Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Encoknya, Kumat!


__ADS_3

Sepulang dari butik hingga malam menjelang, Gilang masih berusaha untuk merayu sang calon istri yang rupanya pura-pura ngambek karena Ailee ingin tahu sejauh mana beruang kutub yang kini telah mencair dan membanjiri gadis belia itu dengan perhatian dan kasih sayang di setiap kesempatan yang ada, benar-benar mencintainya dengan tulus.


Pemuda tampan yang merupakan bos perusahaan besar itu bahkan sampai rela memanjat pohon jambu air jenis merah delima yang ada di kebun belakang rumah, tanaman sang oma, demi untuk menuruti keinginan Ailee yang pengin makan rujak buah malam-malam.


Erlan dan Satria yang didaulat untuk membantu dengan memegangi tangga serta lampu senter, dibuat geleng-geleng kepala saking herannya dengan kenekatan Gilang. Padahal Ailee sudah meminta pada calon suaminya, agar meminta tolong pada tukang kebun saja untuk memetik buah jambu tersebut.


Gilang nekat karena ingin menunjukkan pada sang calon istri, bahwa dia benar-benar sayang pada Ailee dan rela melakukan apa saja demi gadis cantik itu.


"Awas, Om! Kalau ada ulat bulu, tahu rasa nanti!" seru Satria yang masih memegangi tangga.


"Kalau ulat bulu jambu, sih, enggak apa-apa, Sat. Paling juga cuma gatal-gatal badan dia. Beda jika ulat bulu yang di kantor, bisa bahaya kalau sampai om kamu itu terkena bulu-bulu halusnya, bukan hanya gatal tapi bisa terbakar," sahut Erlan yang kemudian terkekeh.


Asisten pribadi Gilang itu membayangkan karyawan-karyawan wanita yang kecentilan dan cari perhatian, jika Gilang dan dirinya melintas di depan mereka.


"Dih! Ogah banget terkena bulu mereka, lihat aja malas aku!" balas Gilang dari atas sana.


"Memang di kantor, banyak wanita jadi-jadian kayak gitu, Om?" tanya Satria yang mengerti arah pembicaraan kedua omnya.


"Ya, begitulah, Sat. Ada, meski hanya beberapa," balas Erlan.


"Oh, makanya Om Er dan Om Ge betah menjomblo. Rupanya ada vitamin di kantor," ucap Satria yang membuat Gilang menjatuhkan satu buah jambu yang kecil tepat di kepala keponakannya tersebut.


"Aw! Sakit, Om! Jangan semena-mena, dong, sama orang yang di bawah! Kayak pejabat aja, suka semena-mena pada bawahan!" sindir Satria yang entah dia tujukan pada siapa, membuat Erlan tersenyum.


"Mereka itu bukan vitamin, Sat, tetapi virus!" protes Gilang, kemudian.


"Dan aku menjomblo bukan karena mereka, tetapi karena Dedek cantik belum cukup umur untuk aku nikahi," timpal Erlan, masih dengan senyumnya yang menghiasi bibir pemuda ramah tersebut.


"Om Er, sih, nyari yang masih abege. Buat Satria aja, deh, Dedek Cantiknya," pinta pemuda itu seraya tersenyum dikulum.

__ADS_1


"Enak aja! Dia itu paket komplit dan susah nyarinya. Aku aja nunggu sampai umur segini, baru dapat yang seperti Dedek Cantik," balas Erlan.


"Kata si Riko, dia cantik banget. Benar enggak, Om Ge?" lanjut Satria, bertanya pada Gilang.


Ya, perkenalan Erlan dan sang kekasih berawal ketika dia mengantarkan Riko untuk pertama kali mendaftar di sekolah yang sama dengan Maida. Saat itu, sang kekasih baru kelas dua Sekolah Menengah Umum dan baru selesai mengikuti ujian kenaikan kelas.


Erlan yang kebingungan mencari-cari tempat pendaftaran di sekolah yang luas tersebut, bertemu dengan dua gadis kembar dan kedua gadis cantik itu kemudian menunjukkan tempatnya serta menuntun Erlan dan Riko untuk menuju ke sana.


Dari sanalah awal mula kedekatan mereka berdua, tetapi Erlan tidak pernah mengatakan pada Riko kalau dirinya melanjutkan pedekate dengan salah satu gadis kakak kelas Riko yang menolong mereka kala itu.


