Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Siap Menjadi Ibu


__ADS_3

Ailee mengeluarkan semua foto dari dalam amplop coklat lalu melihatnya satu per satu. Dahi wanita cantik itu berkerut ketika melihat foto-foto tersebut. Sementara Gilang dan Erlan mengamati wajah Ailee dengan hati berdebar.


Gilang senantiasa berdo'a dalam hati, kiranya sang istri dapat melihat foto-foto tersebut tanpa melibatkan emosi. Berharap, sang istri dapat berpikir dengan jernih dan menggunakan logika. Apalagi, tadi Erlan juga sudah menjelaskan duduk persoalannya.


Suami dewasa Ailee itu sampai menahan napas, menatap ke arah sang istri. Khawatir, istrinya akan histeris begitu melihat foto-foto dirinya yang bertelanjang dada bersama seorang wanita yang hanya berbalut handuk berwarna biru dengan rambut yang masih basah. Foto yang diambil ketika Gilang tengah terlelap di atas ranjang.


Gilang terkejut ketika Ailee menyimpan dengan kasar foto-foto tersebut di atas nakas, di samping ranjang. Begitu pula dengan Erlan yang khawatir Ailee akan marah pada Gilang. Wanita muda itu lalu menatap suaminya.


"Mas, mendekat sini!" pinta Ailee dengan wajah ditekuk.


Gilang menurut dan pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan sang istri terhadapnya. Dia sudah merasa siap kalau memang Ailee akan menghukumnya. "Silakan pukul aku jika itu bisa membuatmu lega, Sayang," ucapnya yang kemudian memejamkan mata.


Sementara Erlan yang masih duduk ditempatnya, menanti apa yang akan dilakukan oleh Ailee terhadap Gilang dengan penuh rasa khawatir. Erlan takut Ailee akan terbawa emosi dan marah membabi buta yang dapat menyebabkan penyesalan kemudian. Abang sepupu Gilang itu lalu menggeleng kepala, pelan.


"Aku tahu, pasti sakit rasanya melihat orang yang kita sayang terlihat bermesraan dengan orang lain meskipun kejadiannya sudah sangat lama bahkan saat kita belum mengenal pasangan kita, Ai. Tapi kuharap, kamu tetap dapat berpikir dengan kepala dingin," ucap Erlan.


Ailee tidak menanggapi perkataan Erlan. Tatapan wanita muda itu tertuju ke arah sang suami yang duduk menghadap ke arahnya dengan mata terpejam. Ibu hamil itu lalu menghela napas panjang.


"Di foto itu aku lihat dia mencium keningmu, Mas. Aku harus menghapusnya. Aku enggak mau ada bekas dia di sini," ucap Ailee yang kemudian menciumi kening suaminya dengan sedikit terbawa emosi.


"Dia juga menempelkan pipinya di pipi Mas, kan? Dan aku juga harus menghapusnya," lanjut Ailee. Istri Gilang itu lalu menciumi pipi sang suami, bertubi-tubi.

__ADS_1


Apa yang dilakukan sang istri, membuat Gilang terkejut. Namun, keterkejutan Gilang hanya sesaat saja karena dia kemudian tersenyum. Sementara Erlan yang melihat ekspresi Gilang, mencebik.


"Hem, bahagia dia, Ai, kalau hukuman kamu seperti itu." Erlan segera beranjak.


"Sayang. Dia 'kan terobsesi padaku. Bisa jadi dia juga mencuri meraba bibirku yang seksi ini," ucap Gilang seraya melirik Erlan yang nampak kesal.


"Oh, ya? Sini, Ai hapus!"


"Stop! Tunggu aku keluar dulu!" cegah Erlan yang semakin kesal. Abang sepupu Gilang itu kemudian berlalu menuju pintu.


"Ge, besok kita selesaikan urusan kamu sama Nesa dan Topan. Setelah itu, aku harus fokus dengan resepsi pernikahanku." Erlan berbalik dan menatap Gilang, sebelum melangkah keluar.


Gilang hanya mengacungkan ibu jari ke arah Erlan karena bos GCC itu telah menyambar bibir sang istri dan menyatukan bibir mereka berdua. Erlan geleng-geleng kepala dibuatnya. Dia lalu segera melanjutkan langkah untuk menemui sang istri tercinta.


"Er. Ai bagaimana?" tanya Nenek Amira ketika Erlan telah berada di tangga.


"Sudah lebih baik, Oma. Mereka sedang melepas rindu di kamar," balas Erlan yang menghentikan langkah lalu terkekeh sendiri. Padahal dia yang merindukan istrinya karena melihat adegan Gilang dan Ailee tadi.


"Yah, melepas rindu. Kayak baru berpisah aja. Bukannya Om Ge dan Ai bareng-bareng terus ya, dari tadi? Melapas rindu apa melepas yang lain, nih?" sahut Satria, yang kemudian ikut terkekeh.


"Sat, jangan bicara aneh-aneh! Ada adik-adik kamu," tutur sang oma memperingatkan.

__ADS_1


"Satria 'kan cuka bercanda, Oma."


Satria dan omanya yang masih berdebat. Erlan diam-diam melanjutkan langkah karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang istri. Pemusa matang itu hendak menuntaskan keinginan yang tiba-tiba datang dan tidak terbendung karena melihat kemesraan Gilang dan istrinya.


Erlan membuka pintu perlahan lalu mengunci pintu tersebut. Dia mendekati sang istri yang nampak sedang asyik membaca buku. Erlan kemudian memeluk mesra pinggang istrinya yang duduk di sofa dan menciumi pundak Maida dengan gemas.


"Abang kenapa? Datang-datang langsung kayak gini. Geli tahu, Bang." Maida yang kegelian, mencoba menghindar. Pasalnya dia sedang belajar sebab besok ada ujian di kampus.


"Aku kangen, Dik," balas Erlan yang kemudian beralih menciumi tengkuk istrinya, membuat Maida semakin kegelian.


"Kangen?" tanya sang istri tidak mengerti. "Rambut Mai bahkan masih basah, Bang. Masak udah kangen?" Maida menangkup kedua sisi pipi sang suami yang kini tengah menatapnya.


"Dan aku tidak akan pernah membiarkan rambutmu kering, siang dan malam," balas Erlan. Pemuda berkulit putih bersih itu lalu mendekatkan wajah dan mengikis jarak dengan istrinya.


Erlan dengan lembut mulai menyatukan wajah keduanya. Melepaskan kerinduan yang senantiasa hadir meskipun mereka berdua tidak pernah berpisah lama. Memberikan kehangatan pada sang istri dan mencoba membangkitkan gairah istrinya.


Kamar luas dengan pencahayaan yang terang benderang tersebut menjadi saksi bisu. Betapa rindu itu begitu menggebu dan membuat keduanya saling berpacu. Berusaha untuk memberikan kenikmatan dan kehangatan untuk pasangan dengan saling mencumbu.


"Aku berharap, benihku segera tumbuh di rahimmu, Sayang," bisik Erlan sebelum membenamkan miliknya seutuhnya di lembah basah sang istri tercinta.


Maida menganggukkan kepala lalu tersenyum manis. "Aku sudah sangat siap menjadi ibu dari anak-anak Abang," balasnya, membuat Erlan semakin bersemangat.

__ADS_1


Malam baru saja merangkak naik. Namun, sepasang suami-istri itu telah terlebih dahulu mencapai puncak nirwana. Mereguk manisnya cinta sejati dalam balutan ikatan pernikahan yang suci.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2