Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Mulutnya Kotor!


__ADS_3

Ailee yang baru turun dari mobil mewah milik orang nomor satu di perusahaan tersebut, berseru memanggil nama teman baiknya.


"Etik! Tunggu!" Gadis itu berlari kecil, menghampiri Etik yang kemudian menghentikan langkah begitu mendengar namanya dipanggil.


Ailee tidak menghiraukan semua orang yang melihat dirinya dengan tatapan heran, ketika mengetahui gadis berhijab tersebut turun dari mobil mewah milik sang bos.


"Apa kamu sudah membawakan seragam dan ID card-ku? Tadi Pak Erlan sudah menelepon kamu, kan?" tanya Ailee pelan agar tidak didengar oleh orang, memastikan.


Etik mengangguk dan kemudian memberikan paper bag berukuran besar yang berisi barang-barang milik Ailee, kepada sang empunya.


Ya, pagi ini, Erlan tidak jadi mengantar Ailee ke mess terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang sesuai janjinya kemarin karena pemuda itu tidak mau jika sampai kehadiran dirinya dan Gilang yang mengantarkan gadis belia tersebut ke mess, akan menjadi masalah bagi Ailee ke depannya.


Sebagai gantinya, Erlan memerintah sang sekretaris untuk mencari nomor Etik, teman baik Ailee, dan kemudian dia sendiri yang menelepon gadis hitam manis itu untuk membawakan barang-barang milik Ailee yang masih tertinggal di mess.


Rupanya, perkiraan Erlan salah besar.


Meskipun dirinya tidak jadi mengantarkan Ailee ke mess, tapi kedatangan gadis yang selalu ceria tersebut ke kantor bersama Erlan dan Gilang, dengan cepat menyebar dan menjadi buah bibir di kalangan karyawan.


"Kamu berangkat bareng Pak Erlan?' Etik yang sempat melihat Ailee turun dari mobil mewah, bertanya setelah keduanya tiba di ruangan mereka.


Ailee hanya mengangguk seraya tersenyum dan kemudian segera mengambil seragam dari paper bag yang tadi dibawakan oleh Etik.


"Aku ganti baju dulu, ya," pamit Ailee seraya berlalu menuju kamar kecil.


Etik yang sudah diberi tahu oleh Ailee kemarin, bahwa mulai saat itu juga Ailee harus tinggal bersama nenek yang ditolongnya, yang ternyata adalah neneknya Erlan, tidak banyak bertanya.


Etik juga ikut senang, jika Ailee senang dengan keluarga barunya itu.


Setelah berganti pakaian dengan seragam karyawan, Ailee dan Etik kemudian mulai bekerja.


"Yuk, Ai, semangat!" ucap Etik seraya tersenyum lebar.


"Semangat!" balas Ailee, berseru.


Ya, kedua teman baik itu memang selalu saling menyemangati.


Mereka berdua adalah karyawan out sourcing yang diperbantukan di divisi umum, tepatnya di bawah General Affair atau GA.


Ailee yang sudah mulai bekerja, seperti biasa akan menyapa dengan ramah siapa saja yang gadis itu temui.

__ADS_1


Begitu pula dengan pagi ini. Tidak ada yang berubah dengan sikap gadis belia tersebut.


Meskipun saat ini dirinya sudah tinggal di rumah mewah dan dijodohkan dengan seorang pemuda yang juga bekerja di perusahaan yang sama dan memiliki kedudukan sama tinggi dengan Erlan, begitulah sejauh ini yang Ailee ketahui, dia tetaplah sosok yang ramah dan periang.


"Pakai pelet apa, sih, dia? Sampai bisa satu mobil sama big bos!" Suara Talita yang merupakan orang penting di divisi umum, terdengar mengejek.


"Tahu, tuh! Ngemis-ngemis kali dia!" sahut Risma yang juga karyawan di divisi umum dan sedang merapat ke meja Talita karena ada keperluan.


Kedua wanita ambisius itu yang kemarin menghina omanya Gilang, sebelum Ailee datang dan kemudian mengakui wanita tua tersebut sebagai neneknya.


Benar saja ... bukan hanya menjadi buah bibir, kedatangan Ailee yang satu mobil dengan bos perusahaan tersebut bahkan menjadi trending topic dalam setiap pembicaraan orang-orang di kantor, terutama kaum hawa yang mengejar-ngejar perhatian bos besar pemilik perusahaan GCC yang terkenal galak dan dingin, yaitu Gilang.


Ailee yang baru saja mengantarkan berkas ke meja Talita, menghentikan langkah ketika hendak berlalu dan mendengar kata-kata dua wanita yang merupakan seniornya.


"Nih, dia pe*rek-nya big bos!" Talita mencibir seraya menunjuk Ailee dengan dagunya.


