
Di sinilah Gilang dan Erlan saat ini berada. Di ruang kerja Gilang yang luas dengan desain mewah dan nyaman. Mereka berdua duduk di sofa empuk dengan saling berhadapan.
"Klien yang mana, Ge? Bukannya sudah ada Mas Sindu? Aku sudah menjelaskan semua pada kakak ipar Ailee dan aku juga sudah meninggalkan catatan penting padanya tentang semua klien-klien kita. Mana saja klien yang bermasalah dan tidak perlu ditanggapi lagi jika mengajak bekerjasama atau klien yang memang baik dan bertanggungjawab." Erlan menatap Gilang dengan dahi berkerut dalam.
Mendengar perkataan Erlan yang panjang lebar, Gilang malah tersenyum. Hal itu membuat mantan asisten pribadi Gilang tersebut semakin bingung. "Kamu, kok, malah senyum-senyum enggak jelas gitu, Ge!" protesnya. Abang sepupu Gilang itu lalu menyandarkan punggung pada sandaran sofa.
"Aleena, Bang," ucap Gilang, membuat Erlan kembali menegakkan punggungnya.
"Aleena? Tadi kamu bilang, ada klien lama yang ...."
"Iya, dia klien lama Abang, kan?" Gilang kemudian terkekeh, membuat Erlan melempar adik sepupunya itu dengan bantal sofa.
"Klien lama! Aku pikir tadi, beneran kamu mau membicarakan tentang klien lama perusahaan kamu!" Erlan nampak sangat kesal, tapi sedetik kemudian ikut terkekeh.
"Lagian, enggak mungkin tadi aku langsung katakan di depan istriku kalau kita akan membicarakan tentang mantan Abang, kan? Bisa panjang urusannya kalau Ai bilang sama Mai," lanjut Gilang dan Erlan menganggukkan kepala setuju.
"Kapan kamu bertemu sama dia? Ketemu di mana?" cecar Erlan.
"Tadi, Bang. Sewaktu aku membeli makanan pesanan istriku di Pujasera. Dia sepertinya masih menyimpan rasa sama Bang Er," terang Gilang.
Erlan menggeleng kuat. "Kami sudah sangat lama berakhir, Ge. Kamu tahu pasti itu, kan? Tidak ada lagi yang tersisa untuk Aleena ketika dia memutuskan menerima perjodohan itu. Meskipun kemudian Aleena cerita kalau dia membatalkannya demi aku."
Gilang mengangguk-angguk. "Dia sepertinya mau menetap di sini, Bang. Minggu depan, dia mau mengadakan grand opening butiknya dan kemungkinan akan mengundang Abang. Itu yang tadi dia katakan."
__ADS_1
Erlan mengedikkan bahu. "Aku akan datang jika memang diundang, tapi tentu dengan istriku!" tegasnya kemudian.
Gilang mengangguk, setuju. "Sebaiknya, Abang cerita dulu sama Mai tentang Aleena sebelum mereka berdua bertemu dan dapat membuat istri Abang salah paham," sarannya.
Erlan beranjak. "Terima kasih informasi dan sarannya, Ge. Aku pasti akan terbuka tentang apapun pada istriku karena aku enggak mau ada kesalahpahaman di antara kami," pungkas Erlan kemudian segera berlalu meninggalkan ruang kerja Gilang sambil melepaskan jasnya. Gilang mengekor di belakang abang sepupunya untuk menyusul sang istri ke kamar.
Di lantai dua, tepatnya di kamar Erlan yang sempat direnovasi sebelum pria dewasa itu menikah. Maida nampak tengah menyiapkan pakaian ganti untuk mereka berdua. Maida lalu mengisi bath up karena tadi sang sewaktu pulang bersama, sang suami meminta untuk mandi bersama.
Setelah bath up terisi penuh dan sudah ditambahkan sabun aroma terapi, Maida lalu keluar dari kamar mandi mewah tersebut untuk menunggu sang suami. "Kok Bang Er lama banget, ya," gumamnya yang kemudian berjalan menuju balkon.
