Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Membuat Kesebelasan


__ADS_3

Gilang sangat terkejut melihat kehadiran sang abang sepupu yang masih dalam masa cuti, tetapi sudah berangkat ke kantor. "Abang udah mau masuk kerja?" tanya Gilang dengan dahi berkerut dalam, setelah menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku.


Ketiga orang tersebut menjadi pusat perhatian, tetapi mereka tidak peduli. Hanya Maida yang sesekali menebar senyum, menyapa mereka yang lalu-lalang melintas di lobi.


"Enggak, lah, Ge. Aku 'kan masih cuti," balas Erlan.


"Aku ke sini mau ngambil sesuatu," lanjutnya seraya tersenyum melirik sang istri. Sepertinya, Erlan tengah menyiapkan kejutan untuk istri tercinta.


Gilang yang mengerti maksud Erlan tersenyum. "Ya-ya, silakan dilanjut karena aku juga harus segera pulang untuk menemui istriku," pamitnya.


"Buru-buru amat, pulang." Erlan melihat jam di pergelangan tangan.


"Ada yang harus aku selesaikan dulu sebenarnya, tapi Ai pengin ikut ke rumah sakit untuk menemui seseorang." Gilang lalu menceritakan kejadian yang menimpanya tadi sewaktu hendak berangkat ke kantor.


Erlan mengangguk-anggukkan kepala. "Gila, ya, anaknya itu. Nyari duit sampai segitunya!" cela Erlan atas perbuatan wanita muda yang diceritakan Gilang.


Gilang mengedikkan bahu. "Begitulah, Bang, dan itu nyata ada," timpalnya.


Sementara Maida yang mendengarkan obrolan sang suami dan adik sepupunya, merasa miris dengan kelakuan wanita yang diceritakan Gilang. Dia ikut prihatin atas apa yang dialami orang tua yang menjadi korbannya.


"Ya udah, Bang. Aku cabut duluan." Gilang segera berlalu setelah menepuk pundak sang abang sepupu lalu tersenyum pada wanita cantik yang kini telah resmi menjadi istri Erlan.


Erlan kemudian mengajak sang istri untuk menuju lift. Asisten pribadi bos GCC tersebut berjalan sambil memeluk mesra pinggang sang istri. Tentu saja apa yang dilakukan Erlan mengundang perhatian para karyawan.

__ADS_1


Pasalnya, mereka tidak pernah melihat asisten pribadi sang bos ke kantor dengan menggandeng seorang wanita. Kini, tahu-tahu Erlan membawa wanita dan mereka berdua terlihat sangat intim. Bahkan usia sang wanita nampak berbeda jauh dari Erlan.


Bisik-bisik pun mulai terdengar, tetapi Erlan hanya tersenyum menanggapinya. Wajar saja mereka berbicara di belakang karena pemuda tampan itu memang belum mengumumkan pernikahannya yang dadakan kemarin.


"Bang. Mereka membicarakan tentang kita, tuh," bisik Maida ketika menunggu pintu lift khusus tersebut terbuka.


"Biar aja, Yang. Habis ini aku akan umumkan pernikahan kita di group, sekalian mengumumkan kapan resepsi kita akan digelar," balas Erlan yang kemudian menuntun sang istri untuk masuk ke dalam kotak besi karena pintunya sudah terbuka.


"Memangnya, tanggal resepsi pernikahan kita sudah ditentukan, Bang?" tanya Maida yang merasa tidak mengerti apa-apa.


"Sudah, Yang. Sebelum acara pertunangan, abang dan orang tua abang sempat berbicara dengan daddy dan mommy. Ada abang kamu juga di sana dan suami Maira," terang Erlan.


"Ih, curang! Kenapa Mai enggak diberitahu?" Maira cemberut karena merasa tidak dianggap.


