Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Tentang Sebuah Nama


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Ailee meminta pada sang suami untuk berkunjung ke rumah orang tuanya terlebih dahulu karena sudah beberapa hari ini mereka berdua tidak ke sana. Seperti biasa, Gilang akan menuruti apapun keinginan sang istri tercinta. Mobil yang dikendarai pemuda tampan itu terus melaju, membelah jalanan ibukota yang sudah mulai padat merayap.


Sore hari, seperti biasa semua ruas jalan ibukota akan diwarnai kepadatan bahkan kemacetan. Para pengguna jalan itu berlomba untuk bisa sampai di rumah lebih awal, setelah seharian bekerja dan kelelahan. Mereka saling mendahului dan saling menyalip untuk menjadi yang terdepan.


"Mau mampir dulu enggak, Yang?" tawar Gilang sambil menoleh ke arah sang istri ketika mobil mereka berhenti di lampu merah.


"Mampir ke toko buah yang dekat sama komplek perumahan aja, Mas. Ai mau beliin buah-buahan untuk orang rumah," pinta Ailee.


"Hanya itu?" tanya Gilang, memastikan.


Ailee mengerutkan dahi, sejenak berpikir lalu mengangguk. "Iya, Mas. Kenapa?"


"Enggak mau beliin mainan baru buat Dika," balas Gilang.


"Enggak usah, lah, Mas. Mainan dia udah banyak," tolak Ailee.


"Makasih ya, Mas. Mas Gilang udah perhatian banget sama keluarga Ai," lanjutnya, sesaat kemudian.


"Mereka keluargamu, Sayang, dan itu artinya, mereka juga keluargaku, kan?" Gilang mengambil tangan sang istri lalu menggenggamnya erat.


Ailee tersenyum dan kemudian menyandarkan kepala di bahu sang suami. "Ai bersyukur banget memiliki suami seperti Mas."


Gilang mengecup punggung tangan sang istri. "Aku lebih bersyukur, Sayang. Kamu telah merubah cara pandangku terhadap wanita," balasnya.


Mobil yang dikendarai Gilang kembali melaju setelah lampu merah telah berganti warna hijau. Dia menambah kecepatan laju kendaraannya ketika jalanan mulai lancar. Setelah beberapa saat melaju, Gilang membelokkan mobilnya ke toko buah yang dimasukkan sang istri.


Sepasang suami-istri itu lalu turun. Gilang dengan setia menemani sang istri berbelanja buah-buahan dan siaga untuk membawakan belanjaan istrinya. Ya, semenjak mengetahui istri tercinta hamil, Gilang tidak membiarkan Ailee membawa barang-barang yang berat. Pemuda tampan itu sangat protektif terhadap istri dan calon anak mereka.

__ADS_1


"Yang, beli buah yang untuk rujak, ya. Aku pengin rujak," pinta Gilang ketika Ailee tengah memilih-milih anggur.


"Rujak? Mas mau rujak?" tanya Ailee memastikan. Dahi wanita cantik itu sampai berkerut dalam. Pasalnya, dia yang hamil saja sedang tidak menginginkan rujak sekarang, tetapi sang suami malah menginginkannya.


"Iya, Sayang. Enggak tahu, tiba-tiba pengin aja," balas Gilang seraya menelan air liur, membayangkan rujak buah dengan bumbu buatan sang istri tercinta ada di depan mata.


"Baiklah, nanti Ai buatkan untuk Mas," ucap Ailee. "Mau yang keasinan kayak kemarin waktu di tempat keluarga Mai atau ...."


"Jangan ngeledek, Yang! Aku beneran enggak tahu kalau bumbu rujak seperti itu garamnya tidak perlu banyak-banyak," protes Gilang karena sang istri mengingatkannya dengan bumbu rujak gagal buatannya, kala itu.


"Enggak ngeledek, Mas," balas Ailee seraya tersenyum dikulum.


"Udah, yuk! Ini udah cukup kayaknya," ajaknya kemudian setelah memastikan buah kesukaan masing-masing anggota keluarga, sudah masuk ke dalam keranjang yang dibawa sang suami.


Ailee segera berjalan menuju kasir. Gilang mengekor di belakang sang istri sambil membawa keranjang yang sudah penuh dengan buah-buahan segar. Setelah membayar tagihan, mereka berdua segera keluar dari toko buah tersebut untuk melanjutkan perjalanan.