"Kecil-kecil, pro juga ternyata dia!" timpal Risma, dengan wajah masam.


"Maaf, maksud Mbak Tata dan Mbak Riris, apa ya?" tanya Ailee yang benar-benar tak mengerti.


"Alah, jangan sok polos kamu! Kamu pasti merayu Pak Erlan dan Pak Gilang, kan? Dan karena itulah pagi ini kamu bisa semobil dengan beliau berdua?" tuduh Risma.


"Maaf, Mbak. Ai benar-benar tidak tahu apa maksud, Mbak Riris."


"Najis, kamu! Berhijab tapi kelakuan tak lebih baik dari ja*lang di pinggir jalan!" ketus Talita, menghina.


Ailee yang benar-benar tidak mengetahui arah pembicaraan kedua wanita yang merupakan seniornya itu hanya bisa menelan saliva getir, mendapati dirinya dikata-katai dengan pedas dan tanpa perasaan.


"Mbak, Ai ...."


"Sudah-sudah! Kerja yang benar sana!" usir Talita, memotong perkataan Ailee ketika wanita itu melihat Erlan melintas di depan ruangan divisi umum yang pintunya tidak tertutup.


Talita tidak mau jika sampai berurusan dengan orang nomor dua di perusahaan tersebut, kalau ketahuan dirinya sedang menginterogasi Ailee.


Gadis itu pun melanjutkan pekerjaannya dengan menyimpan luka karena ocehan Talita dan Risma, yang menggores hatinya.


"Merayu Pak Erlan, Pak Gilang? Bertemu sama Pak Gilang saja, aku belum pernah," gumam Ailee sambil berjalan menuju ke ruangan lain, untuk mengantarkan alat tulis kantor yang diminta oleh staf di divisi keuangan.


"Ai, kenapa?" tanya Erlan yang kebetulan melihat Ailee berjalan sambil melamun.

__ADS_1


Ailee menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara.


"Pak Erlan," sapa Ailee, formal.


"Maaf. Di jam istirahat siang nanti, apa Pak Erlan ada waktu? Ada yang akan saya tanyakan." Ailee memberanikan diri untuk bertanya dan meminta waktu pada kakak sepupu Gilang tersebut, agar semuanya lebih jelas.


Erlan mengerutkan dahi. "Mengenai, apa?"


Ailee mengedarkan pandangan, tak ingin ada orang lain yang melihat dirinya sedang berbicara dengan asisten kepercayaan bos besar perusahaan tempatnya bekerja itu.


Apa yang Ailee harapkan, tak terjadi karena tentu saja banyak yang melihat, sebab mereka berbicara di tempat terbuka. Di koridor yang banyak lalu lalang para karyawan.


"Kenapa? Katakan saja?" desak Erlan.


Ailee menggeleng. "Maaf, Pak Erlan. Saya sedang bekerja, jadi nanti saja kita bicarakan ini." Gadis itu menunjukkan barang-barang yang dia bawa, yang harus segera diantarkan ke ruangan divisi keuangan.


"Hem, baiklah. Aku tunggu di ruanganku di jam makan siang nanti," pungkas Erlan akhirnya, menyetujui keinginan Ailee.


Ailee segera meneruskan langkah, menuju ke ruangan yang sudah tampak di depan mata. Sementara Erlan langsung menuju ruang monitor, untuk melihat apa yang baru saja terjadi pada calon istri Gilang. Hingga mata indah gadis belia tersebut menunjukkan kesedihan, begitulah yang barusan dapat ditangkap oleh Erlan.


Setibanya di ruang monitor, Erlan segera menyuruh petugas yang berjaga di sana untuk memutar CCTV yang berada di divisi umum.


"Mundurkan mulai dari jam kerja tadi," pinta Erlan yang sudah duduk di kursi yang menghadap ke layar monitor.


"Siap, Pak," balas pemuda tersebut, sigap.


Jari pemuda seusia Erlan itu bergerak cepat, untuk mencari apa yang diminta oleh orang nomor dua di perusahaan.


"Yang ini 'kan, Pak?" tanya pemuda tersebut, memastikan.


Erlan melihat Ailee masuk ke ruang divisi umum bersama Etik, teman baik gadis belia itu.


Asisten pribadi sekaligus kakak sepupu Gilang tersebut tersenyum, melihat sikap ceria Ailee yang sedang menyapa karyawan lain yang baru saja datang dan kemudian menempati meja masing-masing.


Senyum itu tiba-tiba menghilang setelah Erlan melihat kejadian yang baru saja Ailee alami. Wajah yang biasanya ramah dan full senyum tersebut, kini diliputi amarah.


"Kurang ajar! Mereka berdua yang ja*lang dan mulutnya kotor!"


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1



__ADS_2