
Setelah Aira mengurus pengobatan sang putra dan memastikan bahwa Deka mendapatkan perawatan terbaik, wanita itu berpesan kepada asisten rumah tangga di kediaman sang papa yang tadi membawa putranya ke sana untuk menjaga Deka. Dia kemudian segera meninggalkan rumah sakit untuk melaporkan Nelly ke kantor polisi. Aira juga menelepon sopir sang papa dan memintanya untuk ke kamar Nelly yang berada di kediaman papanya, guna mencari barangkali masih ada sisa obat tidur yang bisa dijadikan sebagai bukti.
Setibanya di kantor polisi bertepatan dengan sang sopir yang juga baru saja tiba di sana. Sopir itu segera memberikan obat tidur yang dia temukan di antara tumpukan baju-baju Nelly kepada Aira. Dia kemudian segera membawa bukti tersebut masuk ke dalam kantor yang bernuansa dingin tersebut.
"Selamat siang, Pak," sapa Aira dengan sopan sambil menyalami petugas polisi yang berjaga.
Ya, Aira tiba di kantor polisi ketika matahari sudah berada tepat di atas kepala. Sebab, dia harus mengurus sang putra terlebih dahulu tadi. Beruntung, Ailee, adik yang tidak pernah dianggap keberadaannya sudah tiba di rumah sakit bersama sang suami sehingga adik bungsunya itu dapat menjaga sang papa dan juga Aina. Sementara Aira, dapat mengurus masalah rumah tangganya yang berada di ujung tanduk dengan tenang.
"Siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas berseragam coklat tersebut dengan ramah, melihat penampilan Aira yang menunjukkan bahwa dia bukan dari kalangan biasa.
"Iya, Pak."
Aira kemudian menceritakan masalah putranya yang saat ini harus menjalani perawatan di rumah sakit karena ternyata, selama hampir dua tahun baby sitter-nya telah mencekoki sang putra dengan obat tidur. Aira juga menunjukkan bukti obat tidur yang ditemukan di almari pengasuh putranya itu, serta hasil rekam medis sang putra.
Petugas tersebut mengangguk-anggukkan kepala seraya mencatat semua yang dikatakan oleh Aira. Polisi juga menerima bukti yang diberikan oleh pelapor untuk disimpan. "Baik, Bu. Laporan dari Ibu akan segera kami proses."
"Terima kasih, Pak. Saya tunggu informasi selanjutnya." Aira kemudian segera beranjak. Setelah berpamitan dengan petugas polisi tersebut, ibu dari Deka itu tidak langsung ke rumah sakit, tetapi pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil beberapa pakaian untuknya dan untuk sang putra.
Aira yang tidak menggunakan mobil pribadi, menaiki taksi menuju ke rumahnya. Sepanjang perjalanan tersebut, Aira mencoba menghubungi sang suami, tetapi telepon suaminya tidak aktif. Wanita itu jadi menduga-duga, kiranya apa yang dilakukan oleh sang suami dan Nelly saat ini?
'Awas aja kalau kalian masih tetap berbuat mesum di rumahku, akan aku jebloskan kalian berdua ke dalam penjara yang pengap!' geram Aira, dalam hati.
__ADS_1
Mobil taksi berwarna biru tersebut terus melaju menuju kediaman Aira dan Sindu. Setelah menempuh hampir setengah jam perjalanan, tibalah Aira di rumah dua lantai yang tertutup rapat seperti tidak berpenghuni. Aira mengerutkan dahi, menerka apakah tidak ada orang di rumahnya itu?
Aira segera membayar ongkos taksi dan kemudian segera turun. Bergegas, ibu satu anak itu menuju ke pintu utama dan mencoba untuk membukanya. Rupanya, pintu tersebut tidak dikunci dan Aira langsung masuk ke dalam tanpa bersuara. Istri sah dari pemilik rumah itu berjalan perlahan sambil memasang telinga dengan lebar.
"Aku enggak bisa, Mas! Maaf, aku harus pergi!" Suara Nelly terdengar dari dalam sana.
Aira menghentikan langkah dan mendengarkan dengan seksama apa yang terjadi di ruang keluarga.
"Aku enggak nyangka, Nel, kamu akan setega itu padaku!" seru Sindu. "Ternyata kamu tidak lebih dari seorang ja*lang liar!"
Dari suara sang suami barusan, Aira dapat menebak bahwa suaminya itu sangat marah pada Nelly. Namun, marah karena apa? Itu yang belum dapat diterka oleh Aira.