Maida menghirup dalam-dalam udara sore hari yang terasa sejuk. Banyaknya pohon-pohon tinggi di sekitar rumah Gilang, membuat udara di sana terasa segar. Ya, sang oma memang menyukai tanaman dan karena itulah banyak pepohonan rindang yang sengaja ditanam di lahan sekitar rumah yang luas itu.
"Dik, Mai Sayang. Kamu di mana, Sayang?" Suara Erlan yang baru saja masuk ke dalam kamar, menyudahi wanita muda itu menikmati segarnya udara di sore hari.
Maida menoleh lalu tersenyum manis. "Orangnya selalu di hati dan selalu ada di dekat Mai. Ngapain juga mesti dipikirkan?"
Erlan membalasnya dengan mengecup puncak kepala sang istri. "Jangan pernah menggeser posisiku di hatimu, Dik, meski mungkin ada pemuda lain yang lebih muda dan menarik hadir di kemudian hari!" pintanya seraya menatap lekat manik indah sang istri tercinta.
Maida menggeleng cepat. "Tidak akan Bang. Abang satu-satunya di hati Mai."
"Berjanjilah, Dik, berjanjilah bahwa kamu akan selalu setia mendampingiku dalam suka maupun duka." Erlan semakin memperat pelukan, seolah pemuda itu takut akan kehilangan istri belianya.
Maida membiarkan saja sang suami meluapkan perasan dengan memeluknya erat. Dia belum ingin menanyakan kenapa tiba-tiba suaminya bersikap seperti ini. Setelah cukup lama, Erlan kemudian melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Mandi, yuk," ajak Erlan kemudian. Mereka berdua segera melangkah menuju kamar mandi.
Telaten, Erlan membantu istrinya melepaskan pakaian yang melekat di tubuh indah Maida. Pemuda dewasa itu lalu menuntun sang istri untuk masuk ke dalam bath up yang aroma wanginya membangkitkan gairah. Tidak sabar, Erlan segera membuka pakaian yang masih melekat di tubuhnya satu per satu hingga polos. Dia kemudian menyusul sang istri masuk ke dalam bak mandi besar tersebut.
Bukan sekadar untuk berendam mereka berdua berada di dalam bak mandi yang sama. Namun, tangan keduanya mulai aktif memberikan sentuhan pada pasangan hingga menciptakan suara-suara merdu yang memenuhi ruangan tersebut. Suara merdu yang keluar dari bibir mereka berdua, berpadu indah dengan suara kecipak air karena pergerakan erotis orang yang berada di dalamnya.
"Dik. Kamu ingat enggak, aku pernah cerita tentang gadis-gadis di masa laluku," ucap Erlan setelah mereka berdua melakukan penyatuan yang indah. Pemuda itu saat ini tengah memeluk sang istri yang duduk di depannya, dari belakang.
"Iya. Kenapa, Bang? Mereka semua sudah berlalu, kan?" Maida lalu menoleh ke belakang dan Erlan menganggukkan kepala.
"Semua sudah berakhir sebelum aku mengenal kamu, Dik," balas Erlan meyakinkan.
"Lantas?" Maida mengerutkan dahi. "Apa ada di antara mereka yang belum move on atau bahkan gagal move on dan ngajak balikan?" tebak Maida, membuat Erlan tersenyum.
"Kamu kayak paranormal aja, Dik." Erlan lalu mencubit mesra pipi istri belianya. Suami Maida itu kemudian menggeleng-gelengkan kepala sendiri. "Aku belum yakin, sih karena belum bertemu dengan orangnya. Ge yang barusan cerita karena dia tadi bertemu dengan Aleena," terangnya kemudian.
"Oh, namanya Aleena?"
"Benar, Sayang. Ge bilang, dia akan mengundang aku ke acara grand opening butiknya." Erlan menatap lekat sang istri hendak mencari tahu seperti apa reaksi istrinya.
"Kalau memang diundang secara baik-baik, menurut Mai, sebaiknya datang dengan baik pula. Enggak ada salahnya, sih, menjalin silaturahim kembali," ucap Maida, membuat Erlan tersenyum bangga pada pemikiran sang istri yang dewasa.
"Asalkan, enggak ada udang di balik bakwan! Sebab, jika sampai itu terjadi, Mai tidak akan tinggal diam!" ancamannya kemudian yang membuat suaminya bergidik ngeri.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