
Disinilah Aira dan Sindu kini berada, di ruangan sang papa setelah mereka berdua melihat keadaan putranya dan memastikan bahwa Deka baik-baik saja. Ya, Aira akhirnya memberikan kesempatan kedua pada ayah dari sang putra. Toh, dia juga bukan istri yang baik. Dia juga pernah berselingkuh dan berbuat salah.
Melihat kehadiran Aira dan suaminya, Gilang segera mengajak sang istri untuk pulang karena malam ini dia sudah janji pada sang oma untuk makan malam di rumah bersama sang istri. "Sayang, kita pulang, yuk," bisik Gilang seraya meremas lembut paha sang istri.
Ailee tersenyum dan kemudian menganggukkan kepala. Istri Gilang itu tentu tidak keberatan karena kondisi sang papa sudah stabil. Mereka berdua kemudian segera beranjak untuk berpamitan.
"Pa, Ai dan Mas Gilang pulang dulu, ya," pamit Ailee setelah mendekati ranjang sang papa.
"Iya, Nak. Terima kasih banyak karena kamu tetap peduli pada papa dan Aina, setelah apa yang kami lakukan padamu," balas sang papa dengan sangat pelan dan tidak terlalu jelas terdengar. Netra laki-laki paruh baya yang biasanya memiliki tatapan tajam tersebut, kini meredup dan terlihat sendu.
Ailee menggeleng. "Papa tetap papanya Ai dan Kak Aina serta Kak Aira, tetap kakaknya Ai. Papa jangan merasa tidak enak gitu," protes Ailee.
Pak pengacara yang masih terbaring lemah tersebut menangis dalam diam. Tidak ada suara yang keluar, hanya air matanya saja yang mengucur. "Maafkan papa, Nak."
Ailee langsung memeluk erat sang papa. Berharap, papanya benar-benar tulus padanya kali ini. Cukup lama ayah dan putri bungsu itu saling memeluk.
Sementara Aira yang tadi mendengar perkataan sang adik bungsu, menundukkan kepala. Dia merasa sangat malu dan merasa sangat kerdil di hadapan Ailee. Adik kecilnya yang tulus dan selalu menerima apapun perlakuan mereka terhadap Ailee, dengan hanya diam.
Aira yang selama ini selalu berjalan dengan mendongak ke atas, kini merasakan sakitnya jatuh akibat tersandung batu yang dia letakkan sendiri di jalan yang dia lalui. Bukan hanya dia, tetapi Aina dan juga sang papa. Mereka terlalu sombong selama ini dan senang berbuat sewenang-wenang hingga melupakan bahwa setiap perbuatan pasti akan ada balasan.
Kini, mereka telah menerima balasannya dan Aira baru menyadarinya sekarang. Balasan tersebut tidak tanggung-tanggung, bahkan sang putra yang tidak tahu apa-apa juga turut menjadi korban atas kesalahan yang dia dan suami lakukan. Aira benar-benar sangat menyesal.
"Ai, maafkan kakak juga, ya," pintanya yang kemudian ikut mendekat ke ranjang. Dia usap punggung sang adik yang masih memeluk papanya dengan tangan bergetar.
Ailee segera melepaskan pelukannya pada sang papa. "Kak ...."
Belum sempat Ailee melanjutkan kata-katanya, Aira telah merengkuh tubuh sang adik bungsu dan kemudian memeluknya erat. "Maafkan kakak, Ai. Kakak tahu kesalahan kami sangatlah banyak dan tidak dapat disebutkan satu persatu. Kakak juga sadar, kami tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu. Tapi kakak akan terus meminta maaf padamu, Dik," ucap Aira di sela isak tangisnya.
Setelah cukup lama berpelukan, mereka berdua melerai pelukannya. Ailee tersenyum tulus yang dibalas oleh Aira dengan senyuman pula. Senyuman pertama yang dirasakan Ailee begitu tulus dari sang kakak kepadanya.
__ADS_1
'Semoga kalian benar-benar berubah setelah ini,' batin Ailee, penuh harap.
"Kak, Mas Sindu, kami pulang dulu, ya," pamit Ailee yang kemudian menyalami kakak iparnya yang duduk di sofa dengan wajah sendu.
Sepasang suami-istri itu kemudian segera berlalu dari ruang rawat sang papa dengan Gilang memeluk mesra pinggang sang istri. Membuat Aira yang sempat melihat adegan tersebut, tersenyum kecut seraya melirik sang suami. Sindu hanya bisa menghela napas panjang, mengingat obrolannya tadi di sepanjang jalan bersama istrinya.
\=\=\=\=\=
Waktu terus berlalu. Kehidupan Gilang dan Ailee terlihat semakin bahagia. Gilang memang menunda bulan madunya atas permintaan sang istri karena musibah yang menimpa keluarga Ailee kala itu. Namun, itu semua tidak mengurangi kebahagiaan mereka berdua karena dimana pun berada, mereka berdua serasa berbulan madu.
