Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Sedekat Sahabat


__ADS_3

Pagi hari, semua orang di kediaman keluarga Gilang mulai disibukkan dengan aktifitas masing-masing. Ketiga keponakan Gilang, sudah bersiap untuk pergi ke kampus dan ke sekolah.


Sementara Gilang, Erlan dan Ailee juga sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.


Mereka kini sedang berada di meja makan, untuk menikmati sarapan pagi yang telah disiapkan oleh dua asisten rumah tangga yang bekerja di bagian dapur.


"Ai, kenapa sarapannya cuma sedikit?" tanya Satria, penuh perhatian.


"Ini udah cukup, kok, Bang," balas Ailee, sambil mengaduk nasi dalam piring.


Gilang yang duduk di samping Ailee dan tengah menikmati sarapannya, melirik sekilas ke arah sang keponakan dan kemudian melihat ke arah piring Ailee.


Tiba-tiba, pemuda itu menambahkan sesendok penuh nasi goreng miliknya, ke dalam piring Ailee.


"Makan yang banyak, biar kuat menghadapi kenyataan hidup," ucap Gilang, datar.


Ailee mengerutkan dahi. "Kenyataan hidup apa, Om?" tanya Ailee, tak mengerti.


Gadis itu sampai menghentikan sarapannya dan kemudian menatap Gilang yang pagi ini tampil sangat macho.


Pemuda tersebut mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang lengannya digulung hingga sebatas siku, dipadukan dengan celana bahan berwarna biru dongker.


Rambutnya di sisir rapi dan jangan lupakan aroma wangi parfumnya. Parfum beraroma maskulin yang dia pakai, dapat tercium kuat oleh Ailee yang duduk di samping pemuda tersebut, hingga membuat Ailee terbuai dan ingin terus berdekatan dengan Gilang.


"Kenyataan hidup diabaikan oleh calon suami, Ai," sahut Erlan, seraya terkekeh pelan.


Perkataan Erlan, membuat Gilang mendengkus kesal.


"Tenang, Ai. Jika kamu diabaikan Om Ge, masih ada Bang Satria yang siap dua puluh empat jam memberikan sandaran buat kamu," ucap pemuda tersebut seraya memainkan kedua alisnya, sengaja menggoda Ailee.


"Kukuh setuju sama Bang Sat dan mendukung seratus persen!" sahut adik kandung Satria itu.


"Daripada Kak Lili sama Om Ge yang enggak care sama sekali terhadap Kak Lili," lanjut Kukuh, membuat Gilang merasa tersentil.


"Aku pura-pura enggak tahu apa-apa, ah. Aku 'kan masih kecil," timpal Reno yang membuat dirinya mendapatkan hadiah lemparan gulungan tissue oleh Kukuh yang duduk berhadapan dengan remaja yang bermata sipit khas orang Asia Timur tersebut.


"Kecil-kecil. Kemarin aja, abis nembak cewek 'kan, kamu, Ren?" cecar Kukuh.


"Sudah, kalian berdua yang masih berseragam putih abu-abu, jangan ikut-ikutan! Jangan pacaran dulu dan fokuslah pada studi kalian!" ucap Erlan dengan bijak, memperingatkan kedua remaja tanggung tersebut.


"Sat, kamu juga masih kuliah. Kamu fokus aja sama kuliah!" ketus Gilang kemudian yang membuat Satria, tersenyum lebar.

__ADS_1


Melihat sikap ketus Gilang terhadap sang keponakan gara-gara Satria memberikan perhatian pada Ailee, membuat Erlan tersenyum, dikulum.


Asisten pribadi Gilang itu kemudian mengedipkan sebelah mata pada Satria, entah apa yang direncanakan oleh Erlan dan keponakan Gilang yang paling besar tersebut, hanya mereka berdualah yang tahu.


Sementara sang oma pun tersenyum. Wanita tua bersahaja itu mulai dapat menangkap signal positif yang diberikan Gilang kepada Ailee, meskipun tidak ditunjukkan secara langsung.


"Sudah, kalian lanjutkan sarapannya," titah sang oma dan mereka semua kembali menikmati sarapan dengan khusyuk.


\=\=\=\=\=


Setelah ketiga keponakan berangkat untuk menuntut ilmu, Gilang bersama Erlan dan Ailee juga segera berpamitan pada sang oma untuk berangkat ke kantor.


"Oma, Ai berangkat dulu, ya," pamit Ailee, paling akhir.


Gadis berhijab tersebut menyalami sang oma dan mencium punggung tangan wanita tua tersebut, dengan takdzim.


