
Maida hendak beranjak, melihat sang suami dipaksa seperti itu. Namun, gelengan kepala Gilang yang mengisyaratkan agar istri Erlan tetap berada di tempatnya, membuat Maida patuh lalu mengurungkan niatnya. Bukan tanpa alasan Gilang melarang karena dia tahu pasti apa yang akan dilakukan Erlan. Dia tidak mau jika sampai istri abang sepupunya harus menanggung malu jika sampai terjadi keributan.
Erlan memang kemudian berdiri mengikuti ajakan Aleena. Namun, dia tidak mau melangkah ketika sang mantan kekasih mengajaknya untuk maju mengikuti irama musik yang mendayu. Erlan justru mengibaskan tangan lalu membersihkan tangannya dengan tissue. "Maaf, Aleena. Aku hanya akan turun jika dengan istriku!"
Penolakan Erlan yang secara terang-terangan, membuat Aleena cemberut. Namun, itu hanya sesaat saja karena setelahnya dia malah tertawa. "Er-Er, jangan salah paham. Aku hanya mengetes kamu, apakah kamu masih memiliki rasa padaku atau tidak?" Aleena mengucapkannya tanpa dosa.
Maida yang duduk tanpa menatap ke arah Aleena, semakin dibuat kesal dengan perkataan Aleena barusan. Melihat kekesalan sang istri, Erlan lalu menggenggam tangan istrinya. "Jangan diambil hati perkataan Aleena, Dik. Dia mungkin sudah stress," bisiknya, asal.
"Oke, Er. Tidak mengapa jika kamu menolak berdansa denganku. Tidak mengapa juga, jika kamu dan Ge tidak mau melantai untuk ikut meramaikan pestaku. Tapi kumohon, kalian jangan pulang dulu. Jangan menolak jamuan spesial dariku," ucap Aleena kemudian.
"Kami tidak minum minuman yang mengandung alkohol, Len!" sergah Erlan cepat dan Aleena menggeleng.
"I know you so well, Er. Don't worry."
Perkataan Aleena, kembali membuat Maida merasa kesal. Kecemburuan terlihat jelas dari netranya yang melirik sang suami. Melihat kecemburuan sang istri, Erlan malah tersenyum.
"Kamu makin cantik kalau cemburu seperti itu, Yang," bisik Erlan, menggoda sang istri. Pemuda tampan itu lalu mengecup punggung tangan sang istri yang sedari tadi berada dalam genggaman.
Aleena melirik sinis perlakuan manis Erlan pada istrinya. 'Harusnya aku yang ada di posisi itu!' kesal wanita seksi itu dalam hati.
"Oke, Er. Aku akan suguhkan kopi hitam kesukaan kalian berdua dan teh manis untuk istri kalian," pungkas Aleena yang kemudian segera berlalu.
Erlan hanya mengedikkan bahu, tidak peduli. Dia lalu menatap Gilang. "Ge, apa kita pulang sekarang?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Aku ikut aja, bagaimana baiknya. Udah malam juga, sih." Gilang melihat jam tangan mewah di tangan kanan.
"Mas, Ai mau ke toilet sebentar, ya. Takutnya, nanti di jalan malah kebelet dan gak bisa nahan," pamit Ailee, berbisik.
"Ayo, aku antar!" Gilang hendak segera beranjak, tetapi Ailee menggeleng.
"Tidak perlu, Mas. Ai bisa sendiri. Ai 'kan sudah hafal tempat ini," tolaknya, tetapi Gilang tetap saja beranjak.
"Gilang, bisa kita bicara sebentar?" pinta salah seorang teman lama Gilang yang berjalan mendekat ke arah meja mereka.
Gilang yang hendak bersikukuh menemani istrinya, mengurungkan niat mendengar permintaan teman lamanya barusan. Dia kemudian berpesan pada sang istri, "hati-hati ya, Yang. Lantai toiletnya mungkin saja licin."
Ailee menganggukkan kepala lalu segera meninggalkan tempat tersebut. Gilang kemudian duduk kembali setelah sang istri menjauh. Diikuti oleh teman lamanya.
Usai membuang hajat, Ailee yang hendak keluar dari toilet mengurungkan langkah ketika mendengar suara seorang wanita yang cukup dia kenali. Ailee menajamkan pendengaran agar dapat mendengar dengan jelas apa yang wanita itu katakan. Wanita muda itu menutup mulutnya sendiri, mendengar apa yang dibicarakan oleh Aleena dengan salah seorang petugas hotel.
Ailee membuka pintu perlahan setelah memastikan bahwa Aleena dan petugas hotel sudah keluar. Dia segera melangkah hendak mengatakan apa yang dia dengar barusan. Namun, langkahnya terhenti ketika ada yang menarik tangannya dengan kasar.
"Kamu istrinya Gilang, kan? Apa kamu mendengar semuanya?" cecar Aleena yang baru saja keluar dari toilet di samping toilet yang ditempati Ailee tadi. Tatapan wanita yang mengenakan gaun kurang bahan tersebut, begitu nyalang.
Ailee tidak menggubris dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Aleena karena dia harus segera bertemu dengan orang-orang yang dia sayang. Namun, Aleena semakin mencengkeram tangan Ailee hingga wanita berhijab itu kesakitan. "Sakit, lepaskan!" teriaknya, tetapi Aleena tidak peduli.
"Kamu tidak akan bisa menggagalkan rencanaku, gadis ingusan!" gertak Aleena seraya mendorong tubuh Ailee hingga istri Gilang itu jatuh, terduduk di lantai.
__ADS_1
Ailee meringis, menahan sakit. Sementara Aleena tersenyum puas dan segera meninggal tempat tersebut. Dengan menahan rasa sakit, Ailee berusaha untuk bangkit dan segera meneruskan langkah.
"Ya Allah, ini sakit sekali," gumam Ailee yang terus melangkah dengan cepat sambil memegangi perutnya yang terasa diremas. "Kuatkan aku, Ya Robb. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Bang Er dan Mai."
Dari kejauhan, Ailee melihat Erlan dan Maida hendak minum. Sontak, Ailee berlari dan kemudian mengambil gelas dari tangan Erlan dan Maida secara bersamaan. "Jangan minum ini, Bang, Mai!"
"Ai, kenapa? Ada apa?"
Belum sempat Ailee menjawab pertanyaan Maida, tubuhnya luruh ke lantai yang dingin.
Gilang yang sedang ngobrol bersama teman lamanya, segera mendekati sang istri. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanyanya, panik.
"Sakit, Mas," rintihnya, sambil terus memegangi perut. "Dia, dia berusaha mencelakai Bang Er dan Mai. Dia juga mendorong ...."
"Sayang. Bangun, Sayang."
"Da-darah. Mas Gilang. I-itu, Ai berdarah," terbata Maida menunjuk kaki Ailee di mana ada darah yang mengalir dari pangkal pahanya.
"Ge, cepat angkat istrimu dan bawa ke mobilku," titah Erlan yang langsung berjalan cepat keluar dari ballroom menuju area parkir. Sementara Maida membantu membawakan tas Ailee dan mengekor di belakang Gilang.
Erlan yang berjalan terlebih dahulu, tangannya sambil sibuk melakukan panggilan. "Kalian harus cek CCTV di ballroom yang disewa oleh wanita yang bernama Aleena, juga area toilet di sekitar ballroom. Jangan lupa bagian pantry. Laporkan padaku secepatnya apa yang kalian lihat!"
"Aleena Damayanti! Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ailee dan bayinya, aku tidak akan pernah memaafkan kamu dan bersumpah akan menjebloskan kamu ke dalam penjara!"
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