
Selama dua hari dirawat di rumah sakit, Ailee ditunggui oleh orang-orang yang menyayangi. Sang oma bahkan tidak mau pulang meskipun Gilang sudah memaksa karena tidak ingin wanita tua yang disayang itu menjadi sakit. Mommynya Maida juga hampir seharian berada di sana, menemani Ailee.
Andai keluarga besar tidak dicegah oleh Daddynya Maida, sudah pasti mereka akan berbondong-bondong ke rumah sakit untuk menjenguk istri Gilang. Namun, karena kondisi Ailee yang masih sangat lemah dan harus bed rest, maka Daddy Rehan menyarankan agar mereka menjenguk ketika nanti Ailee sudah pulang. Putra-putri Rehan Alamsyah dan keluarga besar Antonio pun patuh, dan menunda untuk berkunjung.
"Apa semua sudah siap, Ge?" tanya Erlan yang semalam pulang karena dipaksa oleh Gilang.
Ya, hari ini Ailee sudah diperbolehkan pulang. Namun, dengan catatan bahwa istri Gilang itu harus banyak beristirahat dan tidak boleh melakukan aktifitas yang berat. Mengingat, Ailee banyak mengeluarkan darah pasca dikuret dua hari yang lalu.
"Sudah semua, Er," sahut Mama Irna menjawab ketika melihat Gilang tengah menyeruput kopi yang masih cukup panas.
"Duduk dulu, Er. Biar Ge menghabiskan minumannya dahulu, sambil menunggu obat dari dokter," saran sang oma.
Erlan yang menjemput bersama sang istri kemudian mendudukkan diri di sofa, diikuti oleh Maida. Mereka duduk bersama sang oma, Mama Irna, Gilang dan juga istrinya. Sementara kedua orang tua Maida hari ini tidak datang karena mereka akan langsung ke kediaman Gilang bersama keluarga besar. Nampaknya, keluarga besar Maida sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ailee untuk mengucapkan terima kasih, sekaligus rasa simpati atas apa yang dialami oleh istri Gilang tersebut.
Beberapa saat kemudian, setelah suster mengantarkan obat dan vitamin yang harus dikonsumsi oleh Ailee, mereka segera meninggalkan rumah sakit. Erlan melajukan mobil milik Nenek Amira yang berkapasitas tujuh orang penumpang tersebut dengan kecepatan sedang. Mobil seharga dua milyar yang pernah diledek oleh ketiga keponakan Gilang bahwa mobil tersebut tidak dapat melaju kencang.
"Kita jalannya santai aja, ya, Oma," ucap Erlan seraya menatap sang oma melalui pantulan kaca spion mobil dan Nenek Amira menganggukkan kepala.
"Iya, Er. Pelan saja, takutnya nanti perut Nak Ai sakit jika terjadi goncangan keras."
__ADS_1
Ailee yang duduk dibangku tengah bersama sang oma lalu menyandarkan kepala dengan manja di bahu Nenek Amira. Dalam hati dia merasa sangat bersyukur karena sejak pertemuan pertama dengan neneknya Gilang, kehidupan Ailee berubah seketika. Selain memiliki oma yang sangat menyayangi dirinya, kehadiran Mama Irna cukup mengobati kerinduan wanita belia itu pada sosok seorang mama.
Tidak berhenti di situ, kehadiran Maida membuat Ailee merasakan memiliki saudara yang sebenarnya. Tidak seperti kedua kakak kandung yang dulu tidak pernah menganggap keberadaannya. Dan sekarang, bertambah lagi kebahagiaan Ailee dengan penerimaan tulus Mommy Billa pada dirinya.
"Tidurlah, Nak. Nanti oma bangunkan jika sudah sampai." Nenek Amira mengusap lembut pipi Ailee.
Wanita tua itu pun merasa sangat bahagia dapat mengenal Ailee. Wanita cantik yang sedang bermanja dengannya, telah mampu mencairkan kebekuan di hati sang cucu. Ailee juga mampu menjadi jembatan, penerimaan Gilang atas kehadiran kembali sang mama.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, tibalah mereka di kediaman megah dengan pagar yang tinggi menjulang. Ailee kemudian turun dengan perlahan. Melihat sang istri hendak melangkah, Gilang langsung melarang. "Tunggu, Sayang. Biar aku gendong."
