Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Percayalah Padaku


__ADS_3

Ailee terus mendengarkan percakapan sang suami dan abang sepupunya, tanpa sepengetahuan Gilang. Setelah beberapa saat menguping pembicaraan sang suami, tiba-tiba tubuh Ailee limbung dan kemudian jatuh ke lantai hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Gilang dan Erlan yang berada di ruang kerja segera keluar dan mereka berdua sangat terkejut mendapati tubuh Ailee sudah tergolek di atas lantai yang dingin.


"Sayang, kamu kenapa?" Gilang terlihat sangat panik dan langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya masuk ke ruang kerja.


Gilang segera menidurkan sang istri yang matanya terpejam tersebut di atas sofa empuk. Pemuda tampan itu lalu menepuk pelan pipi sang istri untuk menyadarkan Ailee. "Sayang, bangun, Yang." Suara Gilang terdengar sangat khawatir.


"Dokter akan segera kemari. Tenanglah, Ge." Erlan yang baru saja menghubungi dokter keluarga, menepuk pelan punggung Gilang.


"Bang. Apa kira-kira istriku mendengar pembicaraan kita tadi, ya?" tanya Gilang, menduga-duga.


"Bisa jadi, Ge," balas Erlan yang juga sangat khawatir jika Ailee sampai mendengar masalah yang sangat sensitif ini. Masalah beberapa tahun silam yang belum jelas bukti kebenarannya.


Gilang memijat keningnya yang terasa berdenyut. Dia merasa sangat bersalah karena sang istri harus mendengar masalah sampah seperti ini. Apalagi yang didengar oleh istrinya itu hanya sepenggal cerita yang tidak lengkap, yang dapat menimbulkan tafsir lain bagi pendengarnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, Ge. Istrimu pasti mau mendengarkan penjelasan kita nanti," hibur Erlan yang sebenarnya juga tidak yakin. Mengingat saat ini Ailee tengah mengandung dan sejauh yang dia tahu, wanita hamil itu sangat sensitif. Dia tetap berjanji dalam hati, akan membantu Gilang meluruskan masalah tersebut dengan Ailee.


"Bang. Abang harus secepatnya mencari tahu siapa yang mengambil gambar ini lalu tanyakan pada dia apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin banget, Bang, kalau aku tidak melakukan apapun dengan wanita itu!" Gilang terlihat sangat geram melihat foto-foto dirinya yang baru saja ditunjukkan oleh Erlan.


Ya, Erlan yang bertemu dengan pengacara Nesa, mendapatkan ancaman dari pengacara tersebut bahwa mereka akan menyebarkan foto-foto mesum tersebut jika Gilang tidak membebaskan klien-nya. Pengacara itu memberikan setumpuk foto pada Erlan. Asisten Gilang itu sempat terkejut, tetapi setelah mengingat semua, Erlan sangat geram dengan ancaman pengacara Nesa.


"Jangan berani macam-macam dengan kami, Pak Pengacara! Anda tidak tahu apa-apa dengan kejadian belasan tahun lalu. Klien Anda yang bermasalah dan jika sampai kami bisa mendapatkan bukti konkrit bahwa Nesa sengaja menjebak Gilang, maka Anda akan kami tuntut balik!" ancam Erlan yang sempat membuat pengacara tersebut, tersenyum kecut.

__ADS_1


Pengacara itu tahu siapa lawannya. Namun, mengingat imbalan besar yang ditawarkan kakak Nesa dan juga hubungannya dengan wanita itu yang sudah sangat jauh, pengacara paruh baya tersebut tetap bersedia membantu Nesa. Dia tidak mau ambil resiko jika sampai Nesa membuka suara dan membeberkan hubungan gelap mereka berdua yang sudah terjalin sejak lama.


Kedatangan dokter keluarga di ruang kerja Gilang, membuyarkan lamunan Erlan. Abang sepupu Gilang itu segera menyingkir untuk memberikan ruang pada dokter, memeriksa Ailee. Erlan lalu menunggu di luar ruang kerja Gilang. Rupanya, di sana sudah ada Mama Irna dan Nenek Amira yang tadi melihat kedatangan dokter keluarga lalu ikut mendekat.


"Er, ada apa? Ailee kenapa?" cecar sang oma.


Erlan menggeleng. "Er juga belum tahu, Oma. Tadi Er sama Ge sedang ngobrol di dalam, Tiba-tiba terdengar suara dari luar. Ketika kami keluar untuk melihat, ternyata Ai sudah tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri," terang Erlan, tanpa menceritakan apa yang dia bicarakan bersama Gilang.


"Apa Ai terpeleset? Bagaimana dengan kandungannya?" Wajah Mama Irna nampak sangat khawatir.


"Kita do'akan saja yang terbaik untuk Ailee dan bayinya, Irna," tutur wanita tua yang bersahaja tersebut yang mencoba berpikir positif.


Sementara di dalam ruang kerja Gilang, dokter nampak masih memeriksa kondisi Ailee. Dokter berkaca mata itu mengerutkan dahi. "Tekanan darahnya tinggi, Mas Gilang dan ini cukup beresiko untuk ibu hamil," ucap dokter tersebut.


Gilang menghela napas berat. Dia genggam erat tangan sang istri lalu menciuminya dengan penuh rasa bersalah. Dia menyesal, kenapa bisa sampai seceroboh ini membicarakan masalah sensitif di rumah.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Dok?" tanya Gilang ketika dokter tengah menuliskan resep obat.


"Jaga emosinya dan jangan biarkan istri Mas Gilang memikirkan hal yang berat-berat," saran dokter paruh baya tersebut.


Dada Gilang terasa semakin sesak. Masalah ini membuat dia muak dan pusing di waktu yang bersamaan lalu bagaimana dengan sang istri yang sempat mendengar pembicaraannya tadi? Kepala Gilang semakin berdenyut.

__ADS_1


'Aku tidak akan membiarkan wanita ular sepertimu bebas, Nesa! Aku akan pastikan, kamu mendekam di penjara seumur hidup jika sampai hal buruk terjadi pada istri dan anakku,' ancam Gilang, dalam hati.


"Ini resep yang harus Mas Gilang tebus di apotik." suara sang dokter mengurai lamunan Gilang.


"I-iya, Dok," balas Gilang tergagap, seraya mengambil kertas resep dari tangan dokter.


"Kalau begitu saya permisi, Mas Gilang. Anda tidak perlu khawatir, sebentar lagi istri Anda pasti siuman." Sang dokter menepuk bahu Gilang sebelum meninggalkan ruang kerja yang cukup luas milik Gilang.


Gilang masih mencoba membangunkan istrinya, tetapi Ailee seolah tidak mau bangun. Wanita cantik itu masih menutup rapat matanya. Gilang semakin merasa bersalah.


"Maafkan aku, Sayang, maaf," ucap Gilang sambil menciumi kening istrinya, berharap sang istri memberikan respon.


"Ge, Ai belum sadar?" Suara sang oma, menyudahi aktifitas Gilang.


Pemuda tampan itu lalu beringsut dan beranjak untuk memberikan tempat pada sang oma yang ingin mendekat. "Belum, Oma. Ge sudah berusaha membangunkan, tetapi Ai tidak mau bangun juga," balas Gilang, lesu.


"Ma. Mama ... Ai mau ikut mama." Suara gumaman Ailee yang mengigau, membuat Gilang menitikkan air mata.


'Apa yang kamu dengar itu tidak benar, Sayang. Percayalah padaku,' batin Gilang, sendu. Perasaan bersalah menyelimuti hati Gilang.


☕☕☕ bersambung ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2