
'Kafe meong? Kafe apa, sih? Ada-ada aja, deh, kelakuan gadis kecilku ini?'
"Nama kafenya, kok, aneh. Jualan apa memangnya, Sayang?" tanya Gilang, sambil berjalan mengikuti sang calon istri.
"Ya jualan makanan, Minumannya juga lengkap," balas Ailee.
"Ai. Tumben, enggak bareng sama Etik?" sapa seorang pemuda yang merupakan teman Ailee di kantor. Pemuda tersebut baru saja keluar dari kafe meong bersama teman-temannya.
"Iya, Bang," balas Ailee, ramah.
Pemuda itu dan beberapa temannya kemudian mengangguk hormat pada pemuda tampan yang datang bersama Ailee, tanpa berani menyapa.
Ya, mereka memang sangat mengenali mobil mewah milik bos GCC tersebut, tetapi selama ini mereka belum pernah melihat sang atasan secara langsung tanpa mengenakan masker seperti malam ini.
Oleh karena itu, mereka hanya mengangguk hormat dan tidak berani menyebut nama karena takut jika salah orang. Mereka hanya menduga, bahwa yang datang bersama Ailee adalah orang nomor satu di tempat mereka bekerja.
Gilang terpaksa tersenyum ramah.
'Duh, kalau mereka karyawan di perusahaan, bisa hancur reputasiku sebagai bos datang ke tempat seperti ini,' batin Gilang yang tidak menyangka, kalau sang calon istri akan mengajaknya ke tempat yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
Ailee dan Gilang terus berlalu, tanpa mempedulikan mereka yang kemudian berbisik-bisik.
"Itu beneran Pak Gilang, bukan?" tanya salah seorang pemuda.
"Kalau melihat postur tubuh, kayaknya memang benar beliau itu Pak Gilang," balas yang lain.
"Kabarnya, beliau 'kan mau menikah sama salah satu karyawan di perusahaan. Apa, gadis yang di maksud itu, Ailee, ya?" tanya pemuda yang paling tinggi.
"Bisa jadi, tuh," balas temannya yang memiliki badan kurus kering.
"Pak Gilang beruntung, ya, bisa dapetin Ailee. Cantik, ramah, lucu lagi orangnya," timpal temannya yang berambut kriwil, obyektif.
"Hem, kamu benar." Pemuda yang menyapa Ailee tadi, mengangguk setuju.
Ya, obrolan kelima pemuda tersebut datar saja dan cenderung obyektif, tidak seperti obrolan para emak yang akan heboh menilai siapa Ailee dan memakai pelet apa dia, hingga bisa menaklukkan seorang big bos dingin seperti Gilang.
"Ai, apakah mereka tadi orang perusahaan juga?" bisik Gilang bertanya. Presiden direktur tersebut memang tidak mungkin mengenali karyawannya, satu-persatu.
"Benar, Mas. Mereka juga tinggal di mess," balas Ailee yang juga berbisik.
"Ai. Memangnya, enggak ada tempat lain apa, selain tempat ini?" protes Gilang, pelan karena tidak ingin membuat sang calon istri tersinggung.
"Kenapa memangnya, Mas?" tanya Ailee, menghentikan langkah.
"Tidak apa-apa," balas Gilang kemudian yang kembali memaksakan diri untuk tersenyum.
"Ai senang kalau Mas Gilang ramah gini, beneran makin kelihatan aura ketampanannya, deh," puji Ailee.
__ADS_1
Gilang semakin tersenyum lebar.
"Tapi awas aja, ya, kalau Mas tebar pesona sama gadis-gadis cantik. Ai bakalan marah sama Mas Gilang," ancam Ailee, kemudian.
Senyum di wajah Gilang pun langsung menghilang.
"Jangan gitu, dong, Sayang. Oke, aku janji enggak akan tebar pesona," balas Gilang.
"Tapi kalau mereka tetap terpesona padaku, jangan salahkan aku, ya, karena pada dasarnya, aku memang sudah mempesona sejak lahir," lanjut Gilang yang kemudian terkekeh.
"Dih, pede banget, sih," Ailee mencebik.
"Serba salah, ya, jadi aku?" Gilang menatap sang calon istri.
Ailee mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Enggak pernah senyum, salah. Senyum, malah makin salah." Gilang geleng-geleng kepala sendiri.
Ailee terkekeh pelan. "Kesannya angkuh dan galak, Mas, kalau enggak pernah senyum sama orang lain. Seperti Mas Gilang selama ini. Galak dan dingin, kayak horor aja gitu bawaannya kalau lihat Mas."
"Horor? Kamu pikir, aku ini kuburan?" protes Gilang.
