
Kakak kedua Ailee keluar, dengan memasang wajah masam. Gadis itu memindai penampilan sang adik bungsu, dari atas hingga ke bawah.
'Gila, dapat duit darimana dia bisa memakai barang branded seperti itu? Apa, om-om yang bersama Ai adalah om-om kaya dan Ai menjadi simpanannya?'
"Kak, apa kabar?" sapa Ailee hendak mendekat, tetapi secepat kilat sang kakak mengisyaratkan dengan tangan agar Ailee tetap di tempatnya.
"Yang sabar ya, Non," bisik bibi asisten yang masih berada di sana.
Ailee tersenyum pada asisten di kediaman orang tuanya tersebut dan kemudian menyerahkan parcel buah kepada wanita itu.
"Tolong bawa ke dalam ya, Bi," pinta Ailee, sopan.
Asisten rumah tangga itu mengangguk dan kemudian segera berlalu masuk ke dalam rumah yang cukup megah tersebut.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Ai. Mau ngapain kamu pulang? Mau pamer, hem, kalau kamu sudah berhasil menjadi simpanan om-om kaya?" tanya gadis yang usianya selisih lima tahun dengan Ailee, sinis.
Mendengar kata-kata kasar kakak Ailee, Gilang nampak geram dan bermaksud membalas ucapan pedasnya, tetapi gadis berhijab yang bersamanya mencegah dengan isyarat gelengan kepala.
"Siapa, Na?" Suara berat seorang laki-laki, terdengar bertanya dari arah dalam.
"Ai, Pa," balas Aina seraya menatap sang adik, masih dengan tatapan sinis.
Seorang laki-laki paruh baya berkumis tebal, keluar sambil berdeham.
Ailee segera mendekati papanya dan kemudian salim dengan laki-laki yang merupakan papa kandungnya tersebut.
"Papa sehat?" Pertanyaan yang merupakan bentuk perhatian dari seorang anak kepada orang tuanya itu, diabaikan oleh papanya Ailee.
Membuat wajah Ailee menjadi mendung dan gadis belia itu kemudian mundur, untuk kembali ke sisi Gilang.
Ya, papanya Ailee bersikap dingin saja, ketika sang putri menyalami dan menanyakan kabar kesehatannya. Sama sekali tidak terlihat adanya kedekatan ataupun ikatan batin di antara mereka berdua.
Sepertinya kebencian telah mematikan hati dan perasaan laki-laki berwajah sangar tersebut, sebagai seorang ayah bagi Ailee.
Gilang yang menyaksikan semuanya, menelan ludah getir. Rasa iba menyambangi hati pemuda tampan tersebut, akan takdir hidup yang harus dijalani sang calon istri selama ini.
'Kamu benar-benar gadis yang luar biasa, Ai. Sama sekali tidak terlihat ada dendam di hatimu, meski kamu sudah diperlakukan dengan sangat tidak adil oleh keluargamu,' batin Gilang, sendu.
__ADS_1
Gilang kemudian menggenggam tangan Ailee, untuk menunjukkan pada orang tua dan kakak kandung Ailee, bahwa masih ada dia yang akan menjaga dan menyayangi gadis cantik itu.
"Ada keperluan apa, datang kemari?" tanya papanya Ailee, seraya menatap Gilang.
Sebagai seorang pengacara kondang yang sudah terbiasa menghadapi banyak orang, laki-laki itu dapat menebak bahwa pemuda yang datang bersama Ailee, pastilah memiliki tujuan.
"Perkenalkan, Pak. Nama saya, Gilang. Kedatangan saya kemari, untuk meminta restu Bapak karena kami akan segera menikah," ucap Gilang, tegas.
Pemuda yang masih berdiri itu menyampaikan tujuannya, dengan penuh percaya diri.
Papanya Ailee memicingkan mata, memindai penampilan Gilang dari atas hingga ke sepatu mengkilapnya.
"Apa, mau menikahi adik bungsu kami? Apa kami tidak salah dengar?" tanya seorang wanita yang baru saja masuk.
"Mari-mari, silakan duduk dulu," ajak kakak pertama Ailee yang seusia Gilang, dengan cukup ramah.
Sikap putri tertua yang sudah memiliki satu anak tersebut, membuat sang papa dan putri keduanya, bertanya-tanya.
