Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Bermandikan Keringat


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hari-hari dilewati Gilang dan Ailee dengan penuh kebahagiaan. Begitu pula dengan orang-orang di sekitar mereka berdua yang turut berbahagia dengan kebahagiaan mereka berdua rasakan.


Kebahagiaan sebagai sepasang suami-istri itu, tidak hanya dirasakan oleh Gilang dan Ailee. Erlan dan sang istri juga tengah berbahagia karena sebentar lagi mereka akan mengadakan resepsi. Resepsi pernikahan mewah dan terbesar yang kabarnya menghabiskan dana yang tidak sedikit.


Ya, tentu saja resepsi pernikahan Erlan dan istrinya akan sangat mewah. Mengingat Maida adalah salah satu putri kembar terakhir dari keluarga pengusaha kaya raya, Rehan Alamsyah. Lagipula, resepsi Maida akan dibarengkan dengan saudari kembarnya.


"Er, persiapannya sudah sampai mana?" tanya Nenek Amira ketika mereka semua tengah bersantai di ruang keluarga.


"Kabarnya, sudah sembilan puluh sembilan persen, Oma," balas Erlan.


"Di pulau keluarga lagi 'kan, Om?" sahut Satria, bertanya.


"Tidak, Sat. Di kediaman keluarga Antonio, orang tua dari pihak mommynya Dik Mai," balas Erlan.


Satria nampak kecewa. Harapannya untuk bisa mengajak jalan-jalan sang gadis incaran dengan bebas di pantai, tidak akan menjadi nyata. Dia menghela napas panjang kemudian.


"Kenapa, Sat?" tanya Gilang yang dapat menangkap kekecewaan sang keponakan.


"Tidak apa-apa, Om," balas Satria mencoba bersikap biasa saja.


"Bang Sat bohong, Om," sahut Kukuh. "Dia sudah merencanakan mau ngajak Jelita untuk jalan-jalan di pantai dan naik speed boat," lanjutnya membuka rahasia sang abang.


Satria melotot pada sang adik. Namun, Kukuh malah tertawa dan bukannya takut dengan tatapan tajam sang abang. Apalagi ketika melihat wajah Satria yang ditekuk, layaknya kanebo kering.


"Ngopi-ngopi dulu, Mase. Jangan pusing mikirin bagaimana caranya kencan dengan Jelita," ledek Kukuh semakin menjadi sambil bernyanyi. Remaja itu kemudian mengambil cangkir kopi miliknya dan mulai menyeruput kopi tersebut.


Kelakuan Kukuh membuat semua tertawa. Kecuali Satria tentunya. Pemuda yang biasanya jahil itu kini dahinya berkerut-kerut.

__ADS_1


Tentu saja Satria pusing karena hanya di kesempatan seperti itulah Satria bisa berkencan dengan bebas bersama Jelita. Di hari-hari biasa, ayahnya Jelita sangat posesif dan tidak mengijinkan sang putri yang masih belia pergi bersama pemuda yang bukan mahromnya. Satria memang pernah memberanikan diri meminta ijin dan diijinkan, tetapi dengan pengawalan ketat sang abang.


"Sat, jangan terlalu dipikirin. Om Ilham pada dasarnya orangnya santai, kok. Hanya saja, Om Ilham bersikap seperti itu karena saat ini Jelita masih SMP. Tunggulah dua tahun lagi, mungkin Om Ilham akan berubah pikiran," terang Maida, ikut bersuara karena tidak tega melihat wajah kusut Satria yang biasanya ceria.


"Bisa karatan dia, kalau menunggu selama itu," ledek Gilang, membuat Satria semakin cemberut.


"Baru kali ini, loh, Ai lihat Bang Sat kusut kayak gitu," timpal Ailee yang juga ikut menertawakan Satria.


"Lili, kok kamu jadi ikut-ikutan ngeledek aku," protes Satria dengan memanggil Ailee Lili, panggilan kesayangannya kala itu.


Gilang menatap nyalang sang keponakan. Rasa cemburunya pada Satria yang sudah terkubur, kini kembali bangkit dan semakin besar. Satria tersenyum melihat tatapan kecemburuan omnya.


"Santai saja, Mase. Ngopi-ngopi dulu, kita." Satria menirukan gaya Kukuh dan kemudian menyeruput kopi miliknya. Hal itu membuat semua orang tertawa, tak terkecuali Gilang yang kemudian ikut tertawa melihat Satria sudah kembali tersenyum.


Ya, meskipun cemburu pada Satria, tetapi Gilang tahu persis kalau sang keponakan tidak akan pernah mengganggu istrinya. Satria memang terkenal jahil, tetapi pemuda itu tetap sopan pada orang yang lebih tua dan sangat sayang pada keluarga. Itu yang membuat Gilang dan Erlan sayang dengan ketiga keponakannya.


