Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Membuat Harimu Menjadi Lebih Indah


__ADS_3

Semenjak hari itu, setelah berpamitan dengan teman-temannya di kantor, juga pada teman baiknya, Etik, Ailee tidak lagi pergi ke kantor milik Gilang.


Gadis itu menghabiskan hari-harinya bersama Nenek Amira, omanya Gilang, dengan berbagai kegiatan positif yang disarankan oleh wanita tua tersebut.


Sang oma mendampingi Ailee mengikuti kursus kepribadian, agar gadis belia itu tidak merasa malu atau minder jika nantinya mendampingi Gilang bertemu dengan rekan bisnisnya.


Dia juga melakukan berbagai perawatan, mulai dari ujung rambut, hingga ke ujung kukunya di klinik kecantikan langganan sang oma.


Sang oma juga memanjakan calon cucu menantunya itu dengan membelikan Ailee berbagai macam barang, mulai dari pakaian branded, perhiasan, hingga kosmetik agar Ailee mulia berhias demi menyenangkan suaminya kelak.


"Makasih banyak ya, Oma. Oma sudah membelikan Ai banyak barang yang sangat berharga. Meski sebenarnya, Ai tidak butuh semua ini, Oma. Bagi Ai, perhatian dan kasih sayang yang Ai Terima dari Oma dan dari cucu-cucu Oma, sudah lebih dari cukup," ucap Ailee seraya menjatuhkan kepalanya di bahu Nenek Amira, ketika mereka pulang dari butik langganan wanita tua itu.


Sang oma tersenyum dan dengan penuh sayang, mencium puncak kepala Ailee yang sangat manja padanya.


Ya, wanita tua itu sangat senang dengan kehadiran Ailee karena memang selama ini Nenek Amira merasa sendirian dan tidak memiliki teman yang bisa diajak untuk berbelanja atau ke salon bareng. Sebab, semua penghuni rumah itu adalah laki-laki dan beliau satu-satunya wanita dalam keluarga tersebut.


Hingga kehadiran Ailee, membuat wanita tua tersebut memiliki teman untuk berbagi banyak hal. Mulai dari memasak bareng, berkebun dan mengurus bunga-bunga kesukaannya, melakukan perawatan di salon dan juga shopping seperti sekarang ini.


Apalagi, pembawaan Ailee yang ceria dan selalu bisa membuat seisi rumah tertawa bahagia, membuat Nenek Amira semakin sayang pada Ailee.


Wanita tua itu juga tidak keberatan dan malah sangat senang, jika gadis belia yang ditemuinya di acara gathering perusahaan sang cucu, bermanja-manja padanya.


"Barang-barang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu, Nak Ai. Kamu lebih berharga dari segalanya dan kehadiran kamu di rumah kita, menjadikan rumah kini semakin hangat dan semarak," tuturnya seraya mengusap punggung tangan Ailee, yang berada di atas pangkuannya.


Ailee tersenyum bahagia, sangat bersyukur dengan anugerah luar biasa yang dia terima. Anugerah yang merupakan buah dari kesabarannya selama ini.


"Kita mampir ke restoran dulu, Pak. Kita beli makan siang, drive thru saja, Pak," titahnya pada sopir keluarga.


"Memangnya, bibi tidak masak, Oma?" tanya Ailee seraya menegakkan tubuhnya, tidak lagu bersandar di bahu sang oma.


"Masak, tapi kita tidak makan siang di rumah. Kita langsung ke kantor Ge dan makan siang bareng di sana," balas sang oma.


Ailee mengangguk-angguk.


Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi berbelok ke sebuah restoran dan berhenti tepat di depan layanan untuk pemesanan cepat.


Nenek Amira membuka jendela kaca mobil dan segera memesan makanan yang diinginkan.

__ADS_1


Hanya dalam waktu sebentar, makanan yang di pesan telah diterima.


Sopir keluarga segera melajukan kembali mobil mewah Nenek Amira, untuk menuju kantor Gilang.


"Ini buat kamu." Nenek Amira memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada sopir, sebelum beliau turun dari mobil.


"Maaf, aku sengaja tidak membelikan kamu makanan, agar kamu bebas memilih mau makan siang di mana," lanjutnya.


Sopir keluarga yang sudah setia mengabdi pada keluarga Gilang, tersenyum senang. "Terima kasih banyak, Nyonya."


Wanita tua yang bersahaja itu mengangguk dan kemudian segera turun, setelah pintunya dibukakan oleh pak sopir yang diikuti oleh Ailee.


Kedua wanita berbeda generasi itu berjalan bergandengan tangan memasuki lobi. Mereka berdua berjalan dengan mengembangkan senyuman di bibir masing-masing.


