
Di lantai atas, di kediaman orang tua Ailee. Laki-laki berkumis tebal tersebut dibuat murka oleh kelakuan putri kesayangannya yang tahu-tahu tadi pagi memberitahukan padanya bahwa Aina tengah mengandung.
Ya, Aina sudah beberapa hari ini mengetahui bahwa dirinya hamil, anak dari kekasih yang memacarinya hampir setahun yang lalu.
Kakak kandung Ailee itu sudah mencoba untuk meminta pertanggungjawaban pemuda yang merupakan calan dokter, sama dengan dirinya, dengan baik-baik. Namun sang kekasih tidak mau bertanggungjawab dengan alasan dia telah memiliki calon istri yang saat ini juga tengah hamil empat bulan.
"Maaf, Na. Aku enggak bisa karena sebentar lagi aku harus menikahi Maya. Dia juga hamil anakku dan usia kandungannya sudah empat bulan," tolak Ringgo siang kemarin setelah mereka bercinta di tempat favorit, berterus terang.
"Apa? Jadi selama ini kamu berselingkuh dengan perempuan lain?" geram Aina, menatap marah pada kekasihnya.
"Bukan, Na. Aku berselingkuh dengan kamu, itu yang benar karena sebelum menjalin hubungan dengan kamu, aku sudah bertunangan dengan Maya." Lagi-lagi, jawaban Ringgo begitu jelas, hingga membuat Aina semakin meradang.
"Breng*sek kamu, Ringgo! Pandai sekali kamu menutupi itu semua dariku!" Air mata Aina mengalir begitu saja.
Dia merasa menjadi gadis yang sangat bodoh, gadis yang dengan mudah ditipu dan dikibuli oleh Ringgo demi memuaskan nafsu laki-laki itu semata.
Ya, Ringgo memang memiliki kelainan. Libidonya sangat tinggi dan pemuda tersebut dapat bermain berkali-kali dalam sehari bersama Aina di kampus atau di apartemennya dan juga dengan Maya, di rumah pribadi calon istrinya yang merupakan pegawai bank swasta ternama.
Ringgo dan Aina bisa bermain di mana saja, setiap waktu, setiap saat, di mana ada kesempatan, mereka pasti akan melakukan hubungan yang tidak semestinya.
Aina yang awalnya polos, ikutan menjadi liar setelah berhubungan dengan Ringgo dan kakak kandung Ailee itu menjadi ketagihan dan tidak dapat lepas lagi dari sang kekasih.
Bahkan semalam, meski siangnya dia sudah mendapatkan penolakan dari Ringgo, Aina masih tetap mau melayani hasrat ayah dari anak yang dikandungnya.
"Gugurkan saja kandunganmu, Na, dan tetaplah menjadi kekasihku karena tubuhmu sudah menjadi candu bagiku," pinta Ringgo, di tengah cumbuannya.
Membuat Aina yang sedang terbang melayang-layang, hanya mengangguk, pasrah.
"Usap air matamu! Papa akan panggil Ailee dan pemuda itu, lalu katakan pada mereka berdua seperti rencana kita tadi!" suruh sang papa, mengurai lamunan Aina.
"Tapi, Pa. Bagaimana kalau Gilang menolak?" Aina terlihat begitu kacau.
Sang papa tidak mengijinkan Aina menggugurkan kandungan yang dapat beresiko bagi diri Aina sendiri. Sedangkan Ringgo yang tadi pagi didesak oleh laki-laki tambun itu pun, kekeuh menolak menikahi Aina.
Satu-satunya cara untuk menutupi aib Aina, sang papa berinisiatif untuk meminta tolong pada putri bungsu yang dianggap lemah dan bodoh itu, agar mengikhlaskan Gilang untuk kakaknya.
__ADS_1
"Ai pasti akan membujuk Gilang agar mau menikahimu. Adikmu itu berhati lembut, dia pasti mau mengalah," balas Sang papa.
"Segeralah turun! Papa akan memanggil mereka sekarang ke ruang keluarga!" Laki-laki sangar berkumis tebal itu segera menuruni anak tangga untuk memanggil sang putri bungsu dan calon suaminya.
\=\=\=\=\=
Gilang dan Ailee yang saat ini sudah berada di ruang keluarga atas permintaan papanya Ailee, saling pandang dan belum bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh sang papa.
Sementara dari kejauhan, Erlan yang tidak diijinkan untuk ikut masuk ke dalam, mondar-mandir sambil terus menatap ke arah ruangan dalam.
Gilang dapat melihat dengan jelas kegelisahan kakak sepupu yang selalu perhatian dengan dirinya itu, tetapi tidak dengan Erlan yang sama sekali tidak dapat melihat orang yang berada di dalam.
"Apapun rencana papa kamu, aku harap kamu teguh dengan pendirian kamu, Sayang," bisik Gilang yang sebenarnya mulai khawatir, sang istri mudah ditipu dengan kasih sayang semu.
