Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Tidak Memiliki Banyak Waktu


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Ailee, wanita bertubuh kurus tersebut kemudian menatap sang putra. Gilang buru-buru membuang muka, menatap ke arah lain, membuat Mama Irna menggeleng pelan. "Mama harus pergi, Nak. Suamimu tidak mengharapkan kehadiran mama di sini," ucapnya, sangat lirih dan terlihat begitu sedih.


Ailee menggenggam tangan wanita ringkih itu dan menatapnya dengan hangat. "Mas Ge butuh waktu, Ma. Sebagai ibu yang telah mengandung dan melahirkannya, mama tentu mengerti bagaimana perasaan putra Mama, bukan?"


Mama Irna menghela napas panjang dan kemudian mengangguk. "Iya, Nak. Mama tahu, ini semua salah mama," balasnya yang terdengar penuh penyesalan.


Ailee kemudian menatap ke arah sang oma, mengisyaratkan bahwa dia meminta ijin untuk membujuk mamanya Gilang agar tetap mau tinggal. Sang oma yang mengerti permintaan cucu menantunya itu menganggukkan kepala, menyetujui niat baik Ailee. Wanita tua tersebut bahkan tersenyum bangga, melihat ketulusan hati wanita muda yang dipilihnya untuk sang cucu.


Atas bujukan Ailee, Mama Irna kemudian mau tinggal kembali di rumah keluarganya. Rumah, dimana dulu wanita paruh baya itu pernah mengukir kenangan indah bersama suami dan ketiga anaknya. Rumah yang dulu dibangun dengan penuh cinta, tetapi kemudian dia tinggalkan demi egonya.


"Terima kasih banyak ya, Nak," ucapnya seraya kembali memeluk Ailee. Wanita belia yang memiliki hati yang mulia, istri dari putra bungsunya.


"Ge sangat beruntung bisa memilikimu, Nak," lanjutnya seraya membelai pipi mulus Ailee.


Gilang kembali membuang muka. Tidak mau melihat pemandangan yang sebenarnya membuat hatinya trenyuh. Hanya saja, ego pemuda tampan itu masih terlalu tinggi untuk bisa menerima sang mama kembali.


"Ai yang beruntung, Ma, karena dinikahi oleh laki-laki yang sangat baik dan penuh kasih sayang seperti putra mama," balas Ailee dengan sengaja mengeraskan suara agar sang suami mendengar.


Benar saja, Gilang kemudian menoleh ke arah istri dan mamanya. Pemuda tampan itu lalu tersenyum, senyuman yang menambah pesonanya. Mama Irna yang melihat senyum sang putra meskipun senyuman tersebut bukan ditujukan kepada dirinya, ikut tersenyum.


'Mama senang bisa melihat senyummu lagi, Ge,' batinnya, penuh rasa haru.


"Yuk, Ma. Kita masuk," ajak Ailee yang kemudian menggandeng tangan Mama Irna untuk diajak masuk ke dalam. Keluarga yang lain pun ikut beranjak.

__ADS_1


"Mama sama Budhe, ya," lanjut Ailee, setelah menoleh ke belakang dan suaminya masih mematung di tempatnya.


Budhe Ris yang ikut melihat ke arah Ailee memandang, tersenyum. "Iya, Nak. Biar Mama Irna sama budhe. Sana, kamu bujuk suami kamu!" suruh Budhe Ris penuh pengertian.


Mama Irna pun tersenyum dan menganggukkan kepala pada Ailee. Istri belia Gilang itu kemudian mendekati sang suami. Nenek Amira juga ikut mendekat.


"Belajarlah untuk menerima semuanya, Ge," tutur sang oma, menasehati cucunya.


Gilang menghela napas panjang. "Entahlah, Oma. Ini tidak mudah untuk Ge."


Ailee kemudian bergelayut manja di lengan sang suami. "Ai enggak masalah, kok, berbagi cinta dan sayang Mas Ge dengan dua wanita," ucapnya tiba-tiba yang membuat Gilang mengerutkan dahi. Begitu pula dengan sang oma.


