
Gadis belia yang tadinya sudah sangat yakin menerima perjodohan dirinya dengan Gilang dan bertekad akan membuat pemuda dingin tersebut mau membuka hati untuknya, tiba-tiba saja berubah pikiran.
Hal itu Ailee putuskan setelah dia menduga, bahwa pemuda yang dijodohkan dengan dirinya adalah Gilang, bos besar perusahaan tempat gadis berhijab itu bekerja.
"Kalau benar Ge adalah Gilang, kenapa kamu harus mundur, Ai?" Erlan menatap gadis yang duduk di depannya, dengan tatapan dalam.
Pemuda itu hendak menyelami, apa yang dipikirkan oleh gadis yang terlihat murung tersebut.
Ailee menggeleng. "Ai bukan siapa-siapa, Bang. Ai tidak mau kembali menerima perlakuan yang tidak adil jika Ai menikah dengan orang kaya seperti Pak Gilang." Gadis itu mengerjapkan mata berulang-ulang, menahan agar bulir bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya tidak terjatuh.
Perkataan dua seniornya yang sangat pedas tadi pagi, begitu membekas di hati Ailee dan hal itu membuat gadis belia tersebut menyadari siapa dirinya.
"Ai lelah diabaikan dan tidak dianggap. Ai lelah diperlakukan dengan tidak adil selama ini. Lebih baik, Ai menikah dengan orang biasa saja, asalkan Ai dihargai dan disayangi," lanjut gadis cantik itu, sendu.
"Kenapa kamu memiliki pemikiran seperti itu, Ai? Apa kamu pikir, Ge akan bersikap tidak adil padamu karena status sosial kalian berbeda?" Erlan kembali menatap Ailee dengan dalam.
"Di keluarga kami, tidak pernah diajarkan untuk membeda-bedakan status sosial, Ai. Semuanya bagi kami, sama. Tidak ada istilah kelas sosial tinggi ataupun rendah," lanjut Erlan.
Ailee kembali menggeleng. "Tapi apa yang barusan mereka katakan ada benarnya, Bang. Jika Ai menikah dengan Pak Gilang, maka Ai telah menjatuhkan martabat beliau sebagai pemilik perusahaan ini."
Erlan mengerutkan dahi dengan dalam.
__
Ya, setelah bertemu dengan Erlan tadi pagi, Ailee kembali mendengar suara-suara miring yang mengatai dirinya sebagai gadis yang tidak tahu diri.
"Dia enggak punya kaca, kali, masak seorang sudra bermimpi menjadi permaisuri!" ketus salah seorang senior wanita di divisi keuangan, ketika Ailee baru saja masuk ke ruangan elit tersebut.
Bagi sebagian besar karyawan di perusahaan GCC, divisi itu adalah divisi elit dimana dihuni oleh orang-orang yang cerdas dan dekat dengan dewan direksi.
"Bukan tak punya kaca, Sis, tapi dia muka tembok!" timpal yang lain, seraya tergelak.
__ADS_1
Ailee buru-buru menyerahkan barang yang dia bawa pada sekretaris di divisi keuangan tersebut dan gadis berhijab itu hendak segera berlalu dari sana, tetapi suara seseorang berhasil menghentikan langkahnya.
"Palingan, setelah dia menjadi istri Pak Gilang, tugas dia hanya di dapur! Pasti dia hanya dijadikan alat pencitraan Pak Bos saja, agar orang-orang mengira bahwa Pak Presdir itu orangnya low profile!"
"Bener banget, tuh, Del. Kalau aku jadi dia, aku pasti akan menolak karena jika menerima Pak Gilang, itu sama saja dengan merendahkan martabat Pak Presdir!" timpal seorang wanita yang baru saja dari toilet.
Entah darimana awalnya isu perjodohan dirinya dan Gilang itu berhembus, tetapi kasak-kusuk di kalangan karyawan telah ramai membicarakan hal tersebut dan yang menjadi korban cemoohan oleh para karyawan yang iri, adalah Ailee.
Mereka berusaha menjatuhkan mental gadis belia itu, dengan mengata-ngatai segala macam pada Ailee. Hingga membuat gadis periang tersebut menjadi murung dan pertahanan Ailee akhirnya runtuh.
