
Gilang menggelengkan kepala, mendengar perkataan sang abang sepupu. "Tapi, kan, aku enggak peduli sama mereka!" sanggahnya cepat karena khawatir sang istri akan berpikir yang tidak-tidak terhadap dirinya.
"Iya, Ge. Aku tahu itu," balas Erlan.
Sementara Ailee cemberut, padahal dalam hati tersenyum melihat ekspresi suaminya.
"Terus?" tanya Gilang kembali.
"Bentar, Ge. Jangan bilang terus-terus aja, setelah nabrak baru stop!" canda Erlan yang ingin mencairkan suasana.
Gilang terkekeh. "Itu Mang Unang, Bang. Kang parkir di kampus kita dulu. Kalau kasih komando, suka enggak benar, dia."
Suasana pun sedikit mencair. Terlihat dengan hadirnya senyum tipis di sudut bibir Ailee. Gilang yang melihatnya, merasa lega.
Hening sejenak menyapa kamar luas milik Gilang dan Ailee.
"Saat kamu tertidur itulah, Topan memanfaatkan adik tirinya yang memang suka sama kamu dan menyuruh Nesa untuk berpose mesra denganmu seolah kalian baru saja melakukan hubungan badan. Hasil jepretannya seperti yang sudah kamu lihat tadi. Kelihatan natural memang karena seolah kamu kelelahan dan tertidur," terang Erlan, membuat Gilang menjadi geram.
"Mana fotonya? Aku mau lihat?" pinta Ailee.
Gilang dan Erlan saling pandang.
"Lebih baik kamu enggak usah melihatnya, Sayang. Bukan apa-apa, Ai. Aku bukannya tidak mau terbuka, tapi aku enggak mau hal buruk terjadi padamu dan juga pada calon anak kita jika kamu sedih dan banyak pikiran," tolak Gilang.
Ailee cemberut. Bulir bening kembali menetes. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa, kenapa harus sekecewa ini hanya karena keinginannya tidak dituruti padahal itu semua demi kebaikannya juga.
Gilang menghela napas panjang.
__ADS_1
"Ya udah, Ge. Tunjukkan saja foto itu. Aku yakin istrimu bisa menilai seperti apa suaminya," saran Erlan dan Gilang akhirnya mengangguk, setuju.
"Tunggu sebentar, Sayang. Aku akan ambilkan di ruang kerja." Gilang segera beranjak.
"Biar aku aja, Ge," cegah Erlan. "Apa kata dunia nanti jika aku berduaan sama istrimu di dalam kamar kalian. Aku enggak mau kalau sampai Dik Mai jadi salah paham," lanjutnya yang kemudian segera beranjak.
Ailee tersenyum samar mendengar perkataan Erlan. "Sweet-nya, Bang Er," gumamnya.
"Bukankah aku juga selalu bersikap manis padamu, Sayang?" tanya Gilang, setelah mendengar gumaman sang istri yang memuji Erlan.
Gilang lalu menangkup kedua sisi bahu sang istri. Menyatukan dahi mereka berdua dan menatap lekat netra sang istri dari jarak yang sangat dekat. "Masalah seberat apapun itu, aku ingin kita bisa menghadapinya sama-sama, Sayang. Tetap percaya padaku. Tetap dukung aku. Ingatkan aku jika aku keliru."
Ailee memejamkan mata. Tangannya mulai melingkar di leher sang suami lalu menyembunyikan wajah di leher suaminya. "Ai percaya sama Mas, kok, tapi entah mengapa, mendengar berita tadi Ai tetap saja merasa sedih, kecewa, dan entah apalagi Ai juga enggak ngerti, Mas," ucap Ailee, jujur.
"Ya, begitulah sulitnya mengerti keinginan istri yang sedang hamil, Ge." Suara Erlan, mengejutkan mereka berdua yang tengah saling memeluk.
Erlan menganggukkan kepala. "Kalau begitu, jangan lihat foto-foto ini dulu, Ai. Tunggu sampai mood-mu membaik, baru kamu lihat," saran Erlan yang sudah duduk di tempatnya semula.
"Enggak mau, Bang. Ai maunya sekarang," kekeuh Ailee, seraya menyodorkan tangan.
Mau tidak mau, Erlan memberikan foto-foto Gilang dan Nesa kepada Ailee. Ailee menerimanya dan hendak segera membuka amplop coklat tersebut. Namun, tangan Gilang sigap mencegah.
"Tunggu dulu, Yang. Biarkan Bang Er melanjutkan ceritanya yang belum selesai." Gilang lalu menatap Erlan.
"Yang mana lagi, Ge? Semua sudah aku katakan, bukan?"
"Tujuan Topan, Bang. Kenapa dia menjebakku dengan foto-foto murahan itu bersama adiknya?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Oh, itu." Erlan lalu menceritakan kembali obrolannya bersama Nanik via telepon beberapa saat yang lalu.
"Tadinya, Topan mau menyuruh Nesa untuk memeras Gilang, Er. Namun, belum sempat rencana itu dijalankan, Topan diusir oleh papanya karena menghabiskan banyak uang untuk menggelar pesta ulang tahun itu, Er. Kamu tahu sendiri, kan, Er, kalau papanya Topan itu perhitungan. Ya, maklum juga, sih, istri banyak dan masing-masing punya anak. Kebayang, kan, bagaimana pusingnya si papa." Nanik tergelak sendiri di ujung telepon.
"Untung aja ya, Nik, kamu enggak jadi menantunya," timpal Erlan yang ikut tergelak.
"Iya. Benar, Er. Wah, bisa perang urat syaraf terus aku sama mama mertua dan saudara-saudara tiri si Topan," lanjut Nanik yang masih terkekeh.
"Topan lalu menyusul mamanya ke luar negeri dan foto-foto itu tertinggal di tasku, Er. Nesa sempat memintanya padaku, sih, tapi karena saat itu hubunganku sama Topan sedang memburuk, aku jawab saja fotonya udah aku bakar. Mungkin, Nesa juga ingin menggunakan foto itu untuk memeras adik sepupu kamu itu." Nanik melanjutkan ceritanya.
"Kenapa enggak kamu bakar beneran, Nik?"
"Itulah, Er. Aku enggak kepikiran kalau Topan beneran bakal menggunakan foto-foto itu untuk menyudutkan Gilang. Kemarin itu, aku malas lama-lama berurusan dengan Topan. Khawatir, kalau suamiku yang posesif itu ketemu sama Topan dan kemudian salah paham. Makanya aku langsung kasih aja ketika dia datang ke butikku dan memintanya," terang Nanik.
Erlan menghela napas panjang. "Jadi, ceritanya seperti itu, Ai. Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi itulah kebenarannya." Abang sepupu Gilang itu lalu menatap Ailee.
"Jika kamu masih ragu dan ingin bertemu dengan orang yang mengambil gambar itu, aku akan mengusahakan untuk mendatangkan Anton yang saat ini berdinas di Sulawesi," lanjutnya.
"Kita datangkan saja si Anton, Bang. Biar clear semuanya," timpal Gilang.
"Tidak perlu, Bang. Ai percaya," tolak Ailee, "tapi ijinkan Ai melihat foto-foto ini," lanjutnya yang kekeuh ingin melihat foto-foto tersebut karena penasaran.
Gilang menggelengkan kepala. "Sayang. Kalau menurutku, jangan, deh," bujuknya, tapi sang istri tetap dengan keinginannya.
Demi menuntaskan rasa penasarannya, wanita muda itu lalu membuka amplop coklat yang sedari tadi sudah dia pegang.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1