
Mobil yang membawa Gilang melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di rumah. Sebab, sang istri tercinta sudah kembali menelepon dan menanyakan di mana keberadaannya saat ini. Gilang tentu merasa sangat bersalah karena telah membuat sang istri cukup lama menanti. Jika saja tadi dia tidak bertemu dengan Aleena dan ngobrol dengan mantan kekasih Erlan itu, saat ini dia pasti sudah tiba di rumah.
Mengingat nama Aleena, Gilang menghela napas panjang. Dia khawatir, kehadiran mantan kekasih Erlan itu akan menimbulkan masalah di keluarga sang abang sepupu. "Aku harus bicara dengan Bang Er agar dia waspada," gumam Gilang sambil mengetikkan pesan untuk abang sepupunya.
Tidak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan sopir pribadi Gilang tiba di rumah megah tempat pemuda tampan itu dan keluarganya berteduh. Gilang segera turun lalu berjalan dengan cepat memasuki rumah. Kehadirannya disambut dengan senyuman manis oleh sang istri.
"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap salam Gilang, menyambut uluran tangan sang istri yang kemudian mencium punggung tangannya dengan takdzim.
"Wa'alaikumsalam, Mas," balas Ailee seraya mendongak untuk membalas kecupan sang suami di keningnya barusan. Ailee kemudian melabuhkan ciuman di pipi Gilang.
"Hanya di pipi, Yang?" tawar Gilang.
"Yang lain nanti, Mas. Ai mau makan seblak dulu," balas Ailee seraya mengambil kantong kresek dari tangan sang suami.
Gilang lalu mengekor langkah sang istri menuju meja makan. Setelah membuka makanan pesanannya, Ailee yang hendak langsung memakan seblak mengurungkan suapan pertamanya. Dia kemudian menatap sang suami yang juga tengah menatap dirinya, lekat.
"Mas, maaf. Aku lupa kalau Mas Gilang belum berganti pakaian. Ayo, Ai antar ke kamar dulu," ucap Ailee seraya menyimpan sendoknya kembali.
__ADS_1
Wanita muda itu hendak beranjak, tetapi Gilang mencegah dengan isyarat tangannya. "Lanjutkan saja makannya, Yang. Aku akan tunggu sampai kamu selesai makan."
Ailee tersenyum mendengar perkataan sang suami. Dia kemudian mulai makan seblak pesanannya dengan sangat sangat lahap. Gilang yang tidak suka dengan makanan itu hanya jadi penonton saja.
"Mas, Ai suapi, ya." Ailee mendekatkan sendok ke bibir sang suami. Tidak ingin membuat istrinya kecewa, Gilang pun membuka mulutnya.
"Enak, kan, Mas? Pedasnya pas banget." Ailee menatap sang suami meminta persetujuan dan suami dewasanya itu hanya menganggukkan kepala.
"Ge! Kamu di mana?"
Belum sempat Gilang menjawab, Erlan kembali bertanya. "Sejak kapan kamu suka makanan seperti itu, Ge?" Erlan menatap penuh selidik pada Gilang yang masih mengunyah.
Tatapan Erlan kembali ke makanan yang ada di hadapan Ailee, makanan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Bukan hanya Erlan karena Gilang pun baru pertama kali melihat makanan tersebut. Dia tadi hanya membeli sesuai permintaan sang istri dan sesuai petunjuk Ailee yang memberitahu bahwa Gilang bisa membeli seblak di Pujasera.
"Memangnya, Mas Gilang enggak suka seblak? Kenapa tadi menerima aja ketika Ai suapi, Mas?" Ailee menatap sang suami, lekat.
"Hem, aku tahu jawabannya. Pasti karena enggak enak untuk menolak keinginan kamu, Ai. Dia 'kan cinta banget sama kamu dan pastinya Gilang akan berusaha untuk menjaga perasaanmu dan enggak mau membuat kamu kecewa," ucap Erlan dan Gilang menganggukkan kepala, setuju.
__ADS_1
Ailee lalu tersenyum. Dia raih tangan sang suami dan dikecupnya dengan segenap perasaan. "Terima kasih ya, Mas. Sudah mencintaiku sedemikian besar," ucapnya, terharu.
Gilang lalu mengusap puncak kepala sang istri, lembut. Sejenak, netra keduanya terpaut dan saling menatap lekat. Sementara Erlan yang masih duduk di tempatnya segera beranjak. "Ck. Ditanyain dari tadi bukannya jawab, malah mesra-mesraan!" Erlan berdecak kesal.
Gilang lalu menoleh ke arah sang abang sepupu. "Pertanyaan yang mana?"
"Yaelah, belum juga anaknya lahir, udah pikun aja kamu, Er," ledek Erlan seraya terkekeh.
"Tadi kamu chat aku, katanya ada urusan penting yang hendak kamu bicarakan. Urusan apa, Ge?" Erlan kemudian mengingatkan Gilang.
Sejenak, Gilang terdiam. Dia melirik sang istri yang sepertinya ikut menunggu jawaban Gilang. Pemuda tampan itu berpikir bagaimana caranya agar sang istri tidak curiga lalu mengajak Maida untuk mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.
Gilang tidak mau kejadian tempo hari terulang. Di mana, sang istri mendengar pembicaraannya dengan Erlan yang hanya sepenggal. Kalaupun Maida mendengar, biarlah Erlan sendiri yang bercerita pada sang istri dan bukan karena mendengar pembicaraannya nanti.
"Oh, itu. Iya, Bang. Tadi ada klien lama yang hendak meminta menjalin kerja sama kembali."
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1