalam mobil dan mobil berwarna hitam yang dikendarai sendiri oleh pengacara tersebut, melaju cepat untuk menuju ke rumah sakit.


Tak berselang lama setelah ayah dan anak sulung itu meninggalkan rumah, sebuah mobil taksi nampak memasuki pintu gerbang yang tidak tertutup. Penumpang taksi langsung turun dengan senyuman yang mengembang, begitu melihat seorang gadis berseragam baby sitter menyambutnya.


"Nel, kita langsung ke rumah saja, ya. Takutnya, bibi melihat kedatanganku," ajak laki-laki tersebut, seraya mencubit mesra pipi Nelly.


"Iya, Mas. Aku ambil adik dulu," pamit Nelly yang bergegas kembali ke dalam rumah yang cukup megah milik Pak Pengacara.


"Bi, Nelly mau ajak adik jalan-jalan dulu biar enggak rewel!" pamit Nelly berteriak pada bibi asisten di kediaman orang tua Ailee.


"Iya, Nel. Hati-hati," balas sang bibi asisten tanpa rasa curiga.


Baby sitter itu segera menggendong anak kecil yang nampak tidur dengan sangat lelap dan kemudian segera keluar menuju halaman. Nelly segera masuk ke dalam taksi yang pintunya masih terbuka.


"Jalan, Pak!" titah laki-laki yang tadi mencubit mesra pipi sang baby sitter dan kemudian dia menyebutkan sebuah alamat.


Sepanjang perjalanan, Nelly dan laki-laki itu terus saling mencumbu. Baby sitter itu masih sambil memangku anak kecil, putra sang majikan yang masih terlelap. Bocah berusia dua tahun tersebut sama sekali tidak terganggu dengan pergerakan Nelly yang semakin liar karena cumbuan sang laki-laki.


"Kita sudah sampai, Mas." Suara Pak sopir, menghentikan aktifitas mereka berdua.


Nelly segera membetulkan kancing blous-nya yang terlepas. Bukan, bukan terlepas, tetapi sengaja dilepaskan oleh sang laki-laki yang barusan mencumbuinya. Baby sitter itu kemudian segera turun, mengikuti langkah laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berotot kekar yang mampu membuat Nelly basah hanya dengan membayangkan.


"Aku tidurkan adik dulu ya, Mas," pamit baby sitter yang berusia sekitar sembilan belas tahun tersebut, setelah laki-laki yang selalu menatapnya dengan penuh damba itu membukakan pintu utama rumah bertingkat dua.


"Apa putraku sudah kenyang? " tanya Sindu memastikan dan Nelly menganggukkan kepala, memberikan jawaban.


"Jangan lama-lama, Sayang! Aku tunggu di kamar!" seru laki-laki berkulit putih bersih itu kemudian, seraya mengunci kembali pintu rumahnya.


Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci, laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun yang memiliki kumis tipis dan bercambang, bergegas menuju kamar yang selalu dia rindukan. Kamar yang berukuran tidak terlalu luas, milik sang baby sitter. Kamar Nelly berada di lantai dua sehingga sangat aman jika dirinya di tengah malam menelusup masuk ke sana untuk bercinta dengan sang empunya.

__ADS_1


Baru saja laki-laki itu merebahkan diri di atas kasur busa yang cukup empuk, terdengar suara manja yang protes kepadanya.


"Nelly kangen banget tau, sama Mas Sindu." Bibir baby sitter itu mengerucut. "Tumben kali ini, Mas Sindu dinasnya lama. Apa jangan-jangan, Mas punya selingkuhan lain, ya, di sana!" tuduhnya, kemudian.


Laki-laki bernama Sindu itu tergelak. "Aku suka kalau kamu cemburu, Sayang," ucap Sindu, mengabaikan tuduhan Nelly.


"Aku suka sama wanita yang bergantung pada laki-laki, pencemburu dan manja seperti kamu," lanjutnya, seraya membawa tubuh Nelly ke dalam pelukan hangatnya.


"Apa karena itu, Mas selingkuh sama Nelly sebab Bu Aira terlalu mandiri, Mas?" tanya Nelly dengan polosnya.


Sindu kembali tergelak. "Itu salah satunya, Nel," balas Sindu. "Mau tahu salah duanya, enggak?" tanyanya, kemudian.


"Apa, Mas?" tanya sang baby sitter, penasaran.


"Buka dulu bajumu, Sayang!" pinta Sindu.


Tidak perlu menunggu perintah kedua, dengan senang hati Nelly langsung membuka satu persatu kancing bajunya dan kemudian melepaskan seragam baby sitter tersebut. Nelly melempar dengan asal baju seragam yang menjadi kedok untuk memuluskan hubungannya dengan Sindu. Kulit tubuh gadis itu yang mulus, langsung terekspos sempurna di hadapan Sindu.


Ya, Nelly sudah lama menjalin hubungan gelap dengan suaminya Aira yang merupakan pegawai di kantor perpajakan. Hubungan mereka terjalin ketika Aira tengah mengandung putra pertama. Setelah sang putra lahir, Sindu meminta agar kekasihnya yang lugu, putri dari pemilik kantin di kantor Sindu itu, melamar menjadi baby sitter untuk putranya.


"Ini salah duanya, Sayang," ucap Sindu yang kemudian menyesap puncak salah satu bukit kembar sang baby sitter. Puncak bukit yang sudah terbentuk sempurna, meski Nelly belum menikah karena Sindu pandai menghisap dan membentuknya.


Suara-suara laknat mulai terdengar di kamar Nelly. Mereka berdua melakukannya tanpa merasa khawatir sama sekali karena sebelumnya mereka selalu memastikan bahwa semua aman terkendali. Bocah kecil, putra Sindu dan Aira yang tidak tahu apa-apa, juga sudah diamankan oleh Nelly dengan diberi obat tidur tanpa sepengetahuan Sindu agar tidak mengganggu kesenangan mereka berdua.


"Aku selalu puas dengan pelayanan kamu, Sayang," ucap Sindu, mengakhiri penyatuannya. Laki-laki itu kemudian mencium kening Nelly dengan dalam, sebelum kemudian Sindu mengenakan pakaiannya kembali.


"Mas. Kapan Mas Sindu akan memenuhi janji Mas untuk menikahi Nelly?" tagih Nelly, membuat suami Aira itu menyugar kasar rambutnya.


'Brengsek! Gadis ini, sudah tidak polos lagi rupanya! Aku harus menyingkirkan dia segera, sebelum dia menjadi boomerang bagi karir dan juga keluargaku.'


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2