Penyatuan bibir yang membuat dada keduanya berdebar dengan lebih kencang tersebut terpaksa harus terhenti karena pintu lift telah terbuka. Erlan buru-buru mengusap bibir sang istri dengan sapu tangan yang selalu ada di dalam kantong saku celana. Keduanya lalu keluar untuk menuju ke ruangan Erlan.


Sekretaris Gilang yang melihat kedatangan Erlan dan seorang gadis yang menurutnya masih belia itu dan belum pernah dia lihat sebelumnya, mengerutkan dahi. Naomi lalu berdiri menyambut Erlan. "Kekasih baru, Tuan Asisten?" tanya Naomi seraya tersenyum melirik wanita cantik yang bergelayut manja di lengan asisten pribadi Gilang.


Maida lalu melepaskan tangan dari lengan sang suami dan mengulurkan tangan. "Perkenalkan, saya Maida," ucapnya setelah Naomi menyambut uluran tangannya.


"Dia kekasih halalku, Omi," tegas Erlan yang kemudian memperkenalkan sang istri.


Sekretaris seksi itu membulatkan mata tidak percaya. "Yang benar, Tuan Erlan? Anda tidak sedang bercanda, kan?" cecar Naomi sebelum sempat dia menyebutkan namanya.

__ADS_1


Erlan menggelengkan kepala. "Ini benar adanya, Omi. Kami baru menikah kemarin dan rencana bulan depan resepsi pernikahan kami akan digelar. Tunggu saja ya, undangan dari kami berdua," terang Erlan seraya tersenyum lebar.


"O, My God. Kenapa, sih, orang-orang tampan di kantor ini nikahnya dadakan semua dan istri-istrinya sama-sama masih belia," celoteh Naomi membuat Erlan terkekeh.


Pemuda tampan itu membenarkan apa yang dikatakan oleh sekretaris tersebut. Usianya dan usia Gilang hanya selisih setahun. Sementara usia sang istri dan Ailee juga hampir sama. "Resiko jadi orang tampan, Omi. Jadi gadis-gadis belia pun tertarik pada kami," balas Erlan kemudian yang langsung mendapat cubitan di perutnya yang rata dari sang istri.


"Berarti, Abang suka genit ya, kalau di luar sana!" kesal Maira, berbisik.


Erlan yang masih terkekeh tidak menjawab, tetapi langsung menarik tubuh sang istri untuk segera masuk ke dalam ruangannya. Meninggalkan Naomi seorang diri yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sekretaris itu geleng-geleng kepala lalu tersenyum.


"Tambah satu lagi suami bucin di lantai ini. Bisa-bisa, aku jadi diabetes jika tiap hari disuguhi dengan pemandangan yang manis-manis," gumamnya yang kemudian kembali duduk.


Di dalam ruangan Erlan. Pemuda matang itu segera menunjukkan sebuah gambar bangunan rumah megah kepada sang istri. "Aku belikan ini untuk kamu, di dekat rumah Gilang. Apa kamu menyukainya, Sayang?" tanya Erlan setelah gambar tersebut berpindah ke tangan istrinya.


"Bang, benarkah?" Maida tersenyum lebar lalu menutup mulutnya sendiri. Dia nampak sangat bahagia mendapatkan kejutan yang tidak dia sangka.


"Tapi ini terlalu besar untuk kita berdua, Bang," lanjutnya.


"Siapa bilang rumah itu hanya untuk kita berdua? Rumah itu untuk kita dan anak-anak kita nanti, Sayang, karena aku menginginkan memiliki banyak anak seperti daddy dan mommy." Erlan menatap dalam netra indah sang istri.


"Enam?" tanya Maida memastikan.


"Sebelas karena aku ingin membuat kesebelasan," balas Erlan yang kemudian menjatuhkan tubuh sang istri ke atas pangkuannya. Kembali, sepasang pengantin baru tersebut terlena dalam kehangatan penyatuan wajah yang penuh kasih dan sayang yang tulus.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2