"Hati-hati ya, Nak. Semoga harimu menyenangkan." Sang Oma mengusap lembut puncak kepala Ailee.


"Ayo! Nanti kita terlambat!" ajak Gilang, dengan tidak sabar.


Ya, meskipun Gilang adalah pemilik perusahaan tersebut, tetapi pemuda itu selalu mengusahakan agar dapat on time, tiba di kantor.


Hal itu dimaksudkan untuk memberikan contoh pada para pegawainya di kantor, agar jangan sampai datang terlambat.


Sang oma mengikuti langkah mereka bertiga dengan pandangan mata dan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.


"Semoga memang benar, kalau kamu itu jodoh Gilang, Ai," gumam wanita tua tersebut.


"Aku harus secepatnya mendesak Gilang, agar dia tidak kelamaan dalam mengambil keputusan untuk segera menikahi Ailee," lanjutnya yang kemudian berjalan menuju kamar, setelah punggung ketiga cucunya tak lagi terlihat.


Sementara di halaman luas kediaman keluarga Gilang, pemuda yang senantiasa bersikap dingin pada wanita itu dibuat keki dengan ulah Erlan yang tidak mengijinkan Gilang untuk duduk di bangku depan, di samping kemudi.


Setelah naik ke bangku pengemudi, Erlan segera mengunci pintu secara otomatis, sehingga Gilang tidak dapat membukanya.


Erlan kemudian menurunkan kaca pintu sisi kiri bagian belakang dan berseru pada sang adik sepupu.


"Duduk di belakang, aku bukain!' titahnya seraya tersenyum, puas.


Gilang mendelik, tetapi kemudian menurut juga dengan permintaan Erlan.


"Cepetan, buka pintunya!" seru Gilang kemudian.

__ADS_1


Erlan terkekeh senang setelah Gilang duduk di bangku belakang, di samping Ailee.


"Yang akur, ya, Bos, sama calon istri. Anggap aja, sopir kamu ini butul," ucap Erlan, menirukan suara tokoh kartun Indonesia yang tayang setiap hari di televisi, Sopo.


"Bang Er, apa-apaan, sih?" protes Gilang, keki.


"Apa pula butul?" lanjutnya bertanya. Pemuda tersebut mengerutkan dahi, tanda tak mengerti.


"Buta dan tuli, Ge," balas Erlan yang kembali terkekeh senang.


Sementara Ailee hanya tersenyum tipis, menanggapi kekonyolan Erlan


Asisten Gilang tersebut kemudian segera menjalankan mobilnya, melaju perlahan meninggalkan halaman kediaman keluarga Gilang.


Sepanjang perjalanan menuju kantor pusat perusahaan GCC, tak ada percakapan antara Ailee dan Gilang.


Bangku belakang tersebut, sepi. Sesepi kuburan tua yang terkenal angker dan menyeramkan.


"Biasanya, nih, kalau cowok dan cewek duduk berduaan terus pada diem-dieman, maka yang aktif bekerja adalah tangannya," ucap Erlan tiba-tiba, membuat Gilang langsung melancarkan protesnya.


"Tanganku dari tadi diem aja, Bang! Duduk kami juga berjauhan!" sangkal Gilang.


"Hahaha ...." tawa Erlan pecah dan membahana ke seluruh kabin mobil mewah tersebut.


"Kalau tangannya diem, pasti karena kamu grogi. Benar 'kan, Ge?" Erlan mulai melontarkan ejekan pada sang adik sepupu.


Pemuda yang pembawaannya rame tersebut, senyum-senyum sendiri.


"Ck! Siapa yang grogi?" Gilang terlihat sangat kesal karena sedari tadi, diledekin oleh asisten pribadinya itu.


"Kalau benar kamu tidak grogi pada Ai, buktikan, Ge! Nikahi dia secepatnya, sebelum Satria yang memang sudah lama mengincar Ai mendahului kamu." Perkataan Erlan, begitu mengganggu pikiran Gilang.


Apalagi bos GCC itu juga dapat menangkap arti tatapan mata Satria terhadap Ailee yang menyiratkan masih ada rasa di sana.


Sementara Ailee hanya mengerutkan dahi, menyimak obrolan dua saudara sepupu tersebut.


Tanpa diduga, Gilang menggeser duduknya sedikit mendekat pada Ailee dan kemudian berbisik.


"Sedekat apa, hubungan kamu sama Satria, Ai? Apakah sedekat sahabat, atau lebih dari itu?" Gilang mulai resah dan gelisah.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


/


__ADS_2