"Aku enggak peduli dengan apapun yang kamu katakan, Mas! Mas Sindu yang telah menjadikan aku seperti ini! Kamu Mas, kamu yang telah mengajari aku untuk menjadi liar. Dan menurut Mas, setelah aku ketagihan dengan milikmu, apa Mas pikir aku bisa menjalani hari-hariku selama setahun ke depan tanpa bergumul dengan peluh dan cairan kenikmatan? Hahaha ... setahun, iya, dan itu pun belum tentu Mas dapat sembuh dan kembali berdiri dengan normal!"
Istri Sindu itu segera meneruskan langkah untuk masuk ke dalam ruang keluarga dimana suara Nelly dan Sindu, terdengar. Aira bertepuk tangan setelah berada di hadapan kedua orang yang sedang bersitegang tersebut. Tampak Nelly sedang berdiri di hadapan Sindu yang terduduk lesu di sofa.
Mendengar suara tepuk tangan, sontak perhatian mereka berdua teralihkan ke arah Aira yang baru saja datang tersebut. "Ma ...." sapa Sindu dengan lidah kelu.
Sementara Nelly langsung membuang pandangan ke arah lain, begitu bertemu muka dengan Aira. "Maaf, Bu Aira. Saya cabut tuntutan saya untuk dinikahi Pak Sindu! Saya kembalikan Pak Sindu pada Anda dan saya tidak akan menuntut apapun lagi!" tegas Nelly tanpa menoleh ke arah Aira.
Mendengar perkataan Nelly, Sindu semakin geram pada kekasih gelapnya tersebut. Sindu menjadi heran, darimana wanita polos yang menjadi candunya selama ini belajar berbicara seperti itu. Sindu jadi berpikir, jangan-jangan Nelly cuma berpura-pura hamil atau kalaupun dia beneran hamil, bisa jadi benihnya bukan milik Sindu.
__ADS_1
"Kamu pikir, aku sudi menerima laki-laki yang sudah tidak berguna seperti dia, hah!" balas Aira, seraya menatap kedua orang yang berada di hadapan dengan tatapan muak.
Mendengar perkataan sang istri, wajah Sindu terlihat semakin mendung. Namun, dia tidak dapat menyalahkan keputusan sang istri jika Aira menolak dirinya karena semua ini sebab ulahnya sendiri. Sindu pun tidak berani memohon belas kasihan Aira. Biarlah semua ini dia hadapi sendiri sebagai hukuman atas apa yang telah dia lakukan. Sindu menundukkan wajah dengan dalam.
"Hidupku sudah repot sekarang karena harus mengurus adik yang hampir gila, papa yang masih di ICU dan sekarang Deka. Deka harus menjalani perawatan intensif karena ulahmu, Nelly!' Aira menunjuk wajah Nelly dengan jari telunjuk bergetar.
Wanita muda yang mengaku hamil itu mengerutkan dahi. "Saya? Kenapa Bu Aira menyalahkan saya?" tanya Nelly dengan wajah polosnya, benar-benar tanpa dosa.
"Kamu telah mencekoki putraku dengan obat tidur agar kalian bebas bercinta seharian, kan? Dan itu sudah kamu lakukan sejak lama!" Aira semakin dibuat geram dengan pertanyaan Nelly barusan.
Sindu mengangkat wajahnya setelah mendengar keterangan Aira. Ayah Deka itu pun terlihat sangat marah. Sindu kemudian berdiri dan menampar Nelly dengan kuat.
"Apa benar yang dikatakan oleh Aira, Nel?" tanya Sindu, geram.
Ya, selama ini Sindu tidak tahu kalau ternyata sang pengasuh telah memberikan obat tidur pada putranya. Nelly hanya selalu mengatakan bahwa momongannya itu sedang tidur dan terlelap karena kekenyangan setelah disuapi dan diberi susu. Baby sitter itu juga mengatakan bahwa Deka kalau tidur memang pulas dan lama.
"Itu semua tidak benar! Jangan fitnah saya!" Nelly membalas tatapan Aira tak kalah tajam.
"Tidak ada untungnya lagi saya di sini!" lanjut Nelly yang kemudian segera berlalu hendak meninggalkan kediaman Sindu dan Aira.
"Ke ujung dunia sekalipun kamu pergi dan bersembunyi, polisi pasti akan menemukan kamu dan segera menyeretmu masuk ke dalam penjara, Ja*lang!" Suara Aira yang terdengar penuh amarah, menghentikan langkah Nelly.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