
Sepeninggal papanya Ailee, perdebatan kecil pun terjadi. Ailee protes karena Gilang tidak mau memenuhi keinginan sang papa agar mereka menikah di rumah masa kecil gadis belia itu.
Gilang tidak menerima permintaan dari papanya Ailee karena pemuda tampan tersebut memiliki pertimbangan tersendiri, tentu selain karena dia juga menaruh rasa curiga dengan perubahan sikap laki-laki sangar barusan yang sangat drastis.
Sikap papanya Ailee yang awalnya begitu menentang, bahkan sempat menawarkan pada Gilang agar pemuda tersebut juga menikahi kakaknya Ailee, dan kini tiba-tiba saja merestui hubungan mereka berdua, menjadi pertimbangan buat bos GCC itu untuk bersikap waspada.
"Kenapa, sih, Mas? Pokoknya, Ai pengin kita menikah di rumah orang tua Ai," tuntut gadis belia yang baru saja merasakan pelukan dari sang papa, dengan bibir mengerucut.
Gilang menghela napas panjang. "Ai ... ayolah, Sayang. Memangnya, kamu enggak curiga kalau mereka tengah menyusun sebuah rencana?" Gilang berusaha mempengaruhi dan membuka mata sang calon istri.
"Papa 'kan udah minta maaf, Mas, dan papa juga udah merestui kita, kan? Enggak mungkin, lah, papa merencanakan sesuatu untuk memisahkan kita," kekeuh Ailee.
Gilang menatap dalam netra sang calon istri. "Baiklah, jika itu maumu, Sayang," ucap Gilang akhirnya menyerah.
"Alhamdulillah, terima kasih, Mas. Ai yakin, Mas pasti akan mengabulkan permintaan Ai." Gadis belia itu hampir saja memeluk Gilang, saking girangnya.
"Eh ... maaf, Mas. Ai lupa kalau kita belum boleh berpelukan," lanjutnya seraya tersenyum, malu. Pipi putih itu bersemu merah, persis seperti kepiting rebus.
Gilang tersenyum lebar.
"Terus, kapan Ai boleh pulang ke rumah dan tinggal di sana untuk menunggu hari pernikahan kita, Mas?" tanya Ailee yang nampak tidak sabar.
Gilang menggelengkan kepala. "Karena aku sudah menuruti keinginan kamu, maka kamu juga harus menuruti keinginanku, Sayang. Kita akan sama-sama ke rumah orang tua kamu, nanti tepat di hari pernikahan kita," balas Gilang, membuat bibir tipis Ailee kembali mengerucut.
"Kok gitu, Mas?" protes Ailee.
"No protes, no debat. Kalau kamu tidak mau, maka aku akan menciummu sekarang juga." Gilang tersenyum seringai.
Bukannya sebal diancam seperti itu oleh Gilang, Ailee malah balik menantang.
"Cium aja kalau berani!" Gadis belia itu tersenyum menggoda. Senyuman yang membuat Gilang semakin tidak sabar untuk bisa segera memiliki Ailee.
__ADS_1
Pemuda itu kemudian mengacak lembut puncak kepala Ailee yang tertutup hijab pasmina.
"Kalau di depan laki-laki lain, enggak boleh ngomong sembarangan kayak gitu, ya," pinta Gilang.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Ailee, polos.
"Aku pasti akan sangat cemburu jika kamu menggoda laki-laki lain, Ai," balas Gilang seraya menatap dalam netra sang calon istri.
"Kamu hanya milikku, Sayang," lanjut Gilang.
"Belum, Mas. Kita 'kan belum menjadi suami istri. Jadi, Ai masih bebas menggoda laki-laki di luar sana," balas Ailee seraya tersenyum dikulum.
Wajah Gilang langsung masam, mendengar sang calon istri berkata demikian.
"Sekarang, Ai mau menemui teman-teman untuk berpamitan." Gadis cantik itu semakin menjadi menggoda sang calon suami. Ailee kemudian segera beranjak, tetapi Gilang langsung mencegah.
"Kamu enggak boleh kemana-mana, Sayang! Kalau mau pamitan sama teman-teman kamu, nanti aku antarkan." Gilang mulai posesif. Dia tidak ingin sang calon istri memberikan senyuman dan menggoda laki-laki lain di luar sana.