Keduanya semakin lengket, terutama Gilang yang tidak bisa jauh dari sang istri. Erlan yang setiap hari bahkan hampir setiap saat melihat kemesraan mereka berdua, dibuat keki. Apalagi Gilang sepertinya sengaja pamer kemesraan di hadapan sang asisten jika mereka sedang berada di kantor seperti siang ini.
Ya, setiap siang, bos GCC itu selalu meminta istrinya untuk datang ke kantor dan mereka akan makan siang bersama, di sana. Erlan terkadang ikut makan siang bareng, tetapi kakak sepupu Gilang tersebut lebih sering menghabiskan waktu makan siang bersama sang kekasih di luar. Sengaja untuk menghindari ledekan Gilang.
"Lagi gencatan senjata ya, Bang, kok enggak makan siang bareng dia?" tanya Gilang ketika melihat Erlan masuk ke dalam ruangannya.
Ailee yang tengah sibuk menyiapkan makan siang, menoleh ke arah pintu dan kemudian tersenyum pada Erlan. "Makan siang di sini ya, Bang. Ai bawa banyak, nih," ajak Ailee.
"Bang, istriku masak untukku. Kenapa Abang yang makan duluan?"
"Habisnya, kamu malah mematung di situ!" balas Erlan yang kemudian melanjutkan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Gilang cemberut. "Orang lagi nanya, belum dijawab udah langsung makan aja," gerutu Gilang yang masih saja protes pada kakak sepupunya yang terlihat sangat menikmati makanannya.
"Mas, udah. Nih, nasinya Mas udah Ai siapin," Ailee segera menyimpan piring yang sudah berisi nasi dan lauk ke hadapan sang suami yang kini sudah duduk di hadapan Erlan.
"Enggak lagi gencatan senjata, Ge, tapi Mai enggak mau aku jemput karena mau pulang bersama saudara-saudaranya dan mau makan siang di rumah neneknya," terang Erlan.
"Oh ya, Ge. Nanti malam, orang tua Mai mengundangku untuk makan malam bersama keluarga besar. Ada apa ya, kira-kira?" tanya Erlan yang entah dia tujukan kepada siapa karena Gilang pasti juga tidak bakalan tahu jawabnya.
__ADS_1
"Mau nentuin hari pertunangan kalian, mungkin," balas Gilang.
Erlan menggeleng. "Aku sudah pernah cerita 'kan sama kamu kalau pertunangan kami menunggu calonnya kembaran Mai sehat dulu kakinya. Nah ini, si cowok itu belum sehat betul kakinya, Ge. Memang sudah bisa jalan tanpa kruk dia, tapi belum berani jalan jauh. Berdiri lama juga belum berani," balas Erlan.
Mendengar jawaban Erlan, Gilang mengedikkan bahu. "Kalau gitu, aku juga tidak bisa menebak, Bang. Tunggu aja, nanti. Ntar Bang Er juga bakalan tahu." Obrolan tersebut, mengakhiri acara makan siang karena makanan di hadapan sudah tandas tanpa sisa.
"Berarti, Bang Er nanti malam enggak makan di rumah, ya?" tanya Ailee memastikan, sebelum Erlan meninggalkan ruangan Gilang untuk kembali ke ruangannya.
Erlan menganggukkan kepala, memberi jawaban.
"Mas, kalau gitu, nanti malam kita makan malam di rumah papa, ya? Udah lama 'kan, kita enggak ke sana?" pinta Ailee, kemudian.
Ya, waktu itu, papanya Ailee dirawat selama satu minggu di rumah sakit. Setelah kembali ke rumah, laki-laki paruh baya tersebut dan putri keduanya dirawat oleh suster yang dibayar oleh Gilang. Aira dan keluarga kecilnya juga memutuskan untuk tinggal bersama sang papa dan Aina agar bisa ikut mengawasi mereka berdua.
"Terus oma, oma makan malam sama siapa, dong, kalau kalian juga makan di luar?" tanya Erlan, tidak setuju.
"Kan masih ada Satria dan adik-adiknya, Bang," balas Gilang.
"Satria mau aku ajak. Dia nagih terus, pengin dikenalin sama keponakannya Mai. Udah ngebet kayaknya dia," terang Erlan yang kemudian terkekeh.
"Ya udah, deh, Mas. Ke rumah papanya, besok aja. Kasihan juga sama Bang Sat yang udah kebelet."
"Ngebet, Sayang, bukan kebelet," ralat Gilang.
"Kalau kebelet, tuh, pipis, Ai." Erlan semakin terkekeh.
"Ngebet sama kebelet 'kan, sama saja, Mas, Om!" protes Ailee.
"Iya-ya, istrimu benar, Ge. Itu sama saja karena wanita selalu benar."
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