Sigap, Gilang lalu membopong tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam. "Mau di sini dulu atau langsung ke kamar, Yang?" tanya Gilang ketika mereka tiba di ruang keluarga.
"Padahal, aku pengin berduaan denganmu, Yang," ucap Gilang, tetapi pemuda tampan itu tetap menuruti keinginan sang istri.
Setelah mendudukkan Ailee di sofa empuk dengan hati-hati, Gilang lalu mencuri ciuman sekilas di bibir istrinya. "Aku beneran kangen, Yang," bisiknya kemudian seraya memainkan kedua alis memberikan kode.
"Mas harus puasa dulu," balas Ailee sambil mencubit mesra pinggang sang suami.
Sejujurnya, Ailee pun kangen ingin berduaan seharian dengan sang suami. Sebab, selama dirawat di rumah sakit mereka berdua tidak dapat melakukannya. Senantiasa ada sang oma dan mamanya Gilang di ruang perawatan Ailee, meskipun kedua wanita berbeda generasi tersebut sudah disewakan kamar oleh Erlan.
__ADS_1
Kemesraan mereka berdua terurai ketika sang oma dan Mama Irna mendekat. Kedua wanita kesayangan Gilang itu lalu duduk menemani Ailee. Hal itu membuat Gilang yang sedang ingin berduaan dengan istrinya meskipun bukan di dalam kamar, membuka suara. "Oma sama Mama engga capek, ya? Istirahat di kamar saja, Oma. Mama."
Kedua wanita anggun itu serempak menggeleng. "Keluarganya Mai sebentar lagi datang, Ge. Masak ada tamu oma dan mama kamu malah istirahat di kamar."
Tepat di saat yang sama, terdengar suara salam yang diucapkan oleh beberapa orang. Tidak lama kemudian, Erlan dan sang istri muncul bersama kedua orang tua Maida bersama keluarga besar. Seketika, ruang keluarga tersebut menjadi meriah.
Ya, rupanya Maida mengabarkan kepada keluarganya tadi ketika mereka baru saja keluar dari ruang perawatan istri Gilang. Jadi, keluarga besar Maida bisa datang di waktu yang hampir bersamaan. Mereka semua kemudian menyalami Ailee dan mengungkapkan rasa simpati serta rasa terima kasih karena berkat istri Gilang tersebut, Maida dan sang suami terhindar dari musibah yang sudah direncanakan oleh seseorang.
"Oh ya, Bang Kevin. Sudah sampai mana kasus si Aleena?" tanya Om Devan yang paling antusias ingin mengetahui kasus yang menimpa Ailee, dibanding keluarga lain karena selain ada ikatan kekeluargaan yang kemudian terjalin dengan pernikahan Erlan dan Maida, Gilang adalah rekan bisnisnya dan perusahaan mereka berdua sudah lama menjalin kerja sama.
"Pengacara sedang mengusahakan agar kasus ini segera disidangkan, Om, karena pihak orang tua Aleena berusaha untuk mencari celah melalui orang-orang dalam sesama aparat pemerintah agar Aleena dapat bebas dari jerat hukum," terang Kevin yang dari pertama mengawal kasus tersebut. Kasus yang hampir saja mencelakai sang adik.
"Bebas dari jerat hukum, Bang? Enak saja! Aku bahkan akan buat Aleena mendekam di penjara seumur hidupnya!" Gilang nampak sangat geram.
"Benar, Ge. Itu bisa saja karena dia dapat dikenakan pasal berlapis, yaitu merencanakan kejahatan hingga menyebabkan hilangnya nyawa," timpal Erlan.
"Lapisnya lapis legit apa lapis kayak yang sering dibuat oleh Nenek Lin, Bang Er?" Pertanyaan Iqbal sontak mengurai suasana yang tadinya tegang.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1