Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Menghadirkan Dia di Antara Kita


__ADS_3

Semua sudah bersiap hendak berangkat, mereka berjalan dengan saling bercanda ria menuju halaman luas di belakang kediaman Gilang tersebut, tepatnya di samping kebun bunga dan buah. Saat Ailee hendak menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam pesawat pribadi, tiba-tiba Gilang menarik pelan tangan sang istri. Pemuda tampan itu menatap istrinya dengan penuh kekhawatiran.


"Kenapa, Mas?" tanya Ailee seraya mengerutkan dahi.


"Kamu yakin mau ikut ke acara pertunangan Bang Er, Sayang?" tanya Gilang, membuat Ailee tidak mengerti.


"Tentu saja Ai ikut, Mas. Kita 'kan sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari," balas wanita cantik itu seraya menatap tidak mengerti pada sang suami. "Ada apa, sih, Mas? Kenapa Mas tiba-tiba bertanya seperti itu?" lanjutnya, bertanya.


"Kamu 'kan lagi hamil, Sayang, dan kemungkinan baru beberapa minggu. Perjalanannya jauh, Yang aku takut bayi kita kenapa-napa." Gilang menangkup kedua sisi pundak sang istri. Pria tampan itu terlihat sangat mengkhawatirkan istrinya.


"InsyaAllah tidak kenapa-napa, Mas. Ai merasa sehat, jadi kalau memang benar Ai hamil, anak kita juga pasti sehat dan kuat," balas Ailee mencoba menenangkan sang suami yang nampak sangat khawatir. Wanita cantik itu tentu tidak ingin melewatkan momen spesial dari saudara sepupu sang suami, yang selama ini telah menemani perjalanan suaminya tersebut.


"Ada apa, Ge?" tanya sang oma yang terpaksa kembali turun dari pesawat yang memiliki logo GCC di badan pesawat dan kemudian mendekat karena mereka berdua tidak kunjung naik ke sana.


"Ini, Oma, Ai. Dia 'kan lagi hamil dan usia kandungannya masih sangat rentan kalau baru beberapa minggu, bukan?" Gilang mencoba mencari dukungan.


"Tapi Ai merasa sehat, Oma, dan pasti janin yang mungkin tumbuh di sini juga akan baik-baik saja," kekeuh Ailee seraya mengelus sendiri perutnya yang masih rata.


Nenek Amira tersenyum. Wanita tua itu sangat senang melihat kekhawatiran sang cucu pada istrinya. Kekhawatiran yang menunjukkan betapa besar cinta Gilang pada sang istri.


"Kalian berdua tidak ada yang salah. Kehamilan di trimester awal memang rentan, tapi memang tidak semua seperti itu. Ada yang kandungannya bener-benar kuat meskipun sang janin diajak bekerja keras oleh ibunya, dia tetap nempel dan selamat hingga lahir." Sang oma menatap sepasang suami-istri itu, bergantian.


"Agar kalian sama-sama tenang, konsultasi dulu sama dokter kandungan. Oma akan telepon dokter kandungan anak kenalannya oma, kalian ke sana dulu sebelum memutuskan bagaimana baiknya nanti. Kalau memang kondisinya sehat dan diijinkan untuk melakukan perjalanan jauh, kalian berdua bisa menyusul. Kalau tidak diijinkan, kamu harus menemani istrimu di rumah, Ge. Nanti biar oma yang bicara sama Er," saran sang oma panjang lebar dan Gilang mengangguk, mengerti.

__ADS_1


"Ya, sudah, Ge. Kamu ajak istrimu untuk periksa ke dokter. Dokter Chandra selain praktek di rumah sakit miliknya, dia juga buka praktek pribadi di jalan yang mau masuk ke komplek perumahan kita. Kami harus segera berangkat," pamit sang oma seraya kembali naik ke pesawat yang memiliki daya tampung cukup banyak tersebut.


Gilang dan sang istri segera menjauh ketika co-pilot menutup pintu pesawat dan mengisyaratkan bahwa pesawat pribadi itu akan segera lepas landas. Mereka berdua segera kembali ke rumah, setelah pesawat yang membawa keluarga besarnya mengudara untuk menuju ke pulau pribadi keluarga calon tunangan Erlan. Gilang lalu mengajak istrinya untuk menuju mobil karena hendak memastikan kehamilan sang istri tercinta.


Sepanjang perjalanan menuju ke tempat dokter kandungan yang direkomendasikan oleh sang oma, tidak henti pemuda tampan itu mengulas senyuman. Gilang benar-benar merasa sangat bahagia. Berbeda dengan Ailee yang merasa was-was, khawatir jika ternyata dia tidak hamil tentu sang suami akan sangat kecewa.


"Kenapa wajah cantik ini bergelayut mendung?" tanya Gilang yang mengendarai mobilnya dengan pelan, seraya mencubit dagu lancip sang istri.


