Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Menikmati Dessert di Kamar Jenazah


__ADS_3

Siang dan malam datang dan pergi silih berganti. Pernikahan Gilang dan Ailee pun semakin mendekati hari.


Segala persiapan juga sudah dilakukan oleh keluarga Gilang, terutama sang oma yang sangat antusias menyambut hari bahagia sang cucu tersayang. Meskipun pernikahan cucu kesayangannya tersebut hanya akan dilangsungkan secara sederhana, sesuai permintaan sang calon mempelai wanita.


Siang ini, papa Ailee kembali mendatangi kantor Gilang karena keinginan laki-laki paruh baya tersebut agar Ailee dan Gilang menikah di kediamannya, belum juga mendapatkan jawaban pasti dari sang calon menantu dan juga putrinya.


Kedatangan laki-laki paruh baya berkumis tebal dan berwajah sangar itu, disambut oleh Gilang dan Erlan yang kebetulan sedang berada di ruangan presiden direktur untuk mematangkan rencana bulan madu Gilang dan Ailee.


Bos GCC tersebut berencana ingin membawa sang pujaan hati, terbang ke berbagai tempat wisata yang menarik. Mereka akan berbulan madu selama beberapa minggu.


"Ada apa, Pak?" tanya Gilang tanpa basa-basi, begitu papanya Ailee baru saja duduk di sofa.


"Mengenai permintaanku kemarin lusa, Nak Gilang. Bagaimana, apakah kalian tidak keberatan jika pernikahannya dilaksanakan di rumah kami?" tanya pengacara yang katanya kondang tersebut.


Gilang menghela napas panjang.


"Maaf, Pak. Kenapa Bapak tiba-tiba menginginkan Ailee dan Gilang agar melaksanakan pernikahan di kediaman Bapak?" selidik Erlan, menatap tajam netra kelam papanya Ailee.


"Ya, karena Ailee putri saya, Mas. Putri bungsu lagi," balas laki-laki tambun tersebut yang berhasil membuat Gilang dan Erlan saling pandang dan kemudian tersenyum ditahan.


"Putri Bapak? Kalau benar Ailee itu putri Bapak, kenapa selama ini Bapak tidak pernah peduli sama dia?" cecar Erlan, membuat papanya Ailee gelagapan.


"Sa-saya, saya tidak pernah bermaksud untuk mengabaikan Ailee, Mas. Hanya saja, pekerjaan saya yang banyak membuat saya tidak memiliki waktu untuk membersamai putri bungsu saya itu," balas laki-laki berperut buncit tersebut, membela diri.


"Sibuk? Tidak dapat membersamai Ailee, tetapi Anda memiliki banyak waktu untuk kedua kakaknya? Maksud Anda bagaimana, Pak Pengacara? Apa saya yang terlalu bodoh, sehingga tidak mengerti maksud dari ucapan Anda?" Erlan menyipitkan mata, menatap sang pengacara.


Laki-laki tambun tersebut mengusap keringat dingin yang mulai membasahi keningnya. 'Sialan! Kenapa aku jadi grogi menghadapi anak-anak kemarin sore seperti mereka?'


Ya, selama ini papanya Ailee sudah sangat kenyang makan asam garam kehidupan dan menghadapi berbagai orang dengan berbagai karakter, pangkat dan masalah yang mereka hadapi.


Selama itu pula papanya Ailee yang berprofesi sebagai pengacara yang cukup diperhitungkan di ibukota, selalu dapat bersikap dengan sangat baik dan penuh percaya diri. Sebagai pengacara handal, dia juga kerap kali memenangkan kasus klien yang dibantunya.

__ADS_1


Hanya saja untuk kali ini, sepertinya dia harus mati gaya menghadapi Gilang dan Erlan. Dua pemuda yang merupakan orang terpenting di perusahaan besar GCC.


Dua pemuda yang sudah hafal dengan berbagai karakter orang yang diajak berbicara dan mereka berdua dapat menyimpulkan, bahwa papanya Ailee tidak tulus dengan permintaannya.


Ada udang dibalik bakwan dari keinginan sang pengacara yang tiba-tiba baik pada putri bungsunya tersebut.


"Maaf, Pak. Jika Anda memiliki maksud terselubung dari permintaan Anda dan Anda serta putri kedua Anda berencana untuk menggagalkan pernikahan saya dan Ailee, sebaiknya lupakan saja, Pak," ucap Gilang, mengurai lamunan laki-laki yang rambutnya mulai menipis tersebut.


Papanya Ailee mengerutkan dahi, belum paham arah pembicaraan Gilang.