"Sekarang aku harus bekerja, kamu tetaplah di sini menemani pangeranmu ini!" Gilang mendudukkan kembali sang calon istri.
Bos GCC itu bahkan membawa semua berkas yang harus dia cek ke sofa, agar bisa bekerja di dekat sang calon istri tercinta.
Sementara Ailee memperhatikan sang pangeran, dengan tatapan penuh cinta dan bibir yang selalu mengulas senyuman kebahagiaan.
\=\=\=\=\=
Sementara di kantor papanya Ailee, Aina marah-marah sendiri enggak jelas juntrungannya.
Gadis itu hari ini sengaja minta cuti dari rumah sakit tempat dia menjalani koas, hanya untuk memastikan apakah sang papa berhasil menjalankan misi mereka?
"Memangnya, Papa enggak bisa meyakinkan Gilang, kalau papa sudah sayang sama Ai?" cecar Aina.
__ADS_1
"Sudah, Na. Papa sudah mencoba meyakinkan mereka berdua, bahkan papa sampai harus memeluk anak pembawa sial itu segala, demi meyakinkan calon suaminya kalau papa sudah merestui mereka! Papa juga harus merendahkan diri dan meminta maaf pada Ailee!" Suara sang papa ikutan meninggi.
Laki-laki paruh baya tersebut juga sangat kesal karena merasa bahwa pengorbanannya yang harus merendahkan diri di hadapan anak yang menurutnya sebagai pembawa sial, tidak mendapatkan hasil seperti yang mereka inginkan dan rencanakan.
"Semalam, rencana Aina yang mengikuti mereka juga gagal karena ternyata mereka berdua malah makan malam di warung kumuh di pinggir jalan! Tidak seperti dugaan kita, Pa," kesal calon dokter itu dengan memasang wajah sebal.
Ya, Aina sengaja mengikuti sang adik bungsu untuk melancarkan niat jahatnya yang ingin mendapatkan Gilang meski dengan jalan yang tidak benar.
Aina berharap, Gilang mengajak Ailee untuk makan di restoran mewah atau sekadar minum di kafe terkenal, dengan harapan Aina dapat memberikan obat di dalam makanan atau minuman mereka berdua.
Ternyata, bukan tempat-tempat layak seperti itu yang Gilang dan Ailee datangi, tetapi mereka malah makan di tempat yang menurut Aina sangat tidak layak, apalagi untuk orang seperti Gilang.
"Kayaknya, Ai yang memiliki ide untuk mengajak Gilang makan di warung kumuh itu. Dasar, gadis udik yang tidak tahu selera!" lanjutnya yang terdengar semakin membenci sang adik.
"Lantas, apa rencana kamu selanjutnya, Na?" tanya sang papa.
Kakak kandung Ailee itu terdiam, dahinya nampak berkerut dalam. Menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras, untuk menemukan cara bagaimana memisahkan sang adik dan calon suaminya.
"Tidak mengapa, Pa, jika Gilang tidak mau menikah di rumah kita. Aina memiliki ide untuk merebut Gilang dari anak pembawa sial itu, tanpa harus menggunakan cara kekerasan seperti yang telah kita rencanakan sebelumnya." Gadis yang usianya terpaut lima tahun dengan Ailee itu tersenyum penuh kemenangan.
Aina membayangkan keberhasilan rencananya, bahkan sebelum rencana tersebut dilancarkan.
Dengan meminta pada Gilang dan Ailee agar mereka berdua mau menikah di kediaman orang tua Ailee, rupanya ayah dan anak kesayangannya itu telah merencanakan untuk mengganti mempelai wanitanya dan kemudian akan membuang Ailee jauh ke luar kota agar gadis yang menurut mereka bodoh itu, tidak dapat kembali.
"Apa rencanamu, Na? Katakan, siapa tahu papa bisa mambantu." Laki-laki tambun dan berkumis tebal itu menatap sang putri, meminta penjelasan dari rencana putrinya.
Aina kemudian menjelaskan rencananya pada sang papa dan ayah tiga putri itu tertawa terbahak, mendengar rencana sang putri yang menurutnya konyol.
"Apa tidak ada cara lain, Na?" tanya sang papa, masih dengan tawanya.
Aina mengerucutkan bibir. "Papa gimana, sih? Bukannya bantuin, malah diketawain!" protes Aina.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