"Hem ... lumayan, tetapi yang jelas lebih cantik calon istriku," balas Gilang.


Erlan langsung mematikan lampu senter dan menjauh dari tempat tersebut, membuat Gilang yang masih berada di atas pohon jambu berteriak.


"Bang Er, balik! Gelap ini, aku enggak bisa lihat apa-apa!"


Dari kejauhan Erlan terkekeh senang, mendengar kepanikan Gilang.


"Sat! Jangan gila, kamu! Aku bisa jatuh, nanti!" protes Gilang kembali.


"Rasain! Makanya, jadi orang, tuh, yang jujur. Apa susahnya, sih, mengatakan kalau kekasihku itu cantik." Erlan menyalakan lampu senter seraya kembali mendekat ke arah pohon jambu, di mana Gilang masih berada di atas sana.


Rupanya, teriakan Gilang barusan mengundang Ailee dan sang oma ikut mendekat ke kebun yang cukup rimbun itu.


"Mas, turun. Udah cukup, enggak perlu banyak-banyak," pinta Ailee.


"Oke, Sayang. Aku akan turun, tetapi janji, ya, ngambeknya udahan," pinta Gilang, memohon.


"Iya, iya. Dari tadi juga, Ai udah enggak ngambek, kan? Mas aja yang bersikukuh pengin memetik buah jambu sendiri untuk Ai," balas Ailee.

__ADS_1


"Pengin membuktikan dia, Ai. Kalau dia itu calon suami siaga. Jadi, kalau nanti kamu hamil dan ngidam yang aneh-aneh, Ge udah enggak kaget lagi," terang Erlan.


"Ngidam aneh-aneh? Emangnya, orang hamil suka ngidam dan minta yang aneh-aneh?" tanya Gilang yang sudah berada di bawah dan kemudian menyerahkan se-plastik jambu pada sang calon istri.


"Ada juga yang seperti itu, Ge, tetapi banyak juga yang tidak," balas sang oma.


"Sayang, nanti kalau kamu hamil jangan minta yang susah-susah, ya, nyarinya. Ini aja, tanganku udah lecet, lho, Yang." Gilang menunjukkan kedua telapak tangannya yang kemerahan diterpa cahaya center.


"Huu, manja. Udah tua juga, masih manja," ledek Satria yang bergegas meninggalkan mereka semua, untuk kembali ke dalam rumah.


"Jeoleus bilang, Bro!" seru Gilang senang karena kini keponakannya itu yang sepertinya cemburu, melihat kemesraan Gilang dan sang calon istri.


Penuh perhatian, Ailee meniup kedua telapak tangan Gilang. Membuat Erlan pun mencibir. "Sok-sokan nekat, endingnya minta jatah juga pengin dimanja."


Gilang tersenyum lebar. "Kalau kayak gini terus, aku rela lho, Bang, jika setiap hari dia meminta dipetikkan buah-buahan," balas Gilang seraya tersenyum mesra, melirik sang calon istri.


"Catat, Ai! Nanti kalau kamu hamil, minta aja sesuatu yang membuat dia kelabakan nyari!" suruh Erlan sambil berjalan mengekor di belakang sang oma dan Ailee, untuk kembali ke dalam rumah.


"Ya, jangan yang ekstrem juga, Sayang," mohon Gilang.


"Sudah-sudah. Nikah saja belum, dibuat juga belum, sudah ngomongin hamil dan ngidam segala," protes sang oma.


"Jangan salah, Oma, karena setelah ijab qabul, Ge akan langsung ngebut untuk membuatnya," balas Gilang, terkekeh.


"Kalau perlu, kita lembur ya, Sayang, agar cepat tumbuh benih yang akan aku tanam," lanjutnya yang langsung mendapatkan protes dari Ailee.


"Mas! Bicara apa, sih? Malu, ah!" Pipi putih itu merona, diterpa cahaya bulan dan lampu penerangan di halaman belakang.


"Ngebut-ngebut, gaya kamu, Ge! Paling juga baru satu-dua ronde, udah K.O dan encoknya kumat!" ledek Erlan yang kemudian tergelak dan segera berlalu masuk ke dalam dapur, untuk menghindari tinju yang akan dilancarkan Gilang.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕



__ADS_2