"Apa maksud kamu, Sayang?" tanya Gilang, tidak mengerti. "Aku tidak pernah, ya, memiliki pikiran untuk menduakan kamu. Apalagi sampai memiliki istri tiga," lanjutnya.


"Ai tahu, kok, Mas Ge sayang banget sama Oma. Ai sebenarnya cemburu, lho, Mas. Tapi karena Ai juga sayang sama Oma, jadi Ai rela berbagi dengan Oma. Ya, kan, Oma?" Ailee menatap sang oma dan wanita tua itu semakin tersenyum lebar.


"Kalau Oma, iya, aku memang sayang banget sama Oma, Ai. Tapi kalau yang kamu sebutkan terakhir, maaf, Sayang, aku sedang tidak ingin membahasnya," kilah Gilang.


Ailee mengangguk, mengerti. Begitu pula dengan sang oma. Wanita tua tersebut kemudian mengisyaratkan pada Ailee agar mengajak suaminya untuk masuk.


"Kita masuk, yuk, Mas," ajak Ailee.


Gilang menganggukkan kepala. "Tapi aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap. Gilang yang sepertinya sengaja ingin menghindar.

__ADS_1


"Tidak masalah, Ai akan temani Mas," balas Ailee yang kemudian menoleh ke arah sang oma dan wanita tua itu menganggukkan kepala.


Mereka bertiga segera menyusul masuk ke dalam. Ailee mengekor langkah sang suami yang langsung menuju ruang kerja. Sementara sang oma menuju ruang keluarga dimana keluarganya sedang berkumpul di sana.


"Ge dan Ai kemana, Oma?" tanya Erlan pura-pura tidak tahu, padahal dia sempat melihat sekelebat bayangan Gilang dan Ailee yang memasuki ruangan kerja adik sepupunya itu barusan.


"Ge ada pekerjaan yang harus diselesaikan," balas sang oma seperti yang beliau dengar dari sang cucu.


"Kalian silakan lanjut ngobrolnya. Oma akan suruh bibi agar menyiapkan kamar untuk Irna," pamit Nenek Amira, kemudian.


"Ma. Terima kasih banyak, Ma," ucap Mama Irna dengan netra berkaca-kaca, yang dibalas Mama mertuanya dengan anggukan kepala dan kemudian segera berlalu untuk menuju ruang belakang.


Wanita ringkih tersebut merasa terharu karena sang mama mertua, mau menerima kehadirannya kembali setelah apa yang dia lakukan pada putra sulung Nenek Amira. Meskipun putra kandungnya sendiri masih belum bisa menerima kehadirannya, bahkan Gilang malah seolah menghindar. Mama Irna mengusap air matanya yang hampir jatuh.


Budhe Ris nampak mengusap-usap punggung sang adik, untuk menguatkan adik satu-satunya itu. "Jangan berpikir macam-macam. Wajar jika Ge masih belum bisa menerima kamu. Tapi cepat atau lambat, dia pasti akan bisa menerimamu kembali, Dik," hibur Budhe Ris yang mengetahui kesedihan sang adik karena Gilang seolah menghindar dari mamanya.


Bukannya tenang, Mama Irna malah kembali tersedu. Dia kemudian menangis di pundak sang kakak. Budhe Ris pun membiarkan sang adik meluapkan kesedihannya. Begitu pula keluarga yang lain, yang hanya bisa menatap wanita ringkih itu dengan tatapan bingung.


Setelah cukup tenang. Mama Irna kemudian menyeka air matanya. "Aku memang tidak bisa memaksa Ge untuk memaafkanku, Mbak. Tapi masalahnya aku tidak memiliki banyak waktu, Mbak. Aku ...." Mama Irna kembali tersedu, membuat semua orang semakin bingung.


"Kenapa, Dik?" desak Budhe Ris.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2