
Pasangan Gilang dan Erlan telah menyelesaikan ibadah Umrohnya. Selama menjalankan ibadah di tanah suci itu, kedua pasangan sangat khusyuk dan benar-benar serius dalam berdo'a. Selain meminta agar diberikan keberkahan dalam hidup, kedamaian dalam berumah tangga, mereka juga meminta pada yang Maha Pemurah agar segera diberikan amanah anak yang akan menjadi pelengkap kebahagiaan.
Kini, mereka dalam perjalanan menuju Dubai. Salah satu kota di Uni Emirat Arab dengan banyak bangunan terbaik di dunia. Di sana, mereka akan menginap di Burj Khalifa.
Burj Khalifa adalah bangunan tertinggi di dunia yang memiliki tinggi 828 meter. Ketinggiannya mengalahkan ketinggian gedung Taipei 101, di Taiwan. Burj Khalifa sendiri memiliki lantai 160 yang kesemuanya siap dihuni. _source; google_
Fasilitas yang ada di Burj Khalifa meliputi restoran, hotel, mall dan lain sebagainya. Mereka memilih menginap di sana karena pemandangan dari ketinggian Burj Khalifa sangat menakjubkan. Di mana mereka bisa melihat berbagai pulau buatan yang indah, serta keindahan kota Dubai di malam hari dari atas ketinggian.
Setelah mendapatkan kamar di lantai atas, Gilang mengajak sang istri menuju balkon. Dari sana, keindahan malam kota Dubai terpampang nyata di hadapan. "MasyaAllah, indah sekali, Mas. Kita berasa berada di negeri atas awan ya, Mas. Gedung-gedung tinggi di bawah sana itu, seperti deretan bintang yang bersinar terang."
"Tapi mata kamu, lebih indah dan lebih terang dari bintang-bintang itu, Sayang," sahut Gilang yang ternyata tatapannya sedari tadi tertuju pada sang istri.
Ailee tersenyum, tersipu. Wanita cantik itu lalu mencubit mesra perut sang suami. "Jangan mulai, deh, Mas. Ai lagi pengin menikmati pemandangan."
Gilang menganggukkan kepala. "Aku juga sedang menikmati pemandangan indah, Sayang," balasnya seraya tersenyum manis. Pria tampan itu kemudian ikut berdiri di samping sang istri.
"Kota ini, benar-benar indah ya, Mas," ucap Ailee mengurai keheningan, setelah beberapa saat mereka berdua saling terdiam dan hanya fokus menikmati pemandangan di bawah sana yang sangat menawan.
Pemuda tampan itu lalu memeluk erat sang istri dari belakang. "Bagiku, tidak ada yang lebih indah dari keindahan yang ada pada dirimu, Sayang," rayu Gilang yang sudah mulai merasa kedinginan. Pemuda tampan itu semakin mengeratkan pelukan.
"Sayang. Memangnya, kamu enggak merasa dingin?" tanya Gilang, kemudian.
"Tadinya dingin, Mas, tapi setelah dipeluk sama Mas, udah enggak dingin lagi. Ai suka dipeluk sama Mas seperti ini," balas Ailee jujur, membuat Gilang tersenyum senang.
"Aku akan memberimu kehangatan lebih, Sayang." Suami Ailee itu lalu menciumi tengkuk istrinya.
"Aw ... Mas, kalau ini Ai enggak suka."
__ADS_1
Mendengar perkataan sang istri, Gilang langsung menghentikan aktifitasnya. "Kenapa, Sayang? Biasanya, kamu suka kalau aku melakukan ini padamu?" tanya Gilang yang kini sudah berada di hadapan Ailee. Pemuda itu bertanya seraya menangkup kedua bahu sang istri. Wajah pemuda tampan itu nampak sedikit kecewa.
"Enggak suka kalau cuma sebentar. Ai maunya yang lama," balas Ailee yang kemudian menyembunyikan wajah di dada bidang sang suami.
Gilang tertawa tanpa bersuara. Dia kecup puncak kepala sang istri lalu berbisik, "istriku nakal ya, sekarang."
Pemuda berbadan tinggi tegap itu lalu membawa sang istri tercinta ke dalam kamar mewahnya. Malam ini, Gilang ingin menghabiskan waktu dengan menyatu bersama sang istri. Mengarungi indahnya samudra kehidupan yang terbentang di hadapan dengan harapan akan segera tumbuh benih cinta mereka berdua, di rahim Ailee.
Sementara di kamar lain, suasananya tidak kalah panas dan juga romantis. Erlan senantiasa melambungkan angan sang istri tercinta. Dia ingin menjadikan Maida sebagai satu-satunya wanita yang paling bahagia di dunia.
