
Seorang laki-laki paruh baya berpenampilan rapi, berdasi dan berjas layaknya seorang eksekutif, berdeham seraya menatap para karyawan yang bergerombol dan sedang menggunjingkan pasangan sang bos tersebut dengan tatapan mengintimidasi.
Sementara Gilang dan Ailee yang jadi bahan pembicaraan sebagian karyawan, tidak mendengar gunjingan tersebut karena mereka telah masuk ke dalam lift.
"Pak pengacara. Apa kabar, Pak?" sapa salah seorang di antara mereka yang kemudian menyalami papanya Ailee.
Ya, laki-laki yang berdiri dengan penuh percaya diri itu adalah papa kandung Ailee yang datang ke perusahaan Gilang, hendak memberikan restunya sesuai rencananya semalam.
Papanya Ailee menyambut uluran tangan salah satu karyawan Gilang itu. "Baik. Bagaimana kabar adik kamu? Apakah masih trauma?" balas dan tanyanya kemudian.
"Sudah lebih baik, Pak. Sampai saat ini masih rajin terapi," balas pemuda tersebut. "Maaf, Bapak ke sini ada perlu apa ya? Apakah mau menemui Pak Gilang?"
Papanya Ailee mengangguk. "Ya. Kami akan membicarakan pernikahan Nak Gilang dengan putri saya," balasnya.
"Putri Bapak?"
"Benar. Gadis yang bersama Nak Gilang tadi adalah putri saya. Mari, saya harus segera menemui mereka." Laki-laki berkumis tebal dan kelihatan sangar itu segera berlalu menuju lift, tempat di mana tadi dia melihat Gilang dan Ailee masuk ke dalam kotak besi tersebut.
Tanpa ragu, papanya Ailee memencet tombol lift untuk menuju ke lantai di mana ruangan Gilang berada karena sebelumnya, laki-laki tambun tersebut sudah mencari tahu secara detail di mana ruangan sang presiden direktur.
Sementara wanita judes yang tadi mengata-ngatai Ailee langsung menyenggol lengan teman laki-lakinya yang menyapa papanya Ailee.
"Kamu kenal sama bapak-bapak itu?" tanya sang wanita penuh rasa penasaran.
"Ya, dia seorang pengacara hebat. Dia yang sudah membatu kasus adikku sewaktu Siera menjadi korban pelecehan di tempat kerjanya," balas sang pemuda.
"Enggak nyangka, ya. Ternyata, Ailee anak orang hebat. Aku pikir, dia dari keluarga yang kekurangan karena penampilannya terlalu sederhana dan dia juga hanya seorang pesuruh di sini," lanjutnya.
"Ailee nyamar kali, ya. Pura-pura menjadi gadis miskin yang berpenampilan sederhana," timpal salah seorang teman.
"Hem, bisa jadi. Dan Pak Gilang tetap dapat menemukan permata meskipun tersembunyi di balik barang rongsokan dan sama sekali tidak tertipu dengan barang imitasi meski barang tersebut berada di tempat yang bagus," sindir salah seorang karyawan laki-laki, pada teman wanitanya yang suka nyinyir.
Wanita itu mencebik, tetap nampak tidak suka dengan Ailee.
Para karyawan laki-laki segera membubarkan diri, meninggalkan wanita judes yang memakai bulu mata anti badai, yang masih menyimpan kekesalan dan iri hati pada Ailee.
__ADS_1
Sementara di ruangan Gilang, bos perusahaan GCC tersebut segera mempersilahkan sang calon istri untuk duduk.
Ailee kemudian duduk di sofa yang langsung diikuti oleh Gilang.
"Mas, kok ikut duduk di sini? Nempel-nempel lagi," protes Ailee ketika Gilang duduk dengan menempel di sebelahnya.
"Kenapa, Sayang? Apa enggak boleh karena kita belum menikah?" goda Gilang dengan senyuman nakalnya, bertanya.
"Bukan karena itu, Mas, tapi Mas 'kan harus bekerja. Sana, Mas Gilang duduk di tempat kerja Mas dan bekerjalah yang benar!" Ailee menunjuk kursi kebesaran sang presiden direktur.
Gilang tergelak mendengar Ailee memerintah dirinya. "Ya-ya. Aku memang presiden direktur di perusahaan ini dan bos dari para karyawanku, tapi kini aku juga sudah memiliki bos dan kamulah bos-nya karena aku bekerja untuk calon istri tercinta. So, saya siap melaksanakan titah Nyonya Bos."