Semua mata tertuju ke arah mereka karena kebetulan di lobi tersebut ramai lalu-lalang karyawan yang hendak makan siang, di jam istirahat ini.


Ailee terlihat semakin cantik, anggun dan juga berkelas. Dari caranya berjalan, tersenyum dan menyapa para karyawan di kantor calon suaminya, menunjukkan kepribadian gadis belia itu yang memang sudah baik dari sananya, menjadi semakin baik.


"Gila, makin cantik aja calon istri bos," bisik salah seorang karyawan laki-laki yang baru saja berpapasan dengan Ailee dan sang oma.


"Benar dan meskipun dia sebentar lagi akan menjadi Nyonya Bos, tapi dia sama sekali tidak sombong dan tetap ramah seperti dulu," timpal yang lain.


Meski banyak yang mengagumi dan memuji Ailee, tetapi ada juga yang tetap masih menyimpan iri hati pada gadis cantik tersebut.


"Jadi makin besar kepala gadis udik itu, gara-gara dipuji oleh mata-mata keranjang seperti kalian!" geram Talita pada teman-temannya itu, ketika mereka sedang melintas di lobi hendak makan siang di luar.


"Bener banget, Ta. Entah apa yang dimiliki gadis itu, bisa-bisanya kalian semua keblinger dan menyanjung dia bak seorang Dewi!" timpal Risma yang juga tidak suka jika Ailee disanjung oleh teman-teman laki-lakinya.


Ya, mereka adalah dua wanita yang menghina Nenek Amira di acara family gathering kala itu.


Kedua wanita mantan senior Ailee di divisi umum tersebut tidak jera, meskipun Talita dan Risma sudah mendapatkan peringatan keras dari Erlan, berkali-kali.


Kalau saja Ailee tidak berbaik hati mempertahankan mereka dengan alasan kemanusiaan, Erlan pasti sudah memecat mereka berdua jauh-jauh hari.


"Sudah-sudah, iri terus kalian bawaannya. Sebaiknya mengaca dan memperbaiki diri dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain!" nasehat salah seorang teman laki-laki yang paling ganteng, di antara yang lain.


Sementara di ruangan Gilang, pemuda tersebut sangat senang dengan kedatangan sang oma dan sang calon istri tercinta yang memang sudah dia tunggu-tunggu.

__ADS_1


"Omaku, Sayang ... sungguh sangat pengertian." Gilang langsung memeluk omanya dan mencium pipi sang oma kanan-kiri, dengan gemas.


Begitulah Gilang yang telah kembali menjadi pribadi yang hangat dan juga riang. Pemuda itu dulu memang selalu bersikap hangat pada omanya, meski mereka berdua jarang bertemu karena sang oma ikut dengan putranya yang lain.


"Sayang ... ayo, duduk," ajak Gilang yang kemudian mendekati Ailee dan menuntun sang calon istri menuju sofa.


"Maaf ya, Mas. Ai enggak kasih kabar dulu sama Mas kalau kami mau ke sini. Habisnya adakan, Mas. Ai juga enggak tahu kalau Oma mau mengajak Ai untuk makan siang bareng di kantor Mas," ucap Ailee setelah mereka bertindak duduk.


"Er mana, Ge? Kok belum ada di sini?" tanya sang oma yang sepertinya sudah mengetahui sebuah rencana.


Belum sempat Gilang memberikan jawaban, Erlan datang sambil membawa kue tart dengan lilin kecil di atasnya yang menyala.


Gilang segera berdiri dan kemudian menyambut kue tersebut. Pemuda itu berjalan mendekati sang calon istri dan kemudian berlutut di depan Ailee seraya menyanyikan sebuah lagu ulang tahun yang sangat familiar.


'Selamat ulang tahun kuucapkan


Sambutlah hari indah bahagia


Selamat ulang tahun untuk kamu


Panjang umur di dalam hidupmu


Terimalah kadoku buat kamu


Yang kupersembahkan lewat laguku, ini.'


Erlan dan Nenek Amira pun ikut bernyanyi, dengan diiringi tepukan tangan.


Ailee yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menutup mulutnya. Dia merasa sangat terharu mendapatkan kejutan istimewa seperti ini, dari orang-orang yang menyayangi dan dia sayangi.


Selama ini, gadis belia itu memang tidak pernah peduli dengan hari ulang tahunnya karena memang tidak ada yang perhatian terhadap Ailee.


"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Gilang setelah Ailee meniup. lilinnya.


"Terima kasih banyak, Mas," ucap Ailee dengan netra berkaca-kaca. "Ini adalah hari terindah dalam hidup Ai," lanjutnya.


"Dan aku akan membuat hari-harimu selanjutnya, menjadi lebih indah dari ini, Sayang," janji Gilang seraya menatap dalam netra sang calon istri.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕



__ADS_2