"Mas, kalau ternyata Ai tidak hamil, bagaimana, Mas?" tanya Ailee seraya menoleh ke arah sang suami. Wanita cantik itu menggenggam erat tangan suaminya, terlihat dengan jelas kekhawatiran di wajah Ailee.


Gilang tersenyum. "Bukankah semalam sewaktu di kamar mama aku sudah mengatakan pada kamu, Sayang. Tidak masalah jika ternyata memang kamu belum hamil, kita masih bisa berusaha, bukan? Lagipula, usia pernikahan kita juga baru hitungan bulan," balas Gilang mencoba menenangkan hati sang istri.


Ailee mengangguk dan kemudian tersenyum. "Syukurlah kalau Mas tidak kecewa. Ai hanya takut jika Mas kecewa karena usia Mas 'kan udah enggak muda lagi," balas Ailee yang kembali dengan kejahilannya, membuat Gilang langsung menoel hidung mancung sang istri.


"Ai enggak bilang tua, Mas, tapi enggak muda lagi dan itu benar, bukan?" Ailee semakin menjadi. Istri belia Gilang itu bahkan terkikik sendiri, mengingat bagaimana dulu dia memanggil om pada Gilang karena disangka pemuda tampan disampingnya yang duduk di sampingnya tersebut sudah menikah dan memiliki anak.


"Ya-ya, kamu benar, Sayang. Wanita memang selalu benar," balas Gilang yang kemudian tersenyum.


"Tapi meskipun sudah berusia matang, Mas tetap tampan, kok," puji Ailee tulus seraya mengusap lembut rahang sang suami yang mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar.


"Jangan menggodaku, Sayang. Atau aku akan mengajakmu kembali pulang dan kita tidak jadi periksa ke dokter." Gilang menggigit kecil jari sang istri yang mulai nakal.


Ailee tertawa kecil dan kemudian merebahkan kepala di bahu kokoh sang suami. "Ai bahagia banget menjadi istri Mas Gilang," ucapnya seraya mendongak menatap sang suami. Gilang melabuhkan ciuman kemudian, di kening sang istri.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya, Mas, karena Mas sudah mengangkat derajat Ai," ucapnya beberapa saat kemudian, yang tiba-tiba menjadi sendu.


Entahlah, Ailee merasa mood-nya cepat sekali berubah-ubah. Barusan merasa sangat bahagia dan sekarang tiba-tiba menjadi melo. Gilang lalu mengelus lembut pipi sang istri.


"Jangan bilang seperti itu, Sayang. Aku tidak mengangkat derajatmu. Kamu sendiri yang telah mengangkat derajat dirimu sendiri dengan begitu tinggi karena sikap dan perilakumu. Justru aku yang berterima kasih karena hadirmu telah membawa perubahan besar dalam hidupku. Aku yang dulu tidak mengenal apa itu arti cinta, kini mengenal dan merasakannya. Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu sekarang dan selamanya." Gilang mencium dengan dalam punggung tangan sang istri.


Obrolan keduanya terhenti ketika mobil Gilang memasuki halaman rumah praktek dokter kandungan. Mereka berdua segera turun, setelah Gilang memarkirkan mobil di tempat yang telah tersedia. Pemuda tampan itu nampak sangat siaga, dia berjalan sambil memeluk mesra pinggang istrinya.


Tidak perlu menunggu antrian karena ternyata sang oma sudah memesan nomor antrian. Gilang segera menemani sang istri untuk masuk ke dalam ruang praktek dokter. Ruangan yang didominasi warna putih bersih itu nampak begitu nyaman, tidak ada aroma obat di sana seperti kebanyakan ruang praktek dokter.


"Cucunya Tante Amira?" sapa dokter berusia paruh baya tersebut dan Gilang menganggukkan kepala seraya tersenyum.


"Tante Amira sudah menceritakan pada saya tadi. Kalau begitu, langsung diperiksa saja, ya," tuturnya ramah, seraya menunjuk bed pasien.


Seorang perawat dengan sigap membantu Ailee untuk naik ke pembaringan dan kemudian melakukan prosedur untuk dilakukan USG. Ailee yang sedang berbaring merasakan dingin di perutnya setelah dioles gel oleh sang perawat. Selanjutnya dokter melakukan tugas tanpa melihat ke arah perut pasien, tetapi tatapannya tertuju ke arah monitor.


"Mas Gilang bisa lihat titik hitam kecil ini?" Dokter Chandra menyorot sebuah titik hitam yang berukuran sangat kecil pada layar monitor dan Gilang menganggukkan kepala.


"Ini janin yang mulai tumbuh di rahim istri Mas Gilang. Ukurannya memang masih sangat kecil karena baru tiga minggu dia hadir dan akan semakin bertambah besar seiring waktu. Semua nampak sehat dan bagus," terang sang dokter, membuat Gilang dan Ailee bernapas dengan lega.


Pria tampan itu langsung memeluk sang istri dan menghujani istrinya dengan ciuman bertubi-tubi. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menghadirkan dia di antara kita."


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2