"Hihihi ... ya, semacam itulah, Mas." Ailee terkikik sendiri.
"Yuk, ah. Jadi ke kafe meong, enggak?" tanya Gilang yang mengira bahwa kafenya bukanlah warung kecil yang sudah di depan mata.
Ailee kembali berjalan yang diikuti oleh Gilang.
"Iya, Pak. Pangeran dari negeri antah berantah," balas Ailee seraya terkekeh pelan.
Pedagang warung angkringan yang terkenal di kalangan teman-teman Ailee dengan sebutan kafe meong tersebut ikut terkekeh.
Berbeda dengan Gilang yang mengerutkan dahi, ketika Ailee memasuki sebuah warung kecil dengan pencahayaan remang-remang itu.
"Sayang, kafenya di sini?" bisik Gilang, bertanya.
"Iya, Mas. Kenapa? Mas Gilang keberatan?" Ailee bertanya balik.
Gilang menggeleng, ragu.
Ingin rasanya dia menolak dan menyeret sang calon istri keluar dari warung yang menurutnya tak cukup higienis tersebut, tetapi Gilang tidak mau melihat Ailee kecewa hingga pemuda tampan itu terpaksa menggelengkan kepala.
Apalagi, di sana masih ada beberapa teman Ailee yang sedang makan dan tersenyum ke arahnya, senyuman yang penuh tanda tanya.
Ailee tersenyum. "Ayo, Mas! Kita duduk lesehan aja, ya."
Setelah tersenyum dan menganggukkan kepala kepada teman-teman laki-lakinya yang sedang makan, Ailee kemudian menyeret tangan Gilang untuk duduk di atas tikar pandan.
__ADS_1
Gilang juga nampak ragu, ketika hendak duduk.
"Ayo, duduk! Bersih, kok," suruh Ailee yang mengerti kekhawatiran Gilang.
Pemuda tampan itu pun kemudian duduk, tepat di samping Ailee.
"Mas Gilang, mau nasi apa?" tanya Ailee.
"Ada menu apa aja, Sayang?" Gilang menatap sang calon istri yang masih saja tersenyum.
Ya, Ailee selalu tersenyum sejak keluar dari counter tadi. Senyuman yang penuh kemenangan karena berhasil mengajak Gilang makan malam, ke tempat yang jauh diluar ekspektasi bos GCC tersebut.
"Ada nasi kucing dengan aneka sambal," balas Ailee. "Sambal teri, sambal terong, sambal orek tempe. Mas Gilang, mau yang mana?"
"Tunggu-tunggu. Nasi kucing? Kita akan makan nasi yang untuk kucing?" tanya Gilang, tidak mengerti.
Ailee tergelak, begitu pula para karyawan yang sedang makan.
"Kok, malah ketawa? Apanya yang lucu, Sayang?" tanya Gilang, berbisik.
"Mas Gilang yang lucu," balas Ailee masih dengan tawanya
"Ini bukan nasi untuk kucing, Mas, tapi nasi yang dibungkus dengan porsi sedikit, seperti porsi makannya kucing. Jadi, nasi bungkusnya dinamakan nasi kucing," terang pemilik warung yang kemudian dapat menyimpulkan, siapa tamu yang baru pertama kali dilihatnya itu?
Gilang mengangguk, mengerti. "Saya kira, calon istri saya mengajak saya ke sini untuk mencicipi makanan kucing, Pak," ucap Gilang yang kemudian ikut tertawa.
"Tadi kamu menyebutkan ada terong?" tanya Gilang setelah tawanya mereda.
Pemuda tampan tersebut tiba-tiba teringat obrolan kemarin, ketika Ailee bercerita bahwa gadis belia itu sering makan dengan lauk sayuran yang katanya bikin lemas tersebut.
Ailee mengangguk.
"Aku mau coba nasi sambal terong," pinta Gilang. "Aku pengin ngerasain apa yang dulu sering kamu makan, Sayang," lanjutnya, membuat Ailee terharu.
"Aa ... sweet banget, sih, kamu, Mas."
"Tadi bilangnya horor, sekarang sweet. Yang benar, yang mana?"
Ailee tersenyum.
"Mas mau minum apa?" tanya Ailee kemudian, mengabaikan pertanyaan Gilang yang tidak penting barusan.
"Ada kopi susu, jahe susu, teh susu," lanjut Ailee sebelum Gilang bertanya, ada minuman apa saja.
"Kalau susu segar, ada enggak?" tanya Gilang seraya tersenyum dikulum.
"Sapinya lagi mode galak, Mas. Enggak mau diperah!" balas Ailee cemberut, membuat Gilang tergelak.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