Begitu keluar dari ruangan divisi keuangan, Ailee langsung berlari menuju kamar kecil dan kemudian menangis di sana.
__
"Siapa yang mengatakan seperti itu?" Suara seseorang yang baru saja masuk ke ruangan Erlan, mengurai lamunan Ailee.
"Om Ge ... eh, maaf. Pak Gilang," ralat Ailee seraya menutup mulutnya.
"Siapa yang telah menyakitimu, Ai?" ulang Gilang, bertanya. Pemuda itu mendekat ke arah Ailee.
Ailee menggeleng. Tidak ingin mengatakan apapun yang dapat membuat orang yang tadi menyakiti hatinya, mendapatkan masalah.
"Ada CCTV, Ge. Kita bisa lihat di sana, siapa saja yang telah menyakiti Ailee. Seperti tadi pagi, sewaktu aku mengecek CCTV di divisi umum. Talita dan Risma, mulut mereka berdua begitu kotor menghina calon istrimu itu," terang Erlan dengan nada kemarahan.
Ailee menatap Erlan. "Bang Erlan tahu kejadian tadi pagi?"
Erlan mengangguk, membenarkan.
"Jadi, masalah ini yang tadi akan Abang sampaikan padaku?" tanya Gilang.
"Benar, Ge, dan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," balas Erlan, geram.
__ADS_1
"Tidak perlu, Bang, Pak Presdir. Biar Ai saja yang keluar dari sini dan mundur dari ...."
"Dari perjodohan kita?" sergah Gilang, seraya menatap Ailee dengan tatapan entah.
"Kenapa, Ai? Apakah sepicik itu, aku di matamu? Apakah kamu pikir, aku melihat seseorang dari status sosialnya?" cecar Gilang, membuat Ailee terdiam.
'Kenapa di saat aku hendak mulai membuka hati, kamu justru memilih mundur, Ai?' bisik Gilang, bertanya dalam hati.
Raut wajah dingin itu, bergelayut mendung dan semakin terlihat dingin.
Ailee menghela napas panjang. "Saat itu Ai pikir, cucu yang dijodohkan sama Ai itu orang biasa. Ternyata Ai salah."
Gadis berhijab itu kemudian memberanikan diri menatap Gilang. "Jika saja dari awal Ai tahu, kalau orang yang dipanggil dengan sebutan Ge itu Pak Gilang, tentu Ai akan langsung menolak permintaan oma karena Ai cukup sadar diri, siapa Ai," lanjut gadis belia tersebut.
Gilang menghela napas panjang. Begitu pula dengan Erlan. Sementara Ailee kembali terdiam, hingga membuat ruangan asisten pribadi yang luas itu, sejenak menjadi hening.
"Maaf, jika kehadiran saya membuat Pak Presdir merasa tidak nyaman. Saya sama sekali tidak tahu kalau oma itu adalah oma Anda, Pak Gilang dan saya mengakui beliau sebagai nenek tidak ada maksud apapun," ucap Ailee yang sekarang berbicara dengan formal, mengurai keheningan.
"Tolong sampaikan rasa terimakasih saya pada oma karena beliau telah berbaik hati pada saya. Saya mohon undur diri, pamit dari perusahaan ini. Terimakasih untuk semuanya," pungkas gadis berhijab itu yang telah memantapkan hati untuk benar-benar mundur dari perjodohannya dengan Gilang dan juga keluar dari pekerjaan.
Gadis berhijab tersebut merasa tidak kuat dengan tekanan yang baru dia alami hari ini dan dia yang sudah sangat lelah dengan berbagai tekanan yang sering dia terima dari keluarga, memilih menyerah dan pergi menjauh daripada harus menerima tekanan seperti itu kembali.
Ailee benar-benar sudah sangat lelah dan dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, meskipun dengan segala kesederhanaan, bahkan kekurangan.
Ailee segera berlalu dari ruangan Erlan, tetapi baru saja langkahnya mencapai pintu, suara Gilang yang dingin berhasil menghentikan langkah gadis cantik itu.
"Jika kamu memutuskan untuk meninggalkan rumah dan perusahaan ini, kamu harus pastikan bahwa kamu tidak mengambil dan mencuri apapun dari sini!" ketus Gilang dengan suara bergetar.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1