"Pa, sepertinya pemuda yang bersama Ailee orang kaya raya, Pa. Mobilnya aja mobil mewah seri terbaru dan limited edition pula. Mobil tersebut hanya dimiliki oleh segelintir orang saja di negeri ini, Pa," terangnya seraya berbisik, setelah semua orang duduk di sofa.
Gilang melirik heran ke arah ayah dan anak tertua tersebut. 'Apa yang mereka rencanakan, ya?'
Gilang yang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter orang, menduga-duga dan mulai waspada.
'Takkan kubiarkan kalian menyakiti Ailee-ku kembali,' tekad Gilang. Pemuda tampan itu kembali meraih tangan Ailee dan kemudian menggenggamnya erat.
Ailee tersenyum menatap Gilang. Perasaan bahagia menyelinap di hati Ailee, mendapatkan perlakuan manis dari sang calon suami.
"Kamu mau menikahi Ailee? Apa kamu tidak salah?" tanya laki-laki paruh baya tersebut, seraya menatap Gilang.
"Benar, Pak. Saya akan menikahi putri bungsu Bapak. Untuk itulah kami datang kemari hendak meminta restu sekaligus meminta kerelaan Bapak untuk menjadi wali bagi Ailee di pernikahan kami," terang Gilang dengan gamblang.
Laki-laki berwajah sangar tersebut menggeleng tegas.
"Di keluarga kami, tidak boleh ada yang dilangkahi. Kakak kedua Ailee, Aina, dia belum menikah." Sang papa menatap putrinya yang calon dokter itu.
"Jika kamu menginginkan menikahi putriku, maka nikahi Aina," lanjutnya, membuat netra indah Ailee membulat sempurna.
__ADS_1
"Tidak, Pa! Mas Gilang calon suami Ailee dan Ailee tidak akan membiarkan apa yang menjadi milik Ailee, diambil oleh Kak Aina seperti yang sudah-sudah!" Tak disangka, gadis belia yang pembawaannya lembut tersebut, bisa berkata dengan tegas.
"Selama ini Ailee diam, bukan berarti Ailee kalah. Akan tetapi Ailee mengalah karena tidak ingin ada keributan di antara kami dan untuk kali ini, Ailee akan mempertahankan calon suami Ailee," lanjutnya.
Gilang tersenyum bangga, melihat keberanian sang calon istri. Sekaligus sangat bahagia karena Ailee mengakui dirinya sebagai calon suami dan milik gadis berhijab itu.
Gilang semakin mengeratkan genggaman tangannya, membuat Ailee semakin percaya diri dan berani melawan kedzoliman keluarganya.
"Ailee benar, Pak. Saya calon suami Ailee dan hanya akan menikah dengan putri bungsu Bapak, bukan yang lain!" timpal Gilang, tegas.
"Jika kamu menolak menikahi Aina, maka tidak ada restu untukmu dan dia!" Laki-laki berkumis tebal tersebut menatap marah pada Ailee.
Aina pun terlihat sangat geram karena merasa ditolak oleh pemuda yang datang bersama sang adik.
'Apa lebihnya Ai, coba, dibanding aku? Dasar, pemuda buta! Tidak bisa melihat mana gadis cantik dan berpendidikan tinggi dan mana yang hanya seorang buruh!'
Ya, Aina mengetahui bahwa sang adik bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Begitulah informasi yang dia dapat dari asisten rumah tangga yang mengasuh Ailee, setelah adik bungsunya itu memutuskan untuk pergi dari rumah beberapa bulan yang lalu.
"Pa, Ai mohon?" Ailee bersimpuh, di kaki sang papa. Memohon kemurahan hati papanya yang telah membatu.
Gilang yang ingin mencegah, terlambat menahan tangan sang calon istri. Akhirnya pemuda itu hanya dapat menatap iba, ketika Ailee memohon-mohon di kaki sang papa.
Aira, kakak tertua Ailee nampak berbisik pada Aina. Aina tersenyum mendengarkan saran dari sang kakak.
Kakak kandung Ailee yang calon dokter itu kemudian mendekati papanya dan membisikkan sesuatu.
Gilang mengerutkan dahi, melihat drama keluarga tersebut.
"Baik, Ai. Papa akan merestui hubungan kalian, asalkan ...."
"Asalkan apa, Pak?" sahut Gilang, bertanya. Perasaan pemuda itu tiba-tiba saja tidak nyaman.
"Asalkan Ailee mau berbagi suami dengan kakaknya, Aina."
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1