
Erlan awalnya ingin mengajak sang istri pulang ke kediaman mereka sendiri yang belum lama ini sudah selesai renovasinya. Hunian yang Erlan beli untuk sang istri sebagai kado pernikahan. Hunian yang masih satu komplek dan tidak jauh dari kediaman Gilang.
Akan tetapi, Maida menolak karena merasa belum siap dan belum terbiasa hidup tanpa keramaian. Di rumah orang tua Maida pun suasananya sangat ramai dan selalu meriah. Sama seperti di kediaman adik sepupu Erlan yang selalu ramai dengan celoteh ketiga keponakan.
Setelah satu minggu menjalani pemulihan di rumah sakit, Maida akhirnya diperbolehkan pulang. Tentu saja istri belia Erlan itu sangat lega karena bisa lebih leluasa bertemu dan berkumpul dengan keluarga, meskipun di rumah sakit pun keluarga besarnya bergantian berkunjung. Kehadiran Maida dan kedua bayi kembar Erlan tersebut, disambut dengan suka cita oleh Ailee yang merasa sangat senang karena memiliki teman seperjuangan.
Ya. Mereka berdua masih sama-sama belia dan sudah memiliki anak. Buka cuma satu, tetapi kembar. Bayi Ailee bahkan kembar tiga. Maida dan Ailee juga sepakat akan memberikan asi eksklusif pada bayi-bayi mereka.
"Selamat ya, Kak Mai. Ai seneng banget, deh, Kak Mai masih mau tinggal di sini," ucap Ailee setelah melepaskan pelukan.
Ailee kemudian mendekati salah satu bayi Maida yang digendong baby sitter-nya. "Ini yang Aline, ya?" tebak Ailee menilik dari bedong motif bunga berwarna pink yang dipakaikan pada bayi perempuan cantik tersebut.
"Cantik banget, Aline. Ah, aku mau baby seperti ini." Ibu tiga anak itu menciumi putri Maida dengan gemas, membuat Gilang tersenyum dikulum.
"Kalau mau, nanti kita bikin lagi, Yang, jika kamu sudah bersih. Kita pakai gaya lain agar memiliki bayi perempuan kembar tiga sekaligus, seperti abang-abangnya," ucap Gilang tanpa dosa, meskipun di sana ada keponakan-keponakannya.
__ADS_1
Sontak saja, Erlan menyikut perut Gilang. "Hati-hati kalau bicara, Ge!"
"Om, memangnya bayi laki-laki dan perempuan, gaya bikinnya beda, ya?" tanya Kukuh, tepat di saat Erlan selesai mengingatkan Gilang.
Pertanyaan Kukuh, membuat Erlan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Gilang tertawa tanpa bersuara. Ailee dan Maida, hanya geleng-geleng kepala.
"Beda, Dik. Kembar kayak baby Alka dan baby Aline juga beda," sahut Satria, sok tahu.
"Sudah-sudah. Biarkan Mai masuk dulu! Ini ada orang baru datang dari rumah sakit malah dihadang dan diajak ngobrol yang tidak penting seperti ini." Suara sang oma yang baru saja keluar, menyudahi obrolan tidak penting tersebut.
Mereka semua lalu masuk ke dalam, meninggalkan Kukuh yang sepertinya masin diliputi rasa penasaran. Reno yang menyadari bahwa abang sepupunya tertinggal, memundurkan langkah lalu menarik tangan sang abang. "Jangan bengong sendirian di luar, Bang Kuh. Nanti Abang bisa kesambet Kunti karena biasanya, Kunti akan hadir ketika mencium aroma bayi yang belum lama hadir," ucapnya menakut-nakuti sang abang karena Kukuh terkenal penakut.
Ulah kedua remaja tersebut, membuat semua orang geleng-geleng kepala. "Itu baru dua, bagaimana nanti kalau baby ABC dan baby Alkaline sudah besar?" Sang oma tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana keriuhan rumah besar tersebut.
"Kalau mereka sudah besar dan bergabung, bakalan power full, Oma. Kayak petir dan guntur gitu, menggelegar dan bersahut-sahutan," sahut Satria yang kemudian mendapatkan sentilan dari kedua omnya.
__ADS_1
"Enak aja, ngatain anak kami petir dan guntur!" protes Gilang.
"Lalu apaan, kalau ramai?"
"Syair dan nada, Sat," sahut Erlan dengan asal dan mereka semua lalu tertawa bahagia.
☕☕☕ Happy End ☕☕☕
Ini benar-benar End, yah...
Kemarin, mau aku pencet Taman, lupa 🤦♀️
Untuk pemenang GA, seperti dalam novel Pesona Sang Janda, akan aku umumkan di akhir bulan di lapak ini 😊🙏
So, pantengin terus, yah, notifnya 🥰
__ADS_1
makasih untuk kalian semua yang sudah setia menemani Ailee dan Gilang sampai akhir 🤗🙏🙏
Yang belum mampir ke karya baruku MENJADI CANDU GURUKU, mampir, yah 🥰🙏