"Abang, ih ... tangannya enggak mau diem," rajuk Maida ketika wanita belia itu baru saja merebahkan tubuh dan menutupi dengan selimut lembut. Mereka baru saja selesai melakukan penyatuan entah untuk yang keberapa sejak tiba di hotel mewah tersebut.
"Belum ada jam dua belas, Yang. Lagi, ya?" tagih Erlan yang telah kembali menguasai tubuh indah istrinya.
Maida menghela napas panjang. Pura-pura pasrah, padahal sejatinya wanita muda itu pun sangat menikmati apa yang dilakukan Erlan. Kembali mereka berdua bergumul di bawah selimut, di keremangan cahaya kamar.
"Mas, jam berapa ini? Kita kesiangan, Mas." Ailee membangunkan sang suami. "Ai mandi dulu, ya," pamitnya kemudian.
"Hah? Shubuhnya udah lewat, Yang? tanya Gilang seraya mengucek mata dan sang istri menganggukkan kepala lalu bergegas menuju kamar mandi.
Pemuda tampan itu kembali menguap, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya. Setelah kesadarannya kembali pulih, Gilang segera menyusul istrinya ke kamar mandi. Mereka berdua pun mandi bersama dengan cepat, agar shubuhannya tidak semakin kesiangan.
Waktu kini telah menunjukkan pukul tujuh pagi, waktu setempat. Setelah puas jalan-jalan pagi di sekitar tempat mereka menginap, pasangan Gilang dan Erlan kemudian menikmati sarapan pagi di salah satu restoran ternama. Mereka nampak sangat menikmati momen kebersamaan dengan penuh kehangatan.
"Jadwal hari ini, kita kemana, Bang?" tanya Maida, di sela-sela makan.
Belum sempat Erlan menjawab, ponsel Maida yang dia simpan di atas meja bergetar. Istri belia Erlan itu melirik layar ponsel dan senyuman terbit di wajah cantiknya. "Daddy telepon, Bang," ucapnya seraya menoleh ke arah sang suami.
__ADS_1
"Terima dulu, Yang."
"Halo, Dad. Assalamu'alaikum," sapa salam Maida pada sang daddy.
"Waalaikumsalam Kak Mai. Ini mommy." Terdengar suara sang mommy di ujung telepon. Semua bisa ikut mendengar suara lembut mommynya Maida karena dia mengaktifkan mode load speaker.
"Kak Mai sudah di Dubai, kan? Apa adikmu sudah memberi kabar?" lanjut sang mommy bertanya, membuat Maida mengerutkan dahi.
"Mela, nyusul ke sini, Mom?" tanya Maida. "Kami memang sudah tiba di Dubai kemarin, Mom. Tepatnya, menjelang maghrib, dan Mela belum ada menghubungi Mai," lanjutnya.
"Iya, Kak. Dia maksa nyusul. Katanya, udah ijin sama kalian sewaktu kalian masih di Makkah," balas Mommy Billa. "Ya udah, Kak. Mommy cuma mau menanyakan itu. Palingan, sebentar lagi Mela bakal hubungi Kak Mai. Assalamu'alaikum, salam buat yang lain," pungkasnya.
"Surprise!" Baru saja Maida menutup teleponnya, sang saudara kembar sudah muncul di hadapan mereka dengan wajahnya yang ceria. Mengekor di belakang Maira, pemuda tampan berambut panjang sebahu dengan senyumnya yang cool.
"Mela. Kamu kok tahu, kalau kami ada di sini?" tanya Maida setelah melepaskan pelukan sang saudara kembar.
"Ish! Kak Mai ini gimana, sih? Kita 'kan udah terhubung via GPS sejak masih dalam kandungan. Jadi, di mana pun Kak Mai berada, Mela pasti tahu, lah," balas wanita muda yang periang itu seraya terkekeh.
Sang suami yang usianya beda tipis dengan Maira, geleng-geleng kepala. Pemuda berambut gondrong itu lalu mengacak lembut puncak kepala istrinya. "Udah, jangan kecentilan! Banyak yang liatin kamu, tuh, Yang. Aku engga suka, ah," bisiknya, protes.
"Cie ... Mas Yudhis cemburu, ya? Mela suka, deh, kalau dicemburuin," goda Maira tanpa memelankan suara hingga membuat dua pasangan lain, ikut mendengar.
"Manis sekali, sih, suami Mela," puji Ailee, pelan.
"Aku bisa lebih manis dari dia, Yang," protes Gilang seraya mere*mas paha sang istri.
☕☕☕ bersambung ☕☕☕
__ADS_1
Sesuai request Emak, Mela muncul meski sekilas 😊