Mendengar kalimat Gilang yang panjang dan pemuda itu memanggilnya Nyonya Bos, Ailee tersenyum tersipu malu.
Gilang mengusap sayang puncak kepala Ailee. "Tetap di sini dan temani pangeranmu ini bekerja," pintanya.
"Pangeran," gumam Ailee seraya tersenyum.
"Ya, pangeran dan kamulah sang putrinya. Putri yang cantik jelita." Semakin lama Gilang semakin pandai melambungkan hati Ailee.
"Jangan senyum-senyum terus seperti itu, Sayang. Aku jadi ingin ...."
Gilang sudah mendekatkan wajahnya pada sang calon istri, tetapi suara ketukan pintu menghentikan ucapan serta pergerakannya yang hendak menggoda Ailee.
"Siapa, sih, pagi-pagi ganggu kesenangan orang aja?" kesal Gilang bertanya dan pemuda itu segera membetulkan duduknya kembali, tak lagi menempel pada Ailee.
Terdengar suara pintu dibuka dari luar dan sang sekretaris masuk, seraya mengangguk hormat pada sang bos dan gadis belia yang duduk di samping bos-nya.
"Maaf, Tuan Muda. Di luar ada tamu yang hendak bertemu dengan Anda dan Nona Ailee. Beliau mengatakan kalau beliau adalah papanya Nona Ailee," terang sang sekretaris.
Gilang dan Ailee saling pandang dan keduanya sama-sama mengerutkan dahi.
"Suruh masuk," titah Gilang kemudian yang tidak ingin berlama-lama menyimpan rasa penasaran.
"Mau ngapain ya, Mas, papa ke sini?" tanya Ailee, setelah sekretaris Gilang keluar dari ruangan sang presiden direktur yang luas dan nyaman.
__ADS_1
"Aku juga belum tahu pasti, Sayang," balas Gilang.
"Selamat pagi, Nak Gilang, Ai," sapa hangat papanya Ailee yang kemudian menyalami dan memeluk Gilang sekilas, membuat Ailee semakin bertanya-tanya dengan perubahan drastis sikap sang papa.
Ailee kemudian menyalami papanya seperti biasa yang kali ini ditanggapi dengan baik oleh sang papa, bahkan laki-laki yang rambutnya mulai botak tersebut memeluk sang putri bungsu.
Ini adalah pelukan pertama yang dia berikan untuk Ailee, pelukan yang membuat gadis belia itu berkaca-kaca, tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh sang papa.
"Maafkan papa ya, Nak." Ailee semakin terharu mendengar permintaan maaf papanya.
Gadis cantik itu mengangguk dan kemudian tersenyum bahagia, menatap laki-laki yang selama ini dia panggil papa.
"Silahkan duduk, Pak." Tidak ingin melihat sang calon istri berlarut-larut dalam kebahagiaan semu yang diberikan papanya, Gilang segera mempersilahkan pengacara itu untuk duduk.
"Ada perlu apa, Bapak menemui kami kemari?" tanya Gilang yang langsung pada intinya.
"Nak Gilang, sebelumnya saya minta maaf atas sikap saya semalam. Setelah merenungi bahwa sepertinya Nak Gilang memang serius dengan putri saya, maka saya merestui pernikahan kalian dan saya tentu bersedia menjadi wali nikah untuk putri saya ini." Laki-laki paruh baya tersebut menatap sang putri, seraya tersenyum hangat.
"Benarkah, Pa?" tanya Ailee, memastikan. Netra indahnya berbinar terang, penuh kebahagiaan.
Sang papa mengangguk, pasti. "Kapan rencana kalian akan menikah?" tanya sang papa.
Ailee menatap Gilang.
"Rencana minggu depan, Pak," tegas Gilang.
Laki-laki tambun itu mengangguk-anggukkan kepala.
"Jika boleh papa meminta, papa ingin kalian menikah di rumah papa saja."
Ailee mengangguk pasti seraya menatap sang calon suami, hendak menyampaikan melalui isyarat mata bahwa gadis belia itu menyanggupi permintaan papanya.
Sementara Gilang menatap sang calon papa mertua, dengan penuh rasa curiga.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1