Ailee mengangguk. "Iya, Mas. InsyaAllah, Ai akan tegas jika papa meminta macam-macam," balas Ailee yang mulai dapat sedikit meraba apa yang akan terjadi.
Calon mempelai wanita itu menghela napas panjang, untuk mengusir kegelisahan yang menderanya.
"Duduk, Na!" titah sang papa, begitu melihat putri kesayangannya turun.
Melihat kedatangan Aina yang mengenakan kebaya putih, perasaan Ailee semakin tidak nyaman.
Begitu pula dengan Gilang. Pemuda itu bahkan langsung membuang muka, tidak sudi melihat Aina.
"Ai, ada satu hal yang ingin papa minta dari kamu. Papa tahu, papa tidak pantas meminta karena selama ini papa mengabaikan kamu, tetapi percayalah, Nak, sesungguhnya papa sangat menyayangimu." Laki-laki yang berprofesi sebagai pengacara tersebut memulai dramanya, menyentil sisi kelembutan Ailee.
"Papa tahu, permintaan papa ini pasti berat untukmu, tetapi demi saudara kandungmu, papa harap kamu mempertimbangkan permintaan papa," lanjutnya seraya menatap sang putri bungsu dengan memelas.
Sementara Aina mulai terisak, membuat drama tersebut terlihat semakin memilukan bagi Ailee yang berhati lembut.
"Katakan ada apa, Pa? Jangan buat Ai menjadi menerka dan mengira-ngira!" desak Ailee.
Sang papa kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan Aina, tentu dengan tidak mengatakan yang sejujurnya.
Papanya Ailee mengarang cerita bahwa kakak kandung Ailee itu diperkosa oleh orang tidak dikenal, ketika pulang dari koas malam-malam.
__ADS_1
"Kasihan kakak kamu, Ai. Masa depannya sudah hancur. Dia hamil tanpa tahu siapa ayah bayinya. Aina bahkan semalam mencoba untuk bunuh diri," lanjut sang papa, sendu.
Ailee yang berhati lembut langsung memeluk sang kakak dan berempati pada tragedi yang menimpa kakak kandungnya.
"Lantas, apa yang Anda inginkan dengan menceritakan semua ini pada kami berdua, Pak?" desak Gilang yang sudah mulai muak dengan drama recehan keluarga tersebut.
"Papa minta tolong sama kamu Ai dan Nak Gilang. Batalkan rencana pernikahan kalian berdua dan tolong Nak Gilang nikahi Aina untuk menyelamatkan dua nyawa," pinta laki-laki berkumis tebal tersebut dengan mengeluarkan air mata buayanya.
Gilang segera beranjak yang kemudian segera diikuti oleh Ailee. Gadis belia itu memegang lengan sang calon suami seraya menatap dalam netra suaminya.
"Dia kakak kandungku, Mas. Bagaimanapun sikapnya padaku dulu, rasanya tidak pantas jika aku membiarkan dia dengan keterpurukan seperti ini," ucap Ailee yang membuat sebuah senyuman terbit di sudut bibir sang papa.
Sementara Aina yang tadinya menundukkan kepala, langsung mendongak menatap sang adik dengan penuh harap.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Gilang, menatap curiga pada gadis yang telah berhasil membuka gembok cinta di hatinya.
Ailee kemudian menatap sang papa dan kakak kandungnya bergantian. "Pa, Ai mencintai Mas Gilang. Ai juga sayang sama Kak Aina dan papa, meski selama ini kalian tidak pernah menganggap Ai ada."
"Kami akan tetap menikah tetapi tidak di rumah ini dan tidak perlu juga perwalian dari papa, agar papa dan Kak Aina tidak perlu melihat pernikahan kami yang dapat menambah luka di hati Kak Aina," lanjut Ailee, tanpa diduga oleh sang papa.
"Ai ...."
"Maaf, Pa. Hati Ai memang lembut dan tidak bisa melihat kesedihan orang lain, tetapi Ai tidak memiliki hati seluas samudera jika harus melepaskan belahan jiwa," sergah Ailee, memotong perkataan papanya.
Gilang tersenyum dikulum.
"Cukup sampai di sini kita bertemu, Pa. Dari awal Papa memang tidak pernah menghendaki kehadiran Ai, bukan? Dan mulai detik ini juga, kita bukan lagi keluarga!" pungkas Ailee yang langsung menggandeng tangan Gilang, untuk keluar dari rumah yang seperti neraka bagi Ailee tersebut.
Setibanya di luar, Gilang langsung meminta pada Erlan untuk memindahkan acara pernikahan di hotel yang sama dengan acara resepsi sederhana nanti malam.
"Jangan tanya ada apa, Bang! Kita pindah sekarang dan ajak serta pak penghulunya!" tegas Gilang ketika Erlan hendak bertanya, apa yang terjadi.
"Aku suka gayamu, Sayang," ucap Gilang seraya mencuri kecupan di pipi Ailee, ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1