Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Putri Bungsu Kami


__ADS_3

Suasana ruang tamu yang tadinya hangat, kini menjadi sunyi. Mereka semua yang kemudian kembali duduk di sana setelah dokter datang, saling terdiam menanti hasil pemeriksaan Ailee. Dalam hati mereka memanjatkan do'a, semoga istri Gilang itu tidak kenapa-napa.


Sementara di samping bed pasien, Gilang berdiri sambil menggenggam erat tangan sang istri yang sedang diperiksa oleh dokter. Pemuda itu nampak sangat khawatir. Penyesalan kembali menyelimuti hati Gilang.


'Kamu harus kuat, Sayang. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk juga terjadi padamu,' batin Gilang, sendu.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Gilang ketika dokter wanita berusia paruh baya tersebut menatap ke arahnya. "Istri Anda hanya mengalami demam biasa, Mas. Tidak perlu khawatir karena hal ini lumrah terjadi pada wanita pasca dikuret. Rasa pusing di kepala, mual dan ingin muntah, terkadang juga disertai rasa nyeri di bagian perut dan panggul." Dokter wanita itu membetulkan letak kacamatanya.


"Nanti suster akan menyiapkan obat tambahan yang saya resepkan untuk diminum Mbak Ailee," lanjutnya, menerangkan agar kondisi Ailee cepat membaik.


Gilang menghela napas lega. Dia sangat bersyukur, tidak ada yang serius dengan kondisi Ailee. Tanpa sadar, pemuda tampan itu menciumi punggung tangan sang istri.


Dokter wanita yang berada di sisi bed pasien sebelah kiri, berdeham. "Saya sarankan agar Anda menjaga istri Anda dengan baik, Mas. Jangan perbolehkan banyak bergerak dahulu. Mbak Ailee masih harus bed rest setidaknya sampai besok," ucapnya dan Gilang mengangguk, mengerti.


"Baik, Dok. Saya pasti akan menjaga istri saya," balas Gilang.


Dokter wanita itu kemudian pamit karena masih ada pasien lain yang harus dikunjungi. Nenek Amira, Mama Irna, serta pasangan Erlan-Maida langsung masuk ke dalam ruang perawatan setelah dokter keluar. Mengekor di belakang mereka Satria dan kedua adiknya.


Mereka bertiga tetap kekeuh ikut masuk, meskipun sang oma buyut telah menyarankan agar bergantian. Supaya kehadiran mereka yang beramai-ramai tidak mengganggu istirahat istri Gilang. Namun, kekhawatiran mereka terhadap istri omnya, membuat Satria, Kukuh, dan Reno tetap ikut masuk ke dalam.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Ge? Apa Ai belum sadar?" cecar sang oma yang nampak begitu khawatir.


Gilang menggelengkan kepala. "Belum, Oma." Dia lalu menjelaskan hasil pemeriksaan dari dokter tentang kondisi sang istri.


"Alhamdulillah jika dia tidak apa-apa dan hanya demam biasa. Semoga Ai segera sadar," tutur sang oma dengan perasaan lega. Wanita tua yang sudah jatuh hati pada kepribadian Ailee semenjak pertama kali bertemu itu lalu mengusap kepala Ailee dengan penuh rasa sayang.

__ADS_1


Terdengar suara ponsel Maida berdering dari arah luar, istri Erlan itu segera menuju ruang tamu untuk mengambil ponsel yang dia tinggal di atas meja. Erlan mengekor sang istri, setelah pamit pada sang oma dan Mama Irna. Maida yang langsung melihat layar ponsel lalu tersenyum.


"Mommy, Bang," ucap Maida yang kemudian menerima panggilan telepon dari sang mommy.


"Oh, iya, Mom. Baik, Mai akan tunggu Mommy di luar."


Daddy dan mommy sudah sampai, Bang. Kita tunggu di luar, yuk," ajak Maida, setelah menutup teleponnya.


Selasa suami istri yang terpaut usia cukup jauh itu lalu keluarga dari ruang perawatan Ailee untuk menunggu sang mommy dan daddynya. Tidak berapa lama kemudian, nampak dua orang tua paruh baya mendekat. Erlan dan sang istri segera menyambut kedua orang tua tersebut.


"Bagaimana kabar istri Nak Gilang, Nak Erlan?" tanya wanita anggun itu setelah Erlan dan sang istri mengalaminya.