"Saya tahu, Anda dan putri Anda tengah merencanakan sesuatu untuk kami, Pak. Kemarin, putri kedua Anda, Aina, dia datang ke kantin di jam istirahat siang dan menyebarkan fitnah kepada kami berdua dan saya memiliki bukti rekaman videonya." Gilang menatap sang calon ayah mertua dengan tatapan mengintimidasi.


Sama sekali tidak ada rasa hormat untuk orang tua tersebut bagi Gilang dan hal itu karena sikap papanya Ailee sendiri yang sejak awal sudah menabuh genderang perang terhadap Gilang.


"Aina? Memfitnah Nak Gilang?" tanya pengacara tersebut, terkejut.


"Itu benar, Pak Pengacara. Dan dengan bukti yang kami punya, maka putri kesayangan Anda bisa mendekam di penjara," sahut Erlan, seraya tersenyum smirk.


"Maafkan Aina, Nak Gilang. Saya sama sekali tidak tahu menahu dengan apa yang telah dia lakukan," ucapnya, nampak menyesal.


"Jadi, apakah Anda dapat menjamin jika pernikahan kami dilaksanakan di kediaman Anda, akan dapat berlangsung tanpa adanya drama?" tegas Gilang, bertanya.


"Karena calon istri saya percaya bahwa Anda telah berubah dan dia menginginkan agar saya menyetujui keinginan Anda tersebut," lanjut Gilang.


Pengacara yang kini tidak berani lagi menegakkan wajah, menganggukkan kepala. "Saya janji, Nak Gilang. Semua akan berjalan dengan lancar."


\=\=\=\=\=


Di sebuah rumah sakit yang cukup bergengsi. Aina yang sedang beristirahat, nampak sedang berbincang sambil menikmati makan siang dengan rekannya sesama dokter muda.


Keduanya terlihat sangat mesra dan sama sekali tidak memiliki rasa malu, meskipun saat ini mereka sedang makan di tempat umum, tepatnya di kantin rumah sakit.

__ADS_1


Sesekali, mereka terlihat saling menyuapi dan dengan mesra sang laki-laki akan mengusap bibir Aina dari sisa makanan.


Ya, mereka adalah sepasang kekasih dan sudah cukup lama mereka menjalin asmara.


Aina mencoba menggagalkan rencana Gilang untuk menikahi sang adik karena sang kekasih kalah jauh kekayaannya jika di bandingkan dengan Gilang dan gadis itu tidak mau kalau sampai kalah dengan Ailee yang tidak pernah dianggap kehadirannya dalam keluarga.


"Apa setelah makan siang ini, aku dapat jatah dessert, Sayang?" tanya dokter muda yang berwajah manis tersebut seraya membelai pipi Aina, ketika makanan di piring mereka telah tandas tanpa sisa.


"Nanti malam saja, ya? Sebentar lagi, aku harus mendampingi Dokter Frans untuk visit," tolak Aina dengan halus.


"Nanti malam kita bisa melakukannya lagi, Sayang. Tapi sekarang, aku lagi pengin. Paling cuma bentar aja, kok. Di tempat biasa, ya?" rajuk sang pemuda.


"Kenapa suka sekali, sih, di tempat itu? Memangnya, kamu enggak takut kalau mereka terbangun dan ikut meminta jatah?" canda Aina yang kemudian mendapatkan hadiah cubitan mesra di pipi.


"Memangnya, kamu rela kalau aku juga memberi mereka jatah?" balas dokter muda tersebut, cemberut.


"Ya enggak, sih. Pokoknya, kamu enggak boleh berhubungan dengan siapapun selain aku karena ini hanya milikku!" Aina meremas sesuatu yang tersembunyi di dalam celana kekasihnya.


Junior yang sedari tadi sudah menegang karena sang empunya lagi mode pengin dessert tersebut semakin menegang, hingga pemuda yang duduk menempel di samping Aina itu merasakan sesak di bagian celana.


"Ayo, Sayang. Kita masih punya waktu seperempat jam," ajak sang pemuda dengan tidak sabar, setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


Dokter muda berwajah manis tersebut segera menyeret pelan tangan sang kekasih setelah terlebih dahulu membayar makanan, untuk menuju tempat favorit mereka untuk terbang bersama menikmati indahnya surga dunia.


Mereka terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit, hingga sampailah mereka ke tempat yang paling sepi dan jarang sekali dikunjungi.


Setelah menengok ke kana, ke kiri dan memastikan bahwa tidak ada yang melihat mereka berdua, Aina dan sang kekasih kemudian segera masuk ke dalam ruangan sepi tersebut untuk menikmati dessert. Ruangan yang di pintunya bertuliskan 'Kamar Jenazah'.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_1


__ADS_2