Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Terbang Melayang Bersama


__ADS_3

Saat ini, seluruh keluarga besar Gilang sudah berada di kediaman Antonio. Kediaman megah yang super luas, tempat pesta resepsi pernikahan Maida dan Erlan, yang dibarengkan dengan resepsi pernikahan saudari kembar istrinya Erlan, Maira. Suasana di tempat pesta tersebut terlihat sangat meriah.


Hadir seluruh pebisnis tanah air, khususnya yang berdomisili di Jakarta. Sebagian besar dari mereka, dikenal oleh Gilang. Bahkan ada juga yang merupakan rekan bisnis bos GCC tersebut.


Suami Ailee itu dibuat sibuk. Dia ikut menyalami dan menyapa mereka satu per satu. Gilang sekaligus memperkenalkan sang istri karena di pernikahannya dulu tidak banyak rekan bisnis yang diundang.


"Sayang. Apa kamu mau aku buatkan pesta seperti ini?" tanya Gilang, berbisik ketika mereka berdua baru saja bisa duduk dengan santai sembari menikmati jamuan yang serba lezat.


Ailee menggelengkan kepala. "Tidak perlu, Mas. Bisa mendapatkan hati Mas Gilang sepenuhnya saja, Ai sudah sangat bahagia," balas Ailee yang membuat dahi Gilang berkerut dalam.


"Maksud kamu?" tanya Gilang.


"Ya dulu 'kan, Mas Gilang kayak yang dingin banget gitu sama Ai. Ai sempat ragu, apakah Ai bisa menarik perhatian Mas Gilang atau enggak? Mas Gilang, tuh, ibaratnya kayak beruang kutub utara yang dingin dan beku." Ailee terkekeh sendiri setelah mengibaratkan sang suami seenaknya saja.


"Bukan cuma kayak beruang kutub, Ai. Ge, tuh, kayak puncak Mount Everest. Udah dingin, sulit tersentuh pula," timpal Mbak Gia, seraya terkekeh.


"Iya. Betul itu, Mbak." Ailee ikut tertawa karena mendapatkan pembelaan dari sang kakak ipar.


"Sak senengmu, Dik, penting awakmu bungah," ucap Gilang kemudian, menirukan kakaknya yang pandai berbahasa Jawa sambil mengacak lembut puncak kepala sang istri.


Ailee yang tidak mengerti bahasa Jawa, mengerutkan dahi. "Mas Gilang bicara apa barusan?"


"Terserah apa katamu, Sayang. Yang penting kamu bahagia. Begitu, Lili Sayang, maksud perkataan Om Ge," sahut Satria yang duduk di belakang mereka berdua, sambil memainkan kedua alisnya menggoda Gilang yang menoleh ke belakang.


Kedua kakak Gilang yang fasih berbahasa Jawa, tersenyum mendengar Satria mengartikan sesuai dengan versi pemuda itu. Sementara Gilang menghela napas panjang. Butuh kesabaran ekstra menghadapi sang keponakan yang tengilnya tidak ketulungan. Gilang lalu menggenggam tangan sang istri dan mengecup punggung tangan istrinya penuh rasa sayang.


Ailee tersenyum lebar lalu mencubit gemas pipi sang suami. Entahlah, akhir-akhir ini dia sangat senang bermesraan dengan suaminya dan tidak peduli meskipun itu di depan umum. Tidak seperti dulu yang malu-malu tapi mau.


Tentu saja apa yang dilakukan sang istri, membuat Gilang sangat bahagia. Dia merasa kembali muda, seperti ABG pada umumnya yang sedang jatuh cinta. Cinta yang belum pernah dia rasakan kala dulu masih remaja.


"Mesra-mesraan terus!" protes Satria sambil memainkan ponsel.

__ADS_1


Gilang kembali menoleh ke belakang. "Sat, ada Jelita, tuh, lagi sendirian," ucap Gilang seraya menunjuk ke arah gadis belia yang dimaksud dengan dagunya.


Satria langsung menoleh ke arah yang dimaksudkan sang om. Benar saja, dia melihat gadis pujaan sedang duduk sendirian. Satria lalu buru-buru beranjak.


"Ma. Do'akan putramu ini agar sukses mendekati calon menantu Mama," pamit Satria, meminta doa restu sang mama yang duduk bersebelahan dengan omnya.


"Halah, kayak mau pergi ke medan perang saja kamu, Bang," cibir Kukuh yang disambut tawa saudara-saudaranya.


Satria tidak mempedulikan dirinya menjadi bahan tertawaan keluarga. Pemuda itu bergegas mendekati Jelita. Gadis belia yang memang memiliki paras yang sangat cantik seperti namanya.


"Assalamu'alaikum, cantik," sapa Satria, seraya tersenyum manis.


Jelita membalas senyum pemuda tampan di hadapan lalu menjawab salam Satria, "waalaikumsalam, Bang Satria."


Suara lembut nan merdu milik Jelita, membuat Satria berdebar. Dia seperti ABG labil yang baru saja mengenal seorang gadis remaja. Padahal Jelita bukan gadis pertama yang membuat Satria jatuh cinta.


Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SMP, Satria sudah pernah memiliki pacar. Gadis yang merupakan kakak kelasnya, yang pertama menembak Satria. Satria yang masih labil, menerima begitu saja tanpa berpikir panjang. Yang penting baginya saat itu, dirinya senang.


Random memang kisah cinta Satria. Setelah dengan kakak kelasnya, sewaktu duduk di bangku SMA dia hanya berani mencintai dalam diam. Kini, gadis yang dicintai itu malah menjadi tantenya. Sekarang, dia jatuh hati pada gadis belia, yang usianya cukup jauh di bawah Satria.


Jelita terkekeh pelan. "Abang 'kan udah duduk, ngapain minta ijin?"


Satria ikut terkekeh seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, ya."


Suara dehaman seseorang, menghentikan tawa keduanya. Om Ilham yang sudah berdiri di samping Satria, menatap pemuda itu penuh selidik.


"Bang Satria sedang apa?" tanya Om Ilham kalem, tetapi penuh penekanan. Tumben-tumbenan ayah dua anak itu bisa bersikap layaknya seorang ayah yang berwibawa, membuat Satria mati gaya.


"Maaf, Om. Satria hanya pengin ngobrol sama Dik Jeje," balas Satria, sopan.


Gilang beserta saudara yang lain, tertawa melihat Satria salah tingkah di hadapan ayahnya Jelita. Hal itu membuat Satria sangat kesal. 'Bukannya dibantuin, malah diketawain! Awas ya, Om Ge, kalau Ailee minta macam-macam lagi Satria ogah bantuin om,' gerutu Satria dalam hati.

__ADS_1


"Oh, cuma mau ngobrol? Boleh-boleh," ucap Om Ilham yang langsung membuat Satria sangat senang.


"Tapi jangan hanya berduaan seperti ini, ya, meskipun ini di tempat ramai. Silakan Jeje diajak gabung dengan keluarga yang lain." Perkataan Om Ilham berikutnya, membuat wajah Satria kusut seketika.


'Bakal jadi bulan-bulanan keluarga kalau aku ajak Jeje duduk dekat keluargaku. Mending aku duduk dengan keluarga Dik Jeje saja,' batin Satria.


'Tunggu-tunggu. Tapi 'kan, di sana ada abangnya yang tengil dan over protektif. Ah, jadi serba salah, deh,' lanjutnya dalam diam.


Satria masih dengan kebingungannya untuk menentukan pilihan.


Sementara di pelaminan, Erlan yang mengenakan tuxedo berwarna silver terlihat sangat tampan dan gagah. Putra bungsu Budhe Ris itu senantiasa menebar senyuman ramah. Serasi dengan pasangannya yang cantik mempesona dalam balutan gaun pengantin dan hijab warna senada.


Mereka berdua berdiri menyalami para tamu undangan yang memberikan ucapan selamat. Satu jam lebih mereka berdiri, tetapi para tamu yang hendak menyalami masih berjajar panjang.


"Dik, memangnya berapa tamu yang diundang daddy? Kenapa belum selesai-selesai juga?" bisik Erlan yang nampak tidak sabar ingin segera mengajak sang istri masuk ke dalam kamar.


Maida tersenyum. "Mai juga enggak tahu, Bang. Sabar aja, ya." Maida lalu memeluk lengan sang suami. Erlan membalasnya dengan mengecup puncak kepala sang istri.


Setelah lima belas menit berlalu, acara pun berakhir. Erlan segera mengajak istrinya untuk menyelinap meninggalkan tempat resepsi yang mewah tersebut tanpa berpamitan dengan keluarganya terlebih dahulu. Pemuda dewasa yang selalu ramah pada setiap orang itu sepertinya sudah tidak sabar untuk mengajak sang istri bersenang-senang, menikmati malam yang panjang.


Begitu memasuki kamar, Erlan segera mengunci pintu kamarnya. Dia lalu membantu istrinya melepaskan semua aksesoris yang menempel di kepala dan kemudian melepas hijab Maida. Tidak sabar, Erlan membantu membuka retsluiting gaun pengantin lalu membuangnya dengan asal ke arah sofa.


"Apa kamu tahu, Dik, kalau hatiku terbakar cemburu," bisik Erlan, seraya menciumi tengkuk istrinya.


"Cemburu kenapa, Bang?" tanya Maida dengan suara yang mendesah karena ulah suami dewasanya.


"Karena mata para lelaki tadi menatapmu penuh kekaguman," balas Erlan, membuat Maida tersenyum senang.


Kecemburuan Erlan membuat dia merasa sangat berharga di mata sang suami. Maida merasa sangat dicintai. "Sebesar itukah cinta Abang pada Mai?" tanya Maida, memastikan. Wanita belia yang kini sudah membalikkan badan menghadap sang suami, menatap suaminya lekat.


"Tentu, Sayang? Aku mencintaimu dengan segenap hatiku dan seluruh jiwaku." Erlan langsung membopong tubuh sang istri dan merebahkan ke atas ranjang pengantin yang empuk.

__ADS_1


"Kita akan terbang melayang bersama, Sayang, menikmati indahnya surga dunia."


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2