"Ailee baru saja diperiksa oleh dokter, Mom, karena tadi dia tiba-tiba pingsan," balas Erlan, membuat mommynya Maida nampak khawatir. Melihat kekhawatiran sang ibu mertua, Erlan lalu menjelaskan bahwa istrinya Gilang mengalami demam.


"Masuk dulu, yuk, Mom, Dad," ajak Maida. Mereka kemudian duduk di ruang tamu.


"Keluarga Nak Ailee, belum ada yang ke sini?" tanya Mommy Billa.


Maida menggelengkan kepala. Erlan lalu menceritakan sekilas tentang keluarga Ailee pada kedua mertuanya. "Begitulah, Mam. Kakak pertama Ai juga pastinya repot, jadi Gilang memang sengaja tidak mengabarkan pada kakak iparnya," terang Erlan.


Mommy Billa sempat meneteskan air mata, mendengar kisah tentang Ailee. "Kasihan sekali dia," tuturnya, lirih.


"Sat, apa Ai udah sadar?" tanya Erlan, ketika melihat ketiga keponakannya keluar dari ruang rawat Ailee.


"Sudah, Om. Baru saja," balas Satria, setelah menyalami kedua orang tua Maida dengan takdzim.

__ADS_1


"Mom, Dad, mari kita ke dalam," ajak Erlan, kemudian.


Melihat ada tamu yang datang, Nenek Amira segera beranjak dari bangku di samping ranjang Ailee. Begitu pula dengan Mama Irna yang duduk di tepi bed pasien.


"Nak Billa, Nak Rehan. Silakan duduk." Nenek Amira mempersilakan kedua orang tua Maida untuk duduk di bangku yang tadi beliau tempati.


"Oma. Silakan Oma saja yang duduk. Tidak mengapa kami berdiri," tolak mommynya Maida, seraya tersenyum hangat. Namun, sang oma memaksa sehingga Mommy Billa kemudian duduk di tempat Mama Irna.


"Silakan Oma saja yang duduk," pinta Daddy Rehan yang ingin berdiri menemani Gilang.


"Nak Gilang, bagaimana keadaan istrimu?" tanya laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya yang tidak lagi muda.


"Badannya demam, Om, dan tadi sewaktu di kamar mandi, tiba-tiba tidak sadarkan diri," terang Gilang, "tapi barusan sudah diperiksa sama dokter dan Alhamdulillah Ai hanya demam biasa," lanjutnya sama persis seperti yang sudah dijelaskan oleh Erlan dan daddynya Maida itu mengangguk-angguk.


Daddy Rehan lalu menepuk pelan pundak Gilang. "Kami turut prihatin atas kejadian yang menimpa Nak Ailee dan Nak Gilang. Yakinlah, Allah memiliki rencana indah untuk kalian berdua. Sabar dan berprasangka baik dengan takdir-Nya, InsyaAllah kalian akan segera mendapatkan ganti," tuturnya, bijak.


"Kami juga mengucapkan terima kasih pada Nak Ailee. Sebab, lantaran istri Nak Gilang Mai dan suaminya terhindar dari musibah. Hanya saja yang kami sesalkan, Nak Ailee harus mengalami kejadian seperti ini," lanjutnya, seraya menatap Ailee dan istrinya Gilang itu tersenyum lalu menggeleng pelan.


"Tidak mengapa Om. Semua sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa," balas Ailee, tulus. Membuat Mommy Billa semakin salut dengan istri belia Gilang tersebut.


Mommynya Maida itu mengusap punggung tangan Ailee penuh rasa sayang. Mommy cantik itu teringat dengan cerita Erlan dan Mommy Billa merasa iba pada wanita muda yang tergolek lemah di atas ranjang. "Yang sabar ya, Nak." Hanya kalimat itu yang mampu terucap karena dada Mommy Billa terasa sesak, mengetahui kisah pahit Ailee.


"Iya, Tante," balas Ailee seraya tersenyum tulus.


Mommy Billa menggelengkan kepala. "Jangan panggil tante karena mulai sekarang, kamu anak Mommy dan Daddy. Kamu, Mai dan Mela adalah putri bungsu kami."

__ADS_1


Maida langsung memeluk sang mommy dengan wajah yang berbinar bahagia. "Jadi, putri kembar bungsu Mommy dan Daddy ada tiga sekarang, ya."


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2