"Sudah yuk, istirahat. Kita harus mempersiapkan diri untuk acara kamu besok malam 'kan, Er," ajak sang oma setelah waktu menunjukkan pukul sebelas malam.


Mereka semua patuh. Satu per satu mulai meninggalkan ruang keluarga, setelah Nenek Amira dan Mama Irna terlebih dahulu menuju ke kamar. Erlan dan sang istri yang paling akhir meninggalkan ruangan yang luas tersebut.


"Mau digendong, Dik?" tawar Erlan. Pemuda yang senantiasa ramah pada semua orang itu lalu membopong tubuh sang istri, tanpa menunggu persetujuan istrinya.


Maida sempat menjerit kecil karena terkejut, tetapi sedetik kemudian mengalungkan tangan di leher sang suami dan menikmati apa yang dilakukan suami dewasanya. Erlan melangkah dengan pasti menaiki anak tangga. Sementara Maida menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya.


Erlan membuka pintu dengan kakinya. Merebahkan perlahan tubuh sang istri di atas ranjang. Pemuda berkulit putih bersih itu lalu menatap sang istri, lekat.


"Mau langsung istirahat atau main-main dulu, Dik?" tawar Erlan yang tidak ingin memaksa sang istri.

__ADS_1


Maida tersenyum lalu membelai pipi sang suami. "Mai ikut aja apa maunya Abang," balasnya yang membuat Erlan tersenyum senang.


"Kita main-main sebentar, ya," pinta Erlan kemudian.


"Sebentarnya berapa jam, Bang?" tanya Maida seraya tersenyum. Sebab, selama ini sebentar versi sang suami bisa sampai berjam-jam lamanya.


Erlan terkekeh lalu mulai menciumi sang istri dengan gemas. Dia selalu saja dibuat senang dengan kesediaan istrinya yang senantiasa siap kapanpun dia mau. Juga tidak pernah protes meskipun Erlan melakukan dengan durasi yang sangat lama. "Kamu memang pandai menyenangkan hatiku, Dik."


Maida mulai membalas cumbuan sang suami. Wanita muda itu tidak mau diam saja menerima, tetapi juga ingin memberikan yang terbaik untuk sang suami tercinta. Dia meyakini, sebuah hubungan akan lebih indah dan nikmat rasanya jika dilakukan bersama-sama dengan saling memberi, bukan hanya pasrah menerima.


Hawa panas mulai tercipta di kamar Erlan. Bulir-bulir keringat mulai membasahi kedua tubuh yang sudah sama-sama tanpa penghalang yang bergumul di atas ranjang. Seiring dengan gerakan tubuh keduanya yang bergerak erotis untuk memberikan rasa nikmat bagi pasangan.


Suara khas percintaan juga menggema memenuhi kamar mewah milik Erlan. Kamar yang didominasi warna cream yang hangat, sehangat hati mereka berdua yang kini tengah menyatu dibalik selimut tebal. Lenguhan panjang keduanya, mengakhiri sesi penyatuan mereka berdua yang dilakukan dalam waktu yang cukup lama.


"Terima kasih, Sayang. Love you," bisik Erlan setiap kali mereka selesai melakukan penyatuan.


Maida tersenyum bahagia. "Love you more, suamiku."


Sementara di dalam kamar Gilang, adik sepupu Erlan itu pun bermandikan keringat meskipun suhu udara di dalam kamarnya sangat dingin. Gilang bermandikan keringat bukan karena dia dan istrinya baru saja bercinta seperti pasangan Erlan dan Maida. Akan tetapi karena Gilang baru saja memenuhi keinginan sang istri yang ingin melihat dirinya melakukan fitness.


Ya, setibanya di kamar tadi, Ailee tiba-tiba mengajak sang suami untuk ke ruangan tempat Gilang biasa nge-gym. Raut wajah sang istri yang merajuk, membuat Gilang tidak tega untuk menolak padahal dia sudah mengantuk. Akhirnya, dia pun menyetujui keinginan istrinya.


Gilang benar-benar melakukan apa yang diinginkan Ailee. Awalnya Ailee memang menatap takjub otot-otot sang suami ketika Gilang melakukan olah raga malam yang sebenarnya. Namun, tidak lama kemudian wanita yang tengah mengandung benih Gilang itu ketiduran di atas matras.


Gilang tersenyum menatap wajah damai sang istri kala tidur. "Apapun yang kamu inginkan, Sayang, semampuku akan aku penuhi," ucap Gilang seraya mencium lembut kening istrinya. Dia sama sekali tidak merasa keberatan melakukan apapun yang dimaui istrinya.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2