Jarak rumah orang tua Ailee yang sudah tidak terlalu jauh dari toko buah, membuat suami-istri itu tiba di sana lima menit kemudian. Ailee dan Gilang langsung masuk ke dalam setelah mengucapkan salam. Seperti biasa, salam mereka yang tidak terdengar oleh penghuninya yang berada di belakang, membuat sang papa terkejut sekaligus bahagia melihat kedatangan sang putri bungsu bersama suaminya.


"Mereka berdua tidak ke sini juga baru tiga hari, Pa. Kayak sudah berminggu-minggu atau berbulan-bulan saja, Papa, nih," sahut Aira yang baru masuk dan mendengar perkataan sang papa.


Mantan pengacara arogan itu tersenyum. "Papa lupa, Nak. Rasanya, seperti sudah lama."


"Papa, tuh, nanyain kamu terus, Dik. Kangen katanya kalau sehari aja tidak ketemu sama kamu," terang Aira seraya menatap sang adik bungsu.


"Maaf ya, Pa. Ai 'kan kemarin sudah pamit sama Papa kalau Ai dan Mas Gilang harus pergi ke acara pertunangan Bang Erlan," ucap Ailee seraya mengusap punggung sang papa.


Ya, selama ini Ailee selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi sang papa meskipun hanya sebentar. Dia ingin menikmati momen kebersamaan dengan orang tua yang dipanggilnya papa. Momen yang tidak dapat dia nikmati sebelum kejadian buruk menimpa keluarganya.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya yang kini duduk di kursi roda itu, menganggukkan kepala. "Iya, Nak. Papa suka lupa sekarang," balas sang papa.


"Ayo-ayo, kita ngobrol di halaman belakang," ajak Aira sambil membawakan makanan untuk Dika yang sedang bermain di tempat favorit keluarga tersebut.


Ailee mendorong kursi roda sang papa, tetapi baru dua langkah dan langsung diminta oleh Gilang. "Biar aku aja, Yang."


Ailee tersenyum. Perhatian-perhatian kecil seperti itu yang selalu bisa membuatnya semakin cinta pada sang suami. Ailee lalu mengikuti langkah sang suami menuju halaman belakang.


Mereka pun terlibat obrolan yang hangat. Termasuk Gilang yang sesekali ikut menimpali sambil menikmati rujak buah buatan sang istri. Obrolan yang kadang diselingi dengan tawa karena ulah Dika yang lucu.


Tanpa terasa, sang surya semakin merangkak naik menuju peraduan. Menyisakan semburat warna jingga di ufuk barat. Ketika Ailee dan Gilang hendak pamit, bertepatan dengan Sindu yang baru saja pulang kerja di kantor Gilang.


"Dik. Kalian udah lama? Kok udah mau pulang?" sapa dan tanya Sindu setelah menyambut uluran tangan sang istri.


Hubungan Sindu dan Aira memang perlahan mulai membaik dan hangat. Bukan lagi hanya semata-mata karena Dika, tetapi juga karena rasa butuh satu sama lain. Keduanya sama-sama bisa saling memaafkan dan bisa menerima kembali pasangan dengan segala perilaku buruknya kemarin.


"Lumayan lama, Mas," balas Ailee.


"Oh ya, Dik Gilang. Tadi ada tamu yang mencari Dik Gilang. Katanya dari pengacaranya Nesa," ucap Sindu.


"Nesa?" Gilang mengerutkan dahi, mengingat-ingat nama yang disebutkan Sindu barusan.


"Tadi, Mas Erlan juga sempat ketemu sebentar sama orang itu. Untuk lebih jelasnya, Dik Gilang bisa tanyakan langsung pada Mas Erlan," lanjut Sindu.


"Iya, Mas. Makasih informasinya," balas Gilang.


Gilang nampak masih mengingat-ingat nama tersebut. Ailee yang teringat dengan nama Nesa lalu membuka suara, "kalau tidak keliru, dia anak tirinya Bu Kasih, Mas. Anak yang tega mencelakai orang tua demi mendapatkan uang."

__ADS_1


Gilang mengangguk-anggukkan kepala. "Ya, kamu benar, Yang, dan aku sepertinya tidak asing dengan nama itu," balas Gilang yang kembali berpikir dengan serius, tentang sebuah nama yang cukup familiar di telinganya. Nesa.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2