Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Tetap Tinggal di Kota Ini


__ADS_3

Gilang segera berjalan mendekati sang mama. "Ma," sapanya, kemudian.


"Ge, duduk sini, Nak," suruh Mama Irna seraya menepuk bangku kosong di sebelah. "Kenalkan, Ge. Dia Nak Adam. Nak Adam ini yang sudah menolong mama sewaktu di Belanda." Mama Irna lalu memperkenalkan pemuda yang duduk di hadapannya pada sang putra, setelah Gilang duduk di sampingnya.


Gilang mengulurkan tangan, menyalami pemuda berwajah blasteran tersebut. "Gilang," ucapnya memperkenalkan diri.


"Adam Hanafi," balas laki-laki tampan dan matang itu seraya tersenyum hangat.


"Terima kasih, Mas, karena Mas Adam sudah menolong mama saya," lanjut Gilang setelah jabat tangan mereka berdua terlepas.


"Hanya pertolongan kecil, Mas Gilang," balas Adam, merendah.


Seorang wanita cantik berhijab datang menghampiri dan kemudian duduk di samping Adam. Mama Irna nampak tersenyum padanya. Sementara Adam langsung memeluk pinggang wanita cantik itu dan melabuhkan ciuman mesra di pipi sang wanita, membuat Gilang menjadi iri.


'Tahu gini, tadi Ailee kuajak kemari,' batin Gilang, keki.


"Dan dia Nak Melati, istrinya Nak Adam," tutur Mama Irna memperkenalkan wanita cantik yang baru saja datang, mengurai lamunan Gilang.


Melati menangkup kedua tangan di depan dada, seraya tersenyum ramah. Gilang pun melakukan hal yang sama. "Terima kasih atas kebaikan Mbak Melati dan Mas Adam pada mama saya," ucap Gilang kembali dengan tulus.


"Hanya kebetulan saja, Mas. Saat itu kami sedang berlibur di rumah mama dan melihat Mama Irna sepertinya sedang butuh pertolongan," balas Melati seraya menatap Mama Irna dengan tatapan hangat.


"Mereka berdua ini berdomisili di Bali, Ge. Dan mereka ada di sini karena ternyata calan mertuanya Er adalah abang sepupunya," terang Mama Irna yang dibalas Adam dengan anggukan kepala.


"Mereka ini juga bisnisman dan bisnis women hebat, lho, Ge. Merintis dari nol usaha hotel dan kafe resto, sekarang sudah memiliki banyak cabang, termasuk di Jakarta ini," lanjut Mama Irna, mengagumi kedua orang yang dengan tulus menolongnya kala itu.

__ADS_1


Gilang mengangguk-angguk seraya tersenyum.


"Ah, Mama Irna berlebihan. Hanya usaha kecil, kok. Di Jakarta sini juga baru beberapa cabang kafe resto. Pengin merambah ke perhotelan, tetapi belum terealisasi. Masih mencari rekanan," ucap Adam, kembali merendah.


"Abang sepupu Nak Adam 'kan pengusaha sukses, pasti mudah saja bagi Tuan Rehan mengucurkan dana untuk Nak Adam," tutur Mama Irna.


"Benar, Ma, tapi Mas Adam yang menolak. Bantuan dari orang tua Mas Adam, Mas Adam pun tidak mau. Dia penginnya mandiri dan tidak melibatkan keluarga. Kalaupun memiliki rekanan, itu dari orang luar, bukan keluarga," sahut Melati membeberkan keinginan suaminya, membuat Adam tersenyum.


Wanita cantik itu lalu memeluk lengan sang suami, seraya menyandarkan kepala di bahu suaminya yang kokoh. Wanita muda yang telah memiliki tiga anak tersebut nampak sangat manja pada suami dewasanya.


Membuat Mama Irna tersenyum melihatnya, sementara Gilang semakin keki sekaligus salut dengan kemesraan pasangan di hadapan.


Dalam hati dia berjanji, akan membuat istrinya menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Gilang kemudian memberikan kode pada sang istri untuk mendekat. Setelah Ailee duduk di sampingnya, dia kemudian memperkenalkan sang istri tercinta pada Adam dan Melati.


Selanjutnya, perbincangan mereka pun semakin hangat. Gilang kemudian menawarkan kerja sama pada Adam bahwa dia bersedia menjadi investor untuk pengembangan usaha Adam di Jakarta. Gilang tentu ingin dapat membalas budi pada orang yang telah berbuat baik pada mamanya.


"Jangan langsung menawarkan gitu, Mas Gilang. Biar saya ajukan proposal penawaran di perusahaan Mas Gilang dulu karena 'kan Mas Gilang belum tahu seperti apa usaha kami," ucap Adam yang tidak ingin pemuda yang baru dikenalnya itu gegabah menawarkan begitu saja kerja sama dengan pihaknya.


Adam tidak mau mengambil kesempatan. Jika ada yang mau menjalin kerja sama dengan perusahaan kecil miliknya, murni karena perusahaannya layak dipertimbangkan dan bukan karena orang dalam. Prinsip Adam itulah yang membuat usahanya berkembang dengan sangat pesat, bahkan di Bali sudah banyak hotel miliknya yang berdiri dengan megah.


"Baik, Mas Adam. Silakan saja Mas Adam membuat proposal penawarannya. Saya tunggu di kantor saya," ucap Gilang akhirnya, menyetujui sebab tidak ingin membuat orang baik itu, tersinggung.


Obrolan mereka terjeda ketika Erlan mendekat dan meminta Gilang untuk menemaninya karena ada hal yang ingin dibahas oleh daddynya Maida sebelum acara pertunangan dilaksanakan sore ini. Gilang dan Ailee kemudian mengekor langkah Erlan, setelah berpamitan dengan sang mama dan juga pasangan orang baik yang menolong Mama Irna. Mereka bertiga berjalan menuju villa keluarga Daddy Rehan.


"Ai, kamu tunggu di villa tamu bersama yang lain, ya?" pinta Erlan ketika mereka bertiga melintasi villa tamu, tempat keluarga mereka beristirahat.

__ADS_1


Ailee menganggukkan kepala dan kemudian berpamitan pada sang suami. "Kamu istirahat di kamar aja, Sayang, biar enggak kecapekan," ucap Gilang seraya mengusap puncak kepala sang istri dan Ailee menganggukkan kepala, mengiyakan.


Gilang dan Erlan kemudian melanjutkan langkah. Setibanya di villa keluarga Daddy Rehan, mereka disambut oleh kakak pertama Maida lalu diajak menuju ruang keluarga. Di sana, sudah ada kedua orang tua Maida, kedua orang tua Erlan dan juga papa dari calon tunangan Maira, saudara sepupu Maida. Namun, calon tunangan sepupu Maida itu tidak berada di sana hingga membuat Erlan mengerutkan dahi. 'Kemana si Yudhistira?' batin Erlan bertanya.


Wajah daddynya Maida yang di dampingi oleh sang istri, nampak sangat serius. Begitu pula dengan kedua orang tua Erlan, serta papanya Yudhistira. Mereka saling terdiam dan tidak ada yang bersuara.


"Silahkan duduk, Bang Erlan, Mas Gilang." Kakak pertama Maida yang mengiringi langkah mereka berdua, mempersilakan. Gilang dan Erlan kemudian duduk di hadapan orang tua Maida.


"Maaf, Om Rehan. Apakah ada hal penting yang akan Om sampaikan pada kami?" tanya Erlan sesaat setelah dirinya duduk.


Laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan tersebut mengangguk. "Benar, Bang Er. Ini menyangkut masa depan kalian." Daddy Rehan lalu menyampaikan, seandainya mereka menikah secepatnya, mau dibawa kemanakah sang putri? Menetap di Surabaya atau tetap di Jakarta?


Erlan melirik Gilang dan pemuda itu membebaskan sang abang sepupu untuk memilih dengan isyarat tangannya. Gilang sudah berjanji akan mendukung apapun keputusan Erlan meskipun mungkin sangat berat. Erlan menghela napas panjang, berharap keputusan yang diambil ini adalah yang terbaik.


Sebelum memulai berbicara, pemuda tampan yang merupakan asisten andalan bos perusahaan GCC itu menatap papa dan mamanya. Kedua orang tua bijak itu hanya menganggukkan kepala. Sang papa dan sang mama juga setuju saja dengan apapun keputusan Erlan.


"Terserah saja bagaimana yang terbaik menurut kamu, Er. Mama dan papa hanya bisa memberikan restu dan mendoakan kalian," tutur sang mama dengan lembut, membuat Erlan semakin yakin dengan keputusannya.


"Saya berencana untuk mengembangkan perusahaan yang di Surabaya di kota ini, Om. Saya sudah pernah membicarakan hal ini dengan Dik Mai. Jadi, kami akan tetap tinggal di kota ini," terang Erlan, membuat kedua orang tua Maida bernapas dengan lega. Begitu pula dengan sang kakak pertama.


"Dad, memangnya Dik Mai dan Dik Mela mau dinikahkan kapan? Tadi 'kan Daddy mengatakan secepatnya. Secepatnya itu, setelah acara pertunangan sore nanti dan malamnya langsung ijab qabul atau harus menunggu beberapa minggu atau bulan?" tanya pemuda tampan kakak pertama dari Maida dan Maira, membuat Erlan berdebar.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


Melati dan Adam Hanafi

__ADS_1


Kisahnya ada di sini 👇